
Gue mondar-mandir di depan rumah sejak lima belas menit yang lalu. Perasaan gue nggak tenang dan gue nggak tahu harus mengadu ke siapa, kecuali pada satu orang. Namun, orang yang gue harapkan ada di rumahnya, ternyata tengah pergi jauh.
Rumah besar di sebelah rumah gue tampak gelap gulita. Tidak ada satupun lampu yang dinyalakan. Gilang pergi sejak tadi pagi dan belum kembali. Gue nggak berani menghubunginya, takut dia sedang sibuk. Lagipula, masalah gue bukan termasuk masalah yang gawat sampai harus menghubungi dia sesegera mungkin.
Gue menengok ke belakang, di mana pintu rumah gue yang berwarna cokelat, diam tidak bergeming. Saat ini, Ibu tidak ada di rumah. Ibu akan pulang sekitar pukul sepuluh malam setelah shift sorenya berakhir.
Akhirnya, gue memutuskan untuk masuk dan membersihkan diri. Berendam air hangat akan membuat gue sedikit rileks. Mungkin ditambah menikmati es krim sambil duduk santai di ruang tengah?
Air hangat tersiapkan dengan cepat di bak mandi, membuat cermin gue berembun. Tanpa membuang-buang waktu lagi, gue masuk ke dalam bak, dan menikmati waktu senggang gue.
Tangan gue bergerak membelah busa yang tercipta dari bubble bath yang baru gue beli bersama Rena beberapa hari yang lalu. Wangi lavender yang gue suka memenuhi ruangan.
Baru beberapa menit gue menikmati surga dunia, smartphone gue bergetar nggak santai. Gue meraih smartphone yang gue letakkan di meja kecil dekat pintu. Nama Gilang tertera di layarnya.
Gue menarik nafas panjang, entah kenapa rasanya lega saat dia menelepon. "Halo?" sapa gue.
"Deb, udah pulang sekolah?"
"Udah di rumah."
"Gue nelpon buat ngecek. Orang yang gue kirim buat anter lo pulang, nggak macam-macam, 'kan?"
Gue menggeleng. "Nggak," jawab gue waktu sadar Gilang tidak bisa melihat gelengan kepala gue. "Lo di mana?"
"Kangen sama gue?"
"Jijik!"
"Hahahaha!" suara tawa Gilang yang renyah hampir membuat telinga gue budeg. "Gue masih ada urusan di Jakarta."
"Lama?"
"Nanti malam balik."
"Nggak capek bolak-balik?" gue merasa khawatir. Perjalanan dari Jakarta ke sini memerlukan waktu hampir empat jam dengan jalur darat. Bisa sampai lima atau enam jam jika jalanan sedang jam sibuk.
"Gue sekaya ini, nggak mungkin nyetir sendiri. Lagian, mobil gue besar, gue bisa pasang spring bed di dalamnya kalau gue mau."
Cih! Pamer.
"Di sekolah tadi, ada ketemu Satya?"
Gue menghela nafas. "Ada," jawab gue. "Gue bingung..."
Gilang ikut tidak bersuara selama beberapa saat, memberi gue waktu untuk menata pikiran. "Lo menyadari sesuatu?" Gilang bertanya dengan suara pelan.
Gue nggak bisa bilang ini sebuah kesadaran atau apa, yang jelas, ini menganggu banget sedari tadi. "Satya... Nanya tentang hubungan kita terus dan ngotot kalau gue bohong."
__ADS_1
"Lo emang bohong."
"Iya, gue tahu!" sahut gue sebal. "Lo jangan potong cerita gue, dong!"
"Hehehe... Maaf, maaf! Ayo, lanjutkan!"
Gue menggosok lutut gue yang ada di dalam air. Busa-busa yang tadinya melimpah, sudah berkurang. "Satya meluk gue tadi di sekolah," gue bicara setengah berbisik, seakan ada yang bisa mendengar suara gue dari luar. "Jantungnya... Berdebar cepat sekali! Gue kira, dia bakal kena serangan jantung!"
"Jadi..." Gilang berkata lambat. Dia seperti mendikte apa yang ada di pikiran gue, namun tidak mau menyebutkannya. Dia menunggu gue mengakui apa yang sudah dia katakan sebelumnya.
"Apa itu bisa dikatakan suka sama seseorang?"
Helaan nafas Gilang dari seberang bisa gue dengar. "Memangnya, lo nggak pernah merasakan hal itu ke mantan pacar lo?"
"Pernah."
"Lalu, sekarang lo masih nanya juga ke gue? Lo masih mau menyangkal?"
Gue tidak berani menjawab. Benar kata Gilang, kalau gue tidak mau mengakui bagaimana perasaan Satya. Gue tidak mau percaya dengan apa yang terjadi. Satu kalipun, gue belum pernah membuat Rena bahagia. Selama ini, Rena selalu menjadi sahabat yang baik. Seseorang yang selalu gue andalkan selama gue hidup. Tapi, apa sekarang?
"Debi?"
"Iya, gue masih di sini."
"Lo mau oleh-oleh?"
"Lo lagi bebal begini, mana bisa gue kasih masukan. Mending gue bahas topik yang lain."
"Emang lo bisa bawa oleh-oleh apa?"
"Apa aja. Gue, kan, kaya. Gue bisa beli apa aja buat lo."
Gue tersenyum jahil. "Gue mau lo pulang ke sini dengan selamat aja. Gue kangen sama lo, Gil. Buruan pulang, ya!"
"Sial!"
Tut, tut, tut, tut, tut!
Yaelah... Langsung diputus. Nggak asyik! Padahal gue pengen dengar dia marah karena malu. Gue masih ingat bagaimana merahnya wajah Gilang tempo hari.
Merasa kehangatan air di bak sudah menguap, gue bangkit dari bak dan segera mengeringkan diri. Rasanya haus setelah berendam lama.
Jam di dinding masih menunjukkan pukul lima sore. Ibu sepertinya agak sibuk, karena tidak menghubungi sedari tadi. Gue harus masak makan malam sendiri kali ini.
Gue membuka kulkas, melihat apa saja bahan yang tersedia di sana. Daging ayam? Hmmm, gue lagi tidak ingin mengolah daging saat ini. Terlalu ribet, bagi gue.
"Masak mie aja, deh!" akhirnya makanan instan satu itu yang gue pilih. Ibu jarang memberi izin untuk menyantap mie instan. Hari ini akan menjadi kesempatan emas buat gue.
__ADS_1
Smartphone gue bergetar lagi. Gilang lagi-lagi menelepon. "Apa?"
"Lo sukanya rasa cokelat atau vanila?" Gilang nyerocos.
"Vanila."
"Vanila, Mbak!" Gue mendengar suara Gilang agak jauh. Mungkin dia tengah memesan sesuatu pada seseorang. "Pakai kotak yang itu. Pita warna merah." Gue menunggu sampai Gilang kembali ke teleponnya. "Debi?"
"Iya, iya, gue masih di sini."
"Gue udah mau pulang, nih!"
Kening gue berkerut. "Pulang?" ulang gue. "Pulang ke sini?"
"Iya. Emang kenapa?"
"Tadi lo bilang, pulangnya nanti malam. Belum ada tiga puluh menit yang lalu."
"Terserah gue, dong!" Gilang malah nyolot. Gue usap-usap dada untuk memanjangkan kesabaran gue. "Lo lagi ngapain?"
Gue menunduk, mendapati pintu kulkas yang masih terbuka. Pantas saja daritadi gue merasa hawa dingin datang entah darimana. Tangan kiri gue menggenggam botol yang berisikan jus mangga sisa tadi pagi. "Mau minum jus mangga."
"Buatan Ibu?"
Hmm... Enteng sekali anak ini menyebut nyokap gue dengan sebutan 'ibu', seolah ibunya sendiri. "Iya, buatan Ibu."
"Sisain buat gue!"
"Ini cuma tinggal segelas. Lo beli aja di luar!"
"Nggak mau! Gue mau jus buatan Ibu!" Gilang ngotot.
Kepala batu satu ini, kalau diajak berdebat, bakalan setahun kelarnya. "Nanti gue buatin yang baru. Kalau nunggu lo pulang, jus yang sekarang sudah nggak terlalu enak rasanya."
"Emang lo bisa bikin?" Gilang terdengar sangsi.
Gue jadi ingin buat jus dicampur obat pencahar supaya dia kapok merendahkan gue. "Tergantung sogokan yang lo bawa."
"Puding?"
Hanya dengan sekali sebut, tekstur puding sudah terkecap di lidah gue. "Rasa vanila?"
"Iyalah! Tadi gue udah nanya, kan? Nggak mungkin gue beli pakaian dalam rasa vanila!"
"Hehehe," gue nyengir. Kali ini, gue maafkan mulutnya yang nggak tahu sopan santun itu. Obat pencaharnya nggak bakal jadi campuran di jusnya nanti.
***
__ADS_1