Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 16


__ADS_3

Dia meletakan gelasnya. Aku sendiri belum menyentuh sama sekali suguhan yang di berikan pelayan.


Pelayan laki-laki itu masih berdiri tak jauh dari meja kami. Satu gerakan tangan Esterlita membuat sang pelayan meninggalkan kami. Esterlita mungkin tak ingin ada yang tau apa yang akan kami perbincangkan.


"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" nadanya sangat mengintimidasi.


Tatapannya sangat tajam seperti ingin menelanku bulat-bulat.


Aku berusaha menenangkan degup jantungku. Bersiap menjawab apa yang sudah otakku rancang sebelumnya.


"Hampir satu tahun," jawabku yakin.


Terkejut dengan jawabanku yang terkesan menantang. Oh maafkan aku Esterlita bukan maksudku menantangmu. Aku hanya bisa berkata dalam hati.


Dia tersenyum miring dan menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melipat kedua tangannya.


"Terima kasih sudah melayani tunanganku, sebaiknya kau lekas pergi dari sisinya sebelum masalah yang lebih besar menimpamu," itu adalah pengusiran di sertai dengan ancaman.


"Maafkan saya Nona Esterlita, saya tak bisa pergi begitu saja dari sisi Tuan Joan," jawabku dengan menyebut nama Joan dengan sebutan Joan. Aku berusaha berkata jujur hanya sebatas yang boleh dia tau.


Tatapannya berubah sengit, ternyata wajah yang selalu dia tampilkan bak malaikat di televisi bisa berubah seketika menjadi sangat menyeramkan. Dia sangat marah, terlihat dari wajahnya yang memerah.


"Jadi kamu mau jadi pelakor?" sinisnya.


"Maaf, saya bukan pelakor," benar bukan jika aku bukan pelakor? Harusnya dia tau singkatan pelakor itu apa.


Maaf Esterlita aku tak ingin di injak-injak, itu adalah masalahmu dengan Joan. Aku akan sangat berterima kasih jika kamu bisa membuat Joan melepaskanku. Ingin aku berkata seperti itu, sayangnya sesuai rencana aku hanya akan menjawab pertanyaannya tanpa menjelaskan lebih jauh.


"Cih! Percuma kamu membela diri, wanita murahan seperti kamu memang tak tau malu. Aku yakin kamu punya televisi di rumah, jadi kamu tau bagaimana hubunganku dengan Joan bukan!"


Sikap anggun yang sedari tadi dia perlihatkan jatuh juga berganti dengan kemarahan yang tak dapat dia sembunyikan.


Wajahnya benar-benar mengerikan, mengingatkanku pada sosok antagonis di dalam film.


"Maaf Nona Esterlita," hanya itu yang bisa aku katakan.

__ADS_1


"Jangan meminta maaf, aku minta kamu meninggalkan Joan! Dan berhenti jadi pelakor," geramnya.


"Saya sudah bilang kalau saya tidak bisa meninggalkan Joan. Lagi pula saya bukan pelakor," tegasku.


"Lalu sebutan apa yang pantas buatmu? Wanita murahan itu sepaket dengan julukan pelakor," dengusnya.


Astaga ucapan kasar itu sama sekali tak pantas keluar dari mulutnya. Kekagumanku terhadap dirinya jadi berkurang, meski aku tak menyalahi jika saat ini dia sedang terbakar amarah.


"Anda tentu tau apa singkatan dari pelakor bukan? Perebut Laki Orang, sedangkan saya tak merasa merebut Joan dari Anda," jelasku.


"Tak merebut tapi tak mau menyingkir, jadi apa sebenarnya tujuanmu?"


"Aku tak memiliki tujuan apa pun di antara hubungan kalian. Seperti yang Anda tau saya dan tuan Joan memang memiliki hubungan tapi bukan seperti yang Anda bayangkan, dan saya tidak berniat merebutnya dari Anda."


Spechless, sedikit bangga pada diriku yang bisa menjawab dengan tenang semua pertanyaan Esterlita tanpa meledak-ledak sepertinya.


Aku sudah menyiapkan mental sejak dulu bagaimana seseorang akan mencap buruk diriku. Aku tak menyangkal, hanya menegaskan jika pelakor itu berarti aku berniat merebut Joan darinya, sedangkan hubungan kami hanya sebatas bisnis, ya bisnis yang membagongkan sialnya.


Sayangnya aku tak bisa menjelaskan lebih rinci bagaimana hubunganku dengan Joan kepada Esterlita. Itu akan membuatku menyalahi perjanjian. Salah satu syarat di perjanjian itu adalah, siapa pun tak boleh mengetahui hubungan kerja sama kami.


"Berharap aku percaya dengan ucapanmu jika kau tak berniat menyingkirkanku? Lalu kau pikir aku mau terus di bodohi oleh kalian?"


