
Gue bengong sendirian di ruang tunggu setelah serangkaian pemeriksaan yang gue jalani. Nyokap gue masih di dalam ruang dokter untuk diskusi. Gue nggak minat tahu hasil dari pemeriksaan kesehatan gue. Setiap gue dengar omongan dari dokter, ada lubang yang semakin membesar di dada gue. Rasanya hampa.
"Debi!" Rena lari-larian di lorong rumah sakit. Ternyata dia benar nyusulin gue ke sini setelah selesai les musik. "Gih..mah..nah?" tanyanya, tanpa mengatur nafas terlebih dulu.
"Gimana apanya?" gue pura-pura ****. "Lo duduk dulu, deh! Nih, minum!" gue ngasih dia gelas penuh air dingin yang tadinya mau gue minum. Titik-titik keringat muncul di pelipis putihnya. Pak Anton ikutan ngos-ngosan di sebelahnya. "Pak, itu ada air minum di sana. Bapak bisa ambil sepuasnya," gue nunjuk ke arah dispenser.
"Makasi, Non!"
Gue senyum maklum ke sopir Rena. Dia pasti markir mobilnya buru-buru dan langsung ngejar Rena ke sini. Gue bisa bayangkan gimana Rena nggak bilang ke arah mana dia pergi dan Pak Anton harus ngira-ngira ke mana nona mudanya ini melangkah.
"Nyokap lo mana?"
"Di dalam, lagi bicara sama dokter gue."
"Ada apa? Kenapa lo tiba-tiba check up, padahal baru dua minggu yang lalu lo ke sini?"
Gue menepuk pundak Rena. "Nggak usah khawatir. Lo kayak nggak tahu nyokap gue aja. Gue limbung sedikit juga udah diangkut ke rumah sakit." Gue kadang nggak tega lihat Rena jadi ikutan sibuk karena masalah gue. Dia harusnya bisa istirahat di rumah selesai les musik, tapi malah ke sini buat lihat gue. Padahal di sini ada dokter dan perawat yang bakalan sigap kalau gue ada apa-apa.
"Lo selalu bilang gitu! Sekali-sekali gue harus tahu kondisi lo yang sebenarnya!" protes Rena sebal. "Gue bakal nungguin sampai nyokap lo keluar dan nanya langsung ada apa sebenarnya!"
Gua tertawa pelan. Lucu aja lihat Rena lebih khawatir ketimbang gue sendiri. "Tapi gue lapar. Gimana, dong?"
Rena menyilangkan tangan di depan dada. "Lo nyebelin, deh! Beneran!"
"Hehehe, yuk, makan!" gue mengamit lengan Rena dan menyeretnya untuk pergi ke kantin. Menurut gue, Rena nggak usah terlalu dalam masuk ke kondisi kesehatan gue. Dia cukup tahu saja apa yang harus dia lakukan jika gue tiba-tiba kolaps.
Segini saja, gue sudah merasa nggak enak hati. Gue seakan mengikat Rena secara tidak langsung. Memang, Rena tidak pernah protes dan selama ini anteng ngekorin gue. Tapi tetap saja ada yang mengganjal di dada gue.
Rena minta gue duduk sementara dia yang memilihkan makan malam untuk kami. Pak Anton ikut duduk di sebelah gue. Dia celingak-celinguk nggak nyaman karena nona mudanya sibuk sendiri.
"Tenang, Pak!" gue menjawab kekhawatirannya. "Rena sendiri yang minta Bapak duduk nemenin saya, kan? Mendingan nurut, daripada Rena bikin heboh di sini."
"Iya, deh, kalau itu kata Non Debi."
***
"Hai, Deb!" sebuah tepukan pelan mendarat di pundak gue. Gue lagi asyik bengong sambil lihat ke papan tulis yang penuh dengan coretan dari ketua ekskul matematika. "Lo ikutan ekskul matematika?"
__ADS_1
"Kak Satya juga ikut sini?" gue ikutan kaget melihat Satya duduk di belakang gue. Perasaan beberapa menit lalu, bangku itu masih kosong.
Satya nyengir. "Gue wakil ekskul ini."
Wow! Mantap, nih, anak! "Pinjam catatan-catatan Kak Satya, ya!"
"Lo suka banget sama matematika, ya?"
Gue manggut-manggut sampai kepala gue hampir mau lepas rasanya. Gue mau menorehkan nama gue di sekolah ini sebelum gue pergi. Setidaknya gue punya kenangan yang bisa diingat orangtua gue nanti.
Satya menyerahkan sebuah buku tebal ke gue. "Gue ringkas itu lumayan rapi, tapi memang dasarnya tulisan gue jelek. Kalau lo ada yang pengen ditanya, nggak usah sungkan."
