
Melihat foto Lucky, membuat pikiranku menerawang, apa Dinda dan Lucky memiliki hubungan kerabat?
Aku memang tidak terlalu mengenal Lucky, hanya beberapa kali bertemu dengan lelaki bermata sipit itu. Jika dilihat dari segi wajah sepertinya bukan Dinda yang menjadi keluarganya.
Apa Lucky saudara mantan suami Dinda? Kenapa aku ngga fokus liat foto suami Dinda tadi ya, sejak melihat Lucky, pikiranku langsung buyar memang.
Sudahlah, badanku lelah, aku butuh istirahat, mungkin besok aku akan tanya-tanya mengenai Lucky.
Semoga Dinda tidak memberitahukan keberadaanku pada Lucky.
****
Pagi menyapa, aku masih bergelung di bawah selimut tebal ini. Hawa di sini sangat dingin, aku enggan sekali beranjak jika bukan karena perutku yang keroncongan minta di isi.
"Non, sudah bangun?" panggil Bu Halwa.
"Iya Bu, sebentar," baru juga beranjak dari tempat tidur, perutku sudah seperti di aduk-aduk.
Aku berlari menuju kamar mandi, dan berjongkok di depan kloset, ini adalah morning sicknes, aku tau mayoritas ibu hamil merasakan mual muntah di pagi hari.
"Non, Non Raras baik-baik aja?" Bu Halwa berteriak, aku rasa beliau panik saat mendengarku muntah-muntah tadi.
Setelah keluar semua isi perutku, kudekati pintu dengan lemas. Sungguh tenagaku habis tak tersisa.
Bu Halwa segera memapah diriku kembali ke ranjang. "Ya ampun, Non lagi isi?" tanyanya sambil mengusap perutnya sendiri.
Aku hanya mampu mengangguk, kepalaku pening. Jadi aku kembali merebahkan diri.
"Ibu buatin jus sama roti ya Non. Non harus tetep makan meski nanti di muntahkan lagi. Nanti Ibu isiin cemilan di kamar ini ya," hatiku menghangat, meski mereka hanya pekerja, aku bisa merasakan ketulusan dari perhatian Ibu Halwa.
Aku jadi merindukan ibuku, andai ibu masih ada, mungkin keadaanku tak akan seperti ini.
"Non kenapa sedih?" Bu Halwa sudah kembali dengan membawa nampan berisikan jus alpukat dan roti tawar beserta selainya.
Dia meletaknya di kasur, lalu pergi ke ujung meja yang berada di dekat jendela. Ternyata dia mengambil meja lipat yang sengaja di selipkan di sana.
"Non makan dulu, supaya ada tenaga lagi, nanti Ibu siapin air hangat ya buat mandi."
Mungkin Dinda biasa memperlakukan pekerja rumah tangganya selayaknya keluarga. Terlihat dari cara Bu Halwa yang tidak sungkan duduk di atas kasur bersamaku.
Bukan keberatan, aku malah senang jadi tidak terasa ada kesenjangan sosial dengannya.
"Nanti Ibu bawa Non keliling perkebunan, meski berkabut tapi sejuk Non," tawarnya.
Kulihat jendela di mana matahari bahkan tidak bisa menembus daerah sini.
Pemandangan yang lain adalah kepala-kepala para pekerja kebun teh yang sedang memetik pucuk teh.
"Ini perkebunan milik keluarga Dinda Bu?" tanyaku penasaran sebab Vila Dinda memang berada di tengah perkebunan teh.
"Bukan Non, punya orang lain, cuma vila ini aja milik non Dinda," jelas Bu Halwa.
__ADS_1
Aku tengah menimang untuk bertanya mengenai Lucky, saat tiba-tiba ada seorang lelaki berada di dekat jendela kamarku.
Terkejut tentu saja, takut juga, sangat tak sopan muncul di jendela rumah orang sembarangan.
"Bi, ada tamu?" tanyanya kepada Bu Halwa.
"Kamu ituloh Ki! Ngga sopan banget, lihat tuh Non Raras ketakutan," sergah Bu Halwa sambil memukul kepala lelaki yang di panggil Ki itu.
"Maaf Mba, perkenalkan saya Rizki keponakan Bi Halwa," sapanya sambil memberi hormat layaknya tentara.
Aku terkekeh dengan kelakuan lelaki yang kutaksir umurnya tak berbeda jauh denganku.
"Kamu tinggal di sini?" tanyaku sebab semalam aku tak melihat dirinya menyambutku.
"Mbak ... Mbak! Emang Non Raras ini Mbakmu! Panggil Non," sela Bu Halwa.
Rizki hanya tertawa sambil menggaruk tengkuknya kikuk. Aku menyela keduanya, rasanya sangat menyenangkan di sini, ternyata aku tidak kesepian seperti dugaanku semula.
Aku bertemu keluarga baru, semoga kehangatan ini mampu menguatkanku.
"Ngga papa Bu, biarin aja dia panggil saya apa aja, Ibu juga ngga perlu panggil saya Non, saya kan cuma tamu di sini Bu," pintaku.
