
Mata gue mengerjap. Gue terbangun karena mendengar suara seorang anak kecil di dekat tempat gue tertidur. Saat gue mendongak, Satya tersenyum.
Gue menarik tubuh gue yang masih bersandar di dada Satya. "Berapa lama gue tidur?" gue mengusap mata gue yang belum bisa fokus.
"Sekitar setengah jam."
Gue mengatur nafas untuk mengembalikan jiwa gue yang terpencar saat tidur. "Gue mimpiin Rena lagi," ujar gue lemas. "Ini mimpi kedua. Mimpinya sama persis. Rena nggak mau ngomong sama gue, lalu dia menghilang."
Satya hanya diam. Gue juga tidak mengharapkan ada jawaban mengenai Rena dari Satya. Gue cuma perlu didengarkan.
"Di mimpi gue, dia cantik seperti biasa. Hanya saja, lebih pucat. Rambut panjangnya yang bergelombang sungguh indah." Gue menoleh ke arah Satya yang masih bergeming. "Apa Kak Satya nggak pernah tertarik dengan Rena?"
Satya berdeham. Dia mengusap kepalanya dengan canggung. "Dia cuma teman bagi gue. Gue nggak pernah melihat Rena sebagai seorang wanita."
"Kak Satya aneh," gue tertawa pelan. "Selama hidup gue, nggak ada yang menolak Rena. Semuanya jatuh hati dan berlomba-lomba ingin mendapatkan hati Rena."
"Kecuali gue." Satya mendengus. "Bukan kecantikan yang buat gue jatuh hati."
Desiran aneh kembali terasa. Gue mulai menikmati reaksi-reaksi baru yang jantung ini berikan. Rasanya aneh, tapi indah.
"Kapan lo pulang?"
"Besok."
Satya mengangguk. "Jam berapa? Gue bisa bolos besok."
"Nggak perlu sampai bolos, Kak," sanggah gue sebal. Anak ini, sudah kelas dua belas, tapi masih bisa mikirin bolos. "Gue akan sesuaikan jam pulang gue, supaya sama dengan jam pulang sekolah. Jadi, Kak Satya bisa datang ke sini waktu sekolah usai."
"Gimana dengan Tante Linda?"
"Gue akan pergi bareng Kak Satya, walau Ibu melarang nantinya."
Satya menggenggam tangan gue. Mata kami saling bertaut selama beberapa detik. Jantung Rena berdetak semakin kencang, membuat gue tersenyum.
__ADS_1
"Kak Satya pernah ketemu Gilang?" gue tiba-tiba teringat sama manusia kepala batu satu itu. Rasanya, kalau gue ketemu sama dia dan jadi emosi, kali ini tidak masalah.
"Kenapa tanya dia?" Satya balik bertanya. Ekspresinya berubah murung. Senyuman yang tadinya merekah, menghilang entah ke mana. "Kangen?"
Gue menggeleng sambil tertawa kecil. "Dari awal, gue nggak serius sama dia. Kak Satya sendiri tahu, kan, kalau gue pacaran sama Gilang cuma untuk menjauh dari Kakak karena Rena suka sama Kak Satya."
Sinar mata Satya berubah menjadi teduh dan lebih intens. Baru gue sadar, sedari tadi Satya masih menggenggam tangan gue. Awalnya gue menikmati setiap detik saat jantung ini melaju kencang, tapi lama kelamaan, gue jadi nggak nyaman sendiri.
"Kak, gue mau balik ke kamar, ya?"
"Besok, gue akan datang sama Gilang untuk jemput lo. Selama ini, dia nggak tahu kalau gue ketemu sama lo secara rahasia seperti ini."
"Dia nggak pernah datang ke sini?"
"Sering dan selalu diusir satpam," jawab Satya mantap, seolah membicarakan dirinya sendiri.
Gue tertawa, membayangkan bagaimana dia dan Gilang yang selalu diusir satpam setiap kali datang ke rumah sakit. "Maaf, ya, selama ini gue bener nggak tahu kalau ada kejadian begini."
Satya menepuk kepala gue. "Nggak apa," jawabnya sambil tersenyum simpul. "Makasi, Debi... Selama ini lo sudah kuat sendirian. Mulai saat ini, gue akan terus ada di samping lo dan jagain lo."
"Mau gue antar ke kamar?" tawar Satya.
