
Aku marah
Aku sakit hati
Aku terluka
Ingin berteriak
Ingin kubunuh
Ingin memaki
Namun aku sadar, siapa diri ini. Mungkin inilah balasan dari semua dosa dan kesalahan yang telah kuperbuat pada Adam.
Nayla sedikit terhuyung kala Marsha memeluknya. Tautan tangan mereka refleks terlepas. Tak ingin melihat drama yang lebih memuakkan aku memilih berlalu dari sana tanpa sepatah kata.
Aku mendengar Nayla memanggil diriku dengan keras, apa dia ingin menjelaskan sesuatu? Atau ingin membusungkan dada bahwa dia telah berhasil menaklukkah Adam? Sama seperti ibunya yang telah mencuri ayah dari ibuku.
Menggunakan Nayla untuk balas dendam karena aku membencinya mungkin itu yang ada di benak Adam, dia tau itu pasti akan melukai harga diriku.
Aku tak peduli, bukan aku yang akan terluka di permainannya. Meski rasa tak terima masih besar aku rasakan akibat perpisahan ini. Namun aku harus siap, ini adalah masa depan yang sejak dulu aku takutkan.
Setelah melaluinya, nyatanya aku merasa biasa saja. Sakit memang tapi beban hidupku lebih banyak yang harus di pikirkan. Patah hati bukanlah hal yang paling menyulitkanku saat ini.
Masa depan yang jauh lebih menakutkan sedang menantiku. Memang jika sesuatu yang belum terjadi terlalu di pikirkan akan membuatmu ngeri.
Sama sepertiku, berpisah dari Adam dulu sangat menakutkan bagiku, setelah melewatinya dan ternyata hatiku lega karena aku berpikir tidak perlu lagi menyakiti lelaki itu lebih dalam, perasaanku sedikit tenang.
Saat ini yang kucemaskan adalah masa depan buah hatiku. Jika hanya diriku mungkin tidak masalah apa pun gunjingan orang. Namun dia, kehadirannya sangat tak di inginkan banyak orang.
Aku tengah menimang-nimang tawaran Dinda, terlihat mudah mungkin bagi Dinda, tapi bagaimana jika Joan tau jika aku masih mempertahankan anaknya? Apa Joan tega menyakiti anak kandungnya meski dia sudah terlahir ke dunia ini?
Itu kalau dia? Bagaimana keluarga Joan? Aku yakin mereka tak akan menerima anak ini, mereka mungkin lebih dari tega untuk melenyapkannya kelak.
Jendela mobilku di ketuk, ternyata aku masih melamun di dalam mobil.
Nayla menunduk, di belakangnya hanya ada Marsha, entah ke mana perginya Adam.
Kuturunkan kaca mobilku, enggan keluar untuk menemuinya. Lebih baik aku tak ikut campur dalam drama kehidupan keluarga tiriku. Aku lelah, aku ingin pergi, pergi dari semua orang yang mengenalku.
"Ka bisa bicara sebentar?" pintanya.
"Aku sibuk, kalau masalah Marsha kamu tanya sendiri anak itu," jawabku datar.
__ADS_1
"Maaf, mungkin ini bakal nyakitin kakak, aku—" ujar Nayla ragu-ragu.
Kulajukan mobilku meninggalkannya. Aku tau apa yang akan dia katakan, dia memang merasa menang dariku.
Ambillah Nay, ambillah Adam yang sejak dulu sangat kamu idam-idamkan itu. Semoga kalian bahagia.
Kalimat terakhirku sangat tulus meski tak akan pernah aku ucapkan secara langsung pada Nayla dan Adam. Aku berharap mereka benar-benar menjalin kasih bukan hanya sekedar pelampiasan.
Aku memilih pulang ke apartemen Joan, mengambil beberapa potong pakaian favoritku. Sepertinya pilihan untuk tinggal di vila milik Dinda akan menjadi tujuanku.
Sudah kubulatkan tekad untuk berhenti bekerja besok. Meski perusahaan memiliki aturan mengundurkan diri bisa di proses selama satu bulan ke depan, aku tak akan menghentikan niatku.
Jika mereka tak membayarkan gaji terakhirku pun tak masalah. Aku ingin pergi, menenangkan diri.
Bagaimana dengan ayah? Otakku berperang di sana? Kuhela napas, ada satu orang yang tak bisa kuabaikan keadaannya, Ayah.
Aku akan menjenguknya, mungkin untuk terakhir kali. Akan aku hubungi Suster Rini agar tetap merawat ayahku.
Sesampainya aku di basemen apartemen, aku di kejutkan oleh seorang lelaki tampan dengan setelan jas yang sangat rapi.
Lelaki itu sepertinya sengaja menungguku. Hatiku mencelos takut, ya ampun apa laki-laki ini akan berniat jahat?
