BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Izin


__ADS_3

Kaki gue terasa lemas mendengar apa yang Satya katakan. Gue memang tidak punya kebaikan hati. Sudah berkali-kali Satya menyatakan perasaannya. Bahkan, tanpa dia mengatakan apa yang dia rasakan, gue bisa merasakannya dari setiap tindakan yang dia lakukan, dari tatapan matanya, dari genggaman tangannya yang hangat. Satya selalu menyukai gue.


"Jangan pergi, Deb," pinta Satya dengan sepenuh hati.


"Iya, jangan pergi dulu," Gilang angkat suara. "Gue nggak bisa habiskan tiga porsi makanan sendirian. Mending kalian makan dulu apa yang kalian pesan."


"Lo ngerusak suasana," gerutu Satya kesal pada Gilang yang cuma nyengir. Dia menarik tangan gue dengan lembut, agar mengikutinya kembali duduk. "Kita bicarakan nanti saja. Jangan sampai karena masalah ini, mood makan lo jadi hilang."


Gue mengangguk sekali sebagai tanda setuju. Lagipula, gue tidak bisa minum obat jika kondisi perut gue masih kosong.


Kami menyantap makanan di atas meja, secepat yang kami bisa. Alasan gue, sih, karena merasa canggung dengan suasana di meja makan. Tidak tahu kenapa yang lainnya juga ikut makan dengan cepat.


Selesai makan, Satya langsung menggiring gue kembali ke basement, di mana mobilnya terparkir. Sementara Gilang, dilarang Satya untuk mengikuti kami lagi. Kali ini, Gilang menurut saja.


Gue kira, Satya akan membuka kembali percakapan kami yang tadi tertunda karena Gilang. Namun, Satya hanya diam. Dia mengemudikan mobilnya dengan tenang, membuat gue sendiri enggan untuk membuka mulut.


Akhirnya, kami sampai di rumah gue tepat saat jam makan malam. Ibu menyambut kedatangan kami di pintu depan.


"Nak Satya mau mampir dulu?" tanya Ibu.


"Tante nggak lagi sibuk?" Satya basa-basi dulu.


"Baru saja habis makan malam," Ibu menjawab dengan seulas senyuman. "Yuk, gabung minum teh. Ada Gilang juga."


Gue dan Satya spontan saling tukar pandangan. Gilang lagi? Sekarang dia ada di rumah gue? Apa dia ingin tahu bagaimana kelanjutan hubungan gue dan Satya?


Ibu berjalan mendahului kami menuju ruang makan. Benar, ada Gilang di sana, tengah menyiapkan teh untuk Ibu. "Hai, guys!" sapa Gilang dengan wajah tebal.


Ibu duduk di sebelah Gilang, lalu kami ikut duduk mengitari meja makan. "Lo ngapain di sini?" tanya gue pada Gilang.

__ADS_1


"Cerita kelanjutan yang tadi, dong!" sahut Gilang berterus terang.


"Hal itu bukan untuk di bahas di sini, Gil!" tolak gue dengan tegas.


"Tapi gue mau tahu," Gilang menjadi keras kepala dan menyebalkan.


"Masalah apa?" Ibu ikut bicara.


Gue mendelik pada Gilang, memintanya untuk menutup mulut embernya. Gue nggak mau kalau Ibu tahu tentang masalah gue dan Satya dari mulut orang lain. Itu terasa seperti Satya akan kehilangan harga dirinya karena tidak menjadi gentleman.


"Tante," Satya membuka suara. Ketiga pasang mata yang mengitari meja makan, langsung tertuju padanya. Satya duduk tegak, wajahnya tampak tegang. "Saat ini, saya memang hanya murid sekolah menengah atas biasa. Saya belum berpenghasilan dan masih tidak punya pengalaman hidup."


Gue mengerjap, tidak mengerti dengan arah pembicaraan Satya. Sekilas, gue dapat melihat Gilang yang nyengir lagi kayak kuda. Ingin sekali gue tutup pakai karung wajah Gilang saat ini.


"Beri saya waktu sepuluh tahun. Saya akan mendapatkan pekerjaan tetap dan mempunyai penghasilan." Satya menarik nafas panjang. "Saat itu, tolong izinkan saya meminang Debi."


Mulut gue menganga, telinga gue berdenging, sementara jantung gue berdebar kencang. Otak gue masih belum bisa menerima apa yang sedetik lalu Satya ucapkan dari mulutnya sendiri. Sulit sekali rasanya mencerna kejadian di ruang makan rumah gue.


Tidak ada yang membuka mulut untuk menimpali kata-kata Ibu. Gilang yang biasanya nyerocos nggak jelas, memutuskan untuk diam dan menunggu dengan tenang. Gue bisa merasakan Satya menahan nafasnya karena tidak mengerti apa maksud Ibu.


