
Dress hitam tanpa lengan dengan panjang sedikit di bawah lutut menjadi pilihanku.
Beruntung masih ada beberapa dress yang cukup mewah aku simpan disini.
Tak bisa kubayangkan jika aku harus kembali ke apartemen hanya untuk sekedar mengambil gaun mewahku yang tersimpan rapi di sana.
Sebenarnya aku sedikit takut jika ternyata Joan ternyata sedang berada di sana, atau mungkin saja lelaki itu tiba-tiba pulang.
Akan sangat sulit bagiku untuk keluar lagi. Aku tak akan bisa memiliki cukup alasan untuk meninggalkannya.
Pakaian ini juga tak terlalu mencolok, jadi aku berharap penjaga kos an tidak akan menganggap aku akan menjajakan diri.
Kutata rambut panjangku yang bergelombang. Hanya sebuah tas kecil yang aku padankan dengan dress ini untuk melengkapi penampilan.
Aku tak ingin terlihat takut atau menyedihkan saat bertemu dengan orang misterius itu.
Setelah menarik napas panjang dan menstabilkan detak jantungku yang berdebar sangat kencang, aku memutuskan untuk berjalan meninggalkan kamar kos.
Berharap aku tak bertemu dengan Dinda, sebab aku malas sekali berbohong dan mencari alasan. Otakku buntu, sebab aku tak masih penasaran siapa pengirim pesan misterius itu.
Berbagai jawaban tengah aku susun jika orang misterius itu menanyakan hubunganku dengan Joan nantinya.
Sedikit bisa bernapas lega saat melihat kamar kos Dinda sudah gelap, mungkin gadis itu sudah tertidur.
Padahal, waktu baru menunjukkan pukul setengah delapan malam. Bodo amatlah, kembali kulangkahkan kaki sedikit tergesa, suara sepatu hak tinggi membuatku sedikit panik, takut membuat penghuni lain keluar dari kamar mereka.
"Malam Mbak Raras? Wah cantik sekali, Mbak Raras mau pergi kencan ya?" sapa Mang Dayat yang terlihat terkagum-kagum dengan penampilanku.
"Ah engga Mang, mau ngerayani ulang tahun temen aja kok, udah ya Mang," buru-buru aku meninggalkan penjaga keamanan kosan sebab tak ingin lagi banyak berbohong.
Kuparkirkan mobil di tempat parkir yang di sediakan oleh pengelola restoran. Banyak mobil mewah berjejer rapi di sana, hanya mobilku saja yang terlihat mengenaskan.
Memang ini restoran mahal, tentu saja para pengunjungnya sengaja mengenakan segala yang serba mewah untuk menunjukkan kasta mereka sepertinya, lupakan, itu hanya pendapatku saja.
Mungkin tak semua orang kaya akan berlaku seperti itu. Tau apa aku tentang mereka. Hanya dari Joan saja aku tau bagaimana kehidupan orang kaya.
Seorang pelayan yang mengenakan pakaian rapi berdasi kupu-kupu menyambutku.
__ADS_1
Aku terdiam kaku, bagaimana aku bertanya pada pelayan ini jika aku tengah memiliki janji temu dengan seseorang. Sedangkan aku sendiri tidak tau tamuku.
"Mari Nona Saras, Anda sudah di tunggu di dalam," aku cukup terkejut pelayan itu mengetahui namaku. Ingin sebenarnya bertanya siapa orang yang sedang menungguku. Namun aku urungkan, aku yakin pelayan ini tak akan menjawab.
Sepertinya orang misterius itu menunjukkan fotoku agar pelayan bisa membantuku menemuinya.
Aku yakin pengirim pesan misterius itu pasti bukan orang sembarangan. Pelayan berjalan terlebih dahulu dan aku memilih mengekorinya.
Melewati berbagai meja yang banyak terisi oleh para tamu, menuju tempat yang lebih privasi.
Aku pernah ke sini sebelumnya bersama Joan, dan aku juga pernah memasuki salah satu ruangan privasi mereka yang harga sewanya sangat fantastis.
Tentu saja saat itu Joan lebih memilih menyewa ruangan itu saat bersamaku. Mungkin Joan tak ingin ada yang melihatnya ketika sedang bersamaku.
