Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 33


__ADS_3

Pagi hari suasana ruang divisi kami tampak tegang, Mas Adam yang biasanya selalu sabar dan murah senyum mendadak jadi garang.


Semua rekan kerjanya di marahi karena melakukan kesalahan. Padahal biasanya Mas Adam akan menjelaskan dengan sabar apa saja kesalahan yang kami lakukan.


"Mas ini laporanku," ucapku sambil menyerahkan laporan yang harus dia teliti.


"Kamu gimana sih Nay! Masa buat begini aja salah melulu!" bentaknya.


Aku terkejut karena aku juga terkena imbas amukannya, dia yang tidak pernah berkata kasar padaku membuatku terkejut. Air mataku seketika luruh.


"Ma ... Maaf Mas, bakal aku perbaiki" lirihku sembari mengambil kembali berkas itu.


"Lu kenapa Bro?" tanya Mas Lucky dari bilik kubikelnya.


Aku yang berada di depan bilik mereka berusaha mendengarkan. Penasaran mengapa Mas Adam tampak berubah.


"Ngga papa," jawab mas Adam Acuh.


"Raras?" Mas Lucky masih memancing mas Adam agar mau bercerita.


Apa Mas Adam dan kak Raras bertengkar? jangan-jangan benar jika kak Raras itu selingkuh.


Dasar perempuan ngga bersyukur, bisa mendapatkan lelaki seperti Mas Adam adalah impian semua orang dia malah ngga tau diri.


Perbincangan mereka terhenti kala sekretaris atasan kami meminta mas Adam dan Mas Lucky untuk ke ruangan atasan kami.


Selang beberapa waktu Mas Adam dan Mas Lucky kembali. Raut wajah Mas Adam bertambah kusut. Mungkin ada masalah di divisi kami.


"Nay, kamu bisa ikut kami?" tanya Mas Lucky. Mas Adam menoleh saat mendengarnya.


"Lu gila? Ayahnya lagi sakit!" sela Mas Adam murka.


"Ikut ke mana Mas?" tak kupedulikan tatapan garang Mas Adam.


Aku tentu tak akan menyia-nyiakan pergi dengan dua orang ini. Terutama aku penasaran mengapa Mas Adam tampak berbeda hari ini.


Hari ini juga Mas Adam bahkan tidak menyapaku. Tidak menanyakan keadaan ayah juga.


"Ayah kamu lagi sakit Nay! Lagi pula kita ngga tau berapa lama di sana," ujar Mas Adam memberi tahu.


"Memangnya kita mau ke mana Mas?" tanyaku sambil menatap bergantian Mas Adam dan Mas Lucky.


"Ninjau lahan proyek kerja sama ASF Group," masih mas Lucky yang menjawab.


Proyek itu memang berada di luar kota yang tidak jauh dari kota kami, pemandangan di sana juga lumayan sejuk.


Aku bisa sambil refreshing melepas penat, dari pada harus berkutat dengan berkas-berkas di kantor.


"Bisa Mas, kapan?" tanyaku antusias.


"Kamu serius Nay, ayah kamu?" Mas Adam masih memikirkan keadaan Ayah.


"Mas Adam tenang aja, ayah udah di pindahin di ruangan VVIP," uppss, sory Ka Raras aku sengaja kelepasan.

__ADS_1


Aku berkata sambil menutup mulutku, berpura-pura jika aku tak sengaja mengatakan sesuatu yang seharusnya tak aku katakan.


"VVIP?" kulihat Mas Adam mengepalkan tangannya.


Meskipun kak Raras sudah menjelaskan siapa Billy, aku tetap bisa menghasut mas Adam agar mereka bertengkar.


Mas Adam menutup matanya, Mas Lucky sepertinya tengah berusaha menenangkannya.


"Slow Bro, tarik napas, kita masih kerja. Jadi gimana? Lu mau ikut apa gue aja sendiri ma Raras?" tawar mas Lucky.


Aku tau mas Lucky tidak mencari kesempatan untuk berdua denganku. Dia sangat profesional dalam bekerja, tapi tetap saja aku kesal mendengar idenya itu.


"Ngga perlu, ayo kita berangkat siang ini," ajak Mas Adam.


.


.


Mas Lucky memberi kabar jika kemungkinan kami akan menginap di kota itu.


Aku pulang setelah jam makan siang untuk mempersiapkan bawaanku. Tak lupa aku datang ke rumah sakit untuk meminta izin pada orang tuaku.


Ayah sedang berbaring menghadap mamah yang tengah sibuk menatap ponselnya di sofa.


Kuhela napas, mamah terlihat sekali acuh pada ayah. Mereka berdua menoleh ke arahku saat aku menutup pintu.


