Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 58


__ADS_3

Adam di persilakan masuk oleh pengawal itu, saat memasuki kamar Raras, ternyata sudah ada Halwa dan Rizki yang menjenguknya di pagi ini.


"Kak Raras!" pekik Nayla sambil menutup mulut saat melihat perut buncit kakak tirinya.


Nayla mengerjap ke arah Halwa dan Rizki. Otaknya berpikir jika Raras telah menikah dengan Rizki.


Tak bisa di ungkiri batin Nayla tertawa puas saat dia tau jika lelaki yang bersama dengan Raras tak setampan kekasihnya, Adam.


"Kakak nikah ngga bilang-bilang kami? Kakak keterlaluan!" pekiknya pura-pura sedih.


Raras hanya memutar bola matanya malas. Raras tau ke mana arah pikiran gadis itu.


"Ras," Adam mendekat lalu berdiri di samping ranjangnya. Berdekatan dengan Nayla.


Rizki dan Halwa hanya menatap keduanya tanpa ada yang berani menyapa terlebih dahulu.


"Dam," Raras tetap tersenyum kala melihat lelaki yang masih di cintainya itu.


Sudut hatinya sangat merindukan Adam, bagaimana pun hubungan mereka terjalin cukup lama. Raras juga mengakui ucapan Lucky yang ternyata benar, Adam sekarang terlihat kacau.


Wajahnya tak secerah saat mereka masih berhubungan. Batinnya bertanya-tanya apa semua itu karena kandasnya hubungan mereka atau karena masalahnya dengan Nayla sendiri?


"Bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Adam saat melihat satu persatu wajah yang saat ini menatap ke arahnya.


"Ngga bisa mas, aku ngga mau kamu ngomong macam-macam. Lagian kamu ngga sopan! Itu ada suami kak Raras!" sela Nayla.


Rizki terbelalak saat mendengar ucapan wanita yang dia tebak adik dari Raras. Dia yakin jika yang di maksud wanita itu suami Raras adalah dirinya, meski tidak menunjuk dirinya secara langsung.


Raras juga bukan tanpa alasan menerima Adam datang menemuinya. Dirinya lelah berlari, ia ingin melepas semuanya dengan baik-baik, meski ia sendiri sangsi bagaimana cara melepaskan mereka.


"Bisakah kalian tinggalkan kami sejenak? Ada yang perlu aku bicarakan dengan Adam. Dan kamu Nay, aku ngga akan merebut Adam darimu, jadi tenanglah." Butuh tenaga ekstra bagi Raras meski hanya untuk berkata seperti itu, dirinya benar-benar lemah saat ini.


Meski mencebik kesal, Nayla tetap keluar saat di giring oleh Halwa dan Rizki.


Adam mendekat, duduk di sisi ranjang Raras. Bahkan Adam tak segan menggenggam tangannya.


Rasa sesak melanda kedua hati dua insan itu, tak bisa di ungkiri jika hati mereka masih saling mencintai. Namun takdir dengan kejam harus memisahkan mereka.


"Kamu baik-baik aja kan Ras? Aku minta maaf, karena menjadi pengecut. Maaf karena meninggalkanmu," tak kuasa air mata menetes di pelupuk mata Adam.

__ADS_1


Bayangan dirinya yang dengan kejam menghakimi sang kekasih menari-nari di otaknya. Bagaimana dengan tidak pedulinya dia malah melampiaskan kemarahannya kepada Nayla agar Raras merasakan sakit yang sama dengannya.


"Sudah Dam, ngga perlu ada yang di sesali. Takdir kita memang berakhir di sini, kamu ngga salah apa-apa, andai aku ada di posisi kamu, mungkin juga aku akan melakukan yang sama bahkan lebih mungkin.”


"Boleh aku meminta sesuatu? Aku tau itu hakmu, tapi aku tetap ingin memohon, tolong jangan jadikan Nayla pelampiasanmu, kalau kamu tidak mencintainya lepaskan dia, kalau kamu ingin bersamanya, tolong jaga dia baik-baik."


Inilah yang Adam suka dari Raras, wanita itu selalu memikirkan perasaan orang lain, meski orang itu sudah menyakiti hatinya.


"Benarkah dia anak Joan Ras?"


Adam ingin membuktikan ucapan Lucky yang mengatakan jika kemungkinan anak yang di kandung Raras adalah anak Joan.


"Iya," lirih Raras sambil mengusap perutnya.


Saat sadar kemarin, dia sudah di buat terkejut dengan keberadaan Billy meski lelaki yang sudah membuatnya hamil tidak ada di sana.


"Billy? Ba—"


Raras menggelengkan kepala, mengusir pikiran bodohnya yang hendak bertanya bagaimana lelaki itu bisa menemukannya. Ia terlalu bodoh, tentu saja tidak akan sulit untuk menemukan serangga kecil seperti dirinya bagi seorang Joan Alexander.