Dadaku berdebar sangat kencang, aku seperti menuju ke dunia lain yang sangat menyeramkan. Kakiku sedikit bergetar kala sang pelayan berhenti pada ruangan yang aku ingat betul pernah kutempati bersama Joan.
Apa orang misterius itu adalah Joan? Untuk apa dia melakukan itu?
Satu hal yang pasti, orang itu tau banyak tentang hubunganku dengan Joan? Atau itu hanya sebuah kebetulan semata? Entahlah.
"Silakan Nona," ajak sang pelayan membukakan pintu untukku.
Ruangan ini terletak di lantai dua, dan aku tau hanya ada tiga ruangan di lantai ini, apa mungkin hanya ruangan ini yang tersisa.
Di ruangan ini juga terdapat sebuah layar televisi besar dan pengeras suara yang aku yakin sangat canggih untuk sekedar berkaraoke. Berbeda jauh dengan tempat karaoke yang sering aku kunjungi bersama Dilla.
Seorang wanita tengah duduk membelakangiku, membuatku penasaran.
Aku hanya bisa melihat tatanan rambutnya yang di sanggul tinggi. Ternyata orang misterius itu adalah seorang wanita, siapa dia?
"Mari Nona," ajak sang pelayan saat aku masih bergeming di depan pintu.
Aku berjalan menuju kursi yang di arahkannya, wanita itu tengah menikmati segelas anggur merah dengan gerakan memutar gelasnya. Anggun sekali.
Esterlita.
Ternyata terkaan pertamaku tak meleset. Apa yang akan ia katakan? Apa dia akan memakiku? Menghajarku ? Atau ...
__ADS_1
Banyak sekali pertanyaan di otakku mengapa Esterlita ingin bertemu denganku.
Apa ini alasannya menggunakan ruang pribadi agar bisa puas memakiku?
Kutatap wajah anggun yang sangat sempurna itu, dia sangat cantik tentu saja, bahkan seratus kali lebih cantik saat melihatnya langsung seperti sekarang.
Gaun berwarna perak dengan bagian dada yang terbuka membuat menampilannya sangat mencerminkan seorang konglomerat, bahkan jika dia mengaku memiliki darah biru orang pun akan percaya.
Penampilannya yang sempurna membuatku menciut saat menyadari bagaimana penampilanku yang terlihat menyedihkan jika dibandingkan dengan dia.
Mungkin bagi seseorang seperti mang Dayat, penampilanku benar-benar memesona, berbeda jika aku bertemu dengan seseorang seperti atau bahkan mendekati Esterlita tentu terlihat sekali kesenjangannya.
Dress hitam ketat yang kupakai saat ini seperti cermin kehidupan masa depan yang akan kulalui. Suram.
Apa ini tanda-tanda aku akan berkabung? Tidak-tidak, kuenyahkan pikiran buruk yang tiba-tiba saja terlintas.
Aku tidak boleh terlihat lemah, meski dalam hati aku merutuki diri dengan berbagai dosa yang aku lakukan pada wanita secantik Esterlita.
Ya aku tau selain dosaku terhadap Adam, aku yakin perbuatanku juga menyakiti hati Esterlita, tapi apa aku punya pilihan?
Hanya Joan yang membuatku berkali-kali bersyukur setidaknya aku tidak menjadi simpanan para bandot tua.
Bolehkan aku merasa bahwa diri ini tak sepenuhnya bersalah? Sungguh keadaan yang memaksaku menjadi simpanannya, tak ada niat dalam diri untuk merusak hubungan orang lain.
Pelayan mengambilkan gelas dan tak lupa mengisinya dengan minuman yang sama dengan Esterlita.
Wanita itu menatapku datar, mungkin dia tengah menimang-nimang apa yang akan di lakukannya terhadapku.
Sejenak kami saling membisu, tak mungkin aku yang memulai percakapan bukan? Aku hanya perlu menjawabnya saja jika dia bertanya, itulah langkah yang akan kuambil dalam menghadapi Esterlita.
Lebih baik jujur karena aku yakin dia sudah tau banyak tentang hubungan kami. Meski aku sangat menyayangkan keputusannya mencariku. Aku yakin pertemuan kami malam ini hanya akan membuatnya semakin terluka.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.