Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 55


__ADS_3

"Siapa orang tadi?" tanya Rizki saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Dia Joan Alexander, saat ini menjabat sebagai CEO dari ASF Group, perusahaan keluarga Alexander," jelas Lucky.


"Apa dia harus searogan itu? Ke mana saja dia selama ini, tiba-tiba datang bak pahlawan kesiangan," gerutu Rizki.


"Dia memang sedikit arogan, bukan itu yang harus kita cemaskan, apa pikiranmu sama denganku? Dia ... Ayah dari bayi Raras?" ujar Lucky.


"Tentu saja, kamu ngga liat kilatan khawatir dari nada suaranya, aku yakin dia ayahnya. Aku ngga habis pikir, apa perempuan kaya gitu semua? Tertipu dengan wajah tampan?"


Rizki mengakui wajah tampan Joan mampu membuat banyak perempuan pasti memujanya. Hanya Rizki sangat menyayangkan ternyata orang seperti Raras yang terlihat cerdas mampu takluk juga dengan pesona laki-laki itu.


"Aku bingung bagaimana bisa mereka saling mengenal," monolog Lucky.


Bukan merendahkan Raras. Namun otaknya tengah berpikir, lingkaran pergaulan Raras sepertinya jauh dengan lingkaran pertemanan orang besar seperti Joan.


Di benak Lucky juga dia sangat tau siapa pasangan lelaki itu. Lalu hubungan seperti apa antara Raras dan Joan sebenarnya.


Dia juga penasaran bagaimana tanggapan Adam saat tau jika ayah dari bayi yang di kandung Raras adalah orang hebat yang tak akan tersentuh oleh orang-orang kecil seperti mereka.


"Hah! Laki-laki itu sudah memiliki tunangan!" pekik Rizki saat membaca sebuah berita Online untuk mencari tahu seperti apa sosok Joan.


"Kamu mengejutkanku!" Lucky mengusap dadanya yang berdegup kencang karena ucapan Lucky.


"Sial! Kenapa wanita-wanita baik seperti Mbak Dinda dan Mbak Raras harus bertemu dengan lelaki breng*sek seperti mereka sih!" gerutu Rizki.


"Hei, kamu sedang mengumpat saudaraku," Lucky tidak tersinggung, dirinya malah terkekeh mendengar gerutuan Rizki. Dengan acuh Rizki mengedikkan bahunya tak peduli.


Sesampainya mereka di vila, ketiganya masih mendengar keributan dari dalam oleh sepasang suami istri Anjas dan Meisya.


"Pokoknya aku mau di sini, titik!" Meisya bangkit hendak meninggalkan ruang tamu saat suara Rizki membuat langkahnya terhenti.


"Selain perebut ternyata Anda juga tak tau malu ya Mbak!" ucap Rizki sinis.


"Siapa kamu! Jangan sembarangan ngomong! Mas liat tuh laki-laki itu menghina istri kamu, malah kamu diam aja!" Meisya tak suka dengan tatapan Rizki yang seolah merendahkannya.


Wanita hamil itu menggoyang-goyang tubuh sang suami agar membelanya.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo kita cari penginapan saja," ajaknya.


"Bagaimana keadaan Raras? Dia ... Baik-baik saja kan?" tanya Anjas cemas.


Lucky memilih duduk di susul oleh Rizki dan Bu Halwa. Hanya Meisya yang masih setia dengan posisi berdiri.


"Maaf Mas Anjas, saya tidak bisa mengizinkan istri pak Anjas tinggal di sini, Mas Anjas pasti tau perjanjian kita bukan?" ucap Halwa.


Halwa baru dua kali melihat Meisya, yang pertama saat dulu Dinda terpuruk dan tinggal beberapa waktu di vila ini hingga di susul oleh Anjas. Tak lama terjadi pertengkaran antara ketiganya kala Meisya juga datang tiba-tiba seperti ini.


Sedangkan Rizki, lelaki itu baru pertama kali melihat Meisya, wanita yang sudah membuat wanita yang dia cintai merasakan sakit hati dan jatuh terpuruk.


"Siapa kamu mengatur aku! Dengar ya, kamu hanya babu di sini! Ngga usah sok ngatur majikan!" hinanya kepada Halwa.


Rizki sangat marah mendengar hinaan yang keluar dari mulut Meisya tentang bibinya. Meski ia tau pekerjaan sang bibi adalah pengurus rumah tangga. Namun ucapan Meisya itu sangat keterlaluan menurutnya.


