Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 17


__ADS_3

Napasku tercekat, Esterlita bahkan bangkit berdiri, mungkin untuk menyambut tunangannya.


"Joan ..."


"Tuan?" ujar kami bersamaan. Aku merasakan sedikit rasa gugup dalam nada bicara Esterlita, entah karena takut atau karena kesal.


Lelaki rupawan itu berjalan dengan langkah tegap menghampiri kami. Menatap seperti seorang pemangsa yang mengincar buruannya.


Sama seperti Esterlita aku pun ikut bangkit berdiri menyambutnya.


Mati aku! Hanya kata itu yang saat ini ada di otakku. Berbagai rencana tengah aku susun untuk melarikan diri dari situasi ini. Tapi itu sangat mustahil, yang bisa aku lakukan, sama seperti yang sudah-sudah diam menunggu.


"Joan—" Esterlita seperti mencoba menjelaskan sesuatu tapi segera di hentikan oleh gerakan tangan Joan.


Lelaki itu berjalan melewati Esterlita, aku pikir dia akan mendekatiku. Langkahnya berhenti tepat di tengah-tengah kami berdua.


Hawa di ruangan ini tiba-tiba berubah menyeramkan. Tanganku yang masih saling bertaut terasa sangat dingin.


Joan tak berkata apa pun, lelaki itu hanya menumpukan kedua tangannya di meja.


"Joan, maafin aku, aku—"


"Shuut!" Joan menghentikan ucapan Esterlita dengan meletakan jari telunjuk di bibirnya sendiri.


Hubungan macam apa ini, kesombongan Esterlita seakan sirna berubah menjadi tatapan yang memancarkan sebuah ketakutan akan kehadiran Joan. Bukannya seharusnya dia memaki kami berdua.


Entahlah aku tak begitu mengerti hubungan mereka. Yang lebih membuatku tak habis pikir Esterlita malah bergelayut manja, seperti berusaha menenangkan Joan.


Tiba-tiba Joan melangkah pergi dengan Esterlita yang masih mengapit tangannya, meninggalkan diriku sendiri.


Aku mendengus, apa mereka tak menganggap aku ada? Benar-benar tak beretika. Menyedihkan sekali nasibku, aku kira Joan akan menarikku bersamanya, nyatanya lelaki itu malah lebih memilih tunangannya.


'Sadarlah Ras, kamu cuma pelampiasan.' Tapi tak bisa diungkiri, hatiku sedikit berdenyut nyeri, karena iri.


Terlalu banyak menonton drama di mana sang lelaki akan lebih membela selingkuhannya dari pada pasangan sahnya membuatku terlalu berharap hal itu akan terjadi juga padaku. Nyatanya hidupku tak seindah drama.


Esterlita pasti akan merasa puas dan berpikir jika dia memang tak perlu mengkhawatirkan posisiku. Harga diriku terluka. Tak kuungkiri sikapku yang sedari tadi seperti melawan Esterlita memang terkesan sedikit arogan harus jatuh gara-gara sikap Joan.


Tuhan memang menciptakan salah satu sifat tamak pada manusia, dan aku mungkin salah satu makhluk Tuhan yang di ciptakan untuk memiliki sifat itu. Tak ingin merusak hubungan orang lain, tapi ingin di bela juga, aneh sekali memang aku ini.

__ADS_1


Kenapa lelaki itu bisa muncul di mana saja dan kapan saja? Sebanyak apa mata-matanya yang mengikutiku.


Eh tapi seharusnya aku senang sebab aku tak perlu menjelaskan banyak hal pada Joan. Menyusun kembali berbagai alasan agar bisa menyelamatkan diri dan juga keluargaku.


Baru kali ini aku berharap tubuhku masih bisa kugunakan untuk menaklukkannya. Memang apa lagi yang kubisa.


