BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Sakit (2)


__ADS_3

Gue membuka beberapa buku paket kimia di atas meja yang seharusnya tempat makanan yang dibagikan rumah sakit. Siang itu, gue merasa amat sangat bosan. Langit di luar mendung, awan kelabu menggantung rendah.


"Deb, istirahat!" Mbak Feli, salah satu perawat penanggung jawab gue selama dirawat di HCU memperingatkan. "Kamu ini, setiap hari belajar terus. Apa nggak niat buat santai sedikit?"


"Ini santai, kok, Mbak," jawab gue sambil nyengir.


"Hebat, ya! Santainya pakai buku pelajaran."


"Mbak Feli tenang aja! Saya sudah baikan. Nanti kalau saya merasa capek, saya langsung rebahan."


Mbak Feli menghela nafas, menyerah. "Janji, ya! Terus kalau ada apa-apa, langsung pencet bel buat manggil!"


Gue mengacungkan bel yang sedari tadi tergeletak di sebelah pantat gue. Bel itu sengaja diletakkan dekat dengan jangkauan gue agar bisa meminta bantuan dengan cepat.


Mbak Feli akhirnya mengijinkan gue buat mengisi waktu dengan belajar. Selain matematika, gue juga suka kimia. Fisika juga. Sejarah oke juga. Sosiologi juga gue suka. Ah, fisika juga. Yah, pokoknya gue suka belajar. Gue suka waktu otak gue bekerja. Karena itu satu-satunya organ di tubuh gue yang bekerja dengan normal.


Kalau sudah ada buku di depan hidung gue, gue jadi nggak perhatian ama sekitar. Gue asyik tenggelam dalam dunia gue sendiri. Menikmati setiap angka yang ditangkap mata gue.


"Lo belajar?"


Gue mendongak cepat, kaget dengan suara laki-laki yang tiba-tiba saja terdengar dari ujung tempat tidur gue. "Lho? Kak Satya di sini?"


"Gue datang buat jenguk."


Gue menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul empat. Ternyata ini sudah sore.


"Gue nungguin dari sejam yang lalu," lanjut Satya. "Gue nggak tahu jam berkunjungnya bisa seketat itu di ruang HCU."


"Kak Satya tahu dari mana gue dirawat di sini?"


Satya mengangkat kursi mendekat agar dia bisa duduk tepat di sebelah gue. "Temen lo satu itu heboh bukan main. Nggak cuma gue aja, kayaknya satu sekolah tahu kalau lo lagi sakit."


"Rena?"


"Siapa lagi." Satya melipat tangannya di atas tempat tidur gue. "Tapi gue nggak jelas tahu. Lo sebenarnya sakit apa?"


Gue melemparkan senyuman padanya. "Sakit perut. Mau pup!"


"Mau pup aja, lo masuk HCU? Kaya banget lo!"


"Itu apa?" gue salfok sama tentengan yang Satya bawa.


Satya merapikan buku-buku di atas meja gue terlebih dahulu, setelah itu mengeluarkan sebuah kotak puding dari dalam tas yang dia bawa. "Puding nggak buat diare, kan?"


"Astaga! Gue suka banget puding!" tanpa malu-malu, gue buka tutup kotaknya dan langsung melahap puding Satya. "Buat gue semua, kan?"


"Bagi, dong!"


"Orang sehat nggak perlu makanan enak!" tolak gue nggak tahu terima kasih. Selama gue menikmati puding pemberian Satya, dia diam menemani. Tanpa bersuara. Gue jadi noleh ke arahnya. "Kak Satya beneran mau?" tanya gue, merasa nggak enak hati.

__ADS_1


Satya tertawa pelan. "Makan aja. Gue cuma suka lihat lo makan lahap begitu."


"Kak Satya mirip sama Rena."


"Mirip?" ulang Satya. "Bagian mananya?"


"Bagian demen liat gue makan." Gue menyuap puding Satya lagi tanpa ampun. "Rena selalu ngasih gue makan. Pokoknya apapun makanan yang gue minta, dia selalu penuhi. Gue sering ke rumah dia buat minta makan aja."


"Dia yang masak?"


"Anak kesayangan kayak Rena, nggak pernah dibolehkan pegang pisau."


"Segitunya?" Satya menopang dagunya dengan satu tangan. "Kayaknya lo kenal banget sama Rena, ya?"


"Kak Satya belum pernah ngobrol langsung sama Rena?" gue balik nanya. "Waktu itu, gue udah ngasih nomor Rena, kan? Belum Kakak hubungi?"


Satya mengangkat bahu. "Gue nggak ada perlu sama dia."


Gue menelengkan kepala gue, nggak ngerti sama jawabannya. Kenapa Satya membingungkan, ya?


"Lo merasa enakan setelah makan puding?"


"Bukan enakan lagi, gue jadi sehat!"


