
Gilang merapikan piring bekas makan siang gue yang terlambat. Dia menemani gue selama di rumah sakit, tanpa komentar sama sekali. Tumben banget dia anteng dan jadi penurut begini. Gilang bahkan berkeras menyuapi makan siang gue.
"Nak Gilang," Ibu muncul dari balik tirai, "hasil lab Debi sudah keluar. Kata dokter, tidak membahayakan. Debi bisa pulang."
Gue masih ingat bagaimana pucatnya wajah Ibu saat Gilang membopong gue masuk ke UGD. Tapi, sepertinya sekarang Ibu sudah tenang kembali.
"Baguslah!" Gilang menepuk kepala gue.
Gue segera menepis tangannya. "Lo hutang es krim sama gue!" gue teringat perkataan Gilang selama di mobil. Gilang meracau tidak karuan, mengatakan akan membeli satu truk es krim kalau gue bisa bertahan. Pak Satpam yang dia seret karena panik pun, ikutan panik. Pak Satpam panik karena dirinya diculik Gilang dan pos jaganya menjadi kosong.
"Kalian jadi akrab, ya?" tanya Ibu.
"Kami pacaran."
"Ya?"
Gilang merangkul gue dengan santai. "Ibu, kami pacaran."
Ibu memandang kami bergantian. Gue nggak berani bersuara. "Sejak kapan?"
"Belum lama ini."
"Nak Gilang bisa janji jaga Debi?"
Gilang mengangguk dengan semangat. "Saya bisa diandalkan!"
Ibu tersenyum mendengar jawaban Gilang. "Ibu percaya sama Nak Gilang. Tolong jaga anak kesayangan Ibu, ya!"
"Debbbbiiiiiii!!!"
Gue dan Gilang saling tukar pandang. "Rena datang," kami berkata hampir bersamaan.
Benar saja. Rena datang masih lengkap dengan seragam sekolahnya. Matanya sembab karena menangis. "Kenapa lo nggak ngabarin gue, Deb!?" cicitnya setengah kesal. "Gue kaget bukan main waktu nyari lo di kelas, tapi lo nggak ada! Terus ketemu sama satpam yang bilang kalau lo dibawa ke rumah sakit!"
Gue lupa ngasih kabar ke Rena saking mumetnya pikiran gue. "Sekarang udah nggak apa-apa, Ren," gue mencoba menenangkan. "Tadi Gilang yang anter gue ke rumah sakit. Gue nggak mau ganggu waktu belajar lo. Apalagi sebentar lagi mau ujian tengah semester."
Rena beralih ke Gilang yang berdiri di sebelah gue. "Makasi, Lang!"
Tiba-tiba tirai bilik gue kembali terbuka. Satya muncul di sana. Dia tampak khawatir, namun tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Gue memilih mengalihkan pandangan daripada menyapanya.
"Ibu akan urus administrasi dulu. Kalian tunggu di sini, ya? Kita pulang bareng." Ibu berlalu ke luar bilik gue, membiarkan keheningan yang membuat canggung menghampiri kami.
__ADS_1
"Lo baik-baik saja?" Satya angkat suara.
Gue tersenyum lemah. "Iya, nggak apa-apa."
"Kalian pulang sekolah langsung ke sini?" Gilang mengalihkan pembicaraan. Sepertinya dia sadar dengan nada canggung antara gue dan Satya. "Rena, bukannya ada les balet?"
"Les balet gue nggak penting, Lang! Gue harus lihat Debi dulu."
"Selama Debi dalam pandangan gue, semuanya bakal aman," sahut Gilang dengan percaya dirinya.
Gue terkekeh mendengarnya. "Ren, lo tadi harusnya lihat gimana cara Gilang ke sekolah!"
"Lo bukannya buta arah?" tanya Rena pada Gilang. "Lo bisa sampai ke sekolah juga?"
"Dalam sepuluh menit!" Gilang tambah bangga dengan dirinya sendiri.
"Dia pakai ojek karena nggak tahu arah," gue mengoreksi. Gilang mencibir ke arah gue. "Gue nggak bisa bayangin gimana bawelnya dia waktu dibonceng, sampai abang ojeknya mau ngebut nggak karuan buat anter dia."
"Bahaya, Lang!" Rena menasehati. "Lo harus jaga diri juga! Lo bukan kucing yang punya sembilan nyawa!"
