
Bukan aku ingin merebut Joan dari Esterlita dengan berkata seperti itu pada lelaki misterius tadi yang aku bahkan tak tau namanya.
Aku hanya kasihan pada lelaki itu yang mungkin sangat mencintai Esterlita. Lebih baik Esterlita bersama lelaki itu dari pada dengan Joan yang sudah jelas adalah lelaki hidung belang.
Joan memang sangat memukau, belum ada yang bisa menandingi ketampanannya. Meski lelaki tadi juga hampir mendekati, aku tak tau hubungan rumit seperti apa yang mereka jalani.
Di sepanjang jalan ini sengaja aku berjalan kaki. Banyak orang yang berseliweran, aku sedikit merasa bebas di sini.
Sampai tiba-tiba, mobil mewah tadi berhenti di sampingku. Kali ini aku tidak terlalu takut padanya. Aku yakin dia memiliki alasan saat ingin bertemu denganku, dan itu menyangkut pujaan hatinya.
Kasihan sekali lelaki ini, cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku penasaran apa Esterlita tidak tau tentang perasaan lelaki ini.
Lelaki itu menurunkan kaca mobilnya, tatapannya masih ke depan meski aku menghadap ke mobilnya.
"Masuklah, aku sudah berjanji akan mengantarmu pulang tadi. Aku bukanlah orang yang ingkar janji, lagi pula ..." ucapannya menggantung.
"Tak baik ibu hamil berjalan dengan sepatu hak yang lumayan tinggi," cibirnya sambil menatapku.
Tentu saja aku terkejut, dia tau jika aku sedang mengandung? Kutelan salivaku kasar, apa banyak orang yang memata-mataiku? Batinku sambil celingukan.
Jika lelaki ini saja tau bagaimana dengan Joan? Bisa jadi lelaki itu juga sudah tau dan mungkin sedang menunggu kejujuranku saja?
"Masuklah Nona, aku tak punya banyak waktu untuk melihatmu melamun," sarkasmenya.
Karena kesal aku menurutinya masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras. Dia terkekeh, ternyata dia tak semengerikan seperti awal kami bertemu.
"Kamu penasaran bagaimana aku tau?"
Aku tak menjawab, hatiku tengah di landa kegusaran, yang membuatku otakku tengah berpikir keras.
Kudengar dia menghela napas karena kuacuhkan. "Joan belum tau?"
Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaannya, enggan menjelaskan terperinci bagaimana hubunganku dengan Joan.
"Dia tidak akan menginginkan bayi itu," ujarnya membuatku terkesiap menoleh padanya.
Apa yang aku takutkan ternyata benar, aku yakin Joan tidak akan menginginkan bayi ini.
"Aku ... Aku ngga sanggup kalo harus membuangnya," lirihku.
Dia menghela napas, "kamu ngga berniat menjadikan anak itu sebagai salah satu keturunan Alexander?"
__ADS_1
Alexander? Apa itu bukan hanya sekedar nama belakang Joan? Orang besarkah Alexander itu?
"Hubunganku tidak seperti yang kalian bayangkan, kalau kamu sudah tau jika Joan tidak akan menginginkan bayi ini, kamu pasti bisa menebak siapa aku di kehidupan Joan," jelasku.
"Pergilah menjauh," kuanggap itu sebagai saran, sebab nadanya sama sekali tidak terdengar seperti mengancam.
Bukan seperti pembicaraan kami di awal yang mana dia juga memintaku pergi. Kali ini seperti dia ingin menyelamatkanku.
"Aku ngga bisa pergi gitu aja. Kalau Joan ngga menginginkan bayi ini, aku yakin bukan membiarkanku pergi solusinya, dia pasti ingin agar aku tetap melenyapkannya," napasku tercekat.
Di mana aku bisa bersembunyi? Aku yakin di mana pun tempat Joan pasti akan bisa menemukanku.
Kami sudah sampai di depan apartemen Joan, lelaki yang sampai saat ini tidak kukenal ini benar-benar mengantarku sampai ke apartemen.
Kulangkahkan kaki dengan berat menuju lantai apartemen Joan. Aku harus pergi, sepertinya saran Dinda akan aku lakukan.
Kukirim pesan pada tetanggaku itu agar mengirimkan alamatnya padaku. Besok setelah mengantarkan surat pengunduran diri, aku akan ke vilanya.
Semuanya sudah kususun secara cermat. Besok aku akan ke Bank untuk mengambil semua tabunganku dan sudah kukonfirmasi hari ini.
Tabungan yang cukup besar, aku menguras semuanya, karena aku sudah tidak akan menggunakan bank lagi untuk segala transaksi nanti.
Aku pun sudah membeli ponsel baru yang akan kugunakan di tempat baru. Aku benar-benar akan menghilang, sudah tidak ada lagi yang bisa kuperbuat, hidupku sudah di ujung jalan.
Aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru apartemen Joan, banyak kenangan di sini, meski Joan adalah lelaki tirani menurutku, tapi banyak hal manis yang dia lakukan padaku.
Salah satunya saat aku menatap dapur minimalisnya, aku teringat jika dia selalu bergelayut manja padaku saat aku tengah menyiapkan makanan atau minuman untuk kami.
Kenangan yang tak mudah aku hempaskan begitu saja. Entah kenapa ada rasa nyeri di dada mengingat perlakuan manisnya. Apa aku sudah jatuh cinta dengannya? Kuenyahkan pikiran itu, tidak mungkin aku jatuh cinta padanya.
Meski baru satu tahun bersama banyak kenangan yang aku lalui bersama Joan dan lebih intim di banding dengan Adam.
Kuhela napas mengingat kembali lelaki itu. Entah kenapa rasa kehilangan antara Adam dan Joan terasa berbeda, dan aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Mungkin karena Joan adalah ayah dari bayi yang kukandung, jadi ada rasa ingin memiliki?
Niat hati ingin mengambil pakaian, jadi kuurungkan. Akhirnya aku hanya mengambil sebuah koper untuk mengemas pakaian milikku sendiri di kosan, karena di sini koper besar milikku tersimpan.
"Maafkan aku Jo, maaf sudah melanggar kontrak kita, aku pasrah akan apa yang akan terjadi nanti. Jika anak ini sudah lahir aku akan menemui kamu kembali."
Aku pasti akan bertanggung jawab akan menemui lelaki ini kembali setelah kupastikan anak ini tak akan terlibat dalam kekacauan hidupku ke depannya.
Dia tidak bersalah, kupastikan Dinda akan aman bersamanya sebelum aku meninggalkan dunia ini.
__ADS_1
Ah, Dinda, kuharap Joan atau siapa pun tidak akan melibatkan wanita baik itu. Sepertinya aku harus menjaga jarak dengannya.
Aku berpikir meski Joan dan keluarganya mungkin sangat mengerikan, tidak mungkin dia akan melenyapkan orang semudah itu, terkecuali keluargaku.
Kutinggalkan apartemen Joan dengan perasaan gamang, kuhirup dengan rakus aroma apartemen yang sangat kusukai ini. Joan tidak pernah keberatan tentang apa pun pewangi yang kugunakan, bahkan isi apartemen ini juga sebagian adalah pilihanku.
Semua sudah kutinggalkan hanya dua koper yang akan aku bawa, satu koper untuk menampung uangku esok.
Aku juga sudah berbicara dengan pemilik kos, jika aku tidak melanjutkan sewanya. Pemilik kos bertanya apa aku tak nyaman tinggal di kosanya? Aku menggeleng, tentu bukan itu penyebab aku pergi dan dia tidak perlu tau.
"Ayo kita ke rumah sakit," ajak Dinda setelah dia tau aku menunggunya di kosan.
"Din, ada banyak hal yang ngga kamu ketahui tentang aku." sengaja kujeda kalimatku untuk melihat ekspresinya.
"Lalu?"
"Hidup aku ngga semudah yang ada di pikiranmu. Aku belum bisa cerita banyak. Mungkin aja itu juga akan mencelakaimu suatu saat nanti, aku ngga tau," kuhela napas.
Kulihat Dinda terkesiap. Dia mungkin terkejut mendengar pernyataanku.
"Mencelakaiku? Bisa kamu perjelas Ras?" tanyanya yang membuatku khawatir dia membantalkan janjinya untuk bisa membantuku.
"Anak ini ... Ayah anak ini bukan orang sembarangan Din. Aku emang memutuskan untuk pergi, tapi ngga semudah seperti apa yang kamu rencana in. Jadi—" aku tercekat.
Alis Dinda mengkeret bingung, bukan khawatir tapi kurasa dia benar-benar penasaran.
"Kita ngga bisa saling komunikasi kalo emang kamu mau nolong aku. Mulai detik ini jangan terlihat bersama denganku. Aku sendiri yang akan ke rumah sakit."
"Tapi Ras—"
"Kamu mau aku tetep pertahanin anak ini kan? Tolong ikuti saranku. Jangan telepon aku, kamu kasih alamat vila kamu aja, sama telepon kantor kamu bisa?"
Meski bingung Dinda tetap mengangguk, dia berusaha untuk menerima apa pun mauku saat ini.
"Ok, bisa aku minta penjelasan nanti? Aku akan ke sana kalau kamu minta aku datang, betul?" tebaknya.
Aku mengangguk, Dinda dan aku bernapas lega. Sepertinya Dinda sedikit memahami situasiku, jadi sementara waktu dia akan membiarkanku seorang diri.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.