
"Gue cuma mau lihat dia sebentar aja!"
"Bocah satu ini, nggak bisa nurut kali ini aja!?"
"Sebentar aja!"
"Pamali!" Gilang menarik tangan Satya menjauhi pintu berbahan kayu dengan cat merah muda yang berhiaskan bunga mawar. "Lo bakalan lihat dia pada waktunya! Nggak usah khawatir!"
"Tapi kalau tiba-tiba ada yang nyulik dia, terus dia diganti sama perempuan lain, gimana?" Satya memaparkan kekhawatirannya yang tidak berdasar.
"Ini bukan film drama, ya! Lo nggak usah lebay!" Gilang memberinya isyarat untuk kembali ke ballroom villa dan bergabung bersama tamu undangan. Satya menjawab perintah Gilang dengan dengusan kesal. Harapannya untuk mengintip pujaan hatinya menjadi pupus karena Gilang memergokinya.
Setelah memastikan Satya terjebak bersama tamu undangan, Gilang berjalan ke arah berlawanan dengan ballroom, kembali ke ruangan berpintu merah muda. Wangi mawar memenuhi rongga parunya begitu dia berdiri di depan pintu. Gilang mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Masuk!" suara perempuan terdengar dari dalam.
Gilang membuka pintu dengan perlahan. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya terang dari dalam ruangan.
"Gimana, Gil?"
Mata Gilang membulat sempurna, kagum dengan wanita yang berdiri di hadapannya. Wanita yang dulunya hanya seorang gadis ababil, kurus kering, dan sulit menerima keadaannya, kini telah berubah menjadi bidadari cantik. Bidadari yang memakai gaun putih pengantin serta hiasan bunga segar di rambutnya yang tertata rapi. Dan Gilang tetap memujanya.
Gilang menelan ludah dengan susah payah, mencoba menelan rasa cintanya yang jelas bertepuk sebelah tangan sejak awal mereka bertemu. "Sudah siap? Acara resminya mau dimulai," dia mencoba bersikap tenang. Namun, kakinya reflek mendekati wanita pencuri hatinya.
"Gua nanya, gimana?" saat wanita itu berputar untuk memperlihatkan gaun pengantinnya, niat ingin menculiknya hampir membuat Gilang gila. "Cocok? Kemarin waktu fitting dress, Satya bilang bagus, sih. Tapi gue perlu komentar dari sahabat gue."
Gilang menikmati apa yang disuguhkan Tuhan di depan matanya tanpa ragu. Dia sengaja berlama-lama, karena tidak mau detik itu berakhir dengan cepat.
__ADS_1
"Jelek, ya?" tanyanya karena Gilang tak kunjung menjawab.
Gilang memberanikan diri untuk menyentuh hiasan bunga di kepala wanita itu walau tangannya gemetar. "Tadi, Satya mau ngintip lo. Dia khawatir kalau lo diculik."
Tawa nyaring wanita itu bergema di telinga Gilang. Tawa yang selalu Gilang nanti. "Kekhawatirannya nggak berdasar!"
Gilang tersenyum mendengar jawabannya. Itu juga salah satu yang Gilang sukai darinya, jalan pemikiran mereka sebagian besar hampir sama. "Awalnya juga gue berkomentar begitu..." Gilang menatap lekat kedua manik mata berwarna cokelat milik wanita itu. "Tapi, sekarang gue tahu, kenapa dia sekhawatir itu."
Senyuman manis yang terukir di wajah pujaan hati Gilang, membuat Gilang ingin mengulum bibir indahnya. Wangi aroma parfum yang memenuhi ruangan, membuat Gilang semakin tidak bisa berpikir jernih. Dia benar-benar ingin menculiknya.
"Gue panggil bokap lo dulu, supaya gue bisa pantau jalannya upacara."
"Makasi, Gil! Lo emang terbaik!"
"Kalau gue terbaik, kenapa lo nikahnya sama Satya?" celetuk Gilang yang dijawab dengan wajah tertegun dari wanita di depannya. Gilang melemparkan senyuman, kemudian berlalu ke luar kamar.
Dia sudah melemparkan umpan di saat terakhir. Kalau memang wanita itu jodohnya, mereka akan bersama. Gilang tidak keberatan jika acara pernikahan ini menjadi berantakan, karena dia tahu sifat egoisnya sulit untuk dikendalikan.