Ibu mengangkat wajahnya, membalas tatapan mata Satya. "Ibu beri kamu waktu tujuh tahun untuk membuktikan bahwa dirimu pantas untuk Debi."


"Terima kasih, Tante!"


"Panggil 'ibu'."


"Terima kasih, Ibu!"


***

__ADS_1


Gue duduk bersimpuh di depan makam Rena. Sudah dua jam gue lalui hanya dengan memandangi foto Rena yang tertanam di batu nisannya. Paras cantik Rena akan tetap seperti itu selamanya di dalam pikiran gue.


Rena, sahabat gue yang baik hati, apa kabar di sana? Apakah lo sudah tenang? Sekedar mampir ke mimpi gue pun, tidak. Rena seakan ingin dilupakan.


Gue menarik nafas panjang, lalu tersenyum ke foto Rena. "Ren..." panggil gue, meskipun gue tahu kalau memanggil Rena adalah hal yang tidak mungkin. "Tempo hari, Satya ke rumah gue." Senyuman gue makin melebar ketika ingat bagaimana ekspresi bahagia Satya kala itu, di saat Ibu menerimanya dengan hati terbuka. "Gue tahu, kalau gue adalah orang yang egois. Gue bisa saja meninggalkan Satya, karena gue tahu betul gimana perasaan lo ke Satya."


Gue mengusap dada gue, merasakan detak jantung gue yang berdegup teratur. "Tapi gue nggak bisa..." ujar gue dengan suara pelan. "Jantung yang lo beri, lompat-lompat kegirangan setiap kali ada Satya. Seakan lo hidup di diri gue. Gue sadar, itu salah... Lo sudah meninggal dan jantung ini sekarang ada di tubuh gue. Tapi," gue menunduk sejenak, kemudian kembali mengangkat wajah, "kalau lo nggak keberatan, gue mau lo juga rasakan gimana bahagianya berada di dekat Satya, lewat debaran jantung ini. Kita sama-sama menyukainya dan sama-sama ingin ada di sampingnya... Lo mau, kan, Ren?"


Air mata jatuh membasahi pipi gue. Hati gue masih sakit tatkala mengingat kepergian Rena yang tidak gue ketahui.


"Gue janji sama lo, Ren... Gue akan jaga Satya dengan segenap kekuatan gue.. Gue nggak akan sia-siakan kesempatan yang lo kasih ke gue..."


Angin sore berhembus, terasa menyejukkan ketika menyentuh kulit gue. Di sini sangat tenang dan membuat gue mengantuk. Dalam pelukan Rena juga begitu. Setiap gue ada masalah dan saat gue menceritakannya pada Rena, dia selalu memeluk gue. Pelukan yang mampu membuat gue mengantuk.


"Debi! Woi, bangun!" seseorang menggoyangkan tubuh gue yang mulai terkulai lemas di atas kuburan Rena. "Kamu nggak apa? Ada yang sakit? Mau ke rumah sakit?"


Gue mengangkat wajah untuk melihat orang panik yang membangunkan gue. "Gue ngantuk, Kak!" protes gue kesal.


Satya jatuh terduduk di sebelah gue. Bahunya melorot bersamaan dengan hembusan nafasnya yang kasar. "Astaga, Deb! Aku sempat kaget lihat kamu nggak gerak! Lagian, kamu kenapa lama banget di sini?"


Tadi gue meninggalkan Satya di mobilnya begitu kami tiba di sini. Gue ingin bicara dengan Rena hanya berdua saja, dan Satya menurut. "Sepanik itu?" tanya gue. Sebenarnya gue hanya suka melihat Satya khawatir dengan keadaan gue. Seakan cuma ada gue di dalam matanya detik itu.


"Nggak usah ngetes segala. Yuk, pulang! Minggu depan kita tengok Rena lagi."


Gue mengusap foto Rena. Dia seakan menatap gue dengan matanya yang bulat nan cantik. "Ren, ingat janji gue tadi, ya," bisik gue. Lalu, gue bangkit diikuti Satya. "Gue lapar."


"Kamu mau makan apa? Biar aku yang traktir kali ini. Kamu boleh makan sepuasnya."


Kami berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di lahan parkir pemakaman. Satya berjalan sedetik lebih lambat dari gue. Tampaknya dia masih khawatir dan belum percaya penuh bahwa gue baik-baik saja.

__ADS_1


Meskipun sudah mendapat persetujuan dari Ibu untuk mendekati gue, Satya masih tetap menjaga jarak dan selalu berlaku sopan. Gue juga tidak mau terburu-buru dalam mengambil tindakan. Jujur saja, gue masih ada pikiran bahwa detak jantung ini adalah milik Rena, bukan gue...


***


__ADS_2