Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 35


__ADS_3

Mata itu sungguh menghipnotis, apa ini sungguh keinginan mas Adam?


Lelaki itu mendekatiku perlahan. Kukira ia akan menciumku tapi ternyata dia menoleh ke samping, mengecup secara perlahan leherku.


Terasa sedikit sakit saat Mas Adam menggigit leherku. Ada rasa asing yang tak pernah kurasakan.


Kupu-kupu di perutku menggelepar, suara de*sa*han itu lolos begitu saja, saat dengan liarnya Mas Adam memainkan bukit kembarku.


Aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti, toh aku mencintainya, jika ia melakukan ini dengan tidak sadar, maka aku akan tetap menuntut tanggung jawabnya.


Mas Adam sama sekali belum menciumku, dirinya hanya fokus pada leher dan tubuh bagian atasku yang sudah terbuka.


Tubuh bagian atas kami sama-sama terbuka, sungguh perasaan asing ini menuntut di tuntaskan. Aku terbuai oleh rayuan dosa yang indah.


Namun itu hanya hasratku, nyatanya di tengah pergulatan panas kami, Mas Adam justru menghentikan gerakannya.


"Nayla!" pekiknya terkejut. "Ma‐maafkan aku Nay," lanjutnya.


Ia bergegas bangkit dan duduk di tepi ranjang, memunggungiku. Dia menarik rambutnya dengan dua tangan, seolah frustrasi. Sepertinya dia menyesal.


Aku yang kesal karena hasrat ini tak tuntas hanya bisa menangis getir. Kututup tubuh atasku dengan selimut.


Meski hanya sebatas itu, tapi dia sudah menyentuhku, menyentuh area pribadiku. Aku terluka.


"Nay," Mas Adam berbalik saat mendengar isakanku.


"Nay, maafin aku, aku khilaf," ucapnya menyesal. Sorot matanya memerah, mungkin karena efek mabuk atau mungkin dia ingin menangis.


Namun dia salah, aku terisak bukan karena dia memaksaku, justru aku sudah siap melakukannya, hasrat yang tergantung seperti ini sungguh sangat menyiksa, aku ingin di tuntaskan, tapi malu.


Meski aku belum yakin jika Mas Adam sudah seratus persen sadar, tapi tak mungkin aku yang menerjangnya duluan, di mana harga diriku, jika sampai ia mengingatnya.


Dia memelukku dengan tubuh bagian atasnya yang masih terbuka, ‘Mas kau malah menyiksaku jika seperti ini.’


"Maafin aku Nay, sungguh, aku ngga bermaksud ngelakuin ini ke kamu," setetes air mata jatuh di pundakku, sepertinya dia menangis.


"Tapi Mas sudah melihatnya, aku ngga akan punya keberanian menatap laki-laki lain mas, aku kotor," ujarku pura-pura marah.


Biar saja Mas Adam merasa bersalah, akan aku taklukan dia karena rasa bersalahnya.


"Kamu ngga kotor Nay, kita bahkan belum ..." dia tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Tapi Mas sudah melihatnya, mas udah ... Melecehkanku," lirihku di akhir kalimat.


Dia memeluk tubuhku erat, dan hanya ungkapan maaf yang dia ucapkan berulang-ulang.


"Mau kah, mas Adam berjanji ngga akan ninggalin aku?" pintaku.

__ADS_1


Kurasakan tubuh Mas Adam menegang, dia lantas mengendurkan pelukannya.


"Nay aku ..." dia bimbang, mungkin memikirkan kak Raras.


"Apa Mas memikirkan kak Raras? Lalu bagaimana sama aku mas?" pekikku di sertai air mata.


Sungguh aku terluka, dia benar-benar bajingan jika mencampakkan aku saat ini.


"Baiklah Nay, nanti kita pikirkan lagi setelah tenang, lebih baik kita tidur, aku akan sewa kamar lain," ucapnya seraya bangkit dari ranjang.


"Aku sudah memesan kamar lain Mas, Seharusnya kamar itu adalah kamarku, mas bisa tidur di sana," jelasku.


Dia mengambil kemeja dan keluar setelah mengambil kunci di atas meja.


Aku merosot merebahkan diri, akhirnya semuanya tercapai, aku bisa menaklukkan mas Adam, meski dengan paksaan.


Kak Raras, aku ingin lihat bagaimana wajah terlukamu nanti.


*****


Keesokannya, aku di kejutkan oleh telepon Marsha, karena tasku berada di kamar yang semalam di tempati mas Adam, tentu saja aku tidak tau jika ponsel itu selalu berdering.


"Maaf Nay, aku ngga denger ponsel kamu bunyi," ucap Mas Adam.


"Ngga papa Mas, tapi ini Marsha ada masalah, dia minta aku ke sekolahnya sekarang," terus terang aku sedikit panik, bagaimana pun dia adikku satu-satunya.


