BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Bukan Aku


__ADS_3

Air mata gue ikut menetes tidak tertahankan, mendengar Rena masih memikirkan pertengkaran kami waktu itu. Harusnya gue berani ngejar Rena saat dia berpaling. Itu tidak akan susah. Rena pasti akan langsung memberi maafnya.


"Maaf, gue egois dan terus ingin ketemu sama lo. Meskipun Ibu lo melarang, gue nggak mau melepas lo pergi tanpa kata-kata."


"Pergi?" gue menyeka air mata gue. "Gue pergi? Ke mana?"


"Gue nggak sengaja dengar Tante Linda mengurus perpindahan lo saat gue ada perlu di ruang komite sekolah."


"Pindah?" gue makin tidak mengerti. "Maksud Kak Satya, Ibu berencana ngajak gue pindah sekolah?"


Mata Satya membelalak. "Lo nggak tahu?" Satya akhirnya paham kalau gue nggak tahu apa-apa. Dia mengacak-acak rambutnya sambil mengerang frustasi.


Gue menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Gue menghapus sisa air mata yang masih membasahi mata dan pipi gue, bersamaan dengan itu, gue meneguhkan hati gue untuk kenyataan yang gue nggak tahu. "Kak, bisa ceritakan apa yang terjadi sebenarnya?" pinta gue.


Satya mengalihkan pandangannya. Jelas terlihat bahwa dia tidak mau memenuhi permintaan gue. Atau, dia takut sesuatu terjadi pada gue, kalau gue tahu semuanya. Gue tiba-tiba sadar akan sesuatu. Ibu menutupi kebenaran. Beberapa orang tahu, namun Ibu tidak memperbolehkan mereka bertemu dengan gue.


"Apapun yang terjadi, gue siap menerimanya," gue mengatakan itu, meskipun dalam diri gue tidak sepenuhnya yakin bahwa gue siap. "Gue nggak akan membenci Kak Satya ataupun orang lain karena amarah. Jadi, tolong ceritakan semua yang Kak Satya tahu."


Mata Satya memandang gue dengan lekat. Kekhawatiran terpancar jelas dari raut wajahnya. Gue tahu, dia bimbang antara mau mengatakan yang sebenarnya atau tetap bungkam.


"Kakak tahu, siang tadi, gue menemukan perubahan yang signifikan dalam diri gue. Apa Kak Satya juga bisa lihat?"


Meski ragu, Satya tetap mengangguk. "Lo... Makin cantik," ujar Satya sambil tersenyum simpul.


"Bukan itu, Kak!" sangkal gue. Kembali, gue merasakan rasa panas di pipi gue. "Gue menjadi cerah dan nggak gampang kolaps. Warna kulit gue menjadi cerah dan nggak pucat lagi."


Satya menunduk, seakan takut untuk membuka mulutnya. Dia bergerak gelisah di tempat duduknya. Gue rasa, dia mau kabur jika bisa.


"Kalau Kak Satya nggak mau cerita, silakan pulang."

__ADS_1


Satya akhirnya mengangkat wajahnya. Ada kesedihan yang terpancar di mata indah Satya. "Debi..."


"Gue nggak mau bicara sama orang yang nggak mau jujur sama gue," sahut gue, lalu berdiri. "Kalau Kak Satya memang memutuskan untuk diam, diamlah sampai akhir. Gue juga akan ikuti kemauan Ibu untuk pindah sekolah dan nggak ketemu kalian lagi," gue mencoba mengompori. Satya menatap gue dengan pandangan memohon. Gue berbalik, hendak beranjak.


Tiba-tiba tangan Satya terulur, menangkap tangan gue. "Maaf. Jangan pergi," pintanya. "Gue akan beri tahu apa yang gue tahu, dengan satu syarat."


"Apa?"


"Kalau lo merasa nggak enak badan, lo harus nurut untuk gue bawa ke UGD."


Syarat yang mudah. Kepala gue langsung mengangguk setuju. Gue kembali duduk di sebelah Satya.


Satya menyibak rambutnya, membuatnya tampak berantakan. "Di hari Rena menjalani operasi, lo kehilangan kesadaran. Gue berusaha secepat mungkin bawa lo ke UGD. Tapi lo nggak bernafas. Tiga orang tenaga medis langsung memberikan resusitasi jantung-paru. Gue nggak tahu dengan jelas apa yang terjadi, tapi gue tahu kalau lo di ambang kematian."


Gue bersandar, membayangkan bagaimana kondisi gue saat itu. Hal terakhir yang gue ingat hanyalah wajah Satya dari samping.


"Lalu, orangtua Rena datang."


