
Gue membuka kedua mata perlahan. Langit-langit kamar yang gue kenal membentang luas di hadapan gue, tapi itu bukan langit-langit kamar gue di rumah. Wangi obat-obatan memenuhi rongga paru-paru gue. Seketika, gue tahu ada di mana.
Gue menunduk, melihat ada banyak kabel yang mencuat keluar dari balik baju pasien yang gue pakai. Kedua tangan gue terpasang infus dengan banyak cabang.
Mata gue teralihkan pada seorang wanita berseragam hijau tua yang berdiri memunggungi gue "Bu.." bisik gue. Sungkup oksigen yang menutupi hidung dan mulut gue membuat suara gue tidak terdengar.
Tenggorokan gue terasa sangat kering. Ujung-ujung jari tangan dan kaki gue dinginnya minta ampun, tapi dada gue rasanya seperti terbakar. Gue berusaha menggerakkan tangan gue untuk meraih Ibu yang masih memunggungi gue.
Ibu menoleh cepat saat tangan gue berhasil menggenggam seragamnya. Ada dua kemungkinan. Ibu sedang shift jadi sekalian mengurus gue, atau Ibu tidak pulang sama sekali dan meminjam baju kerja rumah sakit untuk menemani gue.
"Anakku.. Anakku.." Ibu membelai kepala gue. Bulir-bulir air mata mulai jatuh di pipinya yang kurus. "Akhirnya kamu sadar.."
Sudah berapa lama gue di rumah sakit?
Mbak Feli muncul dari balik tirai. Dengan sigap, dia memeriksa semua kabel yang terhubung dengan tubuh gue. Setelah memastikan semuanya berada di tempat yang tepat, Mbak Feli membungkuk di atas gue. "Debi, kamu tahu ada di mana sekarang?" tanyanya.
Pertanyaan yang sama setiap kali keadaan gue berubah menjadi buruk. "Ru..mah sakit.." jawab gue pelan.
"Sekarang jawab dengan anggukan saja, ya!"
Gue mengangguk. Dalam keadaan seperti ini, memang susah sekali mengeluarkan suara untuk menjawab.
"Jadi, ini hari kelima kamu di HCU. Kamu dibawa ke sini dalam keadaan tidak sadar. Kadar oksigen di dalam tubuh kamu terlalu rendah waktu itu. Sekarang semuanya sudah membaik. Kamu masih merasa lemas?"
Gue ngangguk sekali.
"Oke, itu wajar. Dari hasil pemeriksaan, syukurlah, tidak ada kerusakan bagian tubuh yang berarti dari kekurangan oksigen itu. Tapi tetap harus kami pastikan dengan bantuan kamu."
Gue ngangguk sekali.
"Kita akan lakukan pemeriksaan elektrokardiogram lagi, sementara menunggu tenaga kamu kembali."
Gue ngangguk sekali.
Mbak Feli tersenyum, lalu keluar bilik ranjang gue. Ibu berdiri di samping gue dengan waslap di tangannya. "Ibu rencana mau lap kamu. Sudah sore, waktunya kamu mandi."
Gue hampir nangis lihat air muka putus asa dari Ibu. Ibu berpaling, mendorong troli yang berisi baskom air hangat ke luar bilik.
__ADS_1
Gue menghirup udara yang keluar dari sungkup oksigen banyak-banyak, berhenti ketika dada gue terasa nyeri, lalu menghembuskannya perlahan.
Pikiran gue melayang ke hari di mana gue kehilangan kesadaran. Hal terakhir yang gue lihat adalah Rena yang berlari kecil menghampiri Satya. Dress-nya bergerak indah ketika diterpa angin semilir.
Bagaimana, ya, waktu itu? Hmmm..
Meskipun gue hadir di pertandingan Satya, gue nggak nonton sama sekali. Gue fokus berpura-pura baik-baik saja, meski dada gue rasanya mau meledak. Seruan demi seruan dari penonton memperburuk kondisi gue. Pantas saja dokter gue melarang gue untuk datang ke pertandingan langsung semacam itu.
Jadilah gue nggak tahu akhir dari pertandingan. Satya memang tersenyum waktu dia keluar dari ruang ganti pemain, tapi itu bisa berarti apa saja, kan? Satya itu tipe orang yang akan tersenyum menang ataupun kalah dalam pertandingan.
Pasti Pak Anton adalah orang pertama yang juga menyadari kalau gue pingsan. Apa Beliau juga yang bopong gue sampai mobil lalu ke rumah sakit? Wah, gue harus berterima kasih sama Pak Anton.
Mbak Feli masuk kembali ke bilik gue dengan membawa alat EKG. "Kita rekam irama jantung dulu, ya?" ujarnya.
Gue ngangguk sekali.