Entah ada masalah apa, sehingga aku di minta ke sekolahnya.


"Mas, boleh aku pulang sekarang?" pintaku.


"Ayo Mas antar!" aku cukup terkejut karena mas Adam rela mengantarku pulang.


"Tapi Mas, kerjaan Mas?" tanyaku.


"Biar nanti di tangani Lucky dulu, kalau udah beres, aku balik lagi ke sini," jelasnya.


Senang? Tentu saja, Mas Adam kini lebih hangat padaku, semoga dia memikirkan kembali kata-kataku semalam.


Tapi bagaimana aku menghadapi Kak Raras nanti ya? Sejujurnya aku tidak ingin bersikap seolah aku yang merebut Mas Adam.


Aku ingin Mas Adamlah yang bertekuk lutut padaku, jadi saat Kak Raras akan menghujatku, aku bisa membalikkan keadaan. Jangan sampai aku di cap sebagai perebut, terus terang nama baik bagiku adalah segalanya.


Saat orang-orang menganggapmu baik, akan banyak orang di sisimu dan menyukaimu, aku ingin seperti kak Raras si baik hati itu, meski terasa sulit karena itu bukan diriku.


Selama perjalanan, aku dan mas Adam sama-sama membisu, aku enggan memulai percakapan, sebab banyak hal yang sedang aku pikirkan, hingga tak sadar kami sudah berada di depan sekolah Marsha.


Aku terkejut karena mendapati mobil kak Raras di parkiran, astaga, terus terang aku belum siap bertemu dengan dia, apalagi bersama dengan kekasihnya.

__ADS_1


"Kenapa berhenti Nay?" tanya mas Adam bingung.


Mas Adam lantas mengikuti arah pandangku, tiba-tiba tangannya terkepal.


"Ayo!" ajaknya lantas menggandeng tanganku.


Apa ia sengaja melakukan ini untuk memanas-manasi Kak Raras? Ada rasa senang tapi juga segan.


Aku tak tau apa masalah mereka, tapi kalau seperti ini keadaannya bisa jadi aku malah di tuding menjadi perusak hubungan mereka.


Dengan langkah panik, aku dan Mas Adam berjalan tergesa-gesa menuju ruang kepala sekolah.


Saat kami akan mengetuk pintu, ternyata pintu di buka dari dalam, menampilkan sosok Kak Raras di sebaliknya.


Shock sudah pasti, dia melirik tautan tangan kami, lalu tersenyum miring, entah apa maksudnya, mungkin dia mencibirku.


Tak ada kata yang ia ucapkan, ia berlalu pergi saat aku tersentak oleh kelakuan Marsha yang memelukku dengan terisak.


Mas Adam juga mengapa tidak langsung melepaskan tautan kami tadi? Jengkel juga aku di buatnya, bukan begitu cara meruntuhkan harga diri Ka Raras, lihat saja, bahkan kakakku itu malah terkesan meremehkanku.


"Mas, kamu bikin Kak Raras salah paham!" pekikku lantas berlari menyusul kak Raras yang sudah berada di mobil.


Kuketuk kaca mobilnya, semoga saja dia mau mendengarkanku, meski aku tak tau akan mengatakan apa padanya.


"Ka, bisa bicara sebentar?" pintaku.


"Aku sibuk, kalo masalah Marsha, kamu tanya sendiri anak itu!" jawabnya datar.


Geram sekali aku mendengarnya, jadi aku buru-buru melanjutkan ucapanku, “Maaf, mungkin ini bakal nyakitin kakak, aku—“


Ya ampun dia pergi begitu saja, dia bahkan tak ada niat menyapa kekasihnya, apa masalah keduanya sangat pelik? Hingga mereka berdua enggan menyelesaikannya? Atau jangan-jangan Mas Adam sudah di campakkan kak Raras?


"Ka ..." Marsha menggoyang-goyangkan tanganku. Memaksaku menoleh padanya.


"kamu kenapa Sha?" aku bertanya bingung, ingin segera kembali ke ruangan kepala sekolah Marsha untuk sekedar ingin tahu masalahnya, tapi Marsha menolak.


Marsha malah mengajakku pergi ke luar sekarang. "Ayo nanti aku jelasin di luar! Masalahku udah beres di sini," cicitnya.


Mas Adam berdiri tak jauh dari mobil kami, kulihat dia masih terpaku memandang kepergian Kak Raras, aku tau dia masih mencintai kakakku itu.


Terpaksa kuajak dia turut serta, aku yakin Marsha sedang tidak baik-baik saja, dan kak Raras seperti tidak peduli dengan keadaan kami, aku takut menghadapi ini sendiri, instingku mengatakan kak Raras akan berbuat sesuatu.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2