
Menunggu di rumah sakit sungguh sangat membosankan, bukan aku tak mau menunggui ayahku, tapi di sana benar-benar menguras energiku meski aku tak melakukan apa-apa.
Setelah ayah siuman dan kondisinya mulai stabil, Dokter berkata jika besok ayah sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat umum.
Aku pun tak banyak berbincang dengannya, karena memang dia sulit berkomunikasi. Hanya tatapan matanya yang memancarkan kesedihan.
Sebisa mungkin aku berusaha membuatnya tenang. Aku yakin saat ini dia memikirkan istri dan anak-anaknya yang lain.
Kukatakan jika ibu tiri dan adik tiriku sudah menemukan hunian baru yang sama nyamannya.
Dia mengucapkan terima kasih tanpa kata, hanya usapan di punggung tanganku sebagai isyarat darinya.
Kukirim pesan pada Joan di mana saat ini aku berada, entah berguna atau tidak, tapi yang pasti aku hanya melakukan kewajibanku.
Saat ini aku tetap harus berada di kos-kosan menghindari lebih banyak kecurigaan keluarga dan kekasihku.
Adam juga tak bisa menepati janjinya yang akan meluangkan waktu menemuiku usai urusan pekerjaannya, dia beralasan jika tiba-tiba perusahaan Joan memintanya untuk melihat tempat proyek mereka.
Tak masalah bagiku, toh itu bukan keinginannya, Adam melakukan tugasnya dengan profesional.
Kusapa penjaga kos-kosan yang jarang sekali aku kunjungi ini.
"Malem Mbak Raras. Oh iya kemarin ada yang nyariin Mbak Raras," ujar Mang Dayat saat melihatku.
"Iya mang, mereka keluargaku. Cuma mau ngasih tau kalo ayah di rawat," jelasku.
"Ya ampun, yang sabar ya Mbak, semoga ayahnya cepet sembuh," doa tulus yang tak lupa kuaminkan.
Tak lupa memberikan makanan untuk menemani tugas malam mereka.
Aku tak terlalu banyak mengenal para penghuni kos-an ini, hanya beberapa, itu pun tak terlalu akrab. Rata-rata penghuni di sini memang orang sibuk.
Jika ada waktu luang, kebanyakan dari mereka memilih beristirahat di dalam, atau pulang ke rumah utama mereka. Tak ada yang terlalu ikut campur dengan masalah orang lain, yang penting kami tidak membawa pasangan yang belum sah menjadi suami ke dalam sini saja.
Karena memang aturannya seperti itu di sini. Jadi kalau hanya sekedar penghuni sepertiku yang jarang pulang, mereka jarang peduli.
Saat akan membuka kamar kos, tetangga kosanku —Dinda kebetulan keluar dari kamarnya. Dia seorang pekerja kantoran yang aku sendiri lupa apa nama perusahaannya sesaat setelah kami berkenalan waktu itu.
Dinda cukup supel sebagai tetangga, aku tak begitu tau kehidupannya.
"Kamu baik-baik aja kan Ras?" Ah mungkin Dinda tau jika kemarin keluargaku ke sini.
__ADS_1
"Baik Din, cape aja," aku tak berbohong, jika bukan karena kesopanan, ingin sekali aku meninggalkan Dinda dan bergegas masuk ke kamar.
"Ayah kamu gimana?" aku tau itu bukan sekedar basa-basi, terlihat dari raut wajahnya yang terlihat cemas.
"Udah stabil Din. Maaf ya Din, aku masuk dulu kebelet nih," sergahku, berharap jika Dinda tidak tersinggung, bagaimana pun dia tetanggaku yang sering kumintai tolong menyimpan paket jika aku berbelanja online.
Dia terkekeh, "Ok ... Ok, semoga Ayah kamu cepet sehat ya Ras," ucapnya sebelum aku benar-benar menutup rapat pintu kamar.
"Makasih Din," balasku lewat balik pintu.
Meski membenci ibu tiriku, tak bisa kuabaikan bagaimana dia masih mau menjaga ayah. Aku tak mungkin kembali jika salah satu dari kami tak berada di sana.
Tak bisa kuungkiri juga memikirkan bagaimana dia mengistirahatkan tubuh tuanya di rumah sakit. Sebab ayah masih berada di ruang ICU dan penjaga pasien hanya bisa menunggu di luar.
Udara malam tentu sangat dingin, saat aku masih berada di sana pun aku kedinginan. Mendadak aku mencemaskannya, bagaimana kalau dia juga ikutan sakit, bisa-bisa kami sekeluarga ikutan repot.
Bukan aku tak mau menjaga ayah, tetapi ibu tiriku sendiri yang memintaku pulang, dia berkata aku harus tetap bekerja, sebab dia tak ingin aku kena masalah dan membuatku kehilangan pekerjaan.
