BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Masih Sayang


__ADS_3

"Ibu mana?" Gilang berjalan di samping gue, menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumah gue.


"Shift pagi," gue menjawab singkat, dibalas dengan anggukan dari Gilang.


"Gue nggak lihat ayah dan kakak lo? Sudah pada balik kerja?"


"Mereka sudah balik dari kemarin pagi. Mereka ambil cuti tiba-tiba, jadi sekarang banyak kerjaan yang menumpuk. Lebih cepat mereka balik kerja, lebih baik buat mereka. Lagipula, gue sudah sehat."


Hari ini, adalah hari pertama gue masuk kembali ke sekolah. Rasa senang dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Tentu saja gue senang karena gue bisa melanjutkan aktifitas sebagai siswi biasa, meski harus mengejar ketinggalan selama tiga bulan terakhir.


Di sisi lain, gue merasa sedih karena tidak ada Rena lagi yang mengisi hari-hari gue. Sahabat gue sudah tenang di alam sana. Bahkan, untuk berkunjung di dalam mimpipun, Rena enggan.


Gilang berjalan mendahului gue ketika kami tiba di sisi kiri mobil. "Silakan," ujarnya sambil membukakan pintu.


"Alay!" sahut gue sambil nyengir, tapi gue tidak menolak tawaran Gilang. Begitu pintu mobil ditutup, Gilang langsung memutari mobil untuk duduk di kursi kemudi.


"Berangkat!" dia menyalakan mobilnya, kemudian kamipun melaju membelah jalanan kota yang lumayan ramai di pagi hari. "Kondisi lo saat ini gimana? Apa ada yang sakit? Lo sudah sarapan? Ada obat yang harus dibawa?"


"Setelah dapat istirahat tambahan selama seminggu di rumah, gue jadi sakit kepala karena terlalu banyak tidur," aku gue. Tangan gue bergerak memijit-mijit kening, seakan kepala gue terasa sakit. "Tapi lo nggak usah khawatir. Rena punya jantung yang kuat. Itu saja sudah cukup untuk buat gue tetap hidup."


"Lo yakin?" Gilang memastikan. Gue mengangguk, yakin dengan apa yang gue katakan. "Gue sudah ajak lo buat jalan-jalan, kan? Lo sendiri yang nggak mau."


"Belok kanan!" gue memperingatkan saat Gilang salah menghidupkan lampu sein. "Gue harus benar-benar pulih kalau mau tetap di sini. Jadi, gue berusaha untuk tidak terlalu memforsir tenaga gue."


"Tapi lo mau diajak kencan sama Satya."


Gue menoleh kaget. Perasaan gue nggak ada cerita apa-apa ke Gilang. Satya juga bukan tipe orang bermulut ember, jadi tidak mungkin dia curhat sama Gilang.


"Bener, ya?" Gilang terkekeh menggoda. "Gue cuma nebak aja, sih," tambahnya, membuat gue menganga tidak percaya.


Astaga! Sepertinya dia bisa menjadi detektif yang hebat kalau masuk ke kepolisian! Intuisi dan pengamatan Gilang, bisa dikatakan luar biasa!

__ADS_1


"Kapan?"


Yaelah, dilanjutin! Gue menghela nafas sebelum menjawab. "Kak Satya cuma asal ngomong aja, Gil!"


"Apa lo pikir, semua yang Satya lakukan itu, juga cuma asal-asalan?"


"Beda konteks!"


Gilang malah tertawa pelan. "Satya masih sayang sama lo. Dia lagi pendekatan ulang."


"Masih pagi, Gil. Lo nggak usah ngelantur," gue menasehati. Berkali-kali gue menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Gue mencoba mengatur laju detak jantung gue yang cepat. Kata-kata Gilang malah membuat gue nggak bisa fokus.


"Ini belok kiri?"


"Iya."


***


Tidak ada yang mengungkit masalah Rena yang mendonorkan jantungnya untuk gue. Mereka hanya mengatakan turut berduka cita atas meninggalnya Rena. Beberapa orang menceritakan bagaimana mereka menghadiri pemakaman Rena tempo hari.


