
Mulut gue ternganga ketika melihat laki-laki kemarin berdiri di depan pintu rumah gue. Berbeda dengan kemarin, kali ini dia bersolek. Rambutnya disisir rapi dan dia memakai kemeja putih dipadu dengan celana hitamnya yang disetrika rapi. Betapa kagetnya gue saat tahu siapa dia sebenarnya.
"Gi.. Gi.. Gi.." suara gue tidak bisa keluar saking kagetnya.
"Hai, sorry, kayaknya kemarin kita nggak saling sapa dengan benar," ujarnya sambil nyengir, memamerkan gigi rapinya yang putih bersih seperti iklan pasta gigi. Gue berani taruhan, orang ini ke dokter gigi seminggu sekali. "Kemarin nyokap lo bawain gue makan siang, enak banget! Sebagai tanda terima kasih, gue anter lo ke sekolah."
Gue masih bengong. Orang yang selama ini gue kagumi karena tulisannya, kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari tempat gue berdiri.
"Gue rasa lo sudah siap," tambahnya lagi, melihat gue sudah berseragam rapi. Sebenarnya gue memang sudah mau berangkat sekolah, sedetik sebelum kehadirannya.
"Siapa?" Kak Dika muncul dari belakang gue. Sebuah roti panggang menggantung di mulutnya. "Tamu?"
"O..rang sebelah.." jawab gue lambat, masih tidak percaya dengan apa yang gue lihat.
"Ada perlu apa?"
"Mau antar Debi sekolah," sahut orang di hadapan gue.
Kak Dika melingkarkan tangannya di bahu gue. "Nganter Debi sekolah?" dia mengulang perkataan laki-laki jangkung itu. "Gue baru pertama kali ini lihat lo. Gue nggak bisa biarkan adik kesayangan gue dibawa pergi orang asing."
"Saya yang punya rumah sebelah."
"Rumah hantu sebelah, maksud lo?"
"Rumahnya memang besar dan agak seram, tapi nggak ada hantunya."
"Waaah, Ibu kira kenapa pada ngumpul di pintu depan. Ternyata ada Nak Gilang," Ibu ikutan nimbrung.
"Gilang!?" Kak Dika ikutan kaget. "Gilang si penulis novel misteri-romantis yang lagi booming itu!?"
"Gilang, kenalkan, ini anak pertama Ibu, namanya Dika. Dia lagi sibuk ngurusin meja hijau belakangan ini," Ibu menepuk bahu Kak Dika.
"Saya Gilang, yang punya rumah sebelah," Gilang mengulurkan tangannya. Kak Dika menyambutnya dengan canggung.
"Kalau sama Debi, kemarin sudah ketemu, kan?" tanya Ibu memastikan.
"Sudah, Bu," jawab Gilang dengan lembut. Mulut gue mangap melihat tingkahnya yang sok polos.
"Nak Gilang jadi antar Debi ke sekolah?"
"Jadi, Bu!"
Kak Dika menepuk punggung gue dengan dada membusung. Jelas dia juga tahu siapa Gilang yang ada di depannya ini. "Tolong jaga adik gue baik-baik, ya! Dia anak yang lemah dan butuh perlindungan."
Gilang melirik ke arah gue. Dari sorotan matanya, gue paham betul dia tengah mengejek. Orang ini benar bermuka dua!
"Hati-hati di jalan, ya!" Ibu menyerahkan ransel gue ke tangan Gilang. Kenapa semua jadi kompakan dukung si ular satu ini!?
Gue terpaksa ikut Gilang untuk pergi ke sekolah karena Ibu dan Kak Dika mendukung. Kalaupun gue diculik, keluarga gue bakalan gampang nyari gue. Gilang, kan, penulis terkenal.
Gilang menggiring gue masuk ke dalam mobilnya. Mobil sedan hitam mengkilat, sama persis dengan mobil yang tempo hari gue lihat dibawa cewek stres itu. "Istri lo mana?"
"Lo ngelantur?" Gilang masih nggak paham.
__ADS_1
"Lo nggak usah mangkir lagi. Waktu hari pertama pindahan di rumah lo, ada cewek yang nggak kalah nyolotnya sama lo. Dia bahkan ngusir gue, padahal gue cuma berdiri."
Gilang terbahak mendengar cerita gue, bukannya marah. Kayaknya dia memang mengakui kalau dia orang yang nyolot. "Dia asisten gue, bukan istri gue. Lagian, masa iya gue nikah sama tante-tante!"
"Ya, kali selera lo kayak begitu."
"Eh, ngomong-ngomong jalan ke sekolah lo, lewat mana?"
Gue nepok jidat. Untung belum keluar kompleks perumahan. "Habis ini belok kanan!"
"Oke, Mbak! Silakan menikmati perjalanannya!" jawabnya. Namun, setelah mobil berbelok ke arah yang gue beritahukan, dia bertanya lagi, "ini belok mana?"