Tetesan bening mengalir dari sudut mata tuanya. Mungkin dia sedih.


"Mah, hari ini aku keluar kota ya, besok udah pulang kok," ucapku setelah mendudukkan diri di samping ranjang ayah.


"Kantor mau meninjau lokasi proyek, Mas Adam ngajak aku," jelasku.


"Kalian cuma berdua?" tanya mamah sambil memicingkan mata.


"Engga, kami bertiga. Udah ya Mah, aku di tunggu mereka ini. Cuma mau pamit aja ke sininya."


Setelah mengatakan itu aku bergegas pamit pada mereka. Tak ingin mamah menghentikan niatku karena tak ingin aku meninggalkannya mengurus ayah.


Aku yakin mamah akan menahanku, memohon padaku agar aku tidak pergi.


'Maaf Mah, aku harus mengambil kesempatan ini, kesempatan untuk menyelinap di antara hubungan kak Raras'


Mereka berdua sudah menunggu di parkiran kantor. Aku terpaksa duduk di kursi penumpang karena mas Lucky duduk di sebelah mas Adam.


"Ayah kamu gimana Ras?" tanya mas Lucky memecahkan keheningan.


"Baik Mas," jawabku sembari melirik mas Adam yang tengah menyetir.


Aku sendiri belum mengatakan mengapa ayah bisa di rawat di ruang VVIP rumah sakit karena di bayar oleh Billy, tapi entah kenapa Mas Adam sudah terlihat kesal, apa dia sudah tau?


"Perawatan di kelas itu sangat bagus, jadi aku ngga perlu khawatir mas," sengaja kupancing mas Adam.


"Maaf Nay, siapa yang membayar biaya rumah sakit?"

__ADS_1


Yes, akhirnya mas Adam terpancing juga.


"Emmm ... Aku ngga tau Mas, di billnya tertera nama Billy. Kata Ka Raras itu salah satu atasannya," jelasku.


Mobil berhenti secara mendadak, aku yang tidak mengenakan sabuk pengaman sampai menabrak kursi mas Adam.


"Aduh!" sial sekali, kepalaku benar-benar sakit.


"Tenang Bro, lu kenapa sih?"


Tak banyak bicara Mas Adam kembali melanjutkan perjalanan kami dan meminta maaf padaku.


Kami tak langsung istirahat, Mas Adam memaksa kami segera meninjau proyek tersebut.


Di sana aku bertemu dengan Joan Alexander, salah satu pemimpin ASF Group. Tampan sekali, tatapan lelaki itu sangat dingin dan tajam.


Aku membayangkan jika bisa bersanding dengannya pasti sangat membahagiakan, tapi sayang dia sudah memiliki tunangan.


Seperti tau aku tengah menatapnya dia melirikku, membuat bulu kudukku meremang. Kualihkan pandangan untuk memutus tatapan tajamnya padaku.


Kukipasi wajahku menggunakan tangan, mengapa aku segrogi ini?


Apa dia menyukaiku? Ah tentu saja, bukannya aku sangat memesona? Banyak lelaki mengincarku.


"Kau adik Nona Saras bukan?" ucapan yang pertama keluar dari mulut lelaki tampan ini seketika membuatku kesal.


Orang sekelas pak Joan juga mengenal kak Raras? Apa hebatnya wanita itu sih! Mengapa dia banyak sekali kenal dengan orang-orang besar dan tampan pula.


"I-iya pak," jawabku gugup.


Dia tersenyum miring seperti mencelaku, menatap dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Entah apa maksudnya.


"Bil, tolong kamu jelaskan masalah proyek ini pada mereka, aku haru pergi," ucap Pak Joan pada seseorang di sampingnya.


Saat nama Bil terdengar aku langsung menatap seseorang yang di sebut pak Joan tadi. Lelaki yang sama tampannya dengan Pak Joan, tapi auranya lebih gelap.


Dia juga menatapku dingin saat aku tersentak menatapnya tadi.


Tidak mungkin Bil yang di maksud pegawai rumah sakit adalah pak Billy orang kepercayaan pak Joan bukan?


Tidak-tidak, memangnya nama Billy hanya atasan Kak Raras saja.


"Kamu kenapa Nona? Sakit?" tanya pak Joan saat melihatku tengah memukul kepalaku, padahal niatku hanya membuyarkan pikiranku saja.


"Engga Pak, cuma kaget saja sama nama Bil, apa ini dengan Pak Billy?"


Keempat lelaki itu menatapku penasaran, pak Joan dengan alis terangkat sebelah, sedangkan Mas Adam dahinya mengerut. Hanya Mas Lucky yang tampak biasa saja dan Pak Billy, wajahnya datar.


"Kamu kenal saya?"


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2