
Saat ini usia kandungan Raras sudah memasuki usia tujuh bulan. Wanita hamil itu tampak lebih berisi, dan terlihat keibuan.
Raras juga bersyukur karena memaafkan Rizki. Sebab berkat lelaki itu Raras ada yang mengantar memeriksakan kandungannya.
"Gimana Mbak kabar si dede?" tanya Rizki yang berada di balik kemudi.
"Sehat Ki, gerakannya aktif, bibi yakin anak Mbak Raras laki-laki," jawab Halwa yang duduk menemani Raras di kursi penumpang.
Berkat Rizki Raras tidak perlu memeriksakan kandungannya seorang diri dengan menyewa Taxi Online. Sebab Rizki sendiri mau mengantar ibu hamil itu dengan suka rela menggunakan mobil kantornya.
Anak dalam kandungan Raras juga tidak jelas saat akan di lihat jenis kelaminnya. Namun Raras tak mempermasalahkan sebab baginya asal bayinya sehat dan aktif dia sudah sangat bersyukur.
"Mbak Raras mau mengadakan acara tujuh bulanan?" tanya Bu Halwa mengingatkan acara yang umum di selenggarakan seorang ibu hamil pada kehamilannya yang ke tujuh bulan.
Raras mendesah, seharusnya acara seperti itu dia di kelilingi oleh orang-orang yang ia sayangi, ayah, dan para sahabatnya.
Meski saat ini dia berada di antara orang-orang baik, tetapi Raras tetap merasa ada yang kurang.
Bahkan ia tidak pernah menelepon Dilla, sebab dia masih takut jika Dilla masih di buntuti oleh orang-orang suruhan Joan.
Ah Joan, mengingat lelaki itu membuatnya semakin sedih. Apa suatu saat Joan mau mengakui anaknya ini?
Akan seperti apa wajah anaknya nanti? Seperti dirinya atau seperti Joan.
Raras berharap paras anaknya kelak menuruni wajah Joan saja, sebab dia akui jika paras lelaki itu sangat menawan. Namun Raras berharap sifatnya tak menuruni Joan.
"Mbak Raras kenapa? Kok kelihatan sedih? Apa rindu keluarga?" tanya Halwa yang melihat raut wajah Raras yang berubah sendu.
"Ngga papa Bi, rindu pasti, tapi aku harus menjaga anak ini ..." lirihnya.
Banyak pertanyaan di benak Rizki dan juga Halwa mengenai perkataan Raras. Namun keduanya tidak ingin terlalu ikut campur jika bukan Raras sendiri yang bercerita.
Sampai saat ini pun mereka tidak tau siapa suami atau ayah dari bayi yang di kandung Raras. Tak ada yang berani bertanya, mereka takut menyinggung Raras.
"Bi nanti turun di pasar ya, aku tadi liat buah stroberi kayanya seger banget," pinta Raras dengan senyum terpaksa.
Raras tau jika saat ini Halwa dan Rizki mencemaskan keadaannya yang tiba-tiba berubah sedih.
"Iya Mbak, sekalian belanja bahan makanan ya, ngga papa kan?"
"Iya Bi, sekalian beli belut ya Bi, aku mau makan itu juga Bi."
Rizki memarkirkan mobilnya di depan jalan masuk pasar. Dirinya lebih memilih memarkir mobil di seberang pasar agar lebih cepat jika ingin kembali nanti.
"Mbak Raras habis beli buah langsung kembali ke mobil aja ya. Tunggu di sini, bibi masuk ke pasar soalnya."
__ADS_1
"Ki kamu antar Mbak Raras, jagain ya, soalnya licin," titah Halwa kepada sang ponakan.
"Iya Bi, tenang aja. Ayo mbak!"
Refleks Rizki menggandeng tangan Raras untuk menyeberang jalan menuju pasar. Raras pun merasa tak keberatan dengan perlakuan Rizki.
Pedagang buah yang menjual stroberi ada di pinggir jalan, membuat Raras tak perlu bersusah payah berdesakan dengan banyak orang.
"Mas Rizkiiiii," ujar salah satu wanita dengan dandanan hebohnya.
Wanita itu berhenti di depan Rizki, sedangkan Raras sedang sibuk memilih buah lainnya jadi tidak tau ada seseorang yang menghampiri mereka.
"Mas kamu ngapain ke sini? Aku kangen loh, kok Mas Rizki ngga pernah kelihatan di kantor?" ucap wanita itu manja.
Rizki berdecak sebal pada wanita yang menatapnya penuh minat ini.
Raras berbalik dan hampir tersedak saat melihat wanita yang tengah berbicara dengan Rizki. Wanita itu seperti tengah merajuk dengan menggoyang-goyangkan lengan Rizki.