Siang itu, pada jam istirahat kedua, gue memutuskan untuk pergi ke kantin. Mendengar banyak orang bercerita mengenai Rena, membuat dada gue sesak. Gue jadi ingin menangis lagi. Tapi, ini di sekolah. Kalau gue nangis bar-bar, mata gue bakalan jadi bengkak dan gue akan ngantuk di pelajaran selanjutnya. Habis nangis itu, memang paling enak kalau langsung tidur.


"Kenapa sendirian?"


Gue mendongak mendengar suara Satya yang muncul dari belakang gue. "Baru istirahat, Kak?" sapa gue. Dulu, waktu gue masih sering kena serangan jantung, gue paling benci sama orang yang muncul tiba-tiba dan buat gue kaget. Namun sekarang, gue menyukai saat-saat di mana Satya tiba-tiba ada di sekitar gue. Tersenyum simpul seperti detik ini.


Satya duduk di sebelah gue tanpa permisi. "Nggak nafsu makan lagi?" Satya melirik mangkuk soto gue yang kosong setengahnya dan mulai dingin. "Paksa makan, Deb, supaya perut lo ada isinya. Lo harus ingat, kalau lo sampai sakit, bisa berabe urusannya."


"Iya, gue ngerti." Gue memasukkan sesuap kuah soto ke dalam mulut. Rasa soto di kantin itu tidak berubah. Tetap enak dan legit. "Kak Satya nggak pesan makan?"


"Gue udah makan roti isi tadi di kelas. Gue mau lihat kondisi lo di hari pertama sekolah, tapi waktu nyamperin ke kelas lo, lo ternyata nggak ada. Makanya gue ke sini."

__ADS_1


"Gue nggak ada masalah sama temen-temen. Mereka baik. Bahkan ada yang ngajakin gue makan bareng di kantin," gue mengaduk-aduk soto di depan gue, "tapi gue pengen sendiri."


Saat gue melirik ke arah Satya, dia tengah memperhatikan gue tanpa malu-malu. Senyuman tipis menghiasi wajahnya. Jantung Rena berdebar dengan kencang lagi.


"Lain kali, kalau lo masih ngerasa nggak nyaman, lo bisa ajak gue makan di kantin. Gue bisa temani," kata Satya. "Ngomong-ngomong, gimana masalah kencan kita?"


"Uhuk!" gue tersedak kuah soto.


"Minum, minum!" Satya menyodorkan es jeruk ke mulut gue. "Pelan-pelan, Deb!"


Gue segera mengusap sudut mulut gue dengan tissue setelah menenggak es jeruk gue. "Kak Satya ngomong apa, sih?"


"Gue nanya serius."


Wajah gue memanas. Tiba-tiba saja gue kekurangan oksigen. "Ken...can?" gue memelankan suara.


"Setelah pulih seperti ini, akan mubazir kalau lo nggak coba hal-hal baru. Gue mencalonkan diri untuk jadi tour guide lo."


Oooh.. Itu maksudnya. Hmmm.. Semangat gue langsung menguap. Ternyata arti kata 'kencan' untuk Satya, setara dengan tour guide.


"Gue juga sudah belajar bantuan hidup dasar. Bila perlu, lo kasih tahu obat mana yang penting kalau terjadi apa-apa. Ingatan gue bagus. Gue akan cepat menghafalnya."


Hhh... Segitu inginnya jalan-jalan? Begini rasanya terbang tinggi, lalu jatuh dengan kecepatan seratus kilometer perjam.


Gue mengerjap, kaget sendiri dengan pemikiran gue. Kenapa gue jadi lesu begini cuma gara-gara ucapan Satya? Memangnya kenapa kalau cuma tour guide? Itu harusnya tidak merubah kenyataan bahwa Satya adalah teman yang baik. Dia cuma khawatir gue bosan karena Rena tidak ada lagi.


"Mau sekalian ajak Gilang?" tanya gue sambil menyadarkan diri dari khayalan yang aneh tadi.


Satya terdiam. Senyumannya sirna. Matanya berkilat menyeramkan. "Kenapa Gilang lagi, sih?" tanyanya dengan ekspresi datar.


***

__ADS_1


__ADS_2