
Gue pengen nangis rasanya lihat Gilang nangkring di kantin sekolah gue waktu jam pulang sekolah. Gue rencananya beli es jeruk sama Rena sebelum pulang sekolah, tapi malah mendapati Gilang di sana sedang tebar pesona. Beberapa anak perempuan tampaknya mengenali Gilang.
"Siapa itu? Wali murid?" tanya Rena heran melihat kehebohan di kantin.
Oh, iya! Gue belum cerita tentang Gilang ke Rena. Gue lupa karena saking senangnya bisa kembali ke sekolah. Yang ada di otak gue cuma belajar dan belajar.
"Hai, Girls! Kenapa pada berdiri di sini?"
Gue berbalik dan mendapati Satya berdiri di belakang gue bersama teman-temannya yang lain. "Hai, Kak!" Rena nyapa girang. "Mau latihan basket?"
"Mau main gundu," Satya membuka kepalan tangannya, memperlihatkan beberapa butir gundu dengan berbagai warna. Beneran bocah! Padahal sebentar lagi mereka ada pertandingan basket final, tapi asyik bercanda.
Gue menyenggol pelan lengan Rena. Dia malah bengong menikmati sosok Satya. "Mau latihan basket?"
Gue nepok jidat. Heran lihat Rena yang nggak ingat dia nanya apaan semenit lalu. "Kak Satya kapan latihan basket? Kita mau nonton."
"Besok?"
"Bo-"
"Debi!" suara Gilang memotong jawaban gue. Dia melenggang berjalan menghampiri gue dengan wajah pockerface-nya. "Udah mau pulang?"
"Kenapa emang?" tanya gue ketus.
"Yuk, pulang!"
"Deb, lo kenal dia?" bisik Rena.
Gilang menatap satu persatu teman-teman yang ada di sekeliling gue selama beberapa detik. Lalu kembali ke gue. "Mau makan siang bareng dulu?"
"Gue mau makan sama temen-temen gue. Lo pulang aja sendiri. Pakai google map, biar lo nggak nyasar!"
Alis Gilang terangkat dengan senyuman miring khas mengejek miliknya. Orang lain bisa saja menganggapnya senyuman menawan, karena mereka tidak tahu bagaimana sifat Gilang yang sebenarnya. "Sekalian aja semuanya ikut. Gue nggak masalah nraktir mereka semua."
"Gue ikut!"
"Lanjut!"
"Boleh, bro!"
__ADS_1
Ketiga teman yang bersama Satya menjawab dengan cepat. Rena menyelidiki Gilang dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sebentar lagi dia akan siap melahap Gilang. Gue tahu bagaimana perasaan Rena. Pasti ada banyak pertanyaan di kepalanya mengenai laki-laki sok akrab satu ini.
Tapi apa boleh gue kasih tahu kalau dia adalah Gilang, si penulis terkenal yang tengah digandrungi remaja masa kini?
"Teman-teman," gue membuka pembicaraan, "dia Gilang, penghuni baru rumah kosong di sebelah rumah gue. Orangnya emang nyeblak, jadi biasakan aja, ya!"
Gilang melemparkan senyuman lebar ke teman-teman gue. "Kayaknya mobil gue cukup untuk kita semua. Kita makan steak, yuk?" dia seenaknya saja memutuskan. "Tapi Debi duduk di sebelah gue, ya?"
"Kenapa?" Satya yang menjawab. Kami menoleh kaget bersamaan. "Eng.." Satya mengusap-usap kepalanya. "Kenapa Debi yang harus duduk di depan?"
"Karena dia google map gue."
Gue menoleh pada Satya. "Orang ini buta arah," gue menjelaskan disambut dengan suara 'ooh' dari yang lain.
"Gue juga tahu jalan di sini. Biar gue aja yang nunjukin arah!" kata Satya.
"Gue juga tahu," Rena ikut pasang badan.
Gilang terkekeh mendengar Satya dan Rena berebut ingin duduk di bangku depan. "Ya sudah, lo bawa mobilnya," Gilang menunjuk Satya, "dan lo di sampingnya," lalu giliran menunjuk Rena. "Debi biar sama gue di bangku tengah. Deal?"
"APANYA YANG DEAL!?" Rena dan Satya tiba-tiba emosi.