"Gue cuma mau secepatnya lihat Debi," jawab Gilang. Dia membelai rambut gue seperti membelai anak anjing. Gue tahu, dalam hatinya dia mengelus gue sambil membayangkan kalau gue ini hewan peliharaannya. "Lo bakalan melakukan hal yang sama juga, kan?"
Rena tertawa, setuju dengan apa yang Gilang katakan. "Gue bahkan bisa terbang kalau Debi dalam kesulitan," Rena mulai hiperbola.
"Kalian sudah makan?" tanya Rena.
"Gilang tadi maksa gue makan."
"Bukan maksa, gue nyuapin lo! Romantis namanya!"
"Mau ikut makan dessert?"
Gilang menggeleng. "Debi harus istirahat. Gue akan bawa Debi langsung pulang setelah ini. Masalah makanan atau apapun yang Debi mau, gue bisa order supaya diantar sampai rumah."
"Hmm... Enak, ya, punya pacar yang manjain lo," sindir Rena setengah bercanda. "Jujur, awalnya gue nggak percaya kalau kalian pacaran. Nggak ada tanda saling suka di antara kalian selama yang gue tahu. Tapi, kelihatannya kalian cocok banget!"
"Cinta memang datang tiba-tiba."
Gue bergidik mendengar Gilang menjawab demikian. Dia pasti ngambil kata-kata itu dari dalam buku atau sebuah lirik lagu.
"Ren, kita balik sekarang aja," usul Satya. "Sudah ada Gilang di sini. Nggak perlu khawatir lagi."
__ADS_1
Gue memperhatikan Satya untuk beberapa detik. Jelas sekali Satya menghindari kontak mata dengan gue.
"Ya, benar sekali! Udah ada gue di sini. Gue akan pastikan Debi selamat sampai rumah," Gilang memanasi. Anak ini doyan banget jadi 'kompor'.
"Debi, lo harus ngabarin gue sesampainya kalian di rumah, ya!" perintah Rena. Rupanya dia masih kesal karena tadi gue lupa. "Gue ama Kak Satya duluan!"
"Hati-hati di jalan!"
Satya berlalu tanpa sepatah kata pun. Apa yang dia rasakan saat ini? Mendengar Gilang yang bermulut besar, pastinya membuat suasana hati Satya bertambah buruk.
"Apa yang terjadi di antara kalian?" Gilang duduk kembali di kursinya.
"Kak Satya bilang suka ke gue."
"Tuh, kan!"
"Jangan keras-keras!" gue menutup mulut Gilang sebelum dia nyerocos dengan speaker-nya. "Mereka belum terlalu jauh, bisa saja Rena dengar!"
Gilang mengintip dari balik tirai, memastikan Rena memang sudah pergi dan tidak menguping pembicaraan kami. "Dari awal gue sudah bilang, kan? Lo sendiri yang nggak mau percaya."
Gue menghela nafas panjang. "Dia tiba-tiba aja bilang begitu."
"Gimana perasaan lo sekarang?"
Bayangan wajah Satya saat kami di perpustakaan tadi, kembali memenuhi kepala gue. Wajah sedih dan putus asanya... Gue belum lupa caranya memohon untuk diberi kesempatan. Dalam diri gue sendiri, gue bahkan nggak punya hak untuk disukai sebesar itu.
"Lo suka Satya?"
Gue menggeleng cepat. Tapi suara gue menolak untuk keluar.
"Gue ngerti gimana perasaan lo setelah lihat Rena tadi. Dia tulus berteman dengan lo, tanpa memedulikan kesulitan yang harus dia pikul."
"Gue nggak bisa bayangkan kalau Rena tahu Kak Satya suka gue. Ini pertama kalinya Rena serius dengan seorang laki-laki. Gue harusnya mendukung Rena." Gue memainkan selimut yang menutupi kaki gue. "Gue nggak punya banyak harapan hidup. Gue nggak mau meninggalkan luka ke siapapun, termasuk Kak Satya."
"Maksud lo?"
"Kalaupun gue terima Kak Satya jadi pacar gue, nantinya Kak Satya juga akan terluka. Kalau gue nggak ada, dia bakalan sedih. Lebih baik sedih karena kehilangan daripada sedih karena nggak bisa bertemu."
"Wow! Dapat dari mana kalimat seberat itu?"
"Komik."
__ADS_1
***