
Gue dan Rena duduk bersama di pinggir lapangan basket siang itu. Kami tidak benar-benar menikmati latihan basket Satya. Rena sibuk memperhatikan siswi-siswi yang tebar pesona untuk menarik perhatian Satya. Sementara gue, sibuk dengan rencana yang Gilang usulkan kemarin.
Jelas saja, gue masih nggak bisa percaya dengan asumsi yang Gilang buat tentang perasaan Satya. Rena menyukai Satya, dan tidak baik membuat lelucon kalau Satya malah naruh hati ke gue.
"Sumpah, deh! Cewek-cewek itu bikin mood gue jelek!"
Gue mengangkat kepala, melihat ke arah yang Rena maksud. Kalau saja Rena bisa ikut berdiri di sana dan bersorak mendukung Satya, pastinya siswi-siswi itu tidak ada. Tapi Rena malah duduk di sini untuk nemenin gue.
"Untung Kak Satya nggak tertarik sama mereka."
Pandangan gue beralih ke Satya. Kali ini, gue mencoba memperhatikannya lebih fokus. Satya bermain dengan baik, seperti biasa. Dia memang pemain paling tinggi di klub basket. Satya bisa dengan mudah mencetak angka. Kemampuannya luar biasa.
Satya melirik ke arah kami. Gue menoleh ke Rena yang sibuk tepuk tangan saat bola Satya masuk ke dalam ring.
Detik berikutnya, Satya kembali melirik ke arah kami. Gue tidak mau berasumsi. Siapa tahu Satya memang ingin pamer permainannya yang bagus, atau sekedar memperhatikan apakah gue baik-baik saja dan tidak semaput seperti tempo hari.
Begitu juga dengan detik dan menit berikutnya. Satya melirik ke tempat kami duduk berkali-kali. Meski begitu, itu tidak menunjukkan apa-apa. Ada Rena di sebelah gue. Lirikan Satya tidak berarti apapun.
Pertandingan berakhir. Gue mengikuti Rena yang menghampiri Satya di pinggir lapangan. "Mainnya Kak Satya hebat!" puji Rena. Sekarang dia sudah pintar basa-basi.
"Kantin dulu, yuk!" ajak Satya. Dia meraih ransel dan kemeja sekolahnya, lalu memberi isyarat agar kami mengikutinya.
Gue sengaja memberi jarak dan berjalan di belakang Satya dan Rena. Mereka tampak asyik membicarakan latihan tadi. Gue yakin, Rena belajar banyak tentang basket, karena dia sampai tahu istilah-istilah dalam pertandingan basket. Bahkan dia juga tahu posisi Satya dalam pertandingan. Gue cuma tahu kalau Satya jago masukin bola.
Pandangan gue dan Satya bertemu sekilas waktu gue mendongak. Tidak begitu jelas, tapi gue tahu Satya melirik ke belakang sesaat tadi.
"Kali ini, gue yang traktir! Gue jadi semangat banget lihat latihan Kak Satya tadi!" seru Rena girang. "Debi, makan soto seperti biasa, kan?"
"Iya. Seperti biasa aja."
"Kak Satya?"
Satya berpikir sejenak. "Soto juga, deh! Tapi pedas, ya!"
"Siap!" jawab Rena. Dia langsung meluncur ke arah stand yang menjual soto.
"Deb," tangan Satya terulur menyibak rambut yang menutupi pipi gue. Dengan lembut, dia menyelipkan rambut gue ke belakang telinga. "Ada apa? Lo nggak enak badan?"
Mata gue terpancang padanya. Gue kaget karena dia tiba-tiba melakukan itu. "Nggak apa-apa," jawab gue pelan.
__ADS_1
"Gimana? Lo suka pertandingan latihan gue tadi? Lo nggak ada komentar."
"Kak Satya mainnya bagus," dusta gue, padahal gue nggak memperhatikan bagaimana jalan permainan tadi.
"Deb, kalau lo nggak keberatan, gue mau nanya sesuatu. Ini bersifat pribadi."
Gue menelan ludah dengan susah payah. "Apa?"
Satya terlihat menimbang sejenak, mungkin memilih kata-kata yang pas untuk dikatakan. "Hubungan lo sama Gilang, bagaimana?"
"Baik-baik aja," sahut gue lugas. Gue memang nggak begitu mengerti jalan pikiran Gilang, tapi gue rasa dia bukan orang yang jahat atau punya maksud tersembunyi.
