BUKAN AKU...

BUKAN AKU...
Tentang Dia


__ADS_3

Gue nggak bisa melepas pandangan gue dari Rena. Sejak pulang sekolah tadi, Rena senyam-senyum nggak jelas. Ternyata kalau Rena jatuh cinta, dia kayak orang gila.


"Ren, kue gue jangan ditambahin susu kental manis, ya!" gue mengingatkan, takut otaknya dia nggak connect karena jiwanya lagi melayang ke tempat lain.


"Iya, Debi," jawabnya dengan manis manja, gue sampai merinding dengarnya.


Gue menoleh pada koki andalan keluarga Rena. Dia ikut bingung dengan tingkah Rena. "Non Debi, ada apa, ya?" bisiknya. "Non Rena kesurupan?"


Gue terkikik geli mendengar tanggapan Pak Hasan. "Bukan, Pak! Ini kayaknya karena dia lagi kesemsem sama kakak kelasnya."


"Hah? Seriusan, Non?" Pak Hasan tidak percaya. Jelas saja tidak akan percaya kalau tidak melihat langsung. Selama hidupnya, Rena belum pernah luluh oleh seorang lelakipun. Dia terlalu senang dengan statusnya yang ada di puncak, hingga akhirnya memutuskan standar yang aneh untuk jatuh cinta.


Gue nggak nyangka aja, ternyata Satya yang bisa buat Rena luluh. Oh, iya! Gue udah ngasih nomor telepon Rena ke Satya. Apa Rena belum ada kontak sama Satya, ya?


"Ren, lo suka ama Kak Satya?" gue nanya nggak pakai pembukaan.


Rena diam sejenak, balas menatap gue. "Kalau deg-degan itu, artinya suka, ya?"


Gue melahap potongan terakhir kue yang Rena suguhkan. Memang, ya, kalau makanan buatan koki profesional, rasanya bakalan beda. "Gue nggak terlalu ngerti juga," jawab gue jujur.


"Lo sama Andi dulu gimana? Deg-degan?"


Gue garuk-garuk kepala. "Kayaknya iya. Kalau nggak salah, habis itu gue masuk UGD," gue ngakak, ingat waktu Andi nembak gue. Saking kagetnya, gue sampai pingsan. Gue lupa ngontrol emosi saat itu.


"Suka itu kayak gimana?"


"Hmm.. Kayak waktu lo shoping sampai nggak tahu diri."


Alis Rena terangkat. "Beda kasus, Mbak!"


Gue pergi ke tempat sisa kue Rena disimpan. "Gue minta lagi, ya?"


"Ga boleh banyak-banyak, Deb!"


"Lagi dikit aja!" gue ambil sepotong kue lagi. "Ngomong-ngomong, lo nggak ada di chat sama Kak Satya?"


"Hm? Chat? Emang Kak Satya punya nomor gue?"


Gue duduk lagi di depan Rena. Gue nggak buru-buru menjawab pertanyaannya. Kue di depan gue lebih menggoda.


"Debi!"


"Hiya, hiya!" gue menelan kue di mulut gue. "Tempo hari, waktu kita ke mall, gue ketemu sama Kak Satya. Dia nemenin gue waktu istirahat."


"Ada kejadian gitu?"

__ADS_1


Gue ngangkat bahu. "Nggak begitu penting, jadi gue nggak cerita."


"Nggak ada yang nggak penting di antara kita, Debi!" sanggah Rena sambil berkacak pinggang. "Gue aja cerita sama lo waktu gue berantem di mall, kan?"


"Yaelah.. Kalau lo, mah, berantem kapan aja dan di mana aja. Bukan cerita baru lagi buat gue."


Rena menghela nafas panjang. Dia tahu berargumen sama gue itu cuma buang-buang tenaganya saja. "Jadi, lo udah kenal lama sama Kak Satya?"


Gue teringat kejadian di angkot. "Nggak lama juga, sih," jawab gue. "Dulu pernah ikut angkot yang sama ama Kak Satya. Waktu itu dia nyapa gue. Jadi kenal, deh!"


"Se-simple itu?"


Gue manggut-manggut. Memang se-simple itu. Gue tahu kalau Satya deketin gue buat dapetin Rena. Semua orang di sekolah tahu, kalau gue itu sahabatnya Rena. "Intinya, gue ngasih nomor lo ke Kak Satya waktu dia nemenin gue di mall."


"Kenapa lo kasih? Kak Satya yang minta?" tanya Rena. Kue di depannya tidak tersentuh sedikitpun. Dia lebih tertarik dengan cerita tentang Satya ketimbang kue.


"Emang selama ini gue pernah nggak ngasih nomor lo ke cowok-cowok yang minta?" gue balik bertanya.


