
Setelah puas menandangi wajah Joan, yang kuakui memang sangat tampan, akhirnya dengan perlahan kucoba untuk melepaskan pelukannya.
Sayangnya itu semua sia-sia, Joan malah menarikku lebih erat dalam pelukannya. Sekarang aku malah berada di atas dadanya.
"Sebentar lagi," pintanya.
Apa yang bisa kulakukan? Ya hanya bisa pasrah. Dia memelukku sambil menciumi rambutku berulang-ulang, dan itu membuatku terkekeh.
"Hei ayolah kamu udah bangunkan? Aku harus kerja beib," ujarku berusaha menengadah menatap wajahnya.
Dia masih terpejam, tapi aku tau dia sudah bangun, bukannya menjawab lelaki yang selalu menjamah tubuhku itu malah menyambar bibirku dengan ganas.
Ingin sekali memberontak dan menjauhkan tubuhnya dariku. Namun sialnya otakku dan tubuhku tak bisa di ajak bekerja sama, tubuhku sudah bereaksi karena sentuhan tangannya yang mulai liar.
"Ahhh ..." de*sa*han itu lolos begitu saja membuatku malu pada diri sendiri.
Dia terkekeh geli dan melepaskan pagutan bibir kami, aku terengah-engah karena aksi nakalnya yang menghentikan begitu saja hasratku.
"Ingin olah raga pagi?" dengan senyum mengejek tatapan matanya kembali liar.
Meski statusku adalah wanita simpanannya yang harus selalu mau melayani dan memuaskannya, tapi percayalah dialah lelaki yang selalu membuatku mengerang karena kenikmatan duniawi.
"Tunggu," selaku saat bibirnya sudah bergerilya ke leherku. Dia mengerutkan alis.
"Kamu pulang dari semalam?"
"Ya," jawabnya singkat dan kembali melanjutkan aksinya.
"Ka-ta-nya, ka-mu ng-ngak pu-lang?" tanyaku terbata karena aksi liarnya.
Mencoba berperang melawan hasratku dengan pertanyaan yang menginginkan jawaban segera.
Dia tak menjawab dan tetap melanjutkan aksinya 'berolah raga pagi di ranjang'
Benar saja Joan selalu berhasil membuatku bertekuk lutut lemas tak berdaya, sedangkan dirinya saat ini tengah menatapku dengan seringaikan yang menyebalkan.
Joan sudah membersihkan diri dan tengah bersiap mengenakan pakaian kerjanya.
"Kamu katanya ngga balik beib?" tanyaku yang masih penasaran.
"Aku cuma penasaran sama kucing nakal di rumah yang selalu berbuat onar," kelakarnya.
"Heh? Maksudmu aku kucing liar?" suaraku naik satu oktaf karena tak terima dengan julukannya.
Sesuatu yang sangat aku takutkan, jujur saja sekesal apa pun, aku tak pernah menggunakan nada tinggi padanya. Aku takut hari ini menjadi akhir hidupku karena masalah sepele ini.
Kugigit bibir bawahku takut-takut, beruntung Joan terlihat tak mempermasalahkan ucapanku tadi.
"Hari ini kayaknya Lu bakalan sibuk, kabari Gue secepatnya." Titahnya yang takku mengerti.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih beib, bisa pake bahasa rakyat jelatakan?" sindirku agar dia mau memperjelas maksud ucapannya.
Dia tak menjawab, tapi dengan gerakan menunjuk menggunakan dagu membuatku mengikuti arah pandangnya.
Ponsel?
Ada apa dengan ponselku? Apa dia sekarang berani membuka ponselku, meski tanpa membukanya aku sangat yakin orang seperti Joan sudah tau semua isi ponselku.
Setelah mengenakan pakaian kerjanya tanpa memakai dasi, Joan memilih segera meninggalkanku dengan berbagai pertanyaan yang menjengkelkan.
Dengan rasa penasaran, akhirnya kuaktifkan kembali ponsel setelah semalaman aku memilih mematikannya.
Ada berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari Adam dan dari nomor keluarga tiriku.
Pesan dari Adam yang kembali kubuka untuk mencari tahu mengapa dia banyak sekali melakukan panggilan.
Air mataku menetes kala merutuki diri yang dengan bodoh tak memedulikan nasib ayah.
Adam mengatakan jika saat ini ayahku sedang berada di rumah sakit, karena kembali terkena serangan jantung akibat shock.
Pikiranku buyar, mendadak linglung. Kucoba menarik napas berusaha untuk tenang, setelah sedikit bisa mengendalikan diri, aku bergegas membersihkan diri.
Saat berpakaian aku sendiri tak sadar apa yang sudah kukenakan.
Baru sampai di dalam mobil ponselku kembali berdering, terlihat nama Seza di sana.
Aku lupa jika hari ini masih hari kerja, semoga saja atasanku memberi izin.
