Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 22


__ADS_3

Suara gebrakan pintu dengan keras membuatku dan Dinda berpaling.


Mataku membelalak saat melihat Adam berdiri di sana dengan wajah merah padam.


"Apa bener Ras? Apa bener kamu hamil?" nada bicaranya sangat tajam.


Dinda segera bangkit berdiri dan menghadang Adam. "Mas Adam maaf, biarin Raras istirahat dulu, kondisinya sangat lemah, dia kekurangan—"


"Tolong biarkan aku bicara dengan Raras berdua aja Mbak!" sela Adam.


"Maaf aku ngga tau masalah kalian, tapi aku mohon mas Adam jangan meluapkan amarahnya di sini."


Aku tak bisa berpikir lagi, permohonan Dinda agar Adam tak memarahiku sepertinya karena dia merasa kasihan padaku yang sedang lemah.


Banyak hal yang harus aku jelaskan pada Adam dan Dinda nantinya. Aku yakin Dinda pun sama bingungnya dengan situasi ini, tapi dengan dewasa dia berusaha membuat Adam bersikap sabar padaku.


"Kamu ngga tau mbak, dia hamil, aku ngga tau sama siapa!" akhirnya makian itu keluar. Lelaki yang sekalipun tak pernah membentakku akhirnya meluapkan juga amarahnya.


Aku tak menyalahi Adam, siapa pun lelaki pasti akan kecewa dengan kejadian ini.


"Aku tau mas Adam, tapi sekarang percuma minta penjelasan apa pun, Raras sendiri shock saat aku kasih tau keadaannya," Dinda berusaha sebisa mungkin membelaku.


Ya Tuhan baik hati sekali tetanggaku ini, memiliki orang-orang baik di sekitarmu adalah anugerah yang tak ternilai dari Tuhan dan aku sangat bersyukur.


Aku hanya bisa menangis, terluka, kecewa, semuanya menjadi satu. Hal yang paling aku takutkan adalah perginya Adam dengan membawa sejuta luka yang teramat sangat.


Lelaki itu pergi meninggalkan kamar inapku dengan luka yang sangat besar. Bahkan aku mendengar isakannya, aku tak sanggup menatapnya.


Sekarang dia tau wanita yang sangat ia cintai dan lindungi kehormatannya tak ubahnya seorang wanita kotor.


Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membunuh janin tak berdosa ini?


"Ras, jangan banyak pikiran dulu, yang penting saat ini kamu harus sehat. Banyak masalah yang sepertinya harus kamu selesein," saran Dinda lembut.


Aku tak begitu mengenal Dinda, tapi aku yakin dia wanita yang sangat baik.


"Kamu ngga jijik ma aku Din?" tanyaku memastikan.


Aku yakin Dinda juga tak terlalu mengenalku, dia tau jika Adam adalah kekasihku. Namun karena keadaanku yang hamil dan Adam bukanlah orang yang menghamiliku aku berpikir dia akan menjauhiku.

__ADS_1


"Karena apa?" tanyanya bingung. "Karena kamu hamil?" dia melanjutkannya dengan terkekeh, sepertinya keadaanku yang seperti ini bukanlah masalah besar baginya.


"Kamu adalah wanita beruntung yang di percaya Tuhan untuk di titipi seorang malaikat kecil Ras," Dinda menghela napas.


"Aku ngga akan tanya atau ikut campur urusan kamu, tapi aku mohon, jaga anak ini ya Ras. Tuhan pasti punya rencana yang indah, aku siap dengerin cerita kamu sesiapnya kamu," lanjutnya dengan nada bicara lembut.


Aku bangkit dan memeluk Dinda erat, tak menyangka seseorang yang tak ku kenal baik ternyata mampu menenangkan saat kondisiku sedang terpuruk seperti ini.


Kutumpahkan semua rasa sesak di dada pada bahunya. Dinda mengusap punggungku seraya meminta aku untuk mengeluarkan semua sesak ini.


Dinda benar-benar sangat dewasa, karena mungkin usianya yang memang di atasku. Dia tidak memaksaku bercerita bahkan juga tidak menghakimiku.


"Terima kasih Din. Terima kasih karena masih mau ada di samping aku yang hina ini," lirihku di sela isak tangis.


"Shut! Kamu ngga boleh ngomong gitu. Aku tau kamu orang baik Ras, mungkin keadaan yang maksa kamu. Sekarang kamu ngga sendiri, ada janin yang sedang tumbuh di sini,” sambil mengusap perutku.


