Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 51


__ADS_3

Nayla sedang termenung di tempat kerjanya, duduk seorang diri memandang orang yang berlalu lalang di depan kafe tempatnya bekerja.


Helaan nafas berat berulang kali keluar dari embusan nafasnya. Sepertinya ia berusaha mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di dadanya.


"Kamu kenapa Nay? Belakangan ini kelihatan murung?" tanya Ade yang tak lain adalah atasannya. Lelaki bertubuh sedikit gempal itu juga teman baik Adam kekasihnya.


"Mas Ade. Maaf," lirih Nayla lantas menegakkan tubuhnya.


Ade terenyuh melihat gadis itu selalu tampak murung. Sebenarnya bukan belakangan ini saja, Nayla memang tak pernah berwajah ceria sejak bekerja di sini.


Pikiran Ade hanya menebak jika mungkin gadis di depannya itu sedang memikirkan beban hidupnya, atau mungkin dia tak betah bekerja di sini.


Jika alasan yang ke dua, Ade bingung harus bagaimana memberikan solusi lagi pada kekasih temannya itu. Dia sudah menempatkan posisi yang cukup baik untuk Nayla.


Menjadi seorang kasir tak membutuhkan cukup tenaga di banding pekerjaan lainnya di kafe ini. Namun sepertinya gadis itu tak terlalu menyukainya.


Ade juga selalu mendengar keluhan para karyawan yang lain jika Nayla sering bersikap cuek pada para pelanggan.


Ia ingin membicarakan hal itu dengan Adam, sebab tak enak jika harus menegur Nayla secara langsung.


Dia juga memikirkan usahanya, jika Nayla selalu seperti ini maka usaha kafenya akan semakin sepi. Sekarang saja sudah semakin menurun penghasilannya.


"Kamu ngga betah kerja di sini Nay?" tanya Ade to the poin.


Nayla tersentak, dia berpikir apa kelakuannya selama ini membuat atasannya itu tau tentang perasaannya bekerja di sana?


"Bu-bukan begitu Mas Ade, aku hanya ..." Nayla bingung harus menjawab apa.


Dia menyesal karena terkesan cuek dengan pekerjaannya, meski ia tau pekerjaannya tak terlalu sulit. Namun sungguh, dirinya tak begitu suka bekerja di sana, selain harus selalu tersenyum, gajinya juga tak sesuai dengan keinginan dirinya.


Meski ia tau memang seperti itulah gaji sebagai pelayan di sebuah kafe.


Ade memberikan gaji sesuai dengan aturan pemerintah. Tetap saja menurut Nayla, dia layak bekerja di tempat yang lebih baik, seperti perusahaan tempatnya magang dahulu.


"Ada masalah dengan keluargamu? Atau dengan Adam?"


Sungguh Ade berusaha sabar berbicara dengan Nayla, meski gadis itu sedikit membuatnya kesal karena tingkah semena-menanya.


Namun Ade berusaha mengerti kondisi Nayla yang memang ia tahu menjadi tulang punggung keluarganya saat ini.

__ADS_1


Nayla mendesah, "Semuanya Mas. Semuanya membuatku tertekan," tanpa bisa di cegah, air mata luruh begitu saja.


Nayla menangis terisak, ia merasa bebannya begitu berat. Mengapa hidupnya tak sesuai dengan apa yang dia harapkan, begitu batinnya.


Ia sudah berhasil menyingkirkan kakak tirinya. Ia juga sudah berhasil mendapatkan lelaki yang dia inginkan. Namun mengapa akhirnya ia malah semakin tersiksa.


Nayla tidak berpikir jika hukum tabur tuai itu sangat mengerikan. Gadis itu tidak pernah berpikir panjang.


Dia berusaha menyingkirkan Raras, tapi lupa jika dirinya dan juga keluarganya bergantung pada penghasilan wanita itu.


Dia ingin mendapatkan Adam dan berhasil. Namun ia lupa jika perasaan tak akan pernah bisa di paksa.


Nayla berpikir di mana salahnya, mengapa hidupnya jadi seperti ini.


"Tenanglah. Sebaiknya kamu istirahat, wajah kamu pucat. Aku mengizinkan kamu pulang lebih cepat."


Bukannya Ade berniat mengusir Nayla, tapi percuma juga menurutnya jika gadis itu masih memaksakan bekerja dengan perasaan yang kacau seperti itu.


Lebih baik dia memulangkan Nayla dari pada membuat penghasilannya menurun hari ini. Meski Nayla adalah kekasih temannya, tapi bisnis tetaplah bisnis menurut Ade.


