Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 57


__ADS_3

Lucky meletakan ponselnya di telinga, dia berjalan ke arah taman yang berada di dalam rumah sakit.


"Halo Dam," sapanya.


"Luck," jawab Adam dengan nada riang yang tak bisa ia tahan.


Dia sangat senang karena sahabatnya kembali menghubungi dirinya. Di mana waktunya sangat tepat, saat dia butuh tempat untuk bertukar pikiran.


Berbeda dengan Adam, Lucky sebenarnya masih enggan menghubungi mantan sahabatnya jika bukan karena Raras.


"Ada berita baik dan buruk buat kamu Dam," ucap Lucky datar.


"Ada apa Luck?" kini Adam merasa cemas dengan berita yang akan di sampaikan oleh sang sahabat. Meski Lucky mengelaknya.


"Berita baiknya, aku tau di mana Raras—"


"Sungguh? Di mana Luck, tolong cepat kasih tau aku," pinta Adam semangat.


Saat ini Adam tengah berada di halaman rumah sang ibu, karena sang ibu memintanya untuk pulang.


Ia tau apa yang akan di bicarakan oleh orang tuanya, terlebih lagi ada mobil milik Nayla di sana.


Adam sempat geram karena ia yakin Nayla memulai niatnya dengan ancamannya kemarin.


Namun saat dirinya hendak memasuki rumah, ponselnya berdering, tertera nama Lucky yang sudah lama tidak menghubunginya. Ia yakin jika ada berita penting yang akan di sampaikan sahabatnya itu.


"Aku tau dia di mana, aku juga ngga tau, mungkin ini kesempatan kamu untuk bertemu dengannya, karena aku yakin setelah ini—"


Kembali Adam hendak memotong ucapan Lucky yang terkesan bertele-tele. Ia ingin bertemu Raras, sungguh ada perasaan rindu yang sudah lama terpendam di hatinya.


"Kamu tau dia sedang hamil kan?" Adam mengangguk meski ia yakin jika Lucky tidak akan melihatnya.


"Kamu tau, sepertinya ayah bayi Raras adalah Joan Alexander," jelas Lucky meski ia sendiri belum yakin jika Joan adalah ayah dari bayi Raras.


"APA!!" pekikan Adam tentu saja membuat orang tua beserta Nayla dan ibunya terperanjat kaget lalu menoleh ke arahnya.


"I ... Itu ngga mungkin Luck. Katakan di mana Raras Luck, aku akan ke sana sekarang juga," mohon Adam.


Nama Joan Alexander yang menjadi biang kisruh di hubungannya dengan Raras tentu tak pernah terlintas di benak Adam.


Namun Adam menarik beberapa kejadian saat dirinya bertemu dengan sang kekasih dan orang besar itu di perusahaan tempat Raras bekerja.


Bagaimana lelaki itu menatap penuh minat pada sang kekasih dan pertemuan mereka saat itu ... Astaga.


Adam mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa Raras berhubungan dengan lelaki yang sudah memiliki tunangan? Pikir Adam.


"Tolong beritahu aku Luck, setidaknya aku perlu ketemu Raras saat ini," pinta Adam.

__ADS_1


Nayla yang mendengar sang kekasih menyebut nama kakak tirinya lantas mendekati sang kekasih yang sedang menelepon di teras depan.


Dia ingin bertanya ada apa dengan kakak tirinya, tapi dia segan. Harusnya hari ini mereka membicarakan nasib hubungan mereka yang lebih serius, bukan malah membicarakan sang kakak tiri yang sudah menghilang itu.


"Makasih Luck, aku berangkat sekarang," nada bicara Adam terdengar tajam di pendengaran Nayla. Mungkin laki-laki itu marah menurutnya.


Padahal kenyataannya, Adam tengah frustrasi karena Lucky memberitahu jika kemungkinan besar Raras pasti akan di pindahkan oleh Joan.


"Mah, tante maaf aku harus pergi sekarang," tak peduli penolakan sang ibu dan Rita, Adam mengayunkan kaki meninggalkan kediaman orang tuanya.


*****


Keadaan di rumah sakit pun tampak sedikit kacau, akibat Meisya yang terus menjerit kesakitan. Usia kandungannya memang hanya berbeda satu bulan dengan Raras, tapi belum waktunya melahirkan juga.


"Istri saya bagaimana Dok?" tanya Anjas cemas.


"Beliau mengalami kontraksi Pak, kita tunggu saja Dokter kandungannya."


Karena memang sudah di luar jam praktik Dokter kandungan, mau tak mau Anjas harus berusaha menenangkan sang istri sambil menunggu Dokter kandungan tiba.


