Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 20


__ADS_3

Tidurku sangat nyenyak, semua ketakutan seakan menguap begitu saja dari pikiranku karena sikap Joan semalam.


Joan ...


Mengingat lelaki itu membuat mataku terbuka seketika. Kuedarkan pandangan yang ternyata tak ada siapa pun di kamar ini selain aku.


Apa semalam aku hanya bermimpi? Kuusap tengkukku yang tiba-tiba merinding.


Ketukan di pintu kamar membuatku menoleh. "Non udah bangun?" Suara Ifa dari balik pintu.


"Iya sebentar Fa," sahutku segera beranjak membukakan ia pintu.


Ifa berdiri dengan membawa beberapa paper bag di tangannya.


"Ini Nona, dari Tuan Billy," dia menyerahkan paper bag itu kepadaku.


Billy? Aku ingat jika semalam Joan berkata bahwa dia akan meminta Billy untuk membawakan aku pakaian.


Untuk memastikannya aku memutuskan untuk bertanya pada Ifa, "Fa apa semalam Jo eh Tuan Joan pulang?"


"Saya ngga tau Nona, semalam setelah dari kamar Nona, saya langsung kembali ke kamar sendiri."


"Baju ini kapan Billy ngasihnya?"


"Tadi pagi Nona."


"Apa pagi tadi Joan ngga ada?" kalau memang pagi ini Billy memberikan aku pakaian seharusnya Joan pasti ada.


"Ngga ada Nona, Tuan Billy cuma kasih ini buat Nona lalu langsung pergi," jelas Ifa.


Jangan-jangan semalam itu aku memang bermimpi, kulirik jam di dinding kamar dan terkejut jika hari sudah sangat siang.


"Oh ya maka sih ya Fa, aku mandi dulu," aku harus segera pergi dari vila dan kembali ke kota.


Entah apa lagi masalah yang akan menimpaku jika keluarga ibu tiri dan kekasihku mencariku.


Ponsel.


Aku sampai melupakan benda penting itu, dari semalam aku belum melihatnya. Sejak memasuki restoran aku memang menonaktifkan nada deringnya.


Lagi-lagi banyak pesan yang masuk dari Adam dan yang mengejutkan ibu tiriku pun banyak sekali mengirim pesan. Belum ada satu pun pesan mereka yang kubaca.


Tumben, biasanya Nayla yang akan mencariku. Mungkin gadis itu masih sakit hati karena melihatku dan adam di rumah sakit.


Aku menggerutu kesal pada janji Billy yang bilang kalau aku tak perlu mencemaskan sesuatu, nyatanya dia tidak bisa membereskan masalahku yang bahkan lebih penting.


Ponselku kembali berdering, aku yakin Adam sudah tak sabar ingin menanyakan banyak hal padaku saat tau aku sudah online.

__ADS_1


"Iya Dam?" tanyaku tetap berusaha tenang, perut yang kosong serta beban pikiran yang sedari kemarin masih mengganjal tak sanggup membuatku menyiapkan banyak jawaban sepertinya, aku harus menghindari Adam terlebih dahulu.


"Kamu di mana Ras? Astaga Ras aku khawatir," suaranya setengah memekik padaku.


Lega rasanya, sepertinya dia memang mengkhawatirkan aku dari pada harus mengomel panjang lebar.


"Maaf Dam, nanti aku jelasin ya. Sampai ke temu nanti sore ya," aku tau jawabanku tak akan membuat kekasihku tenang, tapi aku benar-benar tak ingin bertengkar dengannya di telepon.


Aku memilih segera membersihkan diri sebab ingin segera mengetahui kondisi ayah saat ini setelah di pindahkan.


Saat akan keluar vila, Ifa memanggilku dan menyusulku dengan tergesa-gesa dari belakang. Aku baru sadar ternyata pemandangan di vila ini sungguh menakjubkan.


Udara masih terasa dingin meski matahari sudah berada di ubun-ubun. Benar-benar sejuk. Jika bukan karena ingin segera menjenguk ayah, aku tak akan keberatan berada di sini lebih lama.


"Non mau ke mana?"


"Maaf Ifa aku harus segera pulang, aku mau ke rumah sakit jenguk ayahku," sengaja aku menjelaskan kepergianku, siapa tau Billy atau Joan akan datang ke sini dan mencari keberadaanku.


Padahal nanti juga aku akan tetap mengabari Joan lewat pesan. Namun aku tak mau Ifa atau mang Adi terkena marah.


