
Gue masih bingung kenapa Satya malah jadi ngambek. Apa karena gue usul ajak Gilang juga? Tapi, Satya nggak berhak marah untuk itu. Dianya sendiri yang mengatakan kencan kami hanya seperti tour.
"Hhhh..." gue menghela nafas panjang. Ternyata punya teman laki-laki tidak semudah yang gue bayangkan. Di novel-novel yang pernah gue baca, mereka sifatnya simple, tidak ada yang serumit Satya.
"Lo kenapa? Dari tadi menghela nafas terus," tanya Gilang sambil menyajikan secangkir teh hangat di depan gue. "Lagi sembelit?"
Gue menghela nafas lagi. "Kak Satya marah sama gue."
"Hah?"
Gue menyeruput teh hangat di depan gue terlebih dahulu. Rasa cokelat langsung terkecap di lidah gue. Gilang memang jagonya bikin teh dengan rasa yang unik. "Dia ambigu, gue jadi nggak ngerti sendiri sama dia!"
Gilang berdecak sambil geleng-geleng kapala. "Kalian ini, kenapa ababil, sih? Memang ada masalah apa?"
"Waktu kita makan di restoran steak tempo hari, Kak Satya ngajakin gue kencan," akhirnya gue mengakui hal itu dengan mulut gue sendiri. "Tadi kita ketemu di kantin. Kak Satya ngomong masalah itu juga. Selanjutnya dia bilang kalau dia siap jadi tour guide gue dan ngajak gue jalan. Itu artinya dia menyamakan kencan dengan tour, kan? Gue jawab aja, kalau gue mau ngajak lo sekalian."
"Ya jelas dia marah!" cicit Gilang, terlihat emosi. "Lo itu beneran nggak peka, ya?" Gilang mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa harus marah?" gue beneran nggak ngerti.
Kini, giliran Gilang yang menghela nafas. "Satya itu maunya supaya lo nggak terbebani dengan kata 'kencan'. Gimanapun, lo itu sahabatnya Rena dan masih dalam status berduka. Nggak mungkin dia begitu saja ngajak lo jalan."
Gue memberenggut. "Tapi... jantung Rena berdebar kencang waktu Kak Satya ngajakin kencan. Kayaknya, Rena senang, deh!"
"Lo ngomong apa?" Gilang menyilangkan tangan di atas meja dengan kening berkerut.
"Setiap Kak Satya ada di dekat gue, jantung Rena berdebar cepat sekali. Belum lagi waktu Kak Satya ngajak kencan."
"Jadi," Gilang berkata lambat-lambat, "menurut lo, itu jantung Rena?"
"Memang jantungnya Rena, kan?"
__ADS_1
"Bukan, bukan! Maksud gue, setiap Satya memberikan stimulus dan buat jantung itu berdebar kencang, menurut lo karena itu jantungnya Rena?"
Gue mengusap dada gue sambil tersenyum. "Gue pernah bilang sama lo, kan? Rena punya syarat lucu untuk jadi pacarnya."
"Harus buat dia deg-degan," jawab Gilang. Ternyata dia masih ingat.
"Jantung ini bereaksi setiap kali ada Kak Satya, karena jantung ini milik Rena. Rena menyukai Kak Satya."
"Debi, apa lo nggak pernah mikir kalau lo naksir Satya?"
Gue bengong sebentar mendengar pertanyaan Gilang. Bagaimana bisa Gilang berpikir bahwa gue suka Satya? Rena yang menyukainya, bukan gue.
"Debaran yang lo rasakan, karena reaksi dari tubuh lo sendiri."
Gue menggeleng tegas. "Bukan gue, Gil. Rena yang punya debaran ini. Gue nggak ada hubungannya."
Gilang menepuk keningnya sambil menghebuskan nafas dengan keras. "Kali ini gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo, Deb!" Gilang kembali mengangkat wajahnya dan memandang gue. "Menurut lo, karena jantung itu milik Rena sebelumnya, jadi debaran yang lo rasakan sekarang adalah debaran Rena?"
"Rena bakalan sedih mendengar ini," gumam Gilang sambil bersandar ke kursinya. "Mau ke psikiater? Cara pikir kamu lumayan tidak terduga."
