
"Belok kanan, Gil! Kanan!"
"Salah, ya?"
"Ini kiri!"
"Tinggal muter aja."
"Lo masuk jalan satu arah, Gil! Muternya jauh!"
"Terus, lo nyuruh gue lawan arah supaya nggak jauh? Salah lo sendiri yang ngasih tahunya dadakan! Gue, kan, jadi bingung!"
Gue mengusap-usap dada gue yang naik-turun, nafas gue tersengal saking emosinya sama Gilang. Dia kadang lupa mana kanan dan mana kiri. "Heran gue! Kenapa lo bisa dapat SIM, padahal lo nggak hafal kanan-kiri?"
"Otak gue nggak connect kalau kurang gula."
Gue mengacungkan bungkus permen cokelat yang hampir kosong. "Ini lo bilang kurang? Yang daritadi makan di sebelah gue itu, siapa? Hantu?"
"Tahu begini, biar Pak Anton aja yang nyetir," celetuk Rena dari bangku belakang.
"Oke, Nona Rena yang kaya raya, mohon maafkan hambamu ini yang mau belajar nyetir!" sahut Gilang. "Salah lo juga, ngapain ikut di mobil gue?"
"Gue nggak mungkin biarin lo berdua sama Debi!"
"Haluan kanan!" seru gue, seraya menunjuk ke arah kanan.
"Nggak ada belokan!"
"Katanya jangan kasih tahu tiba-tiba! Makanya gue nyuruh ambil haluan kanan dulu!" pengen gue gelut si Gilang satu ini.
Keributan ini dimulai ketika jam sarapan tadi pagi selesai. Gilang mendadak bertandang ke rumah gue. Gilang mengajak untuk melakukan pesta barbeque di rumahnya malam ini, padahal gue maunya santai ria di rumah sambil nonton drama korea. Karena dia memohon, gue akhirnya menyerah.
Awalnya, gue cuma ngabarin Rena dan Satya, bahwa Gilang akan mengadakan pesta malam ini. Ternyata mereka jadi heboh dan langsung meluncur ke rumah gue. Jadilah kami berempat akan pergi ke supermarket yang menjual peralatan memanggang dan bahan untuk dipanggang.
Tadi, Pak Anton menawarkan diri untuk menyetir. Tapi emang dasarnya Gilang otak batu, dia tetap berkeras nyetir mobilnya sendiri, padahal gue udah bilang kalau supermarketnya agak jauh.
Perjalanan yang harusnya kita tempuh dengan jarak satu jam, menjadi sembilan puluh menit. Itupun belum sampai karena Gilang nggak tahu kanan-kiri.
__ADS_1
Tidak perlu gue ceritakan bagaimana riuhnya suasana di dalam mobil saat itu. Satya sudah menawarkan diri untuk menyetir, berhubung Gilang bilang mengantuk, tapi ditolak lagi oleh Gilang. Dia yakin, dirinya bisa sampai ke tempat tujuan dengan usaha.
Dua jam lima belas menit adalah waktu yang Gilang butuhkan untuk sampai di tempat tujuan. Dia tampak bangga sekali dengan dirinya begitu mobil telah terparkir. "Gue bisa! Udah gue bilang, gue bisa!" ucapnya dengan dada membusung.
"Ya, ya, lo bisa banget buang-buang waktu!" sindir gue. Gue meraih troli belanja yang ada di pintu masuk supermarket. Lalu mulai mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Biar gue aja yang bawa trolinya," Satya mengambil alih troli di tangan gue, tepat saat gue mau jalan.
Gue menarik bagian depan troli sebelum Satya salah jalan. "Arah sana, Kak!"
"Oh, oke!" Satya mengikuti. Rena anteng senyam-senyum di belakang Satya, sementara Gilang sibuk tolah-toleh entah mencari apa.
Kami melewati rak yang menjual bahan makanan kering untuk sampai di pojok lantai satu, di mana tertulis kalau mereka menjual peralatan masak di sana.
"Yang ini! Gue mau yang ini!" Gilang menunjuk panggangan barbeque gas berukuran besar. "Ini bisa dipakai manggang daging yang banyak!"
"Lo tahu cara pakainya?"
"Nggak tahu. Lo cari aja caranya di youtube waktu kita di jalan pulang nanti."
"Terus, lo nyasar karena gue nggak kasih tahu arah yang benar. Bisa-bisa, kita sampai rumahnya baru tahun depan!"
