Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 10


__ADS_3

Jika bertemu Dilla, ada rasa syukur dalam diriku. Setidaknya masa laluku tak seburuk masa lalunya.


Dia wanita yang ceria, orang pasti tak akan mengira jika senyuman wanita itu adalah cara dia menutupi segala kepedihan batinnya.


Aku sangat menyayanginya, andai saja dia adikku, benar-benar adik yang sedarah denganku. Meski aku menganggap dia lebih dari sahabat.


Sigaret sudah terselip indah di kedua jarinya. Dilla memang perokok aktif, berbeda denganku yang pasif.


Dilla menggeser bungkus rokoknya ke arahku, menawariku. Tak ayal aku juga ikut menghisap benda nikotin itu untuk sekedar menenangkan hati.


"Laki lu kagak ada Dil?" tanyaku membuka pembicaraan.


"Lagi plesir ke luar negri ma keluarganya," ucapnya dengan senyum miring.


Beginilah nasib kami sebagai simpanan, hanya di jadikan sebuah pelampiasan semata.


"Dia ngga kaya mantan laki lu yang kemaren kan?"


Harusnya aku bercerita tentang masalahku padanya. Nyatanya kehidupan baru Dilla sedikit membuatku penasaran, sebab sudah hampir dua minggu ini dia memiliki sugar Dady baru.


Aku hanya melihat kekasihnya itu dari foto yang tersimpan di ponselnya.


Lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya dari pada kekasihnya.


Seperti yang kalian tahu, dia tua, berbadan gempal, di tambah pendek dan hitam, sangat tidak seimbang dengan Dilla yang cantik, seksi dan tinggi.


Begitulah lelaki, meski sudah memiliki istri yang sempurna di rumah, wanita yang telah menemani mereka dari nol, hanya karena di beri kelebihan materi membuat mereka gelap mata dengan mencari kepuasan pada wanita di luaran sana.


Biasanya, mereka berdalih jika istri mereka sudah tidak menarik lagi atau yang lebih menyebalkan, mereka akan berkata jika para istrinya sudah tak bisa memuaskan mereka di ranjang.


"Kagak sih, cuma yang sekarang rada ati-ati aja, soalnya bininya over protektif," jawabnya sambil membuang asap rokok.


"Berarti lu sering di tinggal dong," ejekku " Ati-ati kesepian ntar sawah Lu kering kagak kejamah," begitulah obrolan vulgar kami.


"Vangke! Ada juga percuma, kecil, cepet letoy lagi," keluhnya.


Seketika aku tertawa terbahak-bahak, membuat para pengunjung lain menatap ke arah kami.


"Syalun!" geram Dilla sambil mematikan batang rokoknya dengan sadis.


"Lu kenapa?" Dilla memilih mengalihkan pembicaraan kami.


"Biasalah keluarga Gue, udah Gue turutin nasehat lu buat serang balik mereka dan ngebalik keadaan, tapi mereka ada aja cara buat ngancem gue," keluhku.

__ADS_1


Dilla menaikkan sebelah alisnya, tanda wanita seksi itu bingung. Hampir semua mata lelaki yang berada di sini tak lepas memandang ke arah kami, mungkin lebih tepatnya ke arah Dilla.


Sahabatku itu memang mengenakan pakaian yang cukup terbuka kaus dengan model U Can See hitam ketat yang membuat dadanya terlihat sangat besar di padu padankan dengan Jeans hitam ketatnya.


Sebagai wanita aku pun mengagumi body goals miliknya. Pantas saja lepas dari satu sugar Dady, dia akan dengan cepat mendapatkan sugar Dady lainnya.


Hidupnya pun sangat bergelimang harta, tapi aku tau dia kesepian. Terkadang aku tau dia merindukan ibunya di kampung, ingin tahu bagaimana kehidupannya, tapi rasa sakit hati yang teramat dalam membuatnya kembali enggan peduli.


"Bokap lu?"


"Hemmm ... Ngga mempan anceman gue, mak tiri gue bakal maksa tetep rebut ayah," jelasku.


"Emang benalu tuh nenek sihir," jawab Dilla sambil terkekeh.


"Terus mereka emang bisa bayar tuh sewa rumah?"


"Nah itu, si Nayla malah ngancem mau minta tolong ma Adam coba."


Jika ingat mimik wajah menyebalkan Nayla membuatku ingin sekali menenggelamkannya di laut.


"Biarin aja, bisa ngga tuh si Adam bantu."


"Kalo engga, tau-tau mak tiri gue dah minggat bawa ayah gimana Dil?" tanyaku sedikit panik.


"Udah tenang aja, emang mereka mau pergi kemana? Pasti nyari elu."