Meski ia sangat kesal karena kelakuan sang istri hari ini, tapi saat melihat raut kesakitan Meisya iya juga menjadi tidak tega.


Lucky memilih mendatangi ruang inap Raras yang sudah di beritahukan oleh perawat. Saat berada di lorong menuju kamarnya, Lucky melihat dari kejauhan ada dua orang laki-laki berseragam jas hitam tengah berdiri di depan ruangan Raras.


"Maaf, ini kamar Saras Angelica kan?" tanya Lucky begitu sampai di depan kamar Raras.


"Saya temannya, apa Raras sudah siuman?"


Ingin Lucky menerobos masuk ke dalam, tapi ia tak mau memancing keributan, jadi lebih baik berkata dengan sopan saja.


"Maaf, kami harus menghubungi atasan kami dulu untuk menanyakan apa Anda boleh berkunjung atau tidak. Tolong sebutkan nama Anda," pinta salah satu pengawal.


Setelah memberitahukan namanya, Lucky di minta untuk menunggu di luar.


.


.


Perjalanan panjang yang membutuhkan waktu tiga jam itu di lewati Adam dan Nayla dengan penuh ketegangan.


Saat meninggalkan rumah orang tuanya, Nayla bersikeras mengikuti Adam yang berencana menemui kakak tirinya.


"Kamu bisa di sini aja ngga sih Nay! Aku perlu waktu bicara dengan Raras!" pekik Adam saat keduanya berada dalam mobil.


Bukan tanpa alasan Adam menolak keinginan Nayla untuk ikut. Sebab ia tahu betul keadaan Raras yang usia kandungannya pasti sudah besar. Entah akan jadi keributan seperti apa jika Nayla mengetahui keadaan Raras itu.


"Ngga mau! Pokoknya aku ikut, aku ngga mau kalau kamu kembali sama kak Raras," rajuknya.

__ADS_1


Adam menyugar rambutnya kasar. Ia benar-benar di buat jengkel oleh kekasihnya itu.


Saat ini keduanya sudah berada di dalam pesawat. Beruntung Adam masih bisa memesan tiket pesawat di jam terakhir keberangkatan. Mau tak mau dirinya mengajak Nayla, bagaimana pun keluarga harus tau keadaan Raras saat ini.


Hari hampir tengah malam saat Adam sampai di rumah sakit tempat Raras di rawat. Tentu saja jam berkunjung sudah di tutup.


Adam hanya bisa menghubungi Lucky saat sudah berada di sana.


"Luck, jam berkunjung udah habis, kira-kira aku masih ada waktu besok buat tengok Raras?" tanyanya khawatir.


Nayla sendiri bingung dengan ucapan sang kekasih, mengapa seolah Raras akan kembali menghilang? Pikirnya.


"Baiklah, aku akan cari penginapan di dekat sini."


Setelah percakapan berakhir, Adam bergegas melangkahkan kaki menuju seberang rumah sakit yang untungnya ada sebuah hotel. Meski murah, tapi cukup nyaman bagi Adam.


Berbeda dengan Nayla yang merasa tak suka dengan penginapan pilihan Adam.


"Mas, apa ngga bisa cari yang lebih bagus lagi?" rengeknya.


"Kamu mau syukur, enggak juga silakan cari sendiri Nay!" ujarnya lantas menutup pintu kamarnya.


Adam memesan dua kamar berbeda untuk mereka, meski dulu pernah melakukan hal fatal, Adam bukan lelaki yang akan melalukan kesalahan seperti itu untuk kedua kalinya.


Keesokan paginya Adam bergegas mengunjungi rumah sakit, setelah jam besuk di buka, Adam bergegas menuju kamar inap Raras.


Namun seketika langkahnya terhenti kala melihat ada dua orang berpakaian jas hitam seperti seorang pengawal menghadangnya.


"Permisi, saya mau bertemu Raras," ucap Adam pada dua penjaga.


"Maaf, Anda siapa?"


"Bilang saja saya Adam, saya yakin Raras akan mengizinkan saya masuk," balas Adam tajam.


Kedua pengawal suruhan Joan, saling berpandangan, setelah itu salah satunya pamit untuk memberitahu Raras tentang kedatangan tamunya.


Apa Raras mengizinkan Adam berkunjung? Bagaimana kehidupan Raras setelah persembunyiannya di ketahui semua orang?


Tunggu lanjutannya besok, menjelang akhir cerita ini ya. Sambil nunggu bolehlah mampir ke novel baru saya judulnya TOLONG JANGAN SALAHKAN AKU 🥰🙏


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2