
Sesampainya di rumah, hal pertama yang aku lakukan adalah meminta asisten rumah tanggaku dan perawat ayah Mbak Rini untuk membereskan rumah.
Meskipun tadi aku pamit ke mamah untuk membereskan pakaianku, tapi karena suasana hati yang kacau aku enggan membantu pembantuku untuk membereskan rumah.
Biar saja, toh mereka masih di gaji. Rumah ini tak semewah rumahku dan rumah sewa kami terdahulu. Namun suasana di perumahan ini masih sangat asri.
Aku memutuskan untuk mendatangi kediaman orang tua Mas Adam, Bu Yulis menyambut hangat diriku, menawariku makan.
Dia berbeda sekali dengan mamah yang selalu tampak modis dengan make up yang tak pernah absen menghiasi wajahnya.
Bu Yulis lebih terlihat sederhana tapi memiliki aura wibawa yang sangat di segani.
"Ayah kamu gimana?" kami berbincang setelah beliau memaksaku untuk makan tadi.
"Maaf ya, tante belum bisa jenguk ayah kamu, tunggu papanya Mas Adam pulang dulu ya," jelasnya.
"Ngga papa tante, ayah udah di tangani kok," lirihku mencoba menarik simpati tante Yulis.
"Kamu kenapa Nay? Ada masalah kah?" tanya tante Yulis khawatir.
Perhatian yang di berikannya sama seperti yang aku dapatkan dari Mas Adam, hatiku menghangat. Aku berharap bisa berada di tengah-tengah keluarga hangat seperti keluarga mas Adam.
"Kalo bukan gara-gara kak Raras, ngga mungkin kami begini tante," jelasku.
Tante Yulis menepuk punggung tanganku lembut. "Nay, semua itu takdir, jangan menyalahkan orang lain atas takdir Tuhan Nay. Kamu hanya perlu sabar dan ikhlas," nasihatnya.
Entah kenapa aku malah kesal mendengar nasihatnya, sepertinya mamah mas Adam bukan tipe orang yang mudah terhasut.
"Emm ... Tante apa Ka Raras sering main ke sini?" aku berusaha mencari tahu sedekat apa Ka Raras dengan ibunya Mas Adam ini.
"Engga, selama mereka pacaran kayaknya Raras baru tiga atau empat kali ke sini, lupa tante Nay," ujarnya sambil terkekeh.
"Emangnya mereka udah pacaran berapa lama tante?"
Kulihat Tante Yulis tengah berpikir, "Adam baru ngajak Raras ke rumah kayaknya pas kelulusannya, sekitar tujuh tahun ya berarti."
Pantas Mas Adam sangat mencintai kak Raras mereka berhubungan sudah selama itu ternyata, aku benar-benar kalah start dari kak Raras.
Tak lama Mas Adam pulang dari kantor, dia sengaja ingin menemui keluargaku. Namun tak ada orang lain selain aku dan para pekerja rumah tangga kami saja.
Dia mengajakku ke kosan Kak Raras, entah kenapa tiba-tiba dia mengajakku menemui kekasihnya itu.
"Kenapa ngga ke sini sendiri aja?" tanyaku sebal.
__ADS_1
Dia mengacak rambutku, membuatku merona saja. Terpaksa aku menghindari tatapannya yang membuat jantungku berdebar kencang.
"Di sana ngga sembarangan lelaki boleh bertamu, makanya aku ajak kamu, sekalian kita makan malam nanti," jelasnya.
Sampai di sana, penjaga kosan kak Raras mengatakan jika kakakku itu baru saja keluar. Katanya akan menghadiri sebuah pesta. Geram sekali mendengarnya, bisa-bisanya dia pergi pesta saat ayah kami sedang sakit begini.
Tak bisa di biarkan, besok aku akan mengadukannya pada mamah.
Mas Adam mendadak berubah lesu, aku heran mengapa ia kelihatan tidak panik sama sekali.
"Mas tau kak Raras pergi ke mana?" dari tadi aku melihatnya mengirim pesan dan melakukan panggilan
"Mungkin dia pergi sama Dilla temannya," Mas Adam menghela napas, sepertinya lelaki itu sedang menahan kesal.
Dilla? Mengapa aku sama sekali tidak mengenal teman kan Raras itu ya.