"Lo ke mana?"
"Gu-"
"Sama gue, dong!" sahut Gilang cepat.
Gue berdecak, kagum akan sifatnya yang sangat percaya diri dan tidak tahu malu. "Lo bisa diem sebentar? Bikin riuh aja daritadi!"
"Oke, gue diam. Tapi lo harus pulang sama gue, karena gue udah janji sama nyokap lo."
"Nggak usah bawa-bawa nyokap gue. Lo baik sama gue karena niat dikasih makan gratis lagi, kan?"
Gilang menjawab dengan senyum lebarnya. Memang masakan nyokap gue enak banget! Orang borju kayak Gilang aja suka. Apa sekalian aja gue minta dia bayar setiap kali Ibu buatkan makanan untuk dia? Ide bagus, kan?
"Ren, lo pulang aja, ya? Besok kita nonton latihannya Kak Satya."
"Oke, deh! Nanti hubungi gue begitu lo sampai di rumah, ya!"
__ADS_1
Gue ngangguk aja. Kemudian beralih ke Satya. "Kak, latihan besok, jam berapa?"
"Pulang sekolah."
"Kita langsung ke lapangan begitu jam pelajaran selesai," gue mengacungkan jempol di depan wajah.
"Ayo, pulang!" Gilang merebut ransel gue tanpa peringatan. Gue terpaksa ngacir ngikut dia dan ninggalin yang lain tanpa pamit dengan benar. "Mau pulang aja ribet amat! Daritadi, kek, langsung ikut gue pulang. Malah pakai alasan ini itu."
"Ngomel lagi!" gerutu gue. "Besok-besok lo nggak usah pakai acara antar-jemput segala. Gue udah biasa naik angkot sendirian."
"Terserah gue, dong?"
Gue cengak, nggak tahu harus jawab apa untuk si kepala batu satu ini. Ada, ya, manusia bebal macam dia? Buat isi perut gue sampai muter saking gedegnya. Besok pagi gue harus berangkat lebih awal supaya nggak ketemu sama alien satu ini. Bisa pingsan gue saking sebalnya lihat muka dia!
Waktu gue tiba di rumah, ternyata Ibu sudah menyiapkan makan siang, termasuk untuk Gilang juga. Tentu saja, tanpa malu-malu Gilang langsung cuci tangan dan duduk di meja makan bersama Kak Dika.
"Lain kali, kalau antar Debi ke sekolah, nggak usah pakai pakaian rapi begini, Lang!" komentar Ibu.
"Nanti dikira orang gila, Gil!" sindir gue.
"Debi!" Ibu malah mendukung dia.
"Nggak apa, Bu! Kayak begini kelihatan lebih rapi," Gilang masih memasang wajah polos dan senyuman lebar. "Bu, boleh makan sekarang?"
"Duuh, pakai izin segala," Ibu terkekeh geli. "Anggap rumah sendiri aja, Nak!"
Gue mencibir ke arah Gilang yang sok polos. Pintar banget dia ngambil hati orangtua gue! Lama-lama, anak ini bisa jadi kakak angkat gue.
"Tambah ikannya, Lang!" Kak Dika menyendokkan seekor ikan lagi ke atas piring Gilang. Kayaknya dia benar bakalan jadi kakak angkat gue, deh! Jangan-jangan, nanti pagar pembatas rumah kami dengan rumah Gilang bakal dihancurkan.
"Debi, makan juga, dong!" Gilang menyendokkan nasi lagi ke piring gue. "Makan yang banyak, supaya nggak kurus begini."
"Lo nyuruh gue makan nasi doang?" protes gue, waktu lihat piring gue sudah penuh dengan nasi yang Gilang sendokkan, tapi tidak ada lauk.
"Nih, aku kasih ikan juga," Kak Dika memberikan ikan goreng. "Makan sayur juga," lalu menyendokkan sayur kangkung. "Kamu harus makan yang banyak supaya punya tenaga untuk tetap sehat!"
Gue menghela nafas. Mereka berdua ini sangat cocok dalam hal seperti ini. Gue nggak akan punya suara kalau Ibu memutuskan Gilang menjadi keluarga gue. Kak Dika saja setuju.
***
__ADS_1