Satya tiba-tiba menutup kotak puding. Lalu dia menaruh sisa puding ke dalam lemari es.


"Delapan," koreksinya. "Jangan di makan sekaligus! Buat nanti malam lagi."


"Tapi gue masih maaaauuuu.."


Satya duduk lagi di kursinya, tidak mengindahkan permintaan gue. "Kapan lo boleh pulang?"


"Mungkin dua atau tiga hari lagi?" terka gue. Sudah tiga hari gue ada di sini. Dokter penanggung jawab gue sudah melakukan banyak pemeriksaan. Kondisi gue juga sudah membaik.


"Lama juga, ya?"


"Besok rencana pindah ke ruang biasa."


"Artinya jam besuknya bebas, dong?"


"Kak Satya mau datang lagi?"


Satya mengangguk. "Lo mau gue bawakan apa besok?"


Gue diam sejenak. Mungkin karena kami baru berteman, Satya mau repot-repot jenguk gue di rumah sakit. Ketika gue baru duduk di bangku sekolah menengah pertama, banyak teman-teman yang datang menjenguk saat gue harus rawat inap. Tapi saking seringnya gue masuk rumah sakit, perlahan mereka tidak datang lagi. Hanya Rena yang tetap menemani.


Getar smartphone gue membuat gue sadar dari lamunan. Rena menelepon. "Bentar, ya, Kak! Rena nelepon," gue ijin sama Satya.


"Iya, angkat aja."

__ADS_1


"Halo?" sapa gue.


"Debi! Siapa, sih, di dalam!? Gue daritadi mau masuk tapi katanya lo ada pengunjung! Gue udah nunggu tiga puluh menit di luar! Bukan nyokap lo, kan? Soalnya gue tadi papasan sama nyokap lo di lantai satu."


"Oh, iya, bukan nyokap gue."


"Terus siapa!? Kata Mbak Feli, dia nggak pernah lihat orangnya. Temen sekelas lo? Atau temen sekolah kita?"


"Ren, ngomongnya pelan-pelan," pinta gue. Telinga gue hampir budeg karena dia ngomong pakai gas. "Gue ama Kak Satya."


"Kak Satya?"


"Iya, Kak Satya di sini jenguk gue," jelas gue. Rena diam di seberang telepon. Gue noleh ke Satya, dia bertanya ada apa tanpa suara. "Lo mau nemenin Kak Satya ngobrol sebentar di luar?"


Satya kaget dan berbisik, "lha? Kok gue?"


"Gue nggak enak minta Kak Satya langsung pulang. Lo ajak ngobrol sebagai penutup, ya?" pinta gue ke Rena. "Gue capek, mau istirahat."


Rena berdeham. "Oke, deh, kalau itu mau lo."


"Tunggu bentar, ya!" gue memutus telepon.


"Kenapa gue jadi tumbal?" tanya Satya.


"Bukan tumbal, Kak! Gue lagi nyelametin nyawa gue."


"Maksud lo?"


"Rena nggak bisa masuk buat jenguk karena Kak Satya ada di sini. Dia marah karena nunggu lama." Gue terhenti. Gue nggak mungkin bilang kalau gue minta Kak Satya ngobrol sama Rena untuk memperbaiki mood Rena, karena Satya spesial untuk Rena. "Kalau Rena marah, gue jadi nggak bisa makan enak lagi di rumahnya."


"Kalau gitu, biar gue yang ngasih lo makan enak tiap hari."


"Emang gue hewan peliharaan!?" protes gue kesal. "Gih! Ajak Rena ngobrol sebentar. Nggak ada ruginya berteman sama dia. Rena itu orangnya asyik, jadi Kak Satya nggak bakal bosen ngobrol sama Rena."


Satya menggaruk kepalanya. "Iya, deh, kalau itu yang lo mau," jawab Satya pada akhirnya.


Waktu dia bangkit dari duduknya, gue buru-buru menambahkan. "Kak, hati-hati pulangnya. Kayaknya mau hujan."


"Iya," jawab Satya sambil tersenyum. Wah, Rena bakalan meleleh kalau lihat ini. "Besok gue datang lagi. Sebelum gue ke sini, gue bakal chat lo untuk nanya nomor kamar dan lo maunya dibawain apa."


"Nggak usah repot-repot, Kak."


"Besok, fast response, ya!" imbuh Satya seakan nggak dengar jawaban gue. Kemudian dia berlalu dari bilik gue.


Yah.. Nggak apa, deh! Toh Satya lama kelamaan bakalan menghilang juga seperti teman-teman gue yang lainnya. Gue nggak marah, malah gue ngerti. Mereka itu punya kehidupan sendiri yang harus dijalani. Mereka nggak ada waktu buat orang sekarat kayak gue.


"Besok minta dibawain apa, ya?" gumam gue sambil rebahan.


***

__ADS_1


__ADS_2