
Dilla mendatangi rumah sakit tempat Winoto di rawat. Wanita cantik itu mengenakan Jeans hitam ketat di padukan dengan kemeja putih bergaris, tak lupa sepatu hak tinggi untuk menunjang penampilannya.
Rita dan kedua anaknya sampai tertegun melihat penampilan Dilla yang terlihat berkelas.
Tanpa ingin berbasa-basi, Dilla segera mendekati ranjang Winoto dan duduk di bangku yang tersedia di samping ranjang.
"Om, kenalkan saya Dilla, temannya Raras," meski dirinya terbiasa memanggil Angel, tapi panggilan sahabatnya itu di keluarganya adalah Raras, jadi dia mengikutinya saja.
Winoto mengangguk, menjawab dengan terbata sesuai kemampuannya.
"Hari ini Om ikut pulang sama saya ya? Raras sedang pergi keluar kota," dusta Dilla yang membuat Rita berdecak sebal.
Tanpa memedulikan Rita dan anak-anaknya Dilla tetap berbicara pada Winoto.
"Om ngga perlu cemas sama keadaan Raras, yang pasti anak om baik-baik aja, om hanya perlu sehat biar Raras ngga ke pikiran ya," pinta Dilla.
Winoto menerawang memikirkan putri sulungnya. Putri yang selama ini selalu di sisihkannya.
Putri yang justru sering di abaikannya itu justru yang paling dia repotkan saat ini.
Tanpa terasa air mata lelaki paruh baya itu luruh, mengingat ke tidak adilannya pada sang putri. Dirinya benar-benar merasa malu pada Raras.
Dia bahkan selalu berharap Tuhan mencabut nyawanya saja agar tak menjadi beban bagi keluarganya.
"Anak kamu kabur, dia mentingin dirinya sendiri!" sela Rita sengaja mengatakan hal itu pada sang suami.
"Mah!" tegur Nayla yang merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan Raras, karena bagaimana pun ayahnya baru saja membaik.
Benar saja, Winoto kembali tersentak dan memegang dadanya. Rini yang berada di sebelahnya lantas membuat Pak Winoto bernapas secara perlahan, menenangkan batin orang yang tengah di rawatnya.
Dilla juga ikut berusaha menenangkan Ayah sahabatnya. Winoto berusaha mengatur napasnya, sungguh dia tak berharap berita apa pun mengguncang jiwanya.
Namun mau bagaimana juga jantungnya sudah tak sesehat dulu, berita tak menyenangkan sedikit saja bisa membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Tarik napas, hembuskan. Rileks Pak, tenang, mbak Raras baik-baik aja kok," ucap Rini.
Dilla berbalik menatap tajam ibu tiri cinderella. Mendekati wanita paruh baya itu, dan menarik lengannya kasar.
"Apa-apaan sih kamu!" elak Rita berusaha melepaskan cengkeraman Dilla.
"Tante jangan macam-macam! Aku bisa mempermalukan tante sekarang juga kalau tante bikin kesehatan om Win memburuk!" ancam Dilla.
"Suamiku harus tau kelakuan putrinya, salah saya di mana hah!" keduanya berada di depan ruangan ayahnya Raras.
Bahkan saat Dilla menarik tangan ibu mereka, Marsha dan Nayla tak memedulikan, sebab mereka lebih mengkhawatirkan kesehatan ayah mereka.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Dilla mengeluarkan ponselnya, mencari foto dan video di dalam galerinya.
Dengan seringaian tipis, dia menyerahkan ponselnya pada Rita.
Rita terbelalak melihat foto dirinya di ponsel Dilla. Bagaimana mungkin ada orang yang tau kelakuan buruknya yang sudah di sembunyikan dengan rapi.
"Bagaimana tanggapan kedua putrimu kalau tau kelakuan ibunya yang sangat binal?"
Glek, Rita gemetaran. Dilla kembali mengambil ponselnya.
"Jangan macam-macam sama aku kalau Tante ngga mau di benci anak-anak Tante!” Ancamnya di telinga Rita.
"Tunggu!" sergah Rita menahan Dilla yang hendak meninggalkannya.
Dilla berbalik dan melipat kedua tangannya, menunggu apa yang hendak di katakan oleh Rita.
"Hapus foto itu," pinta Rita memelas.
Dilla tersenyum miring, "ini adalah bukti buat mengancam Tante jika berani macam-macam sama aku."
"Tante ngga bakal macam-macam, tolong hapus gambar-gambar itu," bujuk Rita dengan raut wajah piasnya.
"Tante tenang aja, saya orang yang menepati janji. Asal tante ngga macem-macem, anak-anak tante ngga akan tau."
