Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 49


__ADS_3

"Raras?" itu adalah suara dari orang yang di takuti Raras. Lucky.


"Kamu beneran Raras?" tanya Lucky tak percaya dengan pandangannya.


Wanita yang membuat patah hati sahabatnya dan membuat rumit hubungan keempatnya kini berada di depan matanya.


Mata Lucky tertuju pada perut Raras yang membesar. Dia memang mengetahui masalah antara Adam dan Raras. Namun tak menyangka jika masalah mereka ternyata serumit ini.


Dalam benak Lucky, lelaki bermata sipit itu berpikir, alasan di balik kandasnya cinta sang sahabat adalah karena Raras telah menikah secara diam-diam.


"Kamu kenal dia Luck?" tanya Anjas pada saudara sepupunya.


Lucky sendiri bingung bagaimana menjelaskan situasinya saat ini kepada sepupunya itu.


"Dia ... Temanku Njas," ujarnya ragu-ragu.


Anjas mengernyit heran, karena melihat tingkah Lucky yang malah menggaruk belakang kepalanya.


"Bisa kita duduk? Ngga baik buat ibu hamil berdiri terlalu lama," ajak Anjas.


Raras mengikuti permintaan Anjas dengan duduk berseberangan dengan dua orang lelaki di hadapannya ini.


"Ibu bikin kan minuman dulu ya Mas," Bu halwa berlalu meninggalkan ketiganya.


Halwa yakin Raras tidak akan di usir atau pun di marahi oleh Anjas. Sebab mantan suami majikannya itu sebenarnya orang baik.


Hanya saja, halwa merasa tak nyaman meninggalkan Raras seorang diri. Halwa yakin Anjas akan mengulik siapa Raras sebenarnya.


****


Di ruang tamu, keheningan melingkupi ruangan itu. Anjas hanya ingin Raras mengenalkan dirinya sendiri.


"Maaf kalau saya buat kamu ngga nyaman. Apa kamu temannya Dinda?" tanya Anjas berusaha mengakrabkan diri dengan Raras yang sejak tadi selalu menunduk.


Raras hanya bingung dari mana ia harus menjelaskan terutama saat ini ada Lucky.


"Iya Pak Anjas, saya temannya Dinda. Lebih tepatnya tetangga kosan Dinda."


"Apa dia baik-baik saja?" Bukannya menanyakan mengapa Raras saat ini berada di vila mantan istrinya, dia lebih memilih menanyakan kabar mantan istrinya yang masih sangat ia cintai.


Raras sendiri bingung dengan Anjas yang malah terlihat sendu.


"Dia baik. Sepertinya—" hanya itu yang bisa Raras jawab.


Jika hanya keadaan Dinda, Raras merasa jika sahabatnya itu sepertinya baik-baik saja.

__ADS_1


"Sudahlah Njas, biarkan Dinda bahagia." Lucky berusaha menenangkan sepupunya yang tengah gusar.


Karena hormon ibu hamil, mendadak perasaan Raras malah berubah kesal melihat kelakuan Anjas.


Bukannya Raras yang menjadi pusat perhatian mereka saat ini, malah berbalik Anjas yang menjadi pusat perhatian.


"Aku ngga bisa melupakan dia Luck, sakit banget. Ternyata hidup aku hancur tanpa Dinda," Anjas malah terisak.


Lelaki itu memang sengaja mengasingkan diri ke vila milik mantan istrinya itu.


Bukan tak tahu malu. Namun Dinda memang pernah berkata jika Anjas boleh berkunjung ke vila mereka.


Hanya saja Dinda memohon agar Anjas tak membawa istri keduanya ke vila miliknya yang memang di berikan oleh Anjas.


"Maaf, tapi aku akan menghabiskan beberapa waktu di vila ini. Apa tidak papa kita berbagi? Aku sangat merindukan Dinda," jelas Anjas menatap Raras dengan sorot mata memohon.


Raras dilema dengan permintaan Anjas. Jelas lelaki itu adalah mantan pemilik vila ini. Namun dia tak mungkin tinggal bersama dengan suami orang.


"Kalau Pak Anjas mau di sini silakan. Saya jelas ngga berhak melarang Bapak. Lebih baik saya menginap sementara waktu di vila sekitaran sini."


Anjas merasa tidak enak karena mengganggu kenyamanan Raras, akan tetapi dirinya benar-benar ingin mengenang kebersamaannya dengan sang istri di vila ini.


"Panggil saya Anjas aja, atau Mas. Jangan terlalu formal sama saya. Saya bukan atasan kamu," pinta Anjas.


