Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 44


__ADS_3

Sesampainya di vila, Raras bergegas masuk, ia sangat ingim menghindari Rizki.


"Ya ampun Mbak Raras," suara Bu Halwa yang bergetar membuat langkah Raras menuju kamarnya terhenti.


"Iya Bu, kenapa?" tanyanya bingung.


Bu Halwa mengusap kedua tangan Raras dan membolak-balik tubuhnya, tak lama wanita paruh baya itu meluruh ke lantai sambil terisak.


Halwa menangis sesenggukan, itu adalah tangisan bahagia, sebab kekhawatirannya tak terjadi, tamu majikannya baik-baik saja.


"Kamu kenapa Bu?" Pak Rahmat mendekati sang istri.


Raras pun ikut berjongkok karena bingung dengan kejadian itu.


"Syukur Mbak Raras baik-baik aja pak, ngga tau kenapa malah ibu menangis, tapi hati ini jadi plong sekali pak," jelasnya dengan suara sesenggukan.


Raras dan Pak Rahmat tersenyum, wanita paruh baya berhati lembut itu membuat perasaan Raras terenyuh. Sebegitu khawatirnya Bu Halwa memikirkan dirinya.


"Aku baik-baik aja Bu, liat kan?" ujar Raras sambil berputar, ketiga orang di sana malah terpesona melihat gerakan Raras seperti seseorang yang tengah menari.


"Loh kok liatnya begitu, ada apa?" Raras kembali melihat dirinya dari bawah, takut ada yang salah denganny.


"Engga Mbak Raras. Mbak Raras cantik sekali," ucap Bu Halwa sambil menyeka air matanya.


Pak Rahmat membantu sang istri bangun dari duduknya, Raras mendekati Bu Halwa dan memeluknya.


"Terima kasih ya Bu udah mengkhawatirkan Raras. Raras sangat merindukan kasih sayang seorang ibu. Bu Halwa bisa memberikan perhatian yang di rindukan oleh Raras."


Suasana mendadak menjadi sendu, Rizki hanya bisa menunduk mendengar dan melihat pemandangan di depannya.


Rasa bersalahnya semakin dalam saat mendengar ucapan raras tentang ibunya.


"Ki, sini kamu minta maaf sama Mbak Raras," titah Bu Halwa pada keponakannya yang sedari tadi hanya diam.


Mendengar Bu Halwa memanggil Rizki sebenarnya ada rasa keberatan dalam diri Raras. Namun wanita hamil itu tidak ingin membuat kenyamanannya hidupnya terganggu karena masalah tidak penting ini.


Raras memang akan menghindari Rizki tapi tak membuat suasana hubungannya dengan Bu Halwa dan Pak Rahmat menjadi canggung.


Rizki sendiri masih bergeming, lidahnya kelu, dia takut Raras akan mengatakan apa yang di lakukannya pada paman dan bibinya.


"Cepet! Kok malah diam saja kamu Ki!" pekik Bu Halwa kesal.


Mau tak mau Rizki mendekati ketiganya dan berhenti di depan Raras, dia tak berani menatap wajah Raras.

__ADS_1


"Maafkan saya Mbak," lirihnya.


"Kamu ngomong sama lantai apa sama saya Ki?" sarkas Raras.


Mendengar pertanyaan Raras membuat Rizki menengadah menatap wanita cantik di hadapannya.


"Saya minta maaf Mbak Raras," hanya itu yang sanggup Rizki ucapan.


Lelaki itu tak berani mengungkapkan dengan jelas mengapa dirinya harus meminta maaf kepada Raras.


"Dengan syarat, tolong kamu jangan ke sini dulu Ki, terus terang saya ngga mau liat wajah kamu."


Permintaan Raras sontak membuat Rizki membeku. Bu Halwa dan Pak Rahmat hanya bisa mengernyit bingung.


Kedua suami istri itu penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan keduanya tadi. Sebab jika masalah terserat rasa-rasanya Raras tak mungkin sampai semarah itu.


"Bu saya lelah, saya tinggal istirahat dulu ya," enggan melanjutkan perbincangan, Raras memilih segera meninggalkan ketiganya.


Sepeninggal Raras Bu Halwa segera menarik sang keponakan untuk duduk di teras.


Rizki yang paham akan di sidang oleh sang bibi hanya bisa pasrah menuruti wanita paruh baya yang selama ini merawatnya.