"Ishh, ndak bisa Non, ini mulut udah kebiasaan," ucapnya sambil menepuk bibirnya.
Kami bertiga tertawa melihat tingkah konyol Bu Halwa.
"Ki, nanti ajak Non Raras keliling perkebunan ya, jangan jauh-jauh tapi, soalnya Non Raras lagi hamil," titahnya.
"Siap Bi, ayo Non saya ajak ke Curug!" ajaknya.
Sejujurnya ajakan Rizki sangat menggiurkan, bisa merendam kaki di kolam alami sangat menenangkan pastinya.
"Ngga papa Bu, saya akan hati-hati. Bolehkan Bu saya ke Curug sama Rizki?" pintaku seperti seorang anak pada ibunya.
Sikap Bu Halwa membuatku merasa seperti anak kecil yang tengah merengek minta di belikan permen.
Ya, Bu Halwa menolak keinginanku untuk pergi ke Curug itu. Dia menghela napas kalah, akhirnya dia mengangguk, membuatku refleks memeluknya.
"Makasih ya Bu Halwa, Raras takut bayinya ngeces kalo ngga di turutin," bualku.
Akhirnya aku punya alasan agar keinginanku di turuti, ngidam salah satunya.
"Iya Non boleh ke sana, tapi hati-hati ya, banyak batu berlumut. Ki kamu yang bener ya jagainnya," titah Bu Halwa.
Aku meminta Rizki menunggu di luar saat aku akan membersihkan diri.
Sungguh, baru semalam berada di sini aku sudah sangat nyaman di sini. "Kamu pasti bahagia jika bisa tumbuh di sini nak" gumamku seraya mengusap lembut perutku.
Rizki benar-benar menunggu di teras bersama Pak Rahmat. Keduanya tengah berbincang menggunakan bahasa daerah sini.
Ternyata banyak tanaman di halaman vila ini, sungguh sangat indah.
__ADS_1
Perasaan ini mengingatkanku akan mimpi yang dulu pernah kualami. Meski tak ada hamparan bunga Tulip sebagai latarnya.
"Apa kamu 'boy'" gumamku.
"Mbak Raras ngomong apa Mbak?" tanya Rizki yang tepat berada di depanku.
"Ah engga papa Ki, ini lagi ngomong sama si 'utun'" jawabku. Aku terkekeh mengingat nama yang di berikan oleh Dinda.
"Utun?" Rizki terkekeh, ternyata lelaki ini lumayan manis juga. Ishh mengapa aku jadi memperhatikan lelaki ini.
"Mbak!" Rizki melambaikan tangannya di depan wajahku. Membuatku berkedip berkali-kali.
"Yee si Embak, pamali ibu hamil ngelamun, Dede utun lagi kangen sama papanya ya," ucap Rizki sambil menunduk tepat di depan perutku. Seolah dia tengah berbicara dengan bayiku.
Kini aku yang menegang mendengar kata 'papa' meski aku yakin itu ungkapan wajar bagi seseorang kepada ibu hamil.
"Ayo Ki, keburu siang ini!" ajakku.
Tak ingin melanjutkan basa basi mengenai ayah dari bayi yang ku kandung.
Rizki menuntunku ke motor maticnya, aku bersyukur setidaknya bukan motor butut seperti kebanyakan motor yang terparkir di sepanjang jalan ini.
Mungkin itu adalah motor pengangkut hasil pemetikan daun teh.
"Pelan-pelan ya Ki," pintaku saat aku sudah berada di jok motornya.
"Siap Mbak, jangan lupa pegangan ya Mbak, kalo terlalu ngebut, ngomong ya mbak," pintanya.
"Iya. Tempatnya jauh ngga Ki? Kamu udah sarapan belum?"
"Ngga begitu jauh Mbak, sekitar lima belas menit perjalanan. Aku udah sarapan mbak, singkong rebus sama teh tubruk," jelasnya.
Saat Rizki mengatakan singkong rebus, tanpa terasa liurku menetes, mendadak aku menginginkan makanan yang sudah lama sekali tak pernah kumakan.
"Ki, nanti pulang, cari singkong rebus ya," pintaku.
"Hah! Kalo mbak mau, nanti aku bawain ke vila, kalo nyari susah jam segini mah Mbak," keluhnya.
Tak lama kami sampai di tempat tujuan kami, hawa di sini semakin dingin, banyak pohon rindang yang malah membuatku merinding.
Aku turun terlebih dahulu dan menatap sekitar, hingga tiba-tiba ...
"Apa enak mbak jadi yang ke dua? Senang bisa merebut kebahagiaan perempuan lain?" ucap Rizki tajam.
Aku terkesiap, mengapa tiba-tiba lelaki ini berkata seperti itu. Mendadak aku ketakutan, sorot mata Rizki yang tadi hangat tiba-tiba berubah tajam.
Apa yang akan dia lakukan? Aku berjalan mundur, saat dengan perlahan Rizki berusaha mendekatiku.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.