Pemeriksaan itu tidak berlangsung lama. Hanya sekitar satu menit. Mungkin karena Mbak Feli sudah terlatih dan biasa melakukan ini, pemeriksaan pun berjalan cepat.
"Debi, bisa angkat tangan kanan?" tanyanya.
Gue mengikuti perintah. Meskipun seluruh tubuh gue rasanya lemah, tapi gue mau membuktikan pada diri sendiri bahwa gue memang masih baik-baik saja.
Gue mengangkat tangan kiri.
"Tekuk kaki kanan?"
Gue menekuk kaki kanak.
"Kaki kiri?"
Ganti menekuk kaki kiri.
"Kedipkan mata beberapa kali?"
Gue berkedip beberapa kali dengan perlahan. Kalau ngedip cepat, nanti gue dikira naksir Mbak Feli.
"Senyum?"
__ADS_1
Gue nyengir kayak kuda.
Mbak Feli balas tersenyum. "Oke, sekarang kita tinggal tunggu dokter penanggung jawab kamu datang. Beliau pasti senang sekali, akhirnya kamu membuka mata."
Gue ngangguk lagi. "Minum?" suara gue serak. Ada rasa tidak nyaman yang baru gue sadari di tenggorokan gue.
"Mbak bantu minum, tapi jangan terlalu banyak dulu, ya!" Mbak Feli meraih botol air mineral yang ada di atas meja gue, lalu menyelipkan sedotan ke dalamnya. "Pelan-pelan, ya!" dia menyodorkan sedotan ke bibir gue.
Saat menelan, rasanya tidak enak. Ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan gue. Ah, jangan-jangan gue terpasang NGT, ya? Mbak Feli sendiri bilang kalau gue nggak sadar selama lima hari. Makan dan minum, serta obat-obat oral yang harus gue minum, pastinya dimasukkan lewat selang yang dipasang melalui hidung gue sampai ke lambung.
Ibu kembali ikut masuk ke dalam bilik gue. "Teman-teman kamu datang, Nak," kata Ibu dengan penuh senyuman.
Biasanya Ibu bakalan bilang 'Rena datang', bukan 'teman-teman'. Siapa kira-kira yang menjenguk, ya?
"Sayangnya pengunjung dibatasi. Jadi hanya perwakilan saja yang boleh masuk."
"Re..na?"
"Sedang les balet. Mungkin malam nanti dia kemari."
"Jam ber..kun..jung?" tanya gue. Rena biasanya selesai latihan balet sekitar pukul delapan malam. Perjalanan dari tempatnya les hingga sampai di rumah sakit, adalah tiga puluh menit, itupun kalau tidak ada macet, karena Rena memakai mobil yang nggak bisa nyelip-nyelip kalau macet. Sedangkan jam berkunjung di rumah sakit hanya sampai jam delapan malam.
"Rena bakalan minta laporan dari Ibu tentang kondisi kamu. Rena cuma pernah bertemu kamu sekali, tidak setiap hari seperti waktu dulu kamu rawat inap. Dia bilang, dia sudah janji sama kamu untuk tidak bolos les."
Gue senyum. Ternyata Rena masih ingat janjinya tempo hari dan dia tidak melanggarnya walaupun aku dalam kondisi buruk. Anak itu sudah jadi dewasa rupanya. Apa ini efek jatuh cinta?
"Sekarang di luar ada teman-teman ekskul kamu. Satya juga ada."
Gue diam. Masih belum tahu mau memberi reaksi apa pada Ibu. Tentu saja perwakilan dari mereka yang akan masuk adalah Satya. Atau Mbak Feli tidak akan mengijinkan pengunjung masuk dulu, berhubung gue baru sadar?
Sebenarnya gue benci dilihat dalam kondisi seperti ini oleh orang lain. Lihat saja diri gue saat ini! Wajah gue sudah pasti pucat. Selang terpasang masuk melalui salah satu lubang hidung gue. Kedua tangan gue tertancap infus. Kabel-kabel berseliweran di sekitar tubuh gue.
Orang yang melihat pastinya akan merasa iba. Mereka bakalan memberi perlakuan khusus ke gue. Hal itu membuat harga diri gue menjadi rendah. Seakan mereka menyetujui bahwa gue akan segera mati.
"Bu.. Debi.. be..lum mau.. ketemu.. si..apapun.."
Ibu menatap gue dalam diam setelah gue mengatakan itu. Pasti ada rasa tidak enak hati dalam diri Ibu kepada teman-teman gue yang sudah datang untuk menjenguk.
__ADS_1
Tapi, gue nggak mau dikasihani. Gue tahu kalau hidup gue sudah nggak lama lagi, tapi gue mau diperlakukan sebagai orang normal. Gue nggak siap menerima pandangan kasihan yang akan mereka lempar setiap kali mata kami bertemu.
***