BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Cemburu


__ADS_3

Mata gue memandang pintu depan rumah Satya begitu lama. Mungkin sudah lima belas menit lamanya gue bengong. Hati gue masih bimbang untuk mengetuk pintu atau tidak. Lagipula, gue nggak tahu apakah amarah Satya sudah surut.


Di sekolah juga, gue nggak ketemu sama Satya. Dia kelihatan sibuk di lapangan basket sama teman-temannya. Sementara gue cuma bisa memandanginya dari jauh. Nyali gue tidak begitu besar sampai berani menghampirinya di tengah kerumunan.


Jadilah gue ke rumahnya sepulang sekolah. Namun, keteguhan hati gue malah ciut begitu berdiri di depan rumah Satya. Sebenarnya gue tidak mau membiarkan masalah menjadi larut lagi, seperti kasus yang dulu.


Graaak!


Pintu depan rumah Satya tiba-tiba terbuka lebar, lalu Satya muncul. Dia memunggungi gue karena masih bicara dengan orang di dalam rumah. "Iya, Bu! Aku ingat semuanya! Ibu bawel banget!" sahut Satya sambil tertawa.


"Hai, Kak!" sapa gue buru-buru sebelum Satya menyeruduk gue.


Satya menoleh kaget. "Debi? Kamu-eh lo-apa-ngapain?" dia tampak tidak percaya setelah melihat gue berdiri di hadapannya.


Mata gue menangkap dan mengingat dengan jelas bagaimana penampilan Satya saat ini. Kecuali seragam basket, ini adalah sosok Satya yang pertama kali gue lihat memakai baju rumah. T-shirt yang dia kenakan membuat bentuk tubuhnya tercetak dengan jelas. Dadanya yang bidang, sangat gue sukai. Rambutnya sedikit basah. Tampaknya Satya baru selesai mandi.


"Mmm, gue mau ngajak Kak Satya jalan," jawab gue kalem. Gue tidak bisa basa-basi kalau otak gue sudah buntu begini. Melihat Satya yang berpenampilan santai, malah membuat gue makin tidak bisa berpikir.


"Jalan?" ulang Satya.


Gue mengangguk saja menjawab pertanyaannya. Gue sudah siap ditolak kali ini kalau Satya masih marah.


"Masuk dulu," Satya bergerak ke pinggir hingga punggungnya menyentuh tembok. "Duduk dulu. Minum dulu."


Gue tersenyum mendengarnya gugup seperti itu. Ternyata Satya orang yang manis. Ah... Jantung Rena kembali berdebar tidak karuan. "Kak Satya lagi sibuk?"


"Ng-nggak!" jawab Satya sambil geleng-geleng kepala. "Mau minum apa?"


"Satya, ada tamu?" seorang perempuan paruh baya bertubuh agak gempal muncul dari balik tirai. "Wah, wah, siapa anak cantik ini?"


"Debi, Bu. Temanku di sekolah."


"Kok kamu malah bengong? Ambilkan minum, dong!"


Satya mengusap-usap kepalanya sambil nyengir. "Ibu temenin Debi di sini sebentar, ya!" pintanya.


"Takut dia terbang, terus hilang?" ibunya Satya malah bercanda. Satya langsung berjalan cepat ke balik tirai di mana ibunya muncul tadi. "Ini pertama kalinya Satya kedatangan tamu perempuan," ibu Satya memulai. "Ibu sempat khawatir kalau dia akan lama tidak punya pacar."

__ADS_1


"Pa-uhuk! Uhuk!" gue tersedak ludah sendiri karena kaget. Gue mengusap-usap dada gue agar debaran jantung gue mau santai sedikit. "Kami belum sampai sejauh itu, Tante," jawab gue dengan pipi bersemu merah.


"Panggil 'ibu' saja. Siapa tahu nanti jadi mantu."


"Ibu! Ibu!" Satya kembali dengan nampan berisi segelas es teh. "Ibu, jangan ngomong yang aneh-aneh! Balik ke dapur, sana!"


"Lha? Ibu masih mau ngobrol sama calon mantu Ibu, kok diusir?"


"Ibu!" cicit Satya lagi, panik sendiri. "Maaf, Deb! Ibu gue agak ceplas-ceplos nggak pakai saringan."


"Emangnya Ibu teh, perlu saringan," ibunya Satya malah ngebanyol. "Kalian mau bicarakan apa, sampai Ibu nggak boleh dengar? Rencana nikah?"


"Ibuuu!" Satya menarik lengan ibunya hingga berdiri, kemudian mendorongnya menghilang ke balik tirai. Sepertinya tirai itu adalah sekat antara ruang tamu dan bagian dalam rumah Satya. "Diminum dulu," Satya mempersilakan.


Gue menyeruput es teh buatan Satya. Pikiran gue berkecambuk selama meneguk minuman itu. Apa gue langsung saja ke topik pembicaraan kami? Atau gue harus basa-basi tentang ibunya dulu?


"Maaf, ibu gue bikin lo nggak nyaman, ya?"