"Lho? Ibu, kenapa belum ditata rambutnya?" Gilang menghampiri wanita paruh baya yang berjalan mendekatinya. "Ini acaranya sudah mau dimulai. Tamu undangan juga sudah banyak. Ibu harus nyapa tamu dulu sebelum acara resmi."
Linda tersenyum lebar. "Terima kasih, ya, Nak..." Linda memeluk Gilang dengan erat. "Maaf, karena kamu harus memendam perasaan kamu."
Gilang tertawa renyah. Ternyata ibu mempelai wanita menyadari perasaannya. "Nggak usah dibahas sekarang, Bu," pinta Gilang. Keteguhan hatinya hampir goyah. "Ayo, ayo! Dandan yang heboh! Ini acara sekali seumur hidup! Harus heboh!" Gilang menggiringnya kembali masuk ke dalam ruang rias.
***
Satya menangis tersedu-sedu, tidak peduli dengan tawa para tamu undangan yang memenuhi ballroom. Orangtuanya bahkan tidak tahu cara menghentikan tingkah laku konyol anak mereka. Sementara istrinya malah tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
"Aku nggak nyangka..." Satya berkomentar dengan suara bergetar. "Akhirnya kamu jadi istriku."
"Lucu, deh! Kenapa sampai nangis begini?"
Satya menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa harapannya benar terwujud tepat tujuh tahun setelah lamarannya. Usaha dan kerja kerasnya selama ini terbayarkan pada hari bahagianya.
"Kak, udah, dong! Malu dilihat orang!"
"Kenapa masih panggil 'kak'?" protes Satya. Dia mendaratkan ciuman kecil ke bibir istrinya. Jantungnya terasa lompat dari rongga dadanya ketika merasakan kelembutan bibir wanita cantik itu.
"Iya, Sayang, maaf aku lupa."
Satya jatuh bersimpuh karena lututnya bergetar hebat setelah mendengar jawaban istrinya, membuat gelak tawa kembali terdengar riuh.
Gilang yang berdiri tak jauh dari mereka, ikut tersenyum. Tidak bisa dipungkiri, dia juga ikut merasa bahagia melihat senyuman wanita kesayangannya. Meski hatinya hancur berkeping-keping, dia bertekad untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, seperti wanita itu ikhlas menerima segalanya.
"Gilang! Gilang!" wanita itu melambaikan tangan dengan penuh semangat. "Cepat foto suami gue!"
"Panggil 'kakak' aja! 'Kakak'!" pinta Satya dengan wajah merah padam.
"Suamiku, kita foto berdua, ya? Aku mau lihat wajah ganteng su-a-mi-ku difoto," godanya tanpa ampun, meski Satya sudah hampir menangis, kali ini karena malu.
"Stop, Debi! Aku mohon," Satya memeluk istrinya dengan lembut. Pelukan kali ini dia rasakan berbeda karena wanita itu sudah menjadi miliknya sepenuhnya. Di dalam hati, Satya berjanji akan menjaga permatanya ini apapun yang terjadi, seperti halnya Debi berjanji di depan makam Rena. "Debi... Aku cinta kamu..." bisiknya di telinga Debi. Walaupun dia sadar bahwa wanita ini tahu dia begitu mencintainya, Satya hanya ingin menegaskannya berkali-kali.
"Iya, iya... Aku tahu," Debi mengusap punggung suaminya yang bidang. Hari ini, dia sangat bersyukur bahwa dia masih hidup. Dia merasa sangat bahagia dapat memeluk Satya seperti ini dan membuat laki-laki itu bahagia.
Acara jamuan pernikahan Satya dan Debi hari itu, berjalan sangat meriah berkat arahan Gilang. Orangtua masing-masing mempelai terlihat sibuk menyambut semua tamu yang datang. Tamu-tamu yang datang pun ikut merasakan kebahagiaan yang menular lewat senyuman si empunya acara.
__ADS_1
Debi akhirnya bisa menerima takdirnya yang harus hidup bersama jantung yang Rena berikan selama sisa hidupnya. Meskipun awalnya dia berkeras bahwa jantung itu berdebar karena Rena yang menyukai Satya, saat ini dia memilih untuk berdamai dengan kenyataan. Daripada harus hidup menghukum diri sendiri, dia memutuskan menerima cinta Satya dan hidup bahagia, agar Rena bisa merasa tenang dari alam sana.
***END***