Selain tinggal di apartemen milik Joan, aku sebenarnya memiliki hunian lain sebuah kos-kosan sederhana yang lumayan nyaman dan dekat juga dengan kantor.


Di dalam mobil aku tengah menimbang apa harus ke apartemen atau pulang ke kos-kosan.


Tadi Dilla sempat mengajak ke klub malam, katanya hari ini ada Dj Marcel favoritnya. Aku menolaknya karena sudah berjanji pada Joan bahwa aku tak akan ke tempat seperti itu.


Apa aku takut? Tentu saja, lelaki itu selalu mengawasi gerak-gerikku, bahkan mungkin menyadap nomor ponselku. Jadi lebih baik tak mencari masalah dengannya, dari pada perjanjian ini tak pernah berakhir.


Kulajukan kemudi mobilku menuju apartemen milik Joan, setelah kutimang-timang bahwa lelaki itu mungkin tak akan mendatangiku.


Memikirkan ke mana perginya Joan membuatku mendesah, sepertinya lelakiku sedang menghabiskan waktu bersama tunangannya.


Sedari pagi berita kedatangan model top negara ini berseliweran baik di televisi maupun media Online.


Kedatangannya seakan membawa kebanggaan negara karena telah mengharumkan nama bangsa. Benar-benar warga negara yang membanggakan, tentu saja aku sedikit iri.


Negara saja bangga, apa lagi Joan dan keluarga besar mereka.

__ADS_1


Setelah menekan kode masuk ke apartemen, kunyalakan semua lampu sambil berjalan menuju kamar.


Aku ingin merelakskan diri dengan berendam di bak mandinya.


Saat tengah menikmati lilin aroma terapi yang sengaja kususun di sepanjang bak mandi, ponselku kembali berdering, menghentikan lagu yang sejak tadi kuputar lewat playlist di ponselku.


Dengan sebal mau tak mau aku melihatnya. Pesan dari Nayla dan Adam yang mendominasi.


Kubaca terlebih dahulu pesan milik Adam. Di sana kekasihku itu tengah memberitahu kabar jika Nayla meminta bantuannya tentang uang sewa.


Benarkan, gadis itu memang tak tahu malu. Yang bikin aku tambah geram, Adam menyayangkan sikapku yang tak peduli menurutnya. Seketika darahku mendidih, baru juga akan membalas pesannya, terlihat di layar jika ia sedang mengetik.


Dia menambahkan, seharusnya aku membicarakan masalah keluargaku dengannya, dia berjanji akan membantuku mencari jalan keluar jika memang aku tengah kesulitan masalah keuangan.


Aku yakin Adam ingin sekali membantu keluargaku, pria yang memiliki sikap tak tegaan seperti dirinya pasti selalu bertemu dengan orang tak tau diri seperti keluargaku contohnya.


Kubalas pesannya agar tak perlu ikut campur dalam permasalahanku kali ini.


Dia segera melakukan panggilan video padaku. Namun segera kutolak, aku mengatakan padanya jika saat ini aku akan berpakaian karena sehabis mandi. Dustaku. Tak mungkin juga berkata jika saat ini aku tengah berendam, bisa-bisa dia curiga.


Emotikon berbentuk kuning dengan pipi merona dia kirim sebagai balasan pesanku.


Kenikmatan yang tadi kurasakan saat merendam diri, berubah jadi tak menyenangkan lagi setelah pesan dari Adam dan Nayla, meski aku sama sekali tak membaca pesan adikku, dan mengabaikan panggilannya.


Lelah ...


Aku ingin istirahat, hari ini kegiatanku banyak sekali menguras energi dan juga otakku. Tak kupedulikan lagi ponselku. Kusenyapkan deringnya, dan memilih merebahkan diri.


Kusambut pagi dengan energi yang seakan cukup untuk memulai bertarung dengan kerasnya dunia. Sedikit terkejut saat sebuah tangan kekar melingkar di perutku, menarik kesadaranku secepat kilat.


Aku tak terkejut siapa lelaki yang tidur di sampingku, aku sangat tau hanya dari wangi tubuhnya.


Kenapa dia ada di sini? Pertanyaan pertama yang muncul di otakku, meski ini apartemen miliknya, hanya saja lelaki itu berkata tidak akan kembali dalam waktu tiga hari ke depan.


Seharusnya aku bersyukur menjadi simpanan lelaki seperti Joan, nasibku tak seburuk teman-temanku, terlebih lagi nasibku lebih baik dari pada Dilla yang menjadi simpanan laki-laki tua.


Lelaki dengan cetakan sempurna idaman kaum hawa ini malah memilihku, mungkin aku punya kebaikan di kehidupan yang lalu hingga Tuhan mempertemukanku dengannya.


Hanya satu yang tak suka darinya, sifat dominan dan otoriternya membuat kebebasanku terasa tercekik.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2