"Selamat siang Nona Angel," sapanya sambil mengulurkan tangan. Tak kuhiraukan uluran tangannya, aku menatap takut-takut lelaki ini.
Tampilannya memang pantas jika dia mampu memiliki unit apartemen di sini, aku celingukan melihat sekitar, adakah seseorang yang bisa kumintai tolong.
"Kamu siapa?" tanyaku takut-takut.
Dia mengusap sudut bibirnya menggunakan ibu jari. Tiba-tiba dia berjalan semakin mendekat ke arahku.
"Jangan macam-macam! Di sini banyak CCTV," ancamku.
"Ikut denganku Nona, aku hanya akan mengajakmu bicara," pintanya dengan nada lembut namun tegas tak ingin di bantah.
"Bagaimana jika aku menolak?" aku enggan berbicara dengan lelaki meski tak terlihat berbahaya sepertinya.
Siapa tau di psikopat gila di balik wajah tampannya. Aku berbalik ingin meninggalkannya segera, sebelum tanganku di cekal dan aku tertarik menubruk tubuhnya.
"Lepasin! Aku ngga kenal kamu! Buat apa aku bicara sama kamu," aku berusaha memberontak. Namun dia membungkamku dengan tangannya.
"Diamlah, aku bisa saja membunuhmu tanpa siapa pun yang tau. Kamu pintar, pasti bisa menebak jika ucapanku bukanlah sekedar isapan jempol," Dia berbisik di telingaku.
Aku hanya mengangguk setuju, sekujur tubuhku bergetar, aku ketakutan. Orang ini aku yakin bukanlah orang sembarangan.
__ADS_1
"Aku akan lepasin kamu, jangan lari, ikuti saja aku. Aku janji bakal anter kamu balik ke sini lagi," janjinya, lagi-lagi aku hanya mengangguk sebab mulutku masih di bekapnya.
"Kalau kamu berbohong, maka—" dia menodongkan pistol di pipiku, air mataku mengalir deras. Sungguh aku tak ingin mati konyol seperti ini.
Setelah anggukan ke tiga lelaki itu melepas bekapkannya di mulutku. Namun berganti dengan menggandeng tanganku dan memaksaku ikut dengannya.
Ternyata kami menuju mobilnya yang mewah. Sebuah Lamborghini hitam adalah kendaraan yang kami naiki.
Di dalam mobil mewah itu tubuhku masih gemetaran, teringat jika saat ini dia memiliki senjata api.
Pergi dengannya pun sama saja mengumpankan diri ke lubang buaya, bisakah aku masih selamat dengan janjinya? Sedangkan melenyapkanku bukanlah hal yang sulit baginya.
Kami berhenti di tepian sebuah danau, ada sebuah taman yang cukup asri. Kupikir dia akan mengajakku berbicara di sana, tapi dia tak kunjung membuka pintu mobilnya.
"Jauhi Joan," titahnya padaku saat pertama kali dia bersuara.
Aku menoleh seketika, siapa dia? Apa dia salah satu anggota keluarga Joan? Dari garis wajahnya memang terlihat agak mirip, tapi aku tak yakin.
"Kamu tau hubunganku dengan Joan?"
"Aku tidak peduli bagaimana hubungan kalian, aku hanya tidak ingin kehadiranmu membuat Litaku terluka," jelasnya.
Terpecahkan sudah teka-teki ini. Cinta dan hubungan yang sangat rumit, aku tersenyum getir.
Aku berhubungan dengan Joan saat lelaki itu memiliki tunangan bernama Esterlita yang juga di cintai lelaki ini. Aku sendiri juga memiliki kekasih sebelumnya.
"Kenapa kamu tertawa?" dia menoleh padaku yang sedang menertawakan nasib percintaan kami.
"Hubungan kita sangat rumit ya. Ngga usah terlalu formal sama aku. Sama kaya yang aku bilang sama Nona Esterlita, aku ngga bisa begitu aja pergi dari sisi Joan—" dia hendak menyela ucapanku jadi buru-buru aku lanjutkan.
"Bukan uang yang jadi masalahnya. Kalau kamu memang benar-benar mencintai Nona Esterlita, perjuangkan dia. Jangan percaya sama pepatah yang mengatakan ‘aku akan bahagia asal dia bahagia’ itu bulshit!" cibirku.
Aku keluar dari mobilnya, kulihat dia tidak menahan, wajahnya masih datar memandang danau di depan sana.
Sebelum aku menutup mobilnya kembali kutundukkan kepala agar bisa bicara padanya.
“Kamu tau Joan lelaki seperti apa? Mungkin orang yang kamu cintai akan terluka lebih dalam jika masih mempertahankan hubungan mereka. Selamatkanlah dia," saranku kemudian pergi dari sana.
.
.
.
__ADS_1
Tbc