Setelah mengatakan ancaman untuk membungkam Rita, Dilla bergegas masuk kembali, meninggalkan Rita yang masih termenung di depan.
Dia sedang menerawang masa depan seandainya anak-anaknya tau akan jati dirinya. Rita menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan.
"Mah, kenapa?" tanya Marsha saat menyusul ibunya keluar.
"Engga papa Sha, ayo masuk!" dengan lemah Rita mengajak putri bungsunya kembali ke kamar rawat sang suami.
"Mamah ngga di apa-apain sama perempuan tadi kan mah?"
Rita hanya menggeleng dan tersenyum kaku. Dia benar-benar takut putri-putrinya membencinya. Satu yang baru di ingat Rita. Jika Dilla yang orang luar saja tau, apa mungkin Raras anak tirinya juga tau kelakuannya?
Rita mendekati sang suami yang terlihat sudah sedikit tenang. "Maafin mamah ya Yah." Hanya itu yang sanggup ia katakan.
Mereka semua keluar dari rumah sakit, Rita meminta Dilla agar ke rumah mereka dulu agar Winoto bisa istirahat sejenak sebab baru keluar dari rumah sakit.
Dilla menyetujuinya saja. Sesampainya di kediaman mereka, Rita mengajak Dilla berbincang di ruang tamu.
"Maaf Dil, apa ngga bisa kami tetap tinggal di sini?" pinta Rita.
Sesungguhnya dia sangat lelah jika harus berpindah-pindah tempat tinggal.
__ADS_1
"Terserah kalau tante maunya begitu," jawab Dilla malas.
Rita tentu saja berbinar mendengar jawaban Dilla. Namun segera termenung sebab perkataan Dilla seperti memiliki makna lain.
"Benaran kami bisa tinggal di sini Dil?"
Rita benar-benar membenci hidupnya yang harus mengemis pada orang lain seperti ini. Namun apa boleh buat, dia tidak memiliki apa-apa saat ini.
"Kalau tante mau di sini silakan, tapi om saya bawa tinggal di tempat yang udah Raras sewa. Soalnya Raras bilang ayahnya harus tinggal di sana, dia ngga pernah bilang tante sama anak-anak tante harus ikut."
Penjelasan Dilla spontan membuat tangan Rita terkepal. Bisa-bisanya anak tirinya itu hanya memikirkan ayahnya saja.
"Tapi kamu tau dia masih suami Tante, jadi kami harus bersama!" geram Rita.
"Loh tadi kan saya bilang terserah Tante. Saya kan ngga ngelarang tante, mau ikut ayo, engga juga ngga papa kan?"
Rita benar-benar di buat jengkel setengah mati oleh wanita cantik di depannya ini.
Obrolan mereka terjeda kala Adam datang. Lelaki itu semakin hari semakin berubah, raut wajahnya selalu terlihat kusut dan sikapnya berubah sedikit kasar belakangan ini.
Mungkin efek kandasnya hubungan dengan Raras yang tak jelas membuat perasaan lelaki manis itu kalut.
"Dil, kamu di sini?"
Mata Adam berbinar saat melihat Dilla, bukan karena tertarik dengan wanita cantik yang tengah menatapnya sinis itu, melainkan karena susahnya Adam jika ingin menemuinya.
Hingga pertemuan tak sengaja seperti ini seperti sebuah oase baginya.
Nayla yang melihat itu merasa geram dan sakit hati, di pikiran gadis itu Adam tertarik dengan sahabat kakak tirinya itu.
Nayla masih ingat jika dirinya di paksa untuk menutupi kedekatan mereka, terutama pada Lucky.
Dirinya merasa jika Adam tak menghargainya, dahulu saat masih menjadi kekasih Kakak tirinya, Adam bahkan mengenalkan sang kakak pada rekan-rekan kantor mereka. Dia tau dari Lucky.
Oleh sebab itu orang di divisinya semua mengenal Raras. Namun sekarang dirinya malah di minta menutupi hubungan mereka. Nayla benar-benar tak menerima jika Adam terbukti malu memiliki hubungan dengannya.
Perubahan Adam padanya juga sangat terlihat, dulu dia sangat cemburu saat melihat Adam sangat perhatian dengan Raras.
Nayla berharap Adam pun memperlakukannya sama seperti sang kakak, sayangnya harapan tinggal harapan, sikap Adam padanya dan pada Raras sangat jauh berbeda. Lelaki itu terkesan menjaga jarak dengannya.
Wanita cantik itu mengirim sesuatu di ponselnya, setelah itu dia tersenyum miring saat melihat pemandangan di depannya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc