
Gue berjalan menyusuri sudut-sudut sekolah untuk mencari keberadaan Satya. Di jam istirahat pertama, gue gagal menemukannya. Dia ngilang kayak ditelan wewe gombel. Saat jam istirahat kedua, gue habiskan waktu di UKS karena tensi gue tinggi habis jalan ke sana-sini.
"Kenapa lo nggak nelpon Kak Satya aja, buat nanya dia ada di mana?" tanya Rena, heran melihat gue sibuk sendiri. Rena menemani gue mencari Satya, padahal dia bisa saja pulang duluan. Entah karena kepo mau tahu ada masalah apa, atau karena khawatir gue bakalan semaput dan nggak ada yang lihat.
"Kalau gue telepon dia, nanti dia tahu gue nyariin. Kalau dia kabur lagi, makin lama urusannya."
Rena diam dan kembali mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencari sosok Satya. Sudah hampir sepuluh menit kami mencari, namun hasilnya nihil. Lapangan olahraga yang menjadi tempat pertama kami mencari, juga nihil. Ke mana anak itu?
Kami berbelok menuju kantin, lalu 'BRUK!' Gue menabrak sesuatu. Hidung gue terasa perih setelah membentur sesuatu. Saat gue mendongak, wajah Satya terpampang di depan mata. Tanpa sadar, gue langsung memegang tangannya, seolah takut dia bisa terbang atau menguap bersama udara.
"Ketemu!" ujar gue girang. Iya, gue tahu bukan waktunya untuk girang, tapi akhirnya gue lihat Satya. "Kak Satya, gue nyariin Kak Satya daritadi. Gue mau bilang sesuatu!"
Satya berdeham dan melirik ke belakang. Gue baru sadar kalau Satya tidak sendirian. Ada lima orang temannya berdiri di belakangnya. "Bro, kayaknya gue ada omongan penting, nih!" Satya nyengir ke arah teman-temannya. "Lo semua balik ke lapangan aja. Nanti gue nyusul.
Teman-temannya menepuk bahu Satya sambil cengengesan sebelum berlalu. Aduh, pasti dikiranya gue mau nyatakan cinta ke Satya.
Gue melirik Rena yang berdiri tanpa ekspresi. Dia cuma berdiri. Kayak patung.
"Jadi gini, Kak," gue memulai dengan hati-hati, sembari mengamati air muka Satya. "Tempo hari, gue salah. Gue sudah buat Kak Satya tersinggung sama omongan gue. Gue mau minta maaf."
Alis Satya terangkat. "Deb, lo baru nyari gue sekarang?"
Oooh.. Jadi ceritanya dia ngambek? Hahaha, kok imut?
"Lo bukannya minta maaf, malah kirim pesan kalau lo pulang sendiri. Gue pikir lo menghindar dari gue."
Iya, gue emang menghindar. Gue melakukan itu karena nggak ngerti kondisi.
Jawaban di atas gue telan. Gue nggak mau Satya makin marah. Jadi mendingan gue diam aja sekarang.
"Makanya gue juga menghindar dari lo."
Gue melirik Rena lagi. Dia masih menatap Satya tanpa ekspresi. Yang begini, nih, yang susah gue prediksi. Apa yang ada di pikiran Rena saat ini? Apa dia penasaran? Marah? Cemburu?
__ADS_1
"Gue minta maaf, Kak," ujar gue pelan-pelan. Gue masih berpikir kalimat yang pas untuk gue ucapkan di depan kedua orang ini tanpa menimbulkan pertanyaan lainnya.
"Ya sudah," jawab Satya mengakhiri. Gue selamat!
"Kak Satya maafin gue?" tanya gue memastikan.
"Mau gimana lagi? Lo junior paling pinter di ekskul. Gue bakal sering bimbing lo kalau lomba udah dekat. Mau-nggak mau, pasti ketemu, kan?"
Gue ketawa aja dengarnya. Rena melemparkan senyuman ke gue. Gue nggak bisa nebak apa arti senyuman itu karena Rena nggak heboh seperti biasanya. Diamnya itu lebih bermasalah daripada ocehannya.
"Tapi, gue punya syarat!" Satya menambahkan. Jantung gue langsung lompat-lompat. Gue mencoba menenangkan diri dengan bernafas lebih pelan dan teratur. Nggak lucu kalau gue tiba-tiba semaput di tengah pembicaraan penting seperti ini.
"Apa, Kak?"
"Lo harus nonton pertandingan basket gue besok."
Gue manggut-manggut aja. Ternyata cuma nonton pertandingannya dia, toh? Gue kira syaratnya berat banget. Yah, nontonnya bisa diaturlah. Nanti sore juga gue kontrol sama dokter gue, jadi sekalian tanya kiat supaya tidak pingsan saat nonton nanti. "Jam berapa, Kak?" tanya gue, ingat tidak terlalu suka berdiri di bawah terik matahari.
"Sore. Sekitar jam lima. Tandingnya di GOR pusat kota."
"Ada," Rena tidak berani berbohong. "Jam tujuh malam, les musik."
"Lo datang ke pertandingan Kak Satya bareng gue, bisa?"
"Kak Satya nggak keberatan?" Rena mendongak, meminta persetujuan dari Satya.
Gue buru-buru nyahut. "Jujur, kalau gue pergi sendiri, nyokap sering nggak kasih ijin. Tapi kalau sama Rena, nyokap bisa tenang. Lagian, gue jadi bisa hemat ongkos angkot karena nebeng sama Rena. Jadi, boleh, ya, Kak?" rengek Gue.
"Ya, boleh," Satya memberi ijin. "Kalian harus duduk di tribun paling depan, ya! Kalau gue nggak lihat kalian, gue nggak jadi kasih maaf!"
"Iya, Kak! Kita janji!" gue membuat tanda silang di depan dada sebagai tanda perjanjian. "Kakak mau balik ke lapangan?"
"Iya. Mau latihan sebentar lagi," Satya mendongak, melihat teman-temannya sudah mulai latihan. "Kalian mau langsung pulang?"
__ADS_1
"Debi mau kontrol dulu. Kalau saya, ada les balet," Rena yang menjawab.
Satya melemparkan senyuman pada Rena. "Lo ngomongnya santai aja, Ren! Kayak baru kenal gue kemarin aja!"
Gue ikut cengar-cengir melihat Rena yang kesemsem. Rona merah menghiasi pipinya yang putih bersih. Wah, efek rutin ke salon, jadi punya kulit sebagus itu, ya? Tapi, kalau gue yang ke salon, mungkin hidung dan pipi gue tetap berbintik hitam seperti ini. Memang darah konglomerat beda kasusmya.
"Duluan kalau gitu, ya?" Satya pamit sambil berlalu. Rena memutar tubuhnya. Matanya tidak lepas dari sosok Satya yang memunggunginya. Senyuman mengembang di bibirnya yang merah merekah.
"Debiiiiiii!" dia menjerit kecil ketika Satya sudah lumayan jauh dan tidak dapat mendengar kami, lalu berjingkat-jingkat sambil menggenggam tangan gue. Wajahnya kini semerah kepiting rebus. "Makasih banget, Deb!"
Lha?
"Gue bisa lihat Kak Satya sedekat ini dalam waktu yang lama, berkat lo! Astaga.. gue sampai hafal wangi parfumnya!"
Hah? Wangi parfum? Emang Satya pakai parfum, ya?
"Bola matanya indah banget.. Senyumnya bakal kebawa sampai ke mimpi gue, nih!"
"Ren, lo yakin kalau lo bukan psikopat, kan?"
"Ih!" Rena mencubit lengan gue, sebal. Sekarang bibirnya malah manyun. "Gue cuma suka lihat Kak Satya! Lo malah ngatain gue!"
"Bukan ngatain, Ren.. Habisnya, ini pertama kalinya gue lihat lo kayak orang nggak waras. Gue juga berhak khawatir atas kesehatan mental sahabat gue ini, kan?" Gue mengamit tangannya. "Yuk, pulang!" kami berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Sopir Rena pasti sudah menunggu. Gue juga ada janji dengan dokter gue, jadi nggak baik datang terlambat.
Gue cuma berharap, hasil pemeriksaan kali ini berjalan baik. Tidak ada sesuatu yang spesial atau baru dari penyakit gue. Gue sudah ikuti saran dokter dan makan makanan bergizi yang bahkan nggak gue sukai. Target gue kali ini adalah lulus SMA. Gue sadar kalau target itu terlalu jauh buat gue, tapi namanya manusia, pasti keinginannya sangat besar, kan?
"Lo pulang kontrol nanti sama siapa?" Rena membangunkan gue dari lamunan.
"Sendiri."
"Ngomong-ngomong, gimana kabar tetangga baru lo?"
Oh, iya! Masih ada masalah lain yang tersisa. Gue masih harus bertamu ke rumah berhantu dan meminta maaf. "Sampai detik ini, gue nggak pernah ketemu lagi sama dia. Gue nggak tahu, apa dia masih bernyawa atau sudah berubah jadi hantu di rumah itu."
__ADS_1
"Lo nggak usah ngomong yang nyeremin gitu, deh!"
***