
Nayla kembali ke rumah dengan lesu. Tak ada tempat yang bisa ia tuju saat ini. Teman-temannya yang kebanyakan anak konglomerat seakan menjauhinya.
Gadis itu merasa kesepian. Ternyata lingkar pertemanannya sangat sempit, hanya sesuatu yang berhubungan dengan uang dan kemewahan maka temannya mau mengakui keberadaannya.
Nayla berhenti di depan pagar rumah sederhana yang di sewa sang kakak. Lingkungan ini sangat ramai, mungkin sebagian berkata lingkungannya termasuk nyaman, tapi tidak dengannya yang terbiasa hidup di kawasan elite.
Cahaya senja yang berwarna jingga sangat indah, Nayla memilih berbalik dan berjalan menuju taman yang tak jauh dari kompleks tempat tinggalnya.
Dia duduk di sebuah ayunan, tak lupa membuka media sosialnya untuk menggugah sebuah status.
Tak lupa gadis cantik itu memfoto dirinya sendiri dengan wajah sendu. Aplikasi dengan logo kamera menjadi pilihannya untuk membuat status.
Tak lama beberapa orang yang mengikutinya memberikan tanda suka pada unggahannya.
Salah satu temannya yang bernama Yuna memberikan komentar "Apa kabar Nay?"
Senyum terbit begitu saja menghiasi wajah yang tadi sendu. Sebuah perhatian yang lama tak ia dapatkan dari teman-temannya. Meski Yuna hanya salah satunya saja.
"Baik, kamu gimana Yun?" mereka saling berbalas di komentar.
"Lanjut di chat aja yuk!" ajak Nayla dengan semangat.
Sayangnya Yuna hanya memberikan tanda suka pada komentarnya yang pertama setelah itu terlihat sang teman sudah kembali offline.
Nayla mendesah, mengapa setelah jatuh miskin dirinya di jauhi oleh teman-temannya?
Apa ini salahku jika Kak Raras pergi? Dia yang kabur, aku tidak mengusirnya.
Apa salahku jika aku dan mas Adam berhubungan? Takdir membuat Mas Adam yang jatuh ke pelukanku.
Lantas mengapa dunia seakan tak adil padaku?
Gadis itu merenung memikirkan nasibnya, dia berbicara dalam hati menyalahkan takdir yang selalu menjauhinya dari kebahagiaan.
Ponselnya kembali bergetar, seseorang kembali memberi komentar pada unggahannya.
"Mas Lucky?" monolognya.
Lucky bertanya kabar Nayla, lelaki bermata sipit yang saat ini tengah berada di vila bersama Raras nyatanya tengah bersyukur. Semesta seperti memberinya kesempatan untuk melakukan saran Raras.
Sudah lama sekali Nayla tak menggugah apa pun di media sosialnya. Tentu itu kesempatan bagi Lucky untuk mengetahui kabar gadis yang masih di inginkan hatinya.
Mereka saling berbalas komentar, sama seperti membalas temannya Yuna, Nayla juga meminta pembicaraan mereka melalui aplikasi berkirim pesan.
Lucky : Ada apa Nay? Kenapa wajahmu sendu?
__ADS_1
Aku : Aku sedih Mas
Lucky : kenapa? Boleh Mas telepon?
Tak lama Lucky benar-benar melakukan panggilan kepada Nayla, dan entah kenapa perhatian kecil dari lelaki yang sudah di tolaknya itu malah membuat air matanya tumpah.
"Mas Lucky," lirih Nayla di tengah isakannya.
"Kamu kenapa Nay?" tak di ungkiri getaran cinta yang masih besar pada gadis itu membuat dada Lucky terasa sesak saat mendengar tangisan Nayla.
"Aku di pecat Mas, aku ... Aku ngga tau lagi mau kerja di mana. Kenapa harus jadi begini Mas," jelasnya dengan air mata yang semakin deras.
Lucky di seberang sana menghela napas, membayangkan beban berat yang sekarang di tanggung Nayla. Gadis yang dulu terlihat ceria, sekarang bahkan terlihat sayu.
Masih cantik, cuma aura wajahnya tak bersinar seperti dulu, begitu batin Lucky.
Lucky juga serba salah, dirinya tau ini sudah melewati batas wajar kedekatannya terhadap gadis itu. Jika dia melangkah terlalu jauh lagi, dia takut akan menimbulkan kesalahpahaman di antara hubungannya dengan Adam yang memang sedang memburuk.
"Coba bicara dengan Adam, siapa tau dia bisa memberi solusi yang baik buatmu Nay,"
meski tak suka dengan pemikiran itu, hanya menyebut nama Adam membuat Lucky merasa jika perhatiannya pada Nayla masih di anggap wajar.