Gue menggeleng keras. "Kita ketemu, kan, diam-diam. Lebih baik Kak Satya langsung pulang sekarang."
"Besok, gue akan datang di jam yang sama," Satya menambahkan.
Gue hanya menjawab dengan senyuman. Merasa percakapan kami sudah berakhir, gue memilih beranjak dari hadapan Satya. Gue kembali ke kamar dengan langkah mantap. Besok, apapun yang terjadi, gue akan pergi bersama Satya. Gue harus melihat makam Rena, berterima kasih dan meminta maaf padanya.
Gue terkejut saat membuka pintu kamar rawat inap. Ayah duduk di sofa sambil menelepon seseorang, sementara Kak Dika duduk di atas ranjang gue. Sejak kapan mereka di sini? Apa Ibu yang memberi kabar?
"Ayah? Kak Dika?"
"Ah, Debi sudah kembali," Ayah bicara di telepon, lalu menutupnya. "Dari mana saja kamu?" tanya Ayah sembari menghampiri gue. Beliau membantu gue membawa tiang infus saat gue berjalan menuju ranjang.
__ADS_1
"Debi!" Kak Dika memeluk gue erat. "Astaga, adikku sayang! Maaf, Kakak nggak tahu apa-apa."
"Kapan kalian datang?"
Kak Dika melepas pelukannya, matanya meneliti gue dengan cepat. "Kakak sampai duluan, lalu Ayah tiba beberapa menit kemudian. Sekitar tiga puluh menit yang lalu," jawab Kak Dika. "Kamu ke mana saja? Hape kamu nggak aktif?"
"Ibu nyita hape Debi sejak tiga bulan terakhir."
Kening Kak Dika berkerut. "Lalu, yang balas pesan Kakak selama ini, adalah Ibu?"
Gue hanya bisa mengangkat bahu. Gue nggak tahu kabar dari smartphone gue itu semenjak berpindah tangan. "Jadi, Ibu sudah cerita semuanya?"
"Ayah langsung datang ke sini setelah mendengar cerita Ibu. Bagaimana bisa hal sepenting ini baru diceritakan sekarang?"
"Aku juga kaget bukan main, tahu kamu sudah menjalani transplantasi jantung. Apalagi donornya adalah... Rena," Kak Dika berhati-hati di akhir kalimatnya.
"Kata Ibu, semua demi kebaikan Debi," gue mengulang jawaban dari Ibu kemarin. Gue duduk di atas ranjang. Ayah dan Kak Dika mengikuti dengan duduk di sofa. "Debi nggak tahu rencana Ibu selama ini. Debi kira, Ayah dan Kak Dika sedang sibuk, jadi nggak pernah ke sini untuk lihat Debi."
"Mana mungkin!" bentak Kak Dika. Ayah mengusap keningnya yang berkerut. "Apapun alasan Ibu, bagiku Ibu salah sudah menyembunyikan semua ini."
"Kita bicarakan ini besok pagi saja," potong Ayah. "Melihat kamu baik-baik saja, sepertinya kita bisa istirahat dengan tenang malam ini."
"Ayah sama Kak Dika bisa kembali ke rumah," usul gue. "Besok, Debi boleh pulang setelah pemeriksaan treadmill."
"Ayah akan jemput besok."
"Nggak usah, Ayah," jawab gue cepat, mengingat gue punya rencana lain untuk besok. "Saat pulang besok, Debi ada keperluan. Jadi, teman Debi yang akan jemput Debi di rumah sakit dan antar Debi pulang nantinya."
"Kamu harus istirahat," tolak Ayah.
"Ibu berencana membawa Debi pindah ke luar kota ini," gue membalas tatapan Ayah dengan berani. "Debi berusaha membujuk, tapi Ibu keras kepala. Besok, Debi mau ke makam Rena. Debi nggak tahu kapan Ibu akan nyeret Debi untuk pergi. Pastinya, setelah pergi dari kota ini, akan sulit untuk kembali lagi."
"Astaga! Apa lagi yang aku tidak tahu?" Ayah menggerutu pada dirinya sendiri. "Apa sebenarnya yang ada di pikiran ibumu?"
__ADS_1
Gue tidak menjawab, karena gue sendiri tidak mengerti. Ibu ingin melindungi gue, namun itu berlebihan. "Selama Debi masih di sini, Debi mau berkunjung ke makam Rena."
***