
Satya muncul dari ambang pintu kamar ruang rawat inap gue. Seperti hari sebelumnya, dia juga bawa sesuatu untuk gue makan. Bagi mereka yang pernah rawat inap, pasti tahu kalau diet pasien di rumah sakit itu agak hambar. Kecuali lo minta tambahan kecap sama sambal, kayak di warteg.
"Bawa apa hari ini?" tanya gue penuh semangat.
"Deb, lo lebih senang lihat makanan ketimbang gue?" tanya Satya dengan raut wajah yang dibuat sedih. "Gue merasa dikhianati."
"Jijik lo, Kak!" gue lempar dia pakai pulpen. Kebetulan, waktu dia datang, gue lagi ngajarin Rena materi kimia yang dia belum paham, sebagai ganti gue dikasih salinan catatan pelajaran hari ini. "Mana, sini!"
Satya, lagi, merapikan buku-buku di atas meja. "Maaf, Ren. Si Rakus satu ini mau makan dulu," ujar Satya sambil pamer giginya yang kinclong.
"Iya, Kak. Kalau urusan makan, Debi memang nggak pernah pakai rem," jawab Rena kalem.
Gue sempat melirik ke arah Rena yang senyam-senyum sok manis. Merinding gue!
Satya membuka bungkusannya. Gue teralihkan pada terang bulan cokelat yang mengepulkan asap tipis dan mengumbar bau harum nan manis. Astaga.. Air liurku sampai netes!
"Jam segini ada yang jual terang bulan, Kak?" tanya Rena. Gue, sih, nggak peduli mau beli di mana.
"Nyokap gue yang buat."
"Uhuk! Uhuk!" gue tersedak. Rena buru-buru menyodorkan air putih untuk gue. Gue meneguknya banyak-banyak. "Nyokap lo, Kak?" gue memastikan.
"Iya," Satya menjawab enteng. "Nyokap gue sengaja buatin lo. Katanya supaya cepat sembuh."
Gue garuk-garuk kepala. Sumpah, nggak enak rasanya sampai buat orang lain ribet. "Makasi, Kak. Enak banget!"
"Tapi jangan dimakan sekaligus, ya! Nanti perut lo nggak enak lagi. Makin lama, deh, dirawatnya."
"Perut?" kabel Rena connect setelah AFK daritadi.
"Debi bilang, dia masuk HCU karena sakit perut. Nggak bisa pup."
Rena terkikik. "Jorok lo, Deb!" Rena menepuk lengan gue. Gatel gue pengen nabok dia. Dia sampai sebegininya jaga image di depan Satya.
"Gue mau makan ini dengan tenang. Mending kalian berdua ngobrol di luar," usul gue. Gue harus memberi mereka waktu untuk bersama lebih banyak.
"Bilang aja lo mau makan itu sendirian," sindir Satya.
"Gue nggak bakal minta, kok, Deb! Lo makan aja sendiri supaya gendut," jawab Rena.
Gue memeluk terang bulan buatan nyokapnya Satya dan duduk menjauh dari mereka. "Kalian ngobrol aja kalau gitu di sini. Gue makan."
Hening menghampiri kami untuk beberapa saat. Satya bukannya membuka pembicaraan dengan Rena, dia malah cengar-cengir lihat gue makan. Anak ini segitu nggak PD-nya bicara sama Rena?
"Kak Satya katanya jago main basket, ya?" Rena akhirnya bersuara.
Perhatian Satya teralihkan. "Nggak juga. Gue ikutan karena tinggi doang. Anak basket kesulitan nemu orang tinggi buat dijadikan tim."
__ADS_1
Rena manggut-manggut. Anak ini juga, segitu canggungnya ngomong sama Satya. Hhh.. Memang yang pertama kali itu susah, ya!
"Deb, cokelatnya!" Satya menunjuk ujung bibirnya. Gue ngerti maksudnya kalau cara makan gue berantakan dan cokelatnya jadi belepotan.
Gue segera meraih tissue di atas meja, sebelum ada gerakan dari Satya yang menimbulkan salah paham di depan Rena.
"Permisi," Pak Anton masuk ke kamar rawat inap gue. Gue bisa bernafas lega, Pak Anton datang di saat yang tepat sebagai pemecah kecanggungan. "Non Rena, waktunya les balet."
Gue dan Rena reflek melihat jam dinding. "Lo les aja," sahut gue. "Urusan pelajaran, gue bakal ajarin lewat vidcall nanti malam."
"Tapi jangan lupa, ya! Soalnya minggu depan gue ada ulangan."
"Janji!"
Rena meluk gue sebelum pergi, lalu pamit pada Satya. Satya mengantarnya sampai depan pintu, kemudian kembali lagi duduk di dekat ranjang gue. Gue lanjut makan. Perhatian Satya tertuju pada tumpukan buku di ujung ranjang gue. Dia mengambil beberapa dan membaca judulnya.