"Bukan itu, Deb."
"Lalu?"
"Gilang.. Apa dia spesial buat lo?"
"Dia penulis buku dan gue fans-nya."
Satya diam sejenak. Mata kami tetap saling bertemu. "Hanya itu?"
"Ada apa?" Rena kembali. "Ada apa itu?"
"Kita juga nggak tahu. Tiba-tiba udah seperti itu," jawab gue jujur. Gue rasa, Satya dan gue terlalu fokus dengan pembicaraan kami, sampai tidak sadar adanya kerumunan itu datang.
"Gilang? Itu Gilang, lho!" Rena menunjuk ke arah kerumunan.
Gue memicingkan mata untuk mendapat penglihatan yang lebih fokus. Ada satu kepala berambut hitam kelam menyembul dari tengah kerumunan. Gue langsung bisa mengenali bahwa itu benar Gilang, begitu melihat dahi pucatnya.
"Ngapain dia ke sini?" suara Satya terdengar lebih dingin dari biasanya saat melihat Gilang.
Gue bangun dari duduk dan menghampiri Gilang. Susah sekali menerobos kerumunan siswi-siswi yang heboh, entah kenapa. Tempo hari tidak seheboh ini waktu Gilang ke sekolah gue.
Wow! Gue sendiri kaget begitu melihat sosok Gilang yang sekarang. Pantas saja banyak perempuan yang mengerumuni. Gilang memotong rapi rambutnya, memperlihatkan bentuk wajah ovalnya yang sempurna. Mata Gilang sangat indah diterpa sinar matahari, berwarna biru sebiru laut dalam. Keindahan itu selalu tertutup rambutnya yang gondrong, atau memang gue yang nggak terlalu perhatian?
"Hai, Debi!" Gilang melambai riang waktu menyadari kehadiran gue. Gue memperhatikan penampilannya yang mirip boyband Korea. "Maaf gue telat jemput lo. Tadi ada kerjaan dadakan."
"Lo mencolok banget!"
__ADS_1
Gilang mengedarkan senyuman polosnya yang selalu menjadi senjata pamungkas. "Permisi, ya, cewek gue udah ketemu."
Gue mendengus geli mendengarnya bicara demikian. Gilang buru-buru menarik tangan gue untuk menjauhi kerumunan. "Mereka itu ngira lo boyband nyasar!"
"Tapi, gue emang ganteng, kan?"
Alis gue terangkat, lalu gue tertawa saking gelinya mendengar bagaimana dengan percaya dirinya dia menilai diri. "Lo mau ikut makan?"
"Nggak. Gue udah makan siang." Gilang berhenti saat gue duduk di bangku gue tadi.
"Duduk, Gil!"
"Gue mau duduk di sebelah lo."
"Duduk di mana aja, sama!" Satya nyolot.
"Kenapa lo sewot?" tanya Gilang dengan senyuman miringnya. "Terserah gue mau duduk di mana."
Rena berdeham, menarik perhatian kami. "Gue biasa duduk di sebelah Debi," ujar Rena.
"Kalau Debi nggak keberatan, apa lo mau pindah?" Gilang tidak mau menyerah.
Semua perhatian kini teralih ke gue. "Astaga! Gue nggak peduli siapa yang duduk di sebelah gue! Gue cuma mau makan!" jawab gue kesal. Masalah tempat duduk aja, kenapa sampai serumit ini?
Gilang tersenyum simpul pada Rena. Rena mengalah dan duduk di sebelah Satya. Gilang duduk dengan dada membusung, seakan puas dengan kemenangannya.
Pesanan kami datang beberapa saat kemudian. Semangkuk soto hangat yang aromanya membuat siapapun tidak akan menolak untuk menikmatinya.
Gilang meraih sendok dan garpu yang ada di atas meja. Awalnya gue mau protes kalau dia berani ambil makanan gue. Tapi, ternyata dia mengelap alat makan dengan tissue. "Nih!"
Gue menerima sendok dan garpu yang telah dilap oleh Gilang. "Makasi."
"Lebay!" sindir Rena sambil tertawa. "Lo ke sini buat jemput Debi?"
"Harus, dong! Mulai sekarang, gue yang antar-jemput Debi ke manapun."
"Ke manapun?"
Gilang mengangguk tegas. "Gue harus jaga pacar gue, kan?"
__ADS_1
***