Rena diam. Gue nggak bisa nebak apa yang dia pikirkan.


"Emang," gue menambahkan, "ada yang deketin gue tanpa maksud PDKT sama lo?"


"Pasti ada."


Gue tersenyum sumbang. "Andi suka sama lo. Itu alasannya dia minta putus sama gue."


"Itu kenyataannya. Pacar gue yang sebelumnya juga begitu. Semua kepincut sama lo."


Rena diam. Gue sempat meliriknya. Ada perasaan bersalah yang terpancar di wajah cantiknya. Kalau gue ikutan diam, gue yakin dia bakal nangis.


"Tapi itu nggak jadi masalah buat gue. Lo harus percaya itu!" gue mencoba menghilangkan rasa bersalah Rena. "Gila aja kalau kita jadi berantem gara-gara cowok! Nanti gue malah nggak bisa makan cake kayak begini lagi! Rugilah!"


"Kok yang ada di pikiran lo malah makanan, sih?"


"Otak gue perlu makanan untuk kerja. Bukan cowok."


Rena bangun dari duduknya, dia mengitari meja makan untuk nyamperin gue. "Gue sayang lo, Debi," Rena meluk sambil mengusap rambut gue.


"Gua sayang sama koki lo, Rena," gue menyendok kuenya lagi.


"Iya, iya, minggu depan gue bakal buatin lo kue yang enak. Satu layer buat lo semua."


"Emang lo bisa buat kue?"


Rena mendengus. "Ralat! Koki gue bakalan buatin lo kue yang enaaaaakkk banget! Puas?"

__ADS_1


Gue manggut-manggut, puas. "Sebagai gantinya, mau gue teleponin Kak Satya?"


"Jangan!" pekik Rena. "Jangan! Jangan! Tidak boleh!" dia jadi panik sendiri. Well, lucu juga anak ini. Sikapnya yang kayak begini nggak bakal sering terjadi.


"Kenapa?" gue jadi niat goda dia.


"Apaan, sih! Nggak usah sampai telepon Kak Satya segala, Deb!" Rena merebut smartphone gue yang sedari tadi tidak bergeming di atas meja. Gue cuma niat menggoda, dianya malah serius.


"Jujur, Ren.. Gue nggak tahu apa-apa tentang Kak Satya," akhirnya kalimat itu meluncur dari mulut gue yang tadinya sibuk ngunyah terus. "Obrolan kita ringan. Mengalir begitu saja kayak sungai di belakang rumah nenek gue yang airnya bersih, jernih, dan kalau lo mandi di sana, gue jamin-"


"Ini obrolan kita ke arah mana, ya?" Rena mengingatkan.


"Sekalian nostalgia. Sensi amat."


"Terus, selama lo ngomong ama Kak Satya, gimana pendapat lo?"


Gue berpikir sejenak. Entah kenapa rasanya susah menilai laki-laki satu ini. Dia terlalu ambigu. Pertanyaannya kadang buat gue bingung. Dia nongol tiba-tiba kayak hantu, bikin kaget. Gue nggak suka orang yang sering buat gue kaget.


"Gimana, Deb? Lo mikirnya lama banget!"


"Hmm.. Kak Satya itu.. Entahlah!"


"Lo mikir lama cuma buat ngasih gue jawaban 'entahlah'?"


Gue tertawa kecil. "Gue baru beberapa kali ketemu sama dia. Orangnya gampang diajak ngobrol. Udah, gitu aja."


"Itu aja?"


"Oh, iya! Dia baik karena mau ngasih gue minjem catatan matematikanya."


"Itu nggak termasuk poin tambahan buat gue!"


"Gimana kalau lo coba cari tahu sendiri?" gue ngasih usul yang mendasar. Kalau memang Rena tertarik sama Satya, nggak ada salahnya dia maju duluan. Lagipula selama ini Rena selalu duduk di posisi nyaman. Dengan begini, dia bisa dapat pengalaman baru di hidupnya. Sayang aja kalau anak remaja hidupnya nggak ada asam manis cinta.


"Gimana caranya memulai?"


"Lo ikuti aja cara cowok-cowok yang kemarin naksir lo."


"Ih, jijik! Nggak mungkin gue langsung ngajak dia jalan atau makan malam, kan?"


Gue angkat tangan. Gue mau lihat gimana caranya Rena mengatasi masalahnya kali ini. Ini bukan masalah besar yang bisa menghancurkan hidup Rena. Jadi, nggak masalah mengawasi dari sebelahnya saja. "Gue balik sekarang, ya? Udah jam lima."


"Biar Pak Anton yang nganterin lo!"


"Gue bukan bocah!" gue menepuk bahu Rena. "Cuciin piring gue, ya!" pesan gue sebelum berjalan keluar dari dapur rumahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2