"Non mau naik apa?"


"Aku udah pesen taxi Online," sambil kutunjukkan layar ponselku pada Ifa.


"Nanti kalo Tuan Billy nanya aku jawab apa Non?"


"Ya sudah Non hati-hati ya. Jangan lupa sering ke sini ya Non," gadis manis itu sepertinya menyukaiku.


.


.


.


Aku menelefon Seza karena penasaran bagaimana Billy akan mengatasi permasalahanku di kantor.


Bila di kantor, aku yakin Billy bisa membantuku, paling tidak, aku menebak jika atasanku itu memiliki hubungan bisnis dengan Joan, bahkan mungkin karena tau hubungan kami.


Namun tetap saja aku akan memastikannya lewat Seza. Sampai dering ke dua panggilanku tak kunjung terjawab, mungkin teman kantorku itu sibuk.


Lebih baik aku tunda dulu sebab saat ini aku juga sudah berada dekat dengan rumah sakit.


Aku memilih menuju ke resepsionis untuk mengetahui keberadaan ayah dari pada harus bertanya pada ibu tiriku apalagi Nayla.


Pegawai rumah sakit memberitahu jika ayahku di rawat di ruang VVIP rumah sakit ini.


Tentu saja aku sangat terkejut sebab aku kira ayah akan di pindahkan ke kelas biasa seperti saat aku menandatangani surat pemindahan ruangannya kemarin.

__ADS_1


"Ini yang bener Mbak, kemarin saya sudah tanda tangan untuk ruangan ayah saya loh."


"Iya mbak, Pak Billy yang minta di pindahkan ruang rawat bapak Winoto dan semua biayanya juga sudah di lunasi," jelas perawat.


Di sana ada tandatangan seseorang yang sedari kemarin membuatku kesal.


Ada satu hal yang membuatku takut, apa ibu tiriku bertemu Billy? Bagaimana nanti aku menjelaskan siapa Billy pada Ibu tiriku dan juga Adam pastinya.


"Apa keluargaku udah tau Mbak?"


"Sudah Mbak," petugas rumah sakit tersenyum saat aku hanya bisa meninggalkan mejanya setelah mengucapkan terima kasih.


Aku berjalan gontai menuju lantai tempat ayahku di rawat. Astaga, Billy dan Joan bukannya menyelesaikan masalahku malah memperumitnya.


Yang lebih menyebalkan, mereka seenaknya saja memindahkan bahkan membayar semua biaya rawat ayah tanpa terlebih dahulu bertanya padaku.


Aku memang sedikit senang, tapi masalah yang akan aku hadapi lebih rumit lagi ke depannya.


Karena bagi mereka, hanya dengan uang semua masalah akan terselesaikan.


Kupijat pelipisku, perutku terasa perih, sejak kemarin malam aku belum makan apa-apa dan kepalaku benar-benar terasa sakit sekarang.


Pintu lift sudah terbuka, jantungku kembali berpacu dengan keras, saat langkah ini seperti menuju medan perang. Sebisa mungkin kuatur napas dan memikirkan jawaban apa saja yang aku berikan pada pertanyaan ibu tiriku nanti.


Berhenti sejenak di depan ruang rawat ayah sebelum aku membuka pintu dan tersenyum untuk melihatnya.


Ayah masih terjaga, selain ibu tiriku ternyata ada Nayla. Mereka bertiga sedang tertawa riang, terlihat sangat bahagia. Hingga tawa itu terhenti kala melihatku datang.


Tatapan ibu tiriku seperti sebuah anak panah yang sudah siap membunuhku, sedangkan ayah menitikkan air mata dari sudut pipinya, entah karena senang melihatku, atau sisa tawa bahagia mereka tadi.


"Sini kamu!" ajak ibu tiriku sambil menarik tanganku untuk kembali keluar.


Kuhempaskan secara kasar, aku kesini untuk menemui ayah bukan untuk bertengkar dengannya.


"Aku mau jenguk ayah!" geramku dengan suara pelan agar ayah tak mendengar, sebab kami masih di ruangannya.


"Mamah mau ngomong ma kamu!" dia juga menjawab sama pelannya denganku, meski penuh penekanan.


"Nanti ngomongnya, sekarang aku mau ngomong dulu ma ayah!" bergegas aku tinggalkan ibu tiriku yang menunjukkan wajah kesalnya.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2