Gue menerima catatan Satya dengan penuh semangat. Nggak nyangka Satya jago matematika. "Tapi kenapa Kak Satya nggak pernah ikut olimpiade?"
"Jadwalnya bentrokan sama jadwal tanding basket," jawab Satya enteng. "Gue harus milih antara matematika dan basket. Karena anak-anak di sini sudah pintar-pintar, gue memutuskan bantu tim basket."
Enak, ya.. Satya punya banyak waktu yang bisa dia manfaatkan seenak hatinya, tanpa khawatir apa yang akan terjadi esok hari.
"Lain kali, lo datang buat nonton gue tanding basket, ya!"
Alis gue terangkat. "Iya, gue sekalian ajak Rena juga. Hitung-hitung balas budi karena Kak Satya sudah kasih pinjam catatan matematika."
"Masalah apa?"
"Waktu di malll, kenapa lo ngasih nomor Rena ke gue?"
Gue mengerjap. Pertanyaan macam apa itu? Atau, Satya mau ngetes gue, apakah gue ngasih dia lampu hijau dalam PDKT sama Rena?
"Tadi juga, waktu gue ngundang lo ke pertandingan basket gue, kenapa harus ada Rena?"
"Karena dia teman gue?" gue nggak ngerti pertanyaannya.
"Debbbiiiiiiii!" suara cempreng Rena menggelegar dari pintu ruang kelas yang dijadikan tempat rapat ekskul. "Udah selesai beloooom?"
"Astaga, Ren! Nggak usah teriak-teriak! Gue nggak budeg!" protes gue, kesal dengan tingkah Rena yang caper. Jelas sekali dia mau menarik perhatian anak-anak ekskul matematika.
Rena melenggang masuk nyamperin gue. Kegiatan ekskul memang sudah selesai, namun masih ada banyak siswa yang bercengkrama di dalam kelas. "Pulang sekarang? Atau lo mau ikut ke rumah gue buat nyobain kue barunya koki gue?"
__ADS_1
"Masalah kue aja lo jadi heboh?" gue berdecak heran. "Gue izin dulu sama orangtua gue."
"Udah!" Rena menyodorkan smartphone-nya. Gue melihat percakapan antara Rena dan nyokap gue.
"Kalau lo udah tahu jawabannya, ngapain isi nanya ke gue?"
"Gue tetap harus minta pendapat dari lo, dong!" Rena mencubit gemas pipi gue.
"Kalian lucu," Satya tiba-tiba berkomentar dari belakang gue. Yep! Dia berhasil buat Rena menoleh padanya. "Deb, lo kayak anak SD yang punya kakak sister complex."
"Gue lebih tua tiga bulan ketimbang Rena, Kak!"
"Siapa?" Rena bersuara pelan.
Satya mendongak, lalu tersenyum pada Rena. Detik itu juga gue sadar, ternyata senyum Satya sangat mematikan! "Hai, salam kenal! Gue Satya. Temen satu ekskulnya Debi."
Rena tidak menjawab. Dia bengong, memandang lurus ke arah Satya yang bingung dipelototin.
"Waduh, kayaknya gue ganggu kalian, ya?" Satya jadi canggung karena Rena hanya diam. Ini pertama kalinya gue lihat Rena nggak bereaksi. Biasanya dia akan sok akrab, mudah diajak bergaul, namun tetap membangun dinding tebal agar lawan bicaranya tidak kelewat batas. "Gue cabut dulu, deh!" Satya bangkit. Tapi sebelum dia berlalu, dia berbalik lagi. "Oh, iya, Deb! Lain kali lo datang ke pertandingan basket gue, ya!"
"Iya, iya!" sahut gue asal. Gue nggak mungkin bisa datang kalau Satya tandingnya di lapangan terbuka. Apalagi waktu matahari bersinar terang! Bisa semaput gue!
"Debi.. Dia siapa?"
Gue menoleh ke arah Rena yang ternyata masih memperhatikan punggung Satya yang menjauh. "Kak Satya," jawab gue polos. Memangnya apa yang bisa gue jabarkan tentang laki-laki itu? Kenal juga baru-baru ini.
Rena meraih tangan gue, lalu meletakkannya di dadanya. "Bisa lo rasain?" tanyanya.
"Cup B?"
"Bukan itu, Oneng!!!"
"Lha? Terus?"
"Gue deg-degan!" Rena menjawab dengan wajah sumringah. "Akhirnya gue bisa rasain deg-degan! Astaga! Kayak ada sesuatu di perut gue yang mau meledak keluar!"
"Lo mau kentut?"
__ADS_1
***