Kugeser tombol hijau untuk mengangkat panggilannya. "Halo Za, sory bisa minta tolong?"
Ucapanku terputus kala Seza memberitahu jika ada ibu tiriku di kantor saat ini.
Astaga, kepalaku rasanya mau pecah, mau apa nenek lampir itu mencariku. Bukannya duduk di sebelah ayah dan menjaganya, apa wanita tua itu ingin mempermalukan diriku di kantor?
"Bilang aja aku lagi ke rumah sakit sekarang, Za tolong izinin ke HRD kalo aku ngga masuk hari ini, kasih tau aja Ayah gue masuk rumah sakit," pintaku.
Seza memang pegawai yang rajin, gadis manis itu selalu datang lebih awal sebelum para pegawai lainnya datang.
Semoga saja izin dadakan kali ini tak membuatku terkena masalah.
Aku tiba di alamat rumah sakit yang Adam berikan semalam.
Hatiku berdebar-debar, entah apa yang sebenarnya terjadi dengan beliau. Aku hanya berharap Tuhan mengizinkannya tetap di dunia ini. Jujur aku ngga sanggup kalau harus kehilangan ayah.
Di depan ruang ICU terlihat Nayla dan Adam tengah duduk bersama. Tak kupedulikan rasa cemburu yang tiba-tiba saja datang.
"Nay, Ayah ngga papa kan?" tanyaku panik.
Nayla menatap nyalang diriku, tanpa menjawab pertanyaanku, seketika dia menamparku.
__ADS_1
"Puas Kakak! Gara-gara Kakak penyakit ayah kambuh! Ini yang Kakak mau kan?" makinya.
Adam bergegas menenangkan gadis itu, menahan kedua tangannya. Lagi-lagi ada rasa cemburu bercampur rasa bersalah.
Tak lama suara nyaring ibu tiriku menggema memenuhi koridor rumah sakit.
"Seneng kamu ya! Abis dari mana aja kamu? Nge*lon*te sampe ngga ada di kos san?" Matanya melotot seolah menelanjangiku.
Keluarga tiriku berusaha mempermalukanku di depan Adam mungkin, tapi memang aku yang salah. Aku yakin mereka pasti sudah mencariku ke tempat tinggalku yang seharusnya.
Selain menjelaskan pada ibu tiriku, sepertinya Adam juga membutuhkan penjelasanku.
"Tante tenang dulu, jangan sampe Om denger keributan kalian dan bikin drop keadaannya," sela Adam.
Ibu tiriku melengos kesal, "kamu marah sama Mamah silakan Ras, tapi gara-gara keegoisan kamu Ayah kamulah yang paling kena imbasnya," ujarnya tajam.
"Emang kalian kenapa?" tanyaku mencari tahu.
"Kami di usir sama Bu Ratna semalam, Mamah panik terus histeris, Bu Ratna ngga mau tau, mereka ngusir kita kaya sampah!" jelas Nayla.
Astaga, apa sampai sebegitunya orang yang bernama Bu Ratna itu, mengapa wanita itu tak ada rasa iba pada Ayahku.
Bukan Bu Ratna yang seharusnya kusalahkan, tapi aku sendiri. Bukannya aku yang tak membayar uang sewa rumah dan meninggalkan mereka begitu saja? Karena keegoisanku yang ingin membalas dendam pada perlakuan ibu tiriku, ayahkulah yang menjadi korban.
"Maaf Mah, bukannya aku udah bilang sama kalian kalau aku ngga sanggup bayar? Aku minta kalian pindah ke rumah yang bakal aku sediain kalian nolak bukan?" ucapku membela diri.
"Lagian aku ngga kenal Bu Ratna, harusnya Mamah tau kalo ngga bisa bayar hari itu, Mamah setuju aja sama saran aku."
Ibu tiriku menatap geram dengan rahangnya yang mengeras, sepertinya ia ingin sekali melahapku.
"Kamu nyalahin Mamah? Emang kamu pikir pindah rumah itu cukup waktu sehari!" ketusnya.
"Emang ngga cukup hari itu aja, tapi kalo mamah ngomong baik-baik sama Bu Ratna kalo Mamah ngga akan perpanjang sewa, aku yakin beliau kasih waktu kalian buat pindah."
Aku ingin sekali bertemu dengan orang yang bernama Bu Ratna itu. Selama mengontrak rumah di sana belum sekalipun aku bertemu dengannya.
Apa begitu perlakuannya pada orang yang menyewa di tempatnya? Entah kenapa kelakuan ibu tiriku dan anak-anaknya selalu membuatku curiga.
"Kasih tau aku alamat Bu Ratna, biar aku temui beliau," raut wajah ibu tiriku berubah pias.
Ada apa dengannya, dari tadi mereka selalu menyalahkanku, tapi saat aku akan meluruskan masalah ini mereka tampak gugup.
.
.
.
Tbc
__ADS_1