Nayla mendesah, saat nama Adam tersebut, batinnya malah merancu. Dia takut karena keadaannya saat ini malah akan mematik pertengkaran nantinya.
Dia yakin Adam pasti akan mencari tahu permasalahannya kepada Ade sang mantan atasan sendiri.
Di tengah keterpurukan ini, sebenarnya dia sangat senang saat Lucky menghubunginya. Namun dia malu jika harus meminta bantuan pada lelaki yang dulu sering dia acuhkan.
"Ya sudah Mas, nanti aku bicarakan sama mas Adam," lirihnya.
"Mas ada di mana sekarang?" jika bisa Nayla berharap bisa bertemu langsung dengan Lucky, meski terkesan murahan, Nayla yakin Lucky pasti luluh saat melihat keadaannya saat ini.
"Aku lagi ada di luar kota Nay, kenapa?" balas Lucky sambil terkekeh.
Sungguh benar saran dari Raras, saat dulu dirinya mengejar Nayla, gadis itu seperti pelamar kerja, hanya mau menjawab tanpa mau saling berbincang.
Namun sekarang, bahkan gadis itu bertanya keberadaan dirinya, entah basa-basi atau apa, Lucky yakin Nayla saat ini sedang berada di masa keputusasaan.
"Enak banget mas bisa jalan-jalan," Nayla menebak jika kepergian laki-laki itu di akhir pekan seperti ini pasti sedang menikmati liburannya.
Lucky terkekeh dengan pemikiran gadis itu, membuat keyakinannya semakin kuat jika gadis itu kesepian.
"Andai saja Mas Lucky ada di sini—" lirihnya.
Kupu-kupu di perut Lucky beterbangan, membuat hatinya membuncah, sesuatu yang tak pernah Nayla lalukan, mengharap bertemu dengannya.
__ADS_1
Namun Lucky menampar lirih wajahnya, membuatnya untuk sadar, jika ia harus kembali ke dunia nyata, Nayla hanya membutuhkan sandaran, bukan membuka hati untuknya.
Perbincangan keduanya terpaksa putus saat Lucky mendengar suara keributan di depan kamarnya.
"Nay, maaf ya." Putusnya seketika mematikan panggilannya dengan Nayla.
Nayla menghela napas kasar. Bahkan Lucky pun meninggalkannya. Begitu pikir gadis itu.
"Ka! Kok kakak ada di sini?" sapa Marsha saat melihat sang kakak berada di taman dekat dengan rumah mereka.
Mampus!
Pekik Nayla dalam dalam hati. Mau tak mau sepertinya dia harus menghadapi sang ibu yang akan mencecarnya.
Bukan masalah di pecat yang Nayla khawatirkan. Namun tuntutan sang ibu yang pasti memaksanya untuk mendapatkan pekerjaan segera.
Baru saja hendak melangkah mendekati sang adik, ponselnya kembali berdering. Tertera nama sang kekasih yang meneleponnya.
Dia ingin menjerit, masalah datang padanya bertubi-tubi. Ia sangat yakin jika mantan atasannya telah mengadu kepada kekasihnya.
"Ada apa Ka?" tanya Marsha khawatir.
Gadis remaja itu menatap wajah sang kakak yang tampak risau.
"Bukannya seharusnya kakak pulang malam?" tanyanya bertubi-tubi membuat sesak dada Nayla.
"Jangan bilang kakak di PECAT!"
Marsha menghadang langkah sang kakak. Gadis remaja yang kebetulan baru pulang sekolah merasa tak tenang setelah melihat raut wajah sang kakak.
"Maafin kakak Sha," lirih Nayla. Sudah tak ada lagi tenaga gadis itu untuk menjelaskan kepada adiknya yang saat ini membelalak.
"Gimana ini Ka! Sekolahku sebentar lagi akan ada tur keluar kota dan aku sudah mendaftar. Aku ngga mau tau, pokoknya kakak harus usahakan!" bentak Marsha lantas berlari meninggalkan Nayla seorang diri.
Melihat kelakuan Marsha membuatnya seakan melihat kenangan dirinya, di mana dulu dia sering memaksakan kehendaknya kepada kakak tirinya dan kini berbalik padanya.
Beginikah perasaan Raras yang tertekan itu? Ingin memaki tapi pada siapa? Setidaknya kakak tirinya itu masih beruntung saat itu di kelilingi oleh sahabat dan kekasih yang menyayanginya, sedangkan dirinya hanya seorang diri memikul beban ini.
.
.
.
Tbc
__ADS_1