"Deb, ini pelajaran kelas sebelas, kan?" Satya mengacungkan sebuah buku paket matematika. "Jangan bilang lo pelajari ini?"
"Ya iyalah! Masa cuma dipakai pajangan?"
"Siapa yang ngasih buku ini buat bocah sekecil lo?"
Gue memberenggut. "Kak, kita cuma beda setahun. Bocah atau dewasa itu, tergantung sikap."
"Wow! Bahasa lo berat banget!" Satya merapikan buku-buku di kakiku dan menatanya di atas meja. "Waktu lo balik nanti, yang ada di tas lo bukan pakaian kotor. Tapi semua buku ini."
"Gue juga bakal datang buat bantu."
Gue menelan potongan terang bulan terakhir. "Kalau gitu, datang bareng Rena, ya!" Asyik, Rena dapat kesempatan lagi, nih!
"Dia bukannya biasa pakai mobil pribadi?"
"Kak Satya bisa nebeng sama dia," usul gue.
"Nggak mau."
Alis gue terangkat. Dia jawabnya cepet banget. "Kalau Kak Satya merasa nggak enak, gue bisa usul ini ke Rena langsung. Dia pasti nggak keberatan."
"Gue lebih baik naik angkot."
"Tapi jadi buang-buang duit, Kak! Kalian searah, kan?" gue masih maksa.
Satya tiba-tiba diam. Raut wajahnya berubah tegang. Apa gue terlalu maksa dia, ya?
"Kak? Marah, ya?"
Satya membalas tatapan gue. Matanya berkilat seperti elang. "Gue nggak ngerti aja. Kenapa lo selalu maksa gue buat dekat sama Rena?"
__ADS_1
Gue cengak mendengar pertanyaan Satya. Apa? Apa yang gue lakukan katanya?
"Gue nggak ada maksud apapun ke Rena."
Hah? Apa? Nggak ada? Tapi semua laki-laki bakalan luluh begitu melihat Rena. Belum lagi kekayaan yang akan jatuh ke tangan Rena. Nggak mungkin ada yang nolak Rena.
"Gue ke sini tulus buat nengokin lo. Tapi, kalau lo merasa terganggu, gue minta maaf." Satya meraih ransel yang tadi dia letakkan di kursi waktu dia tiba. "Gue pulang," pamitnya dengan nada datar. Dia tidak menunggu jawaban gue.
Gue bengong. Nggak begitu ngerti kenapa Satya sampai marah. Padahal niat gue, kan, baik.
"Debi, itu teman kamu kenapa?" Ibu muncul dari balik pintu. "Tadi papasan tumben senyumnya sedih begitu. Biasanya cengengesan."
"Nggak tahu, Bu. Dia tiba-tiba marah."
Ibu duduk di sebelah gue. "Biasanya kamu peka sama perasaan orang."
"Debi nggak ngerti sama Kak Satya. Dia agak berbeda."
Ibu mengusap sisa cokelat di ujung bibir gue dengan tissue. "Satya itu teman yang baik."
Gue angkat bahu. Semua orang tampak baik pada awalnya. Kita akan tahu seiring berjalannya waktu. Gue nggak mau ambil kesimpulan terlalu cepat. Sebagian besar memilih pergi dari hidup gue yang nggak lama lagi.
"Kamu makan apa?"
"Terang bulan. Ini buatan ibunya Kak Satya."
"Lho? Sudah habis?"
Aku tertawa kecil. Lupa sama pesan Satya untuk tidak menghabiskannya dalam satu waktu. "Enak banget, lho, Bu! Lumer di mulut!"
Ibu membelai kepala gue penuh sayang. "Kata dokter, besok kamu sudah boleh pulang."
"Besok? Serius, Bu?"
Ibu mengangguk yakin. "Tapi masih harus istirahat di rumah selama lima hari. Dalam rentang waktu itu, kalau kamu merasa keluhan memburuk lagi, harus rawat inap lagi. Jadi Ibu mohon, jaga kondisi kamu. Kontrol emosi dan jangan lupa minum obat."
"Iya, Bu. Debi janji!" Gue menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Terus gue ulangi sampai detak jantung gue kembali normal. Gue nggak boleh terlalu senang. Jaga emosi.. "Bu, jangan kasih tahu Rena atau Kak Satya kalau Debi pulang besok, ya?"
"Kenapa?"
Gue senyum, mencoba menyembunyikan rasa bingung di kepala gue. "Biar jadi kejutan!"
"Ya sudah, kalau nggak ada halangan, kita pulangnya pagi."
"Makasi, Bu!" gue meluk Ibu dengan erat.
***
__ADS_1