
Gue duduk di teras depan rumah gue di pagi yang agak mendung. Tapi masih ada sinar matahari yang nekat menerobos kumpulan awan kelabu itu. Angin pagi yang dingin berhembus pelan, membuat bulu kuduk gue meremang. Gue mengeratkan selimut yang menutupi bahu gue.
"Nak, sebentar lagi hujan, lebih baik kamu masuk," Ibu muncul dari pintu depan.
"Ya, Bu.. Sebentar lagi."
"Ibu mau rapikan halaman belakang sebelum hujan. Kamu jangan terlalu lama di luar, ya!"
Gue manggut-manggut aja. Pandangan gue teralihkan pada mobil box barang yang muncul di belokan jalan menuju arah rumah gue. Mobil itu melaju perlahan. Orang yang duduk di bangku penumpang mengeluarkan kepalanya, celingukan sana-sini.
"Bisa dibantu, Pak!?" seruku dari teras, tanpa bergeming.
Orang di bangku penumpang mendongak. "Rumah nomor tiga puluh delapan, yang mana, Neng!?" dia balas teriak.
Gue nunjuk ke kiri, ke arah rumah kosong di sebelah rumah gue. Apa dia orang baru yang akan tinggal di sana?
"Makasih, Neng!" jawabnya.
Mobil box itu berlalu melewati jalan di depan rumah gue, kemudian berhenti di depan rumah kosong sebelah rumah gue. Dua orang turun dari mobil box dan memakai sarung tangan. Mereka bercakap sejenak, lalu duduk di trotoar. Pandangan mereka menuju arah yang tadi mereka lewati, seakan menunggu sesuatu muncul dari sana.
Gue jadi ikutan noleh-noleh ke kanan, menuju jalan beraspal yang sudah sedikit berlubang di beberapa bagian. Mereka nggak bawa kunci buat masuk rumah, ya? Mungkin mereka menunggu tukang kunci datang.
Gue masuk ke dalam rumah, menuangkan dua gelas besar teh hangat dan membawanya keluar dengan nampan. Kedua orang itu masih duduk di trotoar.
"Pak! Saya ada teh hangat. Diminum dulu," gue menyodorkan teh hangat di atas nampan ke depan hidung mereka. Wangi bunga lavender pasti memikat indra penciuman mereka, sehingga mereka tanpa ragu mengambilnya. "Bapak yang mau pindah ke rumah ini?"
"Oh, bukan, Neng!" jawab si Penumpang. "Kami dari jasa pindah rumah. Ini lagi nunggu yang punya rumah datang."
Gue manggut-manggut, ikut duduk di trotoar. "Biasanya yang punya rumah dulu yang datang," gue berkomentar. Sebenarnya nggak tega lihat mereka duduk di luar dalam kondisi udara yang dingin ini.
"Yang punya rumah ini, orang kaya, Neng! Sibuk banget, kata bos kita."
"Bener, Neng!" si Sopir ikut nimbrung. "Ini kami baru bawa barang yang penting aja. Yang lainnya bakalan nyusul. Kalau nggak salah, ada lima mobil box lagi buat besok ke sini."
"Wah.. Pantes aja bisa beli rumah sebesar ini. Padahal sampai minggu lalu, rumah ini nggak ada kabar kalau ada orang yang mau beli." Gue menyelipkan tangan ke dalam kantong sweeter. "Orangnya kayak gimana, Pak?"
"Kita cuma pernah lihat sekilas waktu dia ke kantor kami," jawab si Sopir.
'Dia'?
"Dia tinggi, kulitnya pucat, rambut agak panjang dan berantakan. Masih lumayan muda."
'Dia'? Artinya seorang? Satu orang?
__ADS_1
"Namanya Gilang."
Gue langsung kepikiran sama penulis novel misteri yang belakangan sering diminati remaja. Gue bahkan ikut di dalam fans club-nya. Ah, tapi nggak mungkin. Masa penulis terkenal pindah ke perumahan begini. Malah beli rumah berhantu segala?
"Nah, itu mobilnya!"
Gue menoleh saat mereka berdua berdiri. Sebuah mobil sedan hitam dengan cat mengkilat datang menghampiri kami. Gue ikut berdiri.
Setelah mobil itu berhenti, seseorang keluar dari dalam mobil. Lha? Perempuan?
"Pak!" perempuan itu mengacungkan sebuah kunci ke arah si Sopir, yang langsung diambil. "Cepat, ya! Semua harus tertata rapi seperti di denah yang kalian terima!"
Gue menelan ludah. Astaga.. Perempuan ini galak banget! Tapi dia nggak seperti yang bapak-bapak ini gambarkan.
Dia tinggi? Perempuan ini hanya setinggi gue.
Kulit pucat? Astaga, make up-nya saja setebal debu di gudang gue. Dia memakai lipstik merah menyala dan kelihatan berminyak.