Dia akan membicarakan masalah Nayla pada Adam dan memberi kesempatan pada Nayla setelahnya. Namun jika Nayla tak mau berubah, maka dengan terpaksa Ade akan mengeluarkan Nayla dari kafenya.


"Ngga papa Mas Ade, aku baik-baik aja," tolaknya dengan senyum terpaksa.


"Selesaikan masalahmu Nay, aku ngga akan tanya masalah apa yang sedang kamu hadapi, tapi jujur, perasaan kacaumu saat ini mempengaruhi kafeku. Aku harap kamu mengerti," jelas Ade.


Deg!


Nayla tau, bukan bentuk perhatian yang atasannya itu berikan dengan memintanya pulang. Namun karena sikapnya hari ini membuat sang atasan tak nyaman karena mempengaruhi usahanya.


"Maafkan saya Mas Ade. Bukan maksud saya membuat tak nyaman, tapi—"


Nayla berharap dirinya tak di usir atau bahkan yang lebih mengerikan adalah di berhentikan saat ini dari kafe. Dia tak tau lagi akan bekerja di mana jika sampai dirinya di pecat dari tempatnya bekerja saat ini.


Sudut hatinya menggeram kesal mengapa atasannya itu tak memiliki sedikit empati padanya yang tengah bersedih saat ini malah memintanya pulang.


"Maaf Nay, pulanglah dulu dan perbaiki semuanya. Besok aku harap kamu sudah berubah dan tak mengabaikan tugasmu bekerja di sini. Kalau ... Kamu masih seperti ini, maaf jika aku harus mengeluarkanmu.”


Ade terpaksa berbicara dengan tegas saat ini, melupakan janjinya untuk tak menegur gadis yang saat ini tengah terkejut, semua ia lakukan agar Nayla tidak menggampangkan dirinya.

__ADS_1


Bukan bermaksud jahat, tapi inilah yang Ade tak suka jika memperkerjakan seseorang dari kenalannya. Kebanyakan mereka menganggap gampang dirinya dengan bekerja sesuka hati.


Nayla terkejut bukan main dengan ancaman sang atasan yang tak lain adalah teman baik sang kekasih. Dirinya tak percaya jika Ade bahkan tak memandang dirinya sebagai kekasih teman baiknya itu.


"Mas Ade mengancam saya?"


Nayla benar-benar tak tau diri, bukannya berusaha membenahi diri dan berkaca, dia malah seperti mengajak perang pada atasannya itu.


"Apa ada nada mengancam saya padamu Nay?" Ade berusaha tidak terprovokasi dengan sikap Nayla saat ini.


Dia lelaki dewasa yang berpikir panjang. Jangan sampai gara-gara gadis ini hubungan baiknya dengan Adam akan rusak.


Sungguh Ade menyayangkan mengapa Adam malah terjerat dengan gadis yang menurutnya tak lebih baik dari mantan kekasihnya dulu.


Ade juga tau jika Nayla adalah saudara tiri dari mantan kekasih Adam. Dia tak menyangka jika sifat keduanya sungguh sangat bertolak belakang.


"Tadi mas Ade bilang akan memecatku, apa itu bukan ancaman namanya!" Nayla sungguh menggali kuburnya sendiri dengan berkata dengan nada ketus seperti itu.


"Mas pikir aku senang bekerja di kafe kecil ini! Aku bisa bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang lebih besar tentunya. Jangan mentang-mentang aku pelayan, mas bisa berlaku seenaknya!" geram Nayla.


Ade menggeleng melihat kemarahan Nayla yang tak tahu malu itu. Lelaki itu lantas berdiri dan menatap sengit gadis yang sudah menghina kafe miliknya.


"Baik Nay, sepertinya cukup sampai di sini saja. Dari tadi saya sudah cukup bersabar dengan kelakuanmu, sayangnya kamu memang tak bisa di kasih hati. Jadi maafkan saya, kamu saya pecat sekarang. Silakan bereskan barang-barangmu," ujar Ade tak sungkan lagi.


Biarlah nanti ia yang akan menjelaskan pada Adam. Jika temannya itu marah padanya ia tak peduli, asal usaha yang dirintisnya itu tak hancur dan di hina oleh gadis seperti Nayla itu.


Nayla terperangah, dengan bodoh dia mengerjapkan matanya. Dia di pecat, sesuatu yang ia sesali saat ini, mengapa dirinya tidak bisa menahan diri.


Ade meninggalkan dirinya begitu saja, ingin Nayla mengejarnya dan meminta maaf. Namun egonya menolak, ia tak mau harga dirinya terinjak-injak.


Dengan lesu, dia meninggalkan kafe tanpa berpamitan dengan rekan karyawan lainnya.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2