Satya hanya menjawabnya dengan alis terangkat. Dia sendiri sudah capek menghadapi Gilang yang seenaknya sendiri. "Ya sudah, nanti biar Rena yang nemenin Satya di depan. Gue mau fokus lihat youtube." Gue ngacir menghampiri salah satu pegawai di sana, untuk meminta bantuannya membungkus panggangan daging yang Gilang mau.
"Sekarang, pilih daging!" Gilang bersorak sambil mengangkat kedua tangannya. Dia berjalan sendiri ke arah rak daging.
"Mau pakai paprika juga?" gue noleh ke Satya yang jalan di sebelah gue. Waktu gue menunduk, ternyata troli belanja sudah terisi. "Wah?"
Satya nyengir. "Gue cuma mau mempersingkat waktu belanja kita. Capek gue lihat kalian berdebat."
"Makasi banyak, Kak!" gue meneliti bahan apa saja yang Satya ambil. Ada jagung, kentang, tomat, paprika, kecap, saos tomat, saos sambal, lada, olive oil, dan bawang bombay. "Kita beli bumbu jadi aja, yuk? Bakalan ribet kalau buat bumbu sendiri."
"Gue bisa panggil Pak Hasan buat bantu?" usul Rena.
"Pak Hasan bakal jadi penolong buat kita!" gue setuju. "Gue nggak bisa bayangin, bagaimana ributnya Gilang nanti. Lebih baik ada ahlinya dalam hal ini."
"Gampang! Gue bakalan telepon Pak Hasan waktu kita balik ke rumah."
__ADS_1
"Dia cuma mikirin daging aja!" Satya tertawa mengejek melihat Gilang yang menunjuk hampir semua jenis daging dan karyawan supermarket di sebelahnya membungkus dengan cepat pesanan Gilang.
"Kayaknya kita bakalan kenyang makan daging hari ini," Rena ikut berkomentar.
"Kalian duluan aja nyamperin Gilang, sebelum dia beli semua daging di sana. Gue ambil bumbu barbeque yang sudah jadi di rak sana. Nanti ketemu di kasir aja." Satya langsung meluncur ke rak yang dia maksud tanpa menunggu jawaban kami.
"Yuk, samperin Gilang! Semenit lagi, dia bisa jadi tambah gila di sana!" ajak gue.
"Deb, segini cukup, kan?" tanya Gilang begitu kami tiba di sampingnya. Beberapa daging sudah ditimbang dan dikemas rapi oleh petugas supermarket.
"Lo bisa habiskan semuanya?"
Gilang nyengir. "Gue suka daging!"
"Ya, terserah lo," gue meletakkan daging yang sudah ditimbang ke dalam troli. "Kalau nggak habis, lo sedekah aja sama fakir miskin."
"Kayak lo?"
"Sialan!" gue reflek lempar tas gue ke muka Gilang. "Udah? Kita pulang sekarang?"
"Si Hulk mana?" Gilang baru sadar Satya tidak ada.
"Lagi milih bumbu. Kita duluan aja ke kasir buat antri."
Gilang mengambil alih troli yang gue dorong menuju bagian kasir. Saat melewati rak snack, tangan Gilang dengan otomatis mengambil beberapa makanan ringan dengan acak. Tidak lupa dengan minuman bersoda dan bir kaleng.
Nggak masalah Gilang mau ambil apa. Toh, dia banyak uang. Kalau gue komentar ini-itu, bisa-bisa gue batal diajak manggang daging di rumahnya.
"Nggak sekalian wine?"
Gilang mengelus-elus dagunya. "Benar juga! Hidup nggak lengkap tanpa wine." Pandangannya menyapu sekitar, mencari rak yang memamerkan minuman beralkohol.
Tangan gue menyilang di depan dada melihatnya berdiri sambil berpikir di depan rak wine. "Anak itu benar-benar nggak tahu cara hemat!"
Gilang kembali dengan dua botol besar anggur merah di tangannya. Dia tampak puas dengan pilihannya. "Ayo bayar!"
Akhirnya, berakhir juga acara belanja kami yang bikin capek. Semua kegaduhan ini karena Gilang tidak mau menurut dan selalu keras kepala. Satya dan Rena sepertinya sudah lelah bila harus berargumen dengan Gilang. Mereka lebih banyak diam dan melakukan apa yang bisa mereka lakukan.
__ADS_1
***