"Kamu hamil Ras, lebih baik ... Kita bersama di sini," pinta Lucky.


Ia juga bingung dengan keadaan sekarang, sebab Anjas, sepupunya tengah terpuruk pasca perceraian, meski itu sudah lima bulan berlalu.


"Aku—"


"Saya ngga akan ganggu kamu. Saya mohon, saya hanya ingin istirahat sejenak di sini. Banyak orang di sini, tidak hanya kita berdua," sela Anjas.


Lelaki itu juga tak tega membiarkan wanita hamil seperti Raras menginap entah di mana. Apalagi vila di sekitaran sini letaknya berjauhan.


Raras menunduk, bingung, ia tidak ingin terlibat terlalu dekat dengan keluarga mantan suami sahabatnya itu. Namun menyewa vila lain juga bukan solusi yang tepat baginya, ia sudah terlalu nyaman tinggal bersama Halwa dan Rahmat.


"Baiklah," lirih Raras memberi jawaban, setidaknya ada Lucky di sini. Batin Raras.


***


Anjas sudah beristirahat di kamar utama vila milik Dinda. Raras dan Lucky sendiri menempati kamar tamu.


Raras merenung di samping vila sambil menatap hamparan kebun teh di depannya.


"Ngga baik ibu hamil melamun," sapa Lucky sambil membawakan segelas cokelat panas untuk Raras.

__ADS_1


Dia sengaja ingin berbincang dengan Raras tanpa ada Anjas di antara mereka. Rasa penasaran terhadap kehamilan Raras dan penyebab kandasnya hubungan sahabatnya dengan wanita itu menjadi pikiran Lucky.


Bukan tanpa sebab Lucky penasaran dengan kehidupan Raras. Karena pusaran itu menarik wanita yang di cintainya menjadi bahan pelampiasan. Meski Lucky sadar jika Nayla yang sengaja menceburkan diri ke dalamnya.


"Makasih," balas Raras dengan tersenyum tipis.


Ia menghela napas, Raras yakin Lucky akan menginterogasinya sekarang. Dirinya tengah menimbang apa harus berkata jujur dan meminta Lucky untuk tak mengatakan keberadaannya kepada Adam.


"Maaf Ras, apa ini anak Adam?"


Lucky tidak pernah tau masalah sebenarnya antara keduanya. Adam hanya bercerita jika Raras menghianatinya. Namun tak pernah secara detail pengihanatan seperti apa yang Raras lakukan.


Lucky saat itu menebak jika Raras berselingkuh dengan lelaki seperti pada umumnya. Namun menghilangnya Raras juga menjadi misteri.


Saat ini dirinya malah bertemu dengan Raras yang sedang dalam keadaan hamil dan tak ada seorang lelaki pun bersamanya.


Jadi Lucky mengambil kesimpulan sendiri, jika kemungkinan Raras hanya berbohong pada Adam karena kehamilannya lalu menghilang.


Namun dia juga berpikir, Adam bukanlah lelaki seperti itu yang akan merusak Raras. Lucky tau betul sifat lelaki itu, meski bukan kategori alim, tapi Adam tau cara menghargai wanita.


Jadi Lucky sangat penasaran dengan kandasnya hubungan mereka.


"Bukan," Raras tersenyum miris.


Wanita hamil itu mengusap perutnya yang membesar. Batinya berkata jika seharusnya Lucky tau jika Adam bukanlah lelaki berengsek.


"Maaf Ras, kalau aku lancang. Adam sangat terpuruk saat kamu menghilang. Bahkan sekarang dia terlihat sangat kacau."


Lucky tau betul betapa terpukulnya mantan sahabatnya itu atas menghilangnya Raras. Namun ia tidak mau menerima pertemanan merek kembali karena Adam masih berhubungan dengan Nayla.


Bukan maksud Lucky ingin merebut Nayla. Kalau saja kebersamaan mereka benar-benar atas dasar saling mencintai, Lucky akan menyerah mengharapkan Nayla.


Sayangnya, Nayla terlalu naif menurut Lucky yang sangat tergila-gila dengan Adam meski tau jika Adam bahkan tak mencintainya.


"Luck, bisa aku percaya sama kamu? Tolong jangan beritahu siapa pun tentang keberadaanku," pinta Raras.


Ia tak sanggup memendam kecemasan akan kehadiran Lucky dan Anjas hari ini. Dia sendiri bingung harus pergi ke mana lagi dengan perut yang sudah membesar seperti itu.


Lucky tengah menimang permintaan Raras, sisi hatinya ingin memberitahu Adam tentang keberadaan Raras tentang keberadaannya. Agar bisa menyelesaikan permasalahan mereka.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2