Wanita dengan dandanan menor serta mengenakan emas yang hampir memenuhi tubuhnya. Penampilannya sungguh sangat mencolok.
Terlebih lagi wanita bertubuh semok itu mengenakan kaos merah menyala.
"Ayo Ki!" ajak Raras setelah membayar belanjaannya.
"Hah! Kamu siapa?" tanya wanita menor itu.
Wanita itu menatap Raras dari ujung kepala hingga ujung kaki dan berhenti pada perut buncit Raras.
Dia lalu menatap Rizki dengan mata sendu. Rizki yang melihatnya bukannya iba justru malah merasa jijik.
"Udah kan? Ayo pulang nanti kamu ke capean," ujar Rizki tanpa memanggil Raras dengan embel-embel 'Mbak'
Rizki sengaja melakukan hal yang saat ini di pikirkan wanita menor itu. Yap wanita itu berpikir jika Raras adalah istri Rizki yang saat ini tengah hamil besar.
"Tunggu Mas Rizki! Ini—" ucap wanita itu tercekat.
"Iya!" ketus Rizki segera memutus ucapan wanita itu.
Rizki menggandeng tangan Raras yang sejak tadi kebingungan dengan sikap keduanya.
"Tunggu!" wanita itu mengejar dan berhenti di hadapan keduanya.
"Kamu kenapa tega Mas Rizki, aku udah lama suka sama kamu kenapa kamu—" wanita itu tak melanjutkan ucapannya malah menangis seperti anak kecil, membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Ini kenapa Ki! Malu loh aku," bisik Raras yang kesal dengan kelakuan wanita di hadapannya ini.
__ADS_1
"Dia orang yang mengejar-ngejar aku mulu mbak, untung kantor pindah in aku, jadi ngga liat lagi muka dia," balas Rizki dengan berbisik juga.
"Mbak Ningsih jangan begini. Mbaknya ngga malu dilihatin orang? Saya pulang dulu ya, kasihan istri saya kepanasan!" dusta Rizki membuat tangisan wanita menor itu berhenti dan membuat Raras terbelalak.
Hah istri? Aku?
Ningsih yang menangis membuat riasannya yang tak tahan air itu luntur seketika mengepalkan tangan. Dadanya naik turun menahan amarah.
Raras sendiri sebenarnya sedikit kesal dengan kelakuan Rizki yang lagi-lagi seenaknya. Namun kekesalannya berubah menjadi rasa ingin tertawa saat melihat wanita di hadapannya yang terlihat lucu.
Maskara yang luntur membuat riasan mata wanita itu menghitam di sekitar matanya. Penampilan wanita itu antara lucu dan horor menurut Raras.
"Kamu kok gitu Ki! Suami saya sudah meninggal Ki, saya janda kaya, banyak yang mau sama saya Ki! Tapi saya maunya kamu. Ngga usah sok-sokan menolak saya kamu Ki!" pekiknya marah.
Ningsih akhirnya membuka topeng arogannya. Rizki yang malas dan sebal karena menjadi pusat perhatian pengunjung pasar akhirnya menarik Raras pergi tanpa memedulikan wanita itu.
Di dalam mobil akhirnya Raras meluapkan rasa lucunya dengan tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ngga kesambet kan Mbak?" sindir Rizki yang tau dari maksud tertawaan Raras.
"Janda kaya loh Ki! Kamu ngga liat emasnya aja kaya habis ngerampok toko emas. Nyesel kamu nanti," ledeknya.
"Dih ogah Mbak! Siapa juga yang mau ma dia. Amit-amit saya mah, bisa mati muda," ucap Rizki kesal.
Lagi-lagi Raras tertawa mendengar gerutuan Rizki. Beruntung wanita itu tak mengejar mereka. Namun saat meninggalkannya tadi, Raras dan Rizki masih mendengar Ningsih memaki dan menghina Rizki.
Bu Halwa masuk ke dalam mobil dan mengernyit heran melihat Raras yang masih tertawa.
"Ada apa Mbak?"
"Itu Bu, ada janda kaya raya mau sama Rizki tapi ini anak malah nolak."
"Janda kaya raya?" gumam Halwa.
"Ningsih Bi," jelas Rizki sambil bergidik.
Halwa hanya menggeleng mendengar cerita keduanya. "Katanya janda tiga kali ya Ki?" tanya Halwa.
"Buset tiga Bu?" sela Raras.
"Iya ih, makanya aku mah ogah mbak sama dia, kabar-kabarnya suaminya di jadikan tumbal semua,” jelas Rizki.
.
.
__ADS_1
.
Tbc