Satya mengangguk. "Di tengah keriuhan yang terjadi, mereka datang. Tante Nami dan Oom Reka, memandangi lo lama sekali. Kemudian, saat nadi lo kembali terasa, Oom Reka angkat bicara."


"Oom Reka bilang apa?"


"Oom Reka meminta dokter di sana melakukan pemeriksaan kecocokan jantung lo dan Rena," Satya menjawab hampir seperti berbisik. "Lo sengaja ditidurkan dengan obat-obatan. Banyak pemeriksaan dilakukan selama berhari-hari. Lalu, hasil pemeriksaan keluar. Jantung Rena bisa menjadi pendonor yang tepat untuk lo."


"Tunggu!" gue mengusap kening gue yang berdenyut. "Rena? Jantungnya?"


"Saat itu, Rena dalam kondisi koma. Dokternya mengatakan, kapanpun Rena bisa pergi. Kemungkinannya untuk sadar sangat kecil. Dokter juga bilang, kalau alat bantu nafas yang Rena gunakan dilepas, Rena tidak akan bertahan lebih dari semenit."


Gue mencengkram tangan Satya. Gue gemetar, rasa takut menguasai diri gue. Benarkah apa yang dikatakan Satya? Rena koma saat itu?

__ADS_1


"Tante Nami tersenyum hari itu. Gue sendiri melihatnya melepas Rena untuk dibawa ke ruang operasi. Oom Reka membelai kepala Rena yang masih bernafas untuk terakhir kali. Tante Linda memeluk Rena, merasa berterima kasih karena Rena akan mendonorkan..." Satya menatap gue dengan mata nanar, "...jantungnya untuk lo."


Tubuh gue membeku. Gue bahkan nggak berani sekedar menghembuskan nafas. Mata gue membelalak, tidak percaya dengan apa yang telinga gue dengar.


"Operasi transplantasi jantung berjalan sukses. Tidak ada penolakan dari tubuh lo."


"Rena?" desis gue. Gue tidak tertarik mengenai jalannya operasi yang hendak Satya ceritakan.


Satya menggenggam erat tangan gue. "Rena meninggal."


Dunia seakan runtuh. Tangan dan kaki gue gemetar mendengar jawaban Satya. Debaran jantung gue yang keras, terasa hingga ke telinga. Sejenak, hanya itu yang gue dengar.


Gue menyadari ada sentuhan di kepala gue. Waktu menoleh, Satya melemparkan pandangan minta maaf. Sepertinya dia merasa bersalah karena memberitahu semuanya.


Air mata kembali terjatuh. Badan gue lemas dan jatuh ke pelukan Satya. Tidak ada yang bisa gue lakukan selain menangis sejadi-jadinya. Ingin sekali rasanya bertemu Rena, memohon maaf karena telah mengambil jantungnya. Sebelumnya, gue nggak berharap banyak tentang masalah transplantasi jantung yang menjadi jalan keluar dari sakit gue. Tapi, orangtua Rena memutuskan melepas Rena demi gue.


"A-apa benar orangtua Rena nggak keberatan?" tanya gue di sela tangis. "Gue yang buat Rena meninggal."


"Bukan. Gue yang salah karena nggak langsung ngejar Rena hari itu."


Kami berdua menangis siang itu. Gue tidak peduli jika mata gue jadi bengkak. Hati gue teriris menyadari Rena telah tiada. Sahabat gue yang baik hati tidak akan gue dengar lagi suaranya. Rena lenyap dari muka bumi.


"Gue akan bicara sama Ibu," kata gue sambil menyeka air mata yang terus mengalir. "Gue nggak mau pindah sekolah. Gue akan temui orangtua Rena."


"Gue bakal bantu apapun yang lo mau."


Debaran aneh kembali terasa saat gue membalas tatapan Satya. Debaran yang membuat pipi gue terasa panas.


Ah... Seperti inikah yang Rena rasakan saat bertemu Satya? Berdebar tidak karuan karena menyukai seseorang? Jantung yang berdetak di dalam rongga dada gue adalah jantung milik Rena. Tentu saja ini akan bereaksi jika ada Satya. Rena sangat menyukainya.

__ADS_1


Reaksi yang jantung ini berikan, adalah reaksi dari Rena sendiri. Reaksi dari seorang perempuan remaja yang tengah jatuh cinta. Tidak ada hubungannya sama gue. Gue cuma wadah yang Rena pakai. Mungkin Rena ingin gue tahu bagaimana besarnya dia mencintai Satya. Gue nggak berhak mengklaim bahwa debaran ini adalah milik gue.


***


__ADS_2