"Emangnya gue salah?"
"Ya, lo salah!"
Kening gue berkerut, tidak terima dengan apa yang Gilang katakan. Gue hendak berargumen, namun wajah Gilang yang serius membuat gue bungkam. Gilang pernah seperti ini sebelumnya. "Apa... Apa yang salah?" gue menahan emosi. "Jantung ini memang milik Rena. Bukannya Rena mendonorkan jantungnya supaya bisa tetap hidup?"
"Bukan!" seru Gilang sambil menggebrak meja. "Rena nggak berencana untuk meninggal! Jantungnya secara kebetulan didonorkan buat lo! Rena sudah nggak ada, Deb! Jantung itu milik lo sekarang!"
Mulut gue terkunci melihat Gilang murka. Dia tidak kalah seramnya dengan Satya kalau sedang marah. Tangan kanan gue meremas tangan gue yang lainnya, mencoba untuk tetap mendinginkan kepala. Sebenarnya, gue sendiri hampir tidak bisa menahan emosi. Gue tidak mau terima bahwa Rena telah tiada. Gilang yang mengatakannya secara gamblang membuat gue kesal.
"Debi, tolong pakai akal sehat lo sedikit aja. Lo dapat nilai sempurna untuk biologi dan kimia, kan? Harusnya lo mengerti, jantung itu terhubung dengan tubuh lo, bukan tubuh Rena lagi. Segala hal yang membuat jantung lo berdebar, itu tergantung respon dari diri lo sendiri."
__ADS_1
Gue bangkit dari duduk, membalas kilatan mata Gilang dengan berani. "Cukup!" pinta gue dengan suara pelan. Entah kenapa, kata-kata Gilang membuat gue sedih. "Gue pulang!" Gue langsung membalikkan tubuh tanpa menunggu jawaban dari Gilang. Gue sudah hampir memukulnya tadi.
"Jangan lari!" Gilang menarik tangan gue dengan kasar hingga tubuh gue berbalik. Cengkraman Gilang yang melingkar di tangan kanan gue terasa menyakitkan. "Lo pernah lari sekali, dan itu menimbulkan penyesalan, kan?"
"Gue nggak mau dengar omongan lo!" gue menepis tangannya.
"Apa yang buat lo marah?" desis Gilang tidak sabar.
"Bagi gue, rena belum meninggal! Dia masih hidup! Jantung Rena masih berdetak!"
PLAK!
Gue kaget bukan main waktu sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi gue. Perihnya sampai membuat air mata gue keluar. Amarah yang meluap sedetik lalu, tiba-tiba menguap, membaur dengan udara di sekitar gue.
"Cukup, Deb!" suara Gilang bergetar. "Jangan pernah menganggap kematian seseorang sebagai sebuah candaan. Rena telah tiada, lo harus terima itu!"
Gue tidak berani bergerak. Daripada marah, Gilang lebih terlihat sedih. Dia memalingkan wajah saat gue sadar kalau air matanya hampir menetes.
"Maaf, gue nampar lo. Lo boleh bilang ke orangtua lo supaya gue dibantai sekalian."
"Gilang..."
"Pergi!"
Gue memandangi punggung Gilang untuk beberapa saat, sebelum memutuskan untuk menjauh dan memberikannya waktu sendirian. Gue ingat, kalau orangtua Gilang sudah tidak ada. Apa mungkin dia merasakan hal yang sama seperti yang gue rasakan saat ini? Kami sama-sama menentang kematian orang yang kami sayang, lalu membuatnya seolah-olah masih hidup?
Tapi, gue sungguh nggak punya hak untuk mempunyai perasaan pada Satya. Gue sudah menerima terlalu banyak kebaikan dari Rena. Kalau sampai gue menyukai Satya, mana pantas gue disebut sebagai sahabatnya? Hal itu hanya akan melukai perasaan Rena.
Gue memandangi langit malam yang cerah. Udara di luar masih hangat. Jalanan di depan rumah gue tampak sepi seperti biasanya. Gue diam sejenak, memikirkan bagaimana gue harus bersikap selanjutnya. Gue tidak ingin melukai siapapun, tapi akhirnya semua orang terluka.
***
__ADS_1