Oke, basa-basi dulu. "Nggak apa, Kak." Sebenarnya gue nggak keberatan, sih... "Ibunya Kak Satya ramah, ya?"


Satya mengusap tengkuk, kebiasaannya kalau sedang gugup. "So... Soal tadi..." Satya menunduk, wajahnya semerah kepiting rebus.


"Bukan itu, Deb!" sahut Satya. Dia memandang lurus ke mata gue. Gue hampir tenggelam dalam pesonanya. "Soal lo ngajak jalan..." Satya terhenti, lama kelamaan wajahnya memerah lagi, "serius, kan?"


"Kak Satya mau?" tanya gue dengan suara pelan.


Kami saling pandang untuk beberapa saat, tanpa berani berkedip sekalipun. Seakan kami tengah bicara dalam kesunyian. "Cemilannya, Nak!" ibunya Satya nongol tanpa permisi. Ya, emang nggak perlu permisi, sih... Kan rumahnya sendiri.


Satya mengusap-usap wajahnya, tampak frustasi. "Deb, tunggu sebentar. Gue ganti baju dulu. Nggak aman bicara kalau ada mata-mata kayak gini," ujarnya. Tanpa menunggu jawaban dari gue, Satya langsung ngacir dari ruang tamu.


"Hhh, anak itu. Masa bawa minum tapi nggak ngasih cemilan." Ibunya Satya duduk di sebelah gue sambil menikmati kerupuk udang di dalam toples yang dia bawa barusan. "Ayo, Nak! Silakan cemilannya!"


"Satya?"


Gue menoleh ke asal suara. Seorang perempuan berambut bob dengan tubuh tinggi semampai, muncul di ambang pintu rumah Satya. Matanya yang sipit menyapu seisi ruang tamu.


"Tante Risma, Satya mana?" tanya perempuan itu pada ibunya Satya, namun pandangannya mengarah ke gue. "Dia siapa, Tan?"

__ADS_1


"Yuna, kalau mampir ke rumah orang, nyapa dulu, Sis!" kata Ibu Risma. "Ini Debi, pacarnya Satya."


"Ibu! Astaga!" Satya kembali ke ruang tamu. Kalau saja gue masih sakit jantung, mungkin gue bakalan kena serangan karena orang-orang di sini sukanya ngagetin terus. "Jangan ngomong yang aneh-aneh! Nanti Debi jadi nggak nyaman!"


"Ng-nggak apa-apa, kok!" jawab gue cepat, tidak mau buat Ibu Risma tersinggung.


"Kebetulan lo sudah dandan, anterin gue shopping, yuk!" Yuna menghampiri Satya, lalu bergelayut manja di lengannya. "Nanti gue traktir makan malam."


"Maaf, hari ini gue ada janji sama temen."


"Batalin, dong!" pinta Yuna. Tangannya mencubit pipi Satya dengan gemas. "Ada baju baru yang mau gue beli. Harus punya pokoknya!"


"Ck ck ck," Ibu Risma berdecak, masih sambil melahap kerupuk.


"Boleh, kan, Tan?" Yuna merengek.


"Itu, anak Tante, biaya sewanya mahal, lho!"


"Nanti Yuna bayar dengan cara nikahin Satya," jawab Yuna enteng.


"Yeee, siapa juga yang mau punya mantu kayak kamu!"


"Bu, aku bukan barang dagangan, ya!" protes Satya seraya mencoba melepas rangkulan tangan Yuna. Tapi, Yuna malah mengeratkan pelukannya di lengan Satya. "Yun, lain kali aja shopping-nya, ya?"


"Nggak mau, Sayang! Maunya sekarang!" Yuna merengek lagi.


Gue memegang dada gue. Ada rasa nyeri aneh yang tiba-tiba muncul sedari tadi. Tidak ada sesak ataupun nyeri menjalar, sepertinya ini bukan serangan jantung. Nyeri ini sama persis seperti nyeri yang gue rasakan waktu Aldi bilang kalau dia suka Rena.


"Debi? Lo kenapa?" Satya menepis tangan Yuna dengan kasar, kemudian menghampiri gue. Dia berlutut di hadapan gue sambil menakupkan kedua tangannya di pipi gue. "Sakit? Sakit lagi? Kita ke rumah sakit, ya?" Satya memapah gue untuk berdiri. "Bu, pamit dulu, ya!"


Ibu Risma ikut berdiri dengan wajah tegang. "Oke, oke! Hati-hati di jalan, ya! Nanti antar juga Debi sampai rumahnya!" jawab Ibu Risma cepat.


Satya menggiring gue untuk masuk ke dalam mobil. Dia kelihatan panik setengah mati sampai membuat mobilnya mati mendadak berkali-kali saat dikeluarkan dari garasi.


"Kak, santai aja," gue menggenggam tangan kirinya yang memegang persneling. "Bukan serangan jantung."


Satya menoleh sekilas. "Serius?" dia memastikan.

__ADS_1


Rasa nyeri yang tadi melanda tiba-tiba saja menghilang begitu gue duduk di sebelah Satya. Saat gue menggenggam tangannya, gue sadar akan sesuatu. Gue hanya cemburu.


***


__ADS_2