"Kamu ngga menganggap Tuan Joan bodoh bukan? Sehari kamu berada di sini pun kami sudah tau," balas Billy datar.


Dia merutuki dirinya, jika memang Joan tau akan keberadaannya mengapa lelaki itu tak menampakkan batang hidungnya? Apa ingin membalas dendam, atau menunggu waktu yang tepat untuk mengambil anaknya.


"Kamu bodoh jika lari seperti ini, sudah aku bilang hanya Tuan Joan yang mampu menolongmu. Dan sekarang? Lihatlah, kelakuanmu malah membuat semuanya jadi berantakan," sinisnya.


Raras ingin sekali memukul wajah Billy, lelaki itu sungguh tak berperasaan menurut Raras. Dia juga tidak tau mengapa dirinya harus selalu menjadi orang yang bersalah.


"Bilang saja pada Tuanmu, tinggalkan aku sendiri. Biarkan anak ini lahir. Kami akan menghilang dari kehidupannya. Aku tidak akan meminta pertanggung jawabannya atas anak ini," balas Raras sengit.


Billy terkekeh dengan salah tangan di masukan ke dalam saku celananya. Membuat Raras seketika berpikir mengapa dua orang atasan dan bawahan itu selalu bertingkah sama. Dia memandang Raras tajam.


"Anak itu jelas milik Tuan Joan, dia tak akan melepaskannya. Jadi jangan harap kami tidak akan membawanya," jelas Billy membuat Raras terbelalak.


***


"Ras, kamu kenapa? Apa kamu ... Maaf, hanya menjadi pelampiasan Joan?" tanya Adam yang menyadarkan lamunan Raras tentang kejadian kemarin.


Raras menatap sendu lelaki yang masih di cintainya itu. Jawaban apa yang sanggup ia berikan? Menjadi pelampiasan tentu saja, tapi jauh lebih dari itu, sudut hatinya menikmati juga kebersamaannya dengan Joan.

__ADS_1


"Kamu tau, aku akan selalu menjadi rumahmu untuk kembali. Kembalilah Ras, aku tidak akan meninggalkanmu lagi," lirih Adam sambil menggenggam tangan Raras dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku Dam, kini bukan hanya tentang kita, tapi ada anak ini, aku tidak akan pernah bisa kembali sama kamu. Kamu mungkin terima aku, tapi keluargamu?" Senyum miris menghiasi wajah pucatnya.


Adam menghela napas, ia sangat tau maksud Raras. Memang inilah takdir hubungan mereka. Apa dirinya berani melewati jurang yang di sebut ‘restu keluarga’


"Bisa kamu lepaskan tangannya? Aku rasa sudah cukup waktu kalian berbincang."


Nada itu terdengar dingin dan tajam, Joan berjalan mendekati keduanya di ikuti oleh Halwa, Rizki dan juga Nayla yang bingung dengan kedatangan Joan yang tiba-tiba.


Tanpa banyak kata Adam bangkit berdiri. Hatinya yang di liputi amarah karena lelaki itu ingin ia luapkan saat ini juga.


"Jaga kelakuan Anda," sergah Billy yang menghadang Adam tepat di hadapan Joan.


"Sialan! Apa yang kamu lakukan pada Raras! Kamu memang bedebah tak bermoral!" makinya.


"Ini rumah sakit, bisa kamu pelankan suaramu? Kamu mengganggu istirahat ibu dari anakku," sindir Joan tak pengaruh dengan ucapan Adam.


Adam merangsek maju ingin menerjang Joan, hingga ia harus di tahan oleh Billy dengan merangkulnya kuat.


Nayla sendiri terkejut dengan kenyataan bahwa ayah dari bayi yang di kandung Raras adalah Joan. Lelaki yang menjadi impian banyak wanita.


Kebencian meliputi hatinya yang semakin iri dengan kehidupan Raras.


"Kalian semua tolong keluar, aku ingin bicara dengannya," pinta Raras sambil menunjuk Joan dengan dagunya.


Adam terkejut dengan keinginan Raras, dirinya bahkan berhenti berontak. Tanpa menunggu lama, Billy bergegas menyeretnya keluar, di bantu oleh dua orang pengawal untuk meminta yang lainnya juga keluar.


"LEPAS! Ras aku mohon, tinggalkan dia, kembali lah padaku," ujar Adam di sela usahanya melepaskan diri.


Rizki dan Halwa hanya mengikuti keinginan Raras. Meski Rizki mendengus kesal karena selalu di minta untuk keluar.


"Apa kamu udah lelah berlari?" ucap Joan sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Jo ... Bisakah kamu melepasku?" pinta Raras yang sudah mulai lelah dengan kehidupannya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2