Keesokan paginya, aku kembali ke rumah sakit, terkejut saat para perawat akan memindahkan ayah ke ruang VVIP di rumah sakit ini. Aku bergegas menemui mamah yang kata para perawat sedang di ruang administrasi.
"Ini yang benar Mas, ngga salah suami saya di rawat di kelas ini?" itu suara mamah yang terdengar tengah mendebat seseorang.
Aku menghampirinya, "mah ada apa?"
"Ini loh Nay, ayah di pindah di ruang VVIP, mamah takut nanti di suruh bayar!" keluh mamah.
"Apa anak saya yang membayar Mas? Coba saya mau liat tanda pelunasannya?"
Petugas Administrasi ini lantas menyerahkan rekapan semua biaya ayah, mataku membelalak kala melihat besarnya nominal untuk biaya perawatan ayah, dan itu semua telah lunas.
Yang lebih membuatku terkejut di sana tertera nama Billy yang bertanda tangan.
Siapa Billy? Apa dia simpanan kak Raras?
"Nay, Billy siapa ya?" tanya mamah.
"Entah mah, ya udah yuk kita ke ruangan ayah, takut ayah bangun kasihan," ajakku sambil menggandeng tangan mamah.
Aku dan mamah masih menerka-nerka siapa Billy, ada yang tidak beres dengan kehidupan kak Raras.
"Nay apa si Raras itu selingkuh?"
"Ngga tau mah." Baguslah kalo dia selingkuh, aku ngga sabar bagaimana reaksi Mas Adam kalau tau kekasih yang sangat ia cintai mempunyai lelaki idaman lain.
Mamah termenung sambil mengetuk-ketukan telunjuk di dagunya.
__ADS_1
"Kalau Billy itu selingkuhan Raras, dia pasti orang kaya Nay, liat aja, tagihan ayah, hampir tiga ratus juta di bayar kontan coba," mamah sibuk menerka-nerka siapa lelaki bernama Billy itu.
"Kamu harus bisa deketin lelaki itu Nay, jangan sampai kalah kamu sama Raras!"
Aku menatap tak percaya pada ide gila mamahku itu. Dia memintaku mendekati seseorang yang bahkan tidak kukenal.
Bagaimana jika dia ternyata lelaki tua? Lelaki beristri gitu? Bisa ajakan kak Raras menjual diri, karena hari gini ngga mungkin seseorang memberi uang dengan cuma-cuma.
"Mamah aneh-aneh aja! Siapa tau itu laki-laki tua? Atau Ka Raras simpanan suami orang? Mamah mau aku sama orang seperti itu?" cibirku.
"Pantes aja semalem dia pergi pesta," dengusku.
Mamah berbalik menatapku, "Apa Nay? Pesta? Si Raras pergi pesta?" tanyanya sambil tertawa, dia pasti tidak menyangka hidup kak Raras yang dahulu bagai upik abu seksrang bisa pergi ke pesta.
Mungkin bukan pesta seperti bayangan kami, tapi tetap saja. Suara tertawa kami sampai membuat ayah terbangun.
Tak lama Kak Raras muncul, wajahnya pucat, sepertinya dia kurang enak badan, Entahlah.
Mamah yang sudah penasaran sejak tadi siapa Billy lantas segera menarik kak Raras, tapi segera di tepisnya. Kakak Raras menolak ajakan mamah, dan itu membuat mamah kesal.
Kak Raras tak lama berbincang dengan ayah sebab setelah perawat memberi obat, ayah kembali tertidur.
Setelahnya, mamah segera mencecar kak Raras dengan berbagai pertanyaan.
Kak Raras menjelaskan jika Billy adalah orang kantornya, mungkin salah satu atasannya.
Di salah satu pertanyaan mamah ada hal yang membuatku terkejut, karena ternyata mamah kesal karena membiarkan kak raras menghabiskan banyak uang hanya untuk perawatan ayah.
Wajah kak Raras semakin memucat, saat kukira dia akan meninggalkan ruang rawat ayah, ternyata dia malah belok ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana.
Ada apa dengan wanita itu? Apa dia kelelahan? Atau jangan-jangan.
Kuenyahkan pikiran negatifku, tak mungkin kak Raras hamil kan? Apa ini alasan mas Adam ingin segera melamar kak Raras? Apa hubungan mereka sudah sampai sejauh itu?
"Nay kamu kenapa?" tanya mamah setelah kak Raras keluar.
.
.
.
Tbc
__ADS_1