Rambut agak panjang dan berantakan? Itu jauh dari gambaran dirinya. Perempuan itu memiliki rambut sepanjang bahunya yang tersisir rapi.
Muda? Yah.. Kira-kira sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh tahunan.
Dia menoleh ke arah gue. Gue langsung membeku melihat tatapan matanya yang tajam. "Siapa kamu?"
"Sa..ya tetangga di sebelah," jawab gue gugup. Matanya kayak mata elang. Serem!
"Ngg... Nggak ada perlu apa, sih.. Saya cuma nawarin teh hangat karena bapak-bapak tadi duduk bengong di trotoar. Takut kesambet."
"Ya sudah, kalau nggak ada keperluan, silakan angkat kaki!"
Gue langsung balik kanan, langkah tegap maju! Judesnya minta ampun! Gue nggak bakal mau ke rumah orang itu lagi! Nyokap gue ngasih gue ayam goreng tiga kali sehari sampai seminggu pun, gue nggak bakal mau!
"Debi!" Ibu menyapa waktu gue masuk ke rumah. Beliau sedang duduk di sofa sambil melipat baju. "Dari mana, Nak?"
"Nyapa orang baru yang tinggal di rumah sebelah, karena tadi lihat mobil box barang datang," jawab gue. Gue pergi ke dapur dan mencuci gelas.
"Sudah ketemu?"
"Sudah, Bu."
Ibu tidak bertanya lagi. Sepertinya menunggu gue selesai di dapur dan ikut duduk dengannya di ruang tengah. Begitu selesai mengeringkan gelas, gue gabung sama Ibu buat gibah. "Gimana orangnya?"
"Ih, Debi mending nggak ke sana lagi!" gue bergidik.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang?" Ibu tersenyum geli melihat gelagat gue.
"Orangnya galak banget! Kayak macan lapar! Debi di usir padahal cuma ngasih teh ke bapak-bapak yang bawain barang-barangnya!"
"Wah.. Sesombong itu?" Ibu tidak percaya.
"Ibu pastikan aja sendiri. Tapi Debi nggak mau ikut ke sana!"
"Ada apa ini?" suara berat Ayah muncul dari belakang gue. Kami menoleh ke tangga. Ayah turun, masih memakai baju tidurnya. "Pagi-pagi kamu sudah heboh, Deb."
"Debi baru ketemu sama tetangga yang nyebelin," Ibu membela.
Ayah ikut duduk di sofa. "Tetangga yang mana? Perasaan semua adem-ayem aja."
"Oh, iya. Ibu lupa bilang sama Ayah. Rumah kosong di sebelah, hari ini ada yang menempati. Tadi Debi ke sana buat nyapa, tapi malah diusir." Ibu merapikan baju-baju yang sudah dilipat. "Tunggu sebentar, ya, Yah! Ibu buatkan kopi," tambah Ibu sambil berdiri, kemudian berlalu ke dapur.
"Gimana kondisi kamu?" tanya Ayah. Rupanya berita tentang tetangga baru itu tidak menarik perhatian Ayah.
"Baik, Yah. Debi cuma harus istirahat sampai besok." Gue pindah duduk di dekat Ayah. "Ayah kerjaannya gimana?"
"Makin sibuk. Minggu depan sudah harus mulai ketemu sama direksi untuk naik jabatan."
Gue nggak jawab. Nggak ngerti Ayah ngomong apa. Yang pasti, direksi itu pastinya orang-orang penting bagi Ayah. "Ayah makin sibuk, ya?
"Iya. Makanya, kamu harus baik-baik jaga diri. Jangan buat Ibu kamu khawatir."
"Ayah berapa lama di rumah?"
"Nanti malam Ayah berangkat lagi."
"Kalau Ayah naik jabatan, apa Ayah bakal dipindah tugas ke sini lagi?"
Ayah diam. Jelas tidak berani menjawab, karena tidak pasti. Ayah memang pekerja keras sejak dulu. Ada pencapaian yang ingin Beliau raih. Gue nggak bisa ngomong apa, karena Ibu mendukungnya.
Ibu masuk kembali ke ruang tengah, membawa secangkir kopi dan dua lembar roti bakar, lengkap dengan selai cokelat. Kesukaan Ayah.
"Bu, untuk sarapan pagi, Ayah mau nasi goreng saja, supaya Ibu nggak terlalu ribet buatnya."
"Nggak ribet, kok, Yah! Ayah mau pizza juga Ibu buatkan." Ibu memijat bahu Ayah. "Debi mau sarapan apa?"
"Salad daging ayam rebus aja, Bu." Gue bangun dari duduk. "Debi bantu buat, ya?"
"Kamu nggak mau istirahat lebih banyak lagi?" potong Ayah.
__ADS_1
Gue menggeleng. "Punggung Debi sakit karena lama rebahan. Debi cuma potong sayur, jadi nggak bakal terlalu capek."
***