Saat aku akan menghubungi suster Rini, dia mengatakan jika suster Rini dan asisten rumah tangganya sudah kelelahan karena sibuk membantu membereskan barang di rumah baru mereka.
Aku berpikir apa sebaiknya aku menuruti keinginan Adam dan ibu tiriku agar menyewa di rumah tetangga ibunya Adam saja.
Kasihan juga kalau mereka harus kembali pindahan, aku tau persis seberapa banyak barang-barang ibu tiriku itu.
Baru saja kurebahkan tubuh ini, sebuah notifikasi pesan langsung membuatku siaga. Aku tak bisa mengabaikan pesan dari siapa pun sebab aku takut kecolongan lagi karena kondisi ayah.
Dari nomor baru? Saat aku buka betapa terkejutnya aku saat seseorang mengirimkan sebuah foto diriku dan juga Joan yang sedang bergandengan tangan di sebuah pantai.
Aku ingat betul tempat ini, sebab baru bulan kemarin Joan mengajakku ke tempat ini.
Seseorang di seberang sana lantas melanjutkan kembali pesannya, yang mengatakan jika aku harus menemuinya di sebuah restoran bintang lima yang sangat mewah.
Aku mengernyit heran, siapa sebenarnya si pengirim pesan. Jika dia adalah seseorang yang sekedar ingin mengancam dan mendapatkan uang, aku yakin dia tak akan menemuiku di restoran mewah tersebut.
Namun siapa? Ingin sekali aku menghubungi Joan untuk memberitahukan masalah ini, tapi aku ragu.
Lelaki itu tengah sibuk dengan bisnisnya dan juga dengan tunangannya pastinya.
Apa aku harus mengganggunya? Kugigit bibir bawahku ragu.
Setelah puas menimang-nimang berbagai pilihan, aku memutuskan untuk tak melibatkan Joan terlebih dahulu.
__ADS_1
Sebab aku yakin jika aku akan aman, seseorang itu pasti bukan orang sembarangan yang hanya sekedar mencari uang. Entah apa motifnya sesungguhnya.
Aku tengah menebak-nebak siapa gerangan orang yang ingin menemuiku itu.
Ada satu nama yang mengganjal pikiranku, apa itu Esterlita? Tapi jika itu adalah dia, tidak mungkin wanita itu akan berbasa-basi ingin bertemu denganku bukan.
Ah, aku juga tak mengenalnya, bertemu saja tidak pernah, hanya melihat dirinya di layar televisi dan berbagai banner yang memajang wajahnya untuk berbagai iklan.
Itu hanya pikiranku yang menyamakannya dengan wanita pada umumnya, sebab biasanya, jika wanita yang tau pasangannya selingkuh kebanyakan akan langsung melabrak tanpa harus basa-basi.
Tapi tidak mungkin Esterlita bisa aku sama ‘kan dengan wanita biasa. Wanita itu adalah seorang publik figur yang tak mungkin akan merusak imagenya. Itu juga kalau memang itu dia.
Pusing kepalaku menebak siapa orang itu. Jika benar Esterlita apa yang harus aku katakan padanya.
Atau mungkin? Pikiranku berkelana menebak jika itu mungkin salah satu keluarga Joan. Mungkin saja keluarganya tak ingin anggota keluarga mereka berhubungan dengan wanita sepertiku.
Mereka mungkin akan menawariku sejumlah uang dan beberapa aset agar aku meninggalkan Joan.
Eh sadarlah Raras, kamu terlalu banyak nonton drama. Kalau benar seperti itu kejadiannya, aku bahkan rela bersujud kepada orang itu yang telah membuatku mudah melepaskan jerat perjanjian yang Joan buat.
Mengingat surat perjanjian itu membuatku mual, apa iya bisa semudah itu aku melepaskannya tanpa membahayakan keluargaku?
Dia mengancam akan menghabisi keluargaku jika aku berani coba-coba meninggalkannya.
Hidupku benar-benar berada di ujung tanduk. Belum bisa aku menebak siapa sebenarnya orang misterius di balik pesan ini, ditambah perjanjian Joan yang membuatku ketakutan.
Bagaimana jika mereka mengancam akan menghabisiku jika aku tak mau melepas Joan? Atau sama seperti Joan, mereka juga mengancam akan menghabisi keluargaku?
Sungguh keluarga mengerikan jika mereka memang seperti itu, menganggap nyawa manusia tak ada harganya.
Aku bergidik ngeri membayangkan nasibku dan juga keluargaku. Apa kami akan mati secara mengenaskan?
"Sadarlah Ras, kamu terlalu parno," gumamku.
Lebih baik aku bergegas membersihkan diri dan menemui orang itu. Aku harus berpakaian cukup mewah sebab restoran itu memang bukan untuk sembarang orang.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.