"Lebih baik Nona bicarakan dengan Tuan Joan. Saya yakin beliau akan mendengarkan permintaan Anda. Jika ... Tuan Joan mau melepasku aku akan sangat berterima kasih pada Anda," kugenggam erat tas yang berada di pangkuanku.


Bodohnya aku kelepasan bicara padanya. Ah sudahlah, sepertinya hubunganku dengan Joan pun akan segera berakhir.


Dia melengos membuang muka, apa aku menyinggung dirinya? Apa mungkin dia sudah berbicara dengan Joan? Aku yakin Joan akan bereaksi terlebih dahulu padaku jika hubungan kami sudah tercium oleh tunangannya.


Itu hanya pemikiranku saja. Atau dia kehabisan kata-kata untuk memintaku pergi menjauh dari Joan?


"Kamu meledekku?" ah sepertinya dia tidak terlalu memperhatikan ucapanku yang terakhir. Dia lebih fokus pada ucapanku yang pertama yang mungkin melukai harga dirinya. Syukurlah.


Apa benar seperti tabakkanku jika dia sudah bicara dengan Joan? Tapi mengapa Joan bersikap biasa saja padaku.


"Ucapan yang mana yang terdengar meledek Nona?" sedikit terkekeh mendengar keluguannya. Astaga aku benar-benar mengajaknya berperang.

__ADS_1


"Ta- tadi, kamu berkata seolah aku tidak berani bicara dengan Joan," ucapannya terbata-bata. Bagiku saat ini dia terlihat lucu dan menggemaskan, menyedihkan sekali jika Joan menyakiti wanita seperti Esterlita.


"Hei denger ya, aku itu kasian sama kamu. Beruntung aku yang turun tangan buat menghentikan kegilaan kalian. Masih ada rasa kasihan di hatiku," ucapnya sambil menepuk dada.


Aku ingin tertawa terbahak-bahak mendengar nada bicaranya seolah seperti sedang membaca naskah. Untuk menyamarkan tawa sengaja kubatukkan diri, dan dia terlihat kesal.


"Kamu benar-benar meledekku!"


"Maaf Nona, saya tidak bermaksud meledek Anda. Terima kasih atas rasa belas kasihan Anda terhadap saya, saran saya lebih banyak luangkan waktu Anda bersama dengan Tuan Joan, belum tentu setelah melepas saya tuan Joan tak akan tergoda wanita lain di luaran sana," saranku sebagai balasan terima kasih karena rasa kasihan yang dia katakan.


Wanita itu menghela napas, sepertinya banyak hal yang tengah dipikirkan olehnya. Kariernya yang cemerlang tentu tak bisa membuat wanita itu bisa meluangkan banyak waktu untuk tunangannya. Joan pasti akan mencari pelampiasan lain meski sudah melepasku.


Mereka berdua adalah orang-orang sibuk, mencari waktu untuk berdua pasti sangat sulit. Aku bergidik ngeri saat membayangkan kehidupan orang kaya ternyata tak seindah yang kubayangkan. Catat, tidak semua memang, tapi orang-orang yang kukenal tak jauh-jauh dari keadaan mereka berdua sekarang.


"Aku cuma berharap satu hal dari kamu, cepat pergi tinggal in Joan. Hubungan kami tak sesederhana seperti yang kamu pikirkan. Bukan sekedar dua orang yang saling mencintai dan hadirnya lalat pengganggu sepertimu." Hinanya padaku.


"Hubungan kami adalah hubungan bisnis dari dua keluarga besar. Aku yakin kamu paham hubungan rumit seperti itu."


Ya Esterlita benar, aku sering melihat di drama-drama hubungan percintaan para keluarga konglomerat tak jauh berbeda dari sekedar hubungan penguat bisnis dua keluarga.


Menyedihkan sekali bukan? Bahkan masa depan mereka sudah di atur oleh para tetua keluarga mereka. Terkadang aku bersyukur hidup menjadi orang yang biasa saja.


"Beruntung aku yang mengetahui hubungan gelapmu dengan Joan. Karena jika keluarga Joan atau keluargaku tau terlebih dahulu, maka di pastikan orang tak akan pernah tau jika orang sepertimu pernah hidup di dunia ini. Semua yang berhubungan denganmu dan mengenalmu akan mereka habisi sampai ke akar-akarnya."


Itu memang hal yang sejak dulu aku takutkan, aku akan menghilang dari dunia ini bersama seluruh orang yang mungkin mengenalku. Tak ter bayangkan betapa sialnya mereka yang kenal denganku.


Aku tak tau benar atau tidak ancaman yang di ucapkan oleh Esterlita. Namun ucapannya benar-benar membuat bulu kudukku merinding.


Se-mengerikan itukah kehidupan mereka? Saat keheningan tengah melingkupi perbincangan kami. Tiba-tiba pintu telah di buka oleh seseorang yang tentu saja membuatku dan Estelita menoleh.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2