“Jaga dia ya, sayangi dia, jangan salahkan kehadirannya, ok?" pinta Dinda penuh harap.


Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan meski tak yakin. Dinda tak tau bagaimana sulitnya hidupku.


Setelah beristirahat sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Dokter di klinik menyarankan agar aku memeriksakan kehamilanku ke Dokter spesialis kandungan, lagi-lagi aku hanya mengangguk tak bersemangat.


Dinda sangat perhatian padaku. Bahkan dia rela membelikanku buah-buahan dan mengisi isi kulkasku yang sering kali kosong.


"Aku baru balik dari pengadilan agama Ras," jawabnya di sertai senyuman. Namun aku lihat ada sedikit kesedihan di matanya.


"Pengadilan agama? Ngapain ke sana Din?"


Setelah tau mengandung, refleksku saat ini senang sekali mengusap perut yang masih rata. Aku memakan buah-buahan yang sudah di kupas oleh Dinda.


"Menghadiri sidang putusan cerai aku Ras," jawaban yang membuatku terkejut.


Cerai? Aku bahkan tidak tau kalau Dinda sudah menikah? Aku tau dia wanita dewasa aku menebak usianya sekitar dua puluh lima tahun, meski tidak begitu yakin, sebab kami memang tidak pernah menanyakan soal umur.


"Emangnya kamu udah nikah Din?"


"Udah tiga tahun Ras."


"Hah! Terus kenapa cerai? Maaf Din, aku beneran penasaran, soalnya aku ngga pernah liat suami kamu selama ini, tau-tau dah cerai aja."

__ADS_1


Selama setahun menjadi tetangga Dinda belum pernah sekalipun aku melihat ada laki-laki yang menemuinya, jadi aku sedikit penasaran dengan kehidupan pribadinya.


Meski aku merasa malu karena rasa penasaranku yang tidak pada tempatnya. Sepertinya Dinda agak sedikit enggan menceritakan kisah rumah tangganya.


"Maaf Din," aku menggenggam tangan Dinda, sungguh tak ada maksud apa-apa sebab aku kira kehidupan wanita itu seperti layaknya wanita karier pada umumnya.


"Ngga papa Ras, aku ceritain karena aku anggap ini keinginan bayi deh," wanita lembut ini begitu tegar, aku tau di setiap senyumannya pasti menyimpan luka yang sangat dalam.


"Aku pas pindah ke sini memang sudah dalam proses cerai Ras, emang sedikit alot karena mantan suamiku kekeh ngga pengen pisah."


Dinda seperti menerawang ke belakang, mengingat kembali perjalanan hidupnya.


"Kalo kamu segan, ngga usah cerita Din, aku tau ini juga pasti berat buat kamu," pintaku.


Tak ada yang ingin mengalami perpisahan dalam sebuah pernikahan aku tau itu, jadi mengorek cerita tentang masa lalu Dinda aku yakin seperti mengorek luka lamanya.


"Aku mandul Ras," Seketika Dinda menangis.


Sudut hatiku seperti tercubit. Wanita sebaik dan setulus Dinda di beri cobaan oleh Tuhan dengan ke tidak mampuannya mengandung, sedangkan aku? Aku malah hendak membuang janin ini.


Kenapa kehidupan setidak adil ini? Apa ini cara Tuhan membuatku agar selalu bersyukur? Di mana Dia sangat tahu jika aku selalu mengeluhkan semua takdir hidupku.


"Suami kamu masih cinta sama kamu Din?" tanyaku.


Jika tadi Dinda bercerita jika proses perceraiannya cukup alot, aku yakin mereka sebenarnya masih saling mencintai.


"Iya, tapi aku ngga sanggup bertahan Ras. Kehidupan poligami ngga sesederhana yang aku bayangin," jelasnya.


Hemm ... Aku tau perasaan Dinda meski aku tidak mengalaminya. Aku menebak jika kemandulan Dinda menjadikan hadirnya orang ke tiga yang ternyata malah membuat hubungannya dengan sang suami menjadi renggang, Entahlah itu hanya pemikiranku saja.


Dinda masih sesenggukan di pelukanku, setelah tadi Dinda yang menenangkanku, sekarang ganti aku yang berusaha menenangkannya.


Pantas saja Dinda sangat ingin aku menjaga janin ini, sebab ia tau bagaimana rasanya ingin hamil tapi tidak bisa.


Namun hidup tak semudah itu, apa aku bisa menjadi single parent yang bahkan tidak pernah sekalipun terjadinya pernikahan?


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2