"Apa yang kamu lakukan sama Mbak Raras Ki! Kenapa dia sampai melarang kamu ke sini?" Halwa berucap tajam pada keponakannya.


"Maafin Rizki Bi. Rizki sudah menuduh Mbak Raras macam-macam, Rizki pikir dia madunya Mbak dinda," jawab Rizki sambil menunduk.


Padahal bukan hanya itu yang di katakan Rizki pada Raras. Namun dia tak berani mengatakan jika dirinya juga telah menghina Raras.


"Astaga Rizki ... Rizki, masa iya kamu itu bodoh banget sih Ki! Sekolah sampai sarjana masa kaya gini aja kamu ngga paham. Ngga mungkin sekali Istri keduanya Pak Anjas tiba-tiba datang kemari," dengus Bu Halwa mendengar kebodohan keponakannya itu.


"Iya Bi, saat itu pikiran Rizki cuma tertuju sama Mbak Raras yang sedang hamil, jadi langsung menyambungkan hubungan Mbak Raras dan Mbak Dinda ke sana Bi," sesalnya.


Bu Halwa hanya bisa mendengus kesal. Pantas saja tamu majikannya tidak mau melihat Rizki lagi, jelas saja Raras tersinggung dengan tuduhan Rizki padanya, begitu pikir Halwa.


"Ya sudah Ki, lagi pula itu kesalahan kamu, terlebih lagi Mbak Raras saat ini sedang hamil. Lebih baik kamu ngga ke sini dulu," pinta Halwa tegas.


Rizki ingin sekali memprotes keinginan sang Bibi, jika hanya tak boleh bertemu Raras, baginya tak masalah. Namun jika suatu saat Dinda datang ke sini untuk menjenguk Raras, berarti dirinya tidak akan bisa bertemu dengan pujaan hatinya itu.


Sudah lama sekali Dinda tak mengunjungi vila miliknya. Rizki yakin wanitanya itu pasti akan ke sini mengingat ada tamunya di sini.


Oleh sebab itu Rizki bertekad akan memperbaiki hubungannya dengan Raras, karena dia tidak ingin kehilangan Dinda.


.

__ADS_1


.


Rizki kembali ke rumah, dia akan mendatangi vila dengan membawa singkong rebus untuk membujuk ibu hamil itu.


Dia yakin Raras tak akan menolak bawaannya sebab dia tahu jika Raras sedang mengidam makanan itu.


Dengan penuh percaya diri dan ke sok akraban seperti biasa, Rizki akan bertingkah seolah tak terjadi apa pun antara dirinya dengan Raras.


Lelaki itu mendatangi jendela kamar Raras yang untungnya masih terbuka.


Dengan mengetuk kaca jendelanya, Rizki melihat jika Raras tengah membaca buku tentang kehamilan sambil bersandar di kepala ranjang.


Mendengar ada yang mengetuk jendela kamarnya, Raras tentu saja menoleh. Matanya membulat sempurna saat melihat Rizki yang tidak tau malunya kembali menyambangi dirinya.


Tunggu.


Ibu hamil itu penasaran dengan apa yang di bawa Rizki di tangan kanannya. Ia yakin itu adalah makanan. Uap panas masih mengepul di makanan berwarna putih itu.


Liur Raras mendadak memenuhi rongga mulutnya. Raras tahu betul makanan apa yang di bawa Rizki.


Jelas sekali jika Rizki sengaja mengajaknya berdamai. Alih-alih merespons, Raras malah menjatuhkan dirinya di kasur dan menutup tubuhnya menggunakan selimut.


Rizki terkekeh melihat Raras yang merajuk seperti anak kecil. Batinnya merutuki mulutnya yang seenaknya menghina wanita cantik itu.


"Ini enak loh Mbak anget-anget. Kamu ngga kasihan sama dedeknya? Nanti kalau pas lahir ileran gimana? Ihh ... Masa cakep-cakep anaknya ileran," ledek Rizki agar Raras meresponsnya.


Berhasil.


Wanita hamil di balik selimut itu tengah menggerutu, dia membayangkan bayinya yang cantik ileran.


Meski Raras belum mengetahui jenis kelamin anaknya, dia berharap bayi yang di kandungnya adalah perempuan.


Andai di beri kesempatan bersama kelak, Raras berharap bisa melakukan banyak hal dengan anak perempuannya suatu saat.


Mengingat hal itu membuat perasaannya memburuk. Tanpa sadar Raras kembali terisak.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2