"Kiri."
Dua menit kemudian, "ada pertigaan. Gue ke mana?"
"Lurus."
Tiga menit kemudian, "lampu merah, gue ke mana?"
"Astaga! Kalau lo nanya terus, gue harus nikmati apanya!?"
"Eh, ke mana, nih!?"
"Lurus, lurus!" sahut gue, kesal. Gue mendengus melihat dia cengengesan. "Lo kalau nggak tahu jalan, jangan sok mau antar orang ke sekolah!"
"Gue, kan, berniat baik."
"Gue pakai asisten atau taksi online. Lebih praktis dan mudah," nada suaranya yang angkuh jelas terdengar di telinga gue.
"Terus, sekarang lo keluar rapi begini, mau pergi ke mana?"
Gilang menoleh sekilas. "Nggak ke mana. Gue cuma mau nganterin lo aja."
"Pulangnya?"
"Gue bisa nunggu lo sampai pulang sekolah, terus kita balik sama-sama," dia menjawab enteng.
Alis gue berkerut. "Lo bukannya orang sibuk?" Gue teringat waktu dia marah-marah nggak jelas padahal sendirinya nyasar.
Dia menunjuk jok belakangnya. Gue menoleh dan melihat dua laptop diam tidak bergeming di atas tempat duduk.
"Laptop?"
"Hhh.. Ibu lo kemarin cerita, kalau lo itu suka baca buku. Orang yang suka baca buku, pastinya tahu gue. Gue berani taruhan, setidaknya ada dua atau tiga buah novel buatan gue yang lo punya."
Gue emang punya tiga novel karyanya Gilang, sih..
"Tapi gue nggak nyangka lo selamban ini berpikir."
"Lo tinggal jawab aja, susah banget, ya? Harus pakai ngatain gue dulu?" orang ini beneran bikin gregetan.
"Gue emang sibuk. Gue sibuk nulis. Penulis bebas nulis di mana saja," jelasnya. "Gue bisa nungguin lo sampai pulang sekolah, sementara gue lanjut nulis."
__ADS_1
Gue menghela nafas. "Terserah lo."
"Ini ke mana?"
"Lo ambil lajur kiri, terus belok kiri di ujung sana."
Gilang mengikuti arahan gue. Dia cukup jago menyetir, di luar dugaan gue. "Temen-temen di sekolah lo, cantik-cantik?"
"Banyak."
"Gue terkenal, nggak, di sana?"
"Hmm.." gue mikir. Selama ini gue nggak pernah membahas masalah novel yang sedang booming dengan siapapun, termasuk Rena. Jika dengan Rena, dia lebih banyak berceloteh tentang gebetannya, lesnya, atau bagaimana kehidupannya dia yang sepertinya selalu menyenangkan. Tidak banyak tentang gue yang gue ceritakan. Gue cukup menjadi pendengar yang baik.
Kalau dengan Satya, sepertinya tidak jauh berbeda. Kami berbincang-bincang mengenai pelajaran. Gue sering lupa waktu kalau sudah membahas matematika. Kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan berlatih soal untuk olimpiade.
"Gimana?" tanya Gilang lagi.
"Lo rapi begini buat nyari gebetan di sekolah gue?" selidik gue.
"Kali aja gue dapat," Gilang tertawa kecil. "Coba lo pikir! Gue ganteng, tinggi, muda, berpenghasilan. Siapa, sih, yang bakal nolak gue?"
"Gue."
"Yaelah, Deb! Nggak usah jawab cepet begitu!"
Gue melirik Gilang, ada ekspresi kecewa ketika dia mendengar jawaban gue. "Temen gue, Rena, dia cantik."
"Ini belok mana?"
"Kanan."
"Sekolah lo jauh juga, ya?"
"Bentar lagi nyampe."
"Oke, lanjut si Rena."
"Tapi lo harus buat Rena berdebar."
Gilang terbahak keras. Mobilnya sampai oleng. Lama dia ngakak begitu, sampai nggak bisa nafas. Dia bersusah payah mengatur kembali nafasnya begitu ingat sedang membawa anak orang di bangku penumpang. "Apaan temen lo? Emangnya ini cerita novel?"
"Tapi dia beneran nggak pernah deg-degan sama cowok!" gue bersikeras. "Berapa kali dia didekati cowok, nggak pernah ada yang jadi."
"Menjalin hubungan dengan orang lain itu, yang harus kalian cari adalah rasa nyaman. Deg-degan itu nilai tambah."
Gue memutar bola mata. Terserah dia, deh, mau ngomong apa. "Berhenti di sana, di depan pintu gerbang!"
"Nggak ada parkir khusus mobil?"
"Lo nggak usah ikut masuk ke sekolah gue!"
***
__ADS_1