"Kamu ngga berhak menghina bibiku! Dasar murahan!" pekik Rizki.


"CUKUP!" bentak Anjas lalu berdiri. Dirinya benar-benar lelah dengan kondisi hidupnya yang seakan selalu terkena masalah.


"Mas, dengar tuh, laki-laki itu menghinaku mas," rajuk Meisya. "Jangan-jangan dia itu selingkuhan Dinda mas, liat aja kenapa dia yang kesal sama kita."


"MEISYA!" bentak Anjas sambil mengangkat tangannya. Beruntung Lucky yang duduk di dekatnya refleks menghentikan amukan sang sepupu.


"Sabar Njas," pinta Lucky.


"Kamu ... Kamu mau pukul aku Mas," mata Meisya berkaca-kaca ia tak menyangka suami yang selalu sabar dengan sikapnya kini akan menyakitinya jika tidak di cegah oleh sang sepupu.


"Mei, lebih baik sekarang kamu ikut aku. Kita menginap di rumah mamahku aja," ajak Lucky.


Lucky memilih menjadi penengah di antara kisruh rumah tangga sang sepupu, beruntung keluarga besarnya berasal dari kota ini, hingga ia bisa mengajak Meisya tinggal sementara di sana.


"Ngga mau! Aku mau di sini aku ma ... Ahhh sakiit" lirihnya sambil memegang perutnya.


"Mei kamu kenapa?" tanya Anjas panik.


Rizki hanya menatap jengah wanita yang sejak tadi berlaku arogan dan kasar kepada bibinya. Ia tak ingin mengikuti drama Meisya, Rizki menganggap jika saat ini Meisya sedang melakukan drama demi mencari perhatian.

__ADS_1


"Ayo kita bawa ke rumah sakit aja Njas, aku takut kenapa-napa bayi kamu," ajak Lucky yang di angguki oleh Anjas yang dengan sabar menggandeng tangan sang istri.


Ketiganya kembali meninggalkan vila menuju rumah sakit tempat Raras di rawat.


"Aduh Mas, perutku sakit banget," air mata tak henti mengalir di wajah Meisya, bahkan untuk membuka mata sedikit sulit karena mata yang membengkak karena banyak menangis.


"Sabar ya, kamu tenang dulu," pinta Anjas sambil mengusap lembut perut istrinya.


Tak diungkiri Anjas juga merasa panik sebab melihat jika Meisya benar-benar merasa kesakitan, wanita itu terus merintih dan bergerak gelisah. Bahkan wajahnya sudah sangat pucat.


"Apa masih jauh Luck?" tanya Anjas tak sabaran.


"Sebentar lagi," hanya itu yang bisa Lucky jawab sebab hari ini otaknya di minta konsentrasi penuh meski batinnya sedang gelisah.


Bagaimana tidak gelisah, dirinya harus memfokuskan kendaraan saat harus membawa dua ibu hamil yang sedang kesakitan semua, pertama Raras dan kali ini Meisya.


Ya Tuhan, aku belum menjadi seorang suami apalagi ayah, tapi sudah bisa merasakan perasaan kalut dan takut memikirkan istri dan anak orang lain. Gerutunya.


Sampai di rumah sakit, Anjas segera memapah tubuh Meisya ke ruang UGD, itu juga menjadi kesempatan untuk Anjas bertanya keadaan Raras saat ini pada perawat.


"Maaf Sus pasien atas nama Saras Angelica Suwito, apa udah sadar?"


"Sudah Mas, sudah di pindahkan juga, di kelas nomor satu, sepertinya juga akan segera di pindahkan ke rumah sakit lain, sebab ada permintaan dari suaminya," jelas sang perawat.


"Astaga suami? Apa Joan mengakui Raras sebagai istrinya?" monolog Anjas.


Di depan ruang tunggu, lelaki bermata sipit itu memandang kalut ponselnya. Ia tengah menimang apa akan memberitahu keadaan Raras pada Adam atau tidak.


Lucky benar-benar dilema, jika ia tidak mengatakan keadaan Raras, Lucky yakin penyesalan Adam tak akan ada ujungnya.


Namun ia tak ingin ikut campur dan mengingkari janjinya kepada Raras untuk tak memberitahu keberadaannya pada sang sahabat.


Ah persetan!


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2