Tak lama langkah keduanya berhenti tepat di depan pintu, Joan menolehkan separuh kepalanya, "Tunggu aku di rumah," titahnya, lantas kembali melanjutkan langkahnya beriringan bersama Esterlita yang menatap kesal padaku.


Aku kembali mengatur napas yang sejak tadi banyak tertahan sebab atmosfer yang sangat tidak mencengkam.


Saat akan melangkahkan kaki keluar, seseorang mendatangiku dan berhenti tepat di hadapanku. Sedari tadi aku yang berjalan menunduk akhirnya harus menengadah menatap orang itu.


Tahukah kalian hati kecilku berharap seseorang itu adalah Joan yang kembali menemuiku. Meski itu tidak mungkin.


Siapa lelaki ini? Wajahnya sangat datar, tampan memang, postur tubuhnya tegap, tapi terlihat lebih tinggi dari pada Joan. Dia juga mengenakan setelah jas yang terlihat sekali sangat pas di tubuhnya.


"Ikuti saya," titahnya yang membuatku terkesiap.


Lancang sekali lelaki ini memerintahku, "Kamu siapa?" tentu saja aku tak mau begitu saja mengikutinya. Aku tak mengenalnya.


Dia segera mencengkeram tanganku, memaksaku agar ikut bersamanya. Dia menyeretku ke jalan yang berbeda dengan jalan utama di mana saat aku datang.


"Lepasin, kamu siapa!" bentakku. Dia tetap melangkah tak peduli bagaimana aku berusaha menahannya. Ingin meminta tolong tapi aku malu sekaligus takut.


Lelaki kasar ini, aku yakin bukanlah orang sembarangan, terlihat dari semua barang yang melekat di tubuhnya adalah barang mewah.


Aku tak ingin berurusan dengan orang sepertinya, percuma meminta bantuan di sini, aku yakin urusannya akan panjang dan tentu akulah yang akan berbalik menjadi tersangkanya.


Akhirnya, lelaki itu berhenti dan menyentak kasar tanganku. Membuat tubuhku terpojok ke tembok, kurasakan sakit tak hanya pada pergelangan tanganku tetapi juga punggungku.


Lorong ini menuju ke pintu lain yang sangat berbeda dengan lorong yang biasa aku masuki.


Kukira hanya Joan lelaki menyebalkan di dunia ini yang memiliki temperamen buruk, ternyata ada yang lebih parah lagi dari lelaki itu.


"Sebenarnya kamu itu siapa? Aku ngga kenal kamu! Jangan coba-coba mendekat, kalo engga aku bakal teriak!" ancamku.


Dia tersenyum mengejek, benar-benar sangat menyebalkan, adakah seseorang yang akan mendengar teriakanku?


"Anda memang sangat menyusahkan sekali ya Nona Saras Angelica Winoto," ejeknya.

__ADS_1


"Hei, aku ngga kenal sama kamu, gimana bisa kamu ngomong aku nyusahin!" jawabku tak terima.


Dia mendekat membuatku semakin merapat ke tembok, aku sedang mengambil ancang-ancang akan menendang selang*kangannya, jika dia berniat macam-macam.


Biarpun orang menganggapku wanita murahan, tapi hanya kepada Joan kurelakan tubuh ini untuk dia jamah, tidak sudi untuk orang lain.


"Maaf, saya tak tertarik dengan Anda,” sarkasnya, dia benar-benar menghinaku, atau karena aku yang sudah berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Napasku memburu karena marah dan kesal.


"Bisakah Anda tak banyak tanya sekarang? Kita harus segera pergi. Tolong jangan menyusahkan Tuan Joan lagi," jelasnya.


Seketika mataku melebar saat pria itu menyebut nama Joan, apa mungkin lelaki ini teman atau seseorang yang bekerja dengannya. Bisa saja, penampilan mereka sama-sama menarik dan berkelas.


"Kamu di suruh Joan?" cicitku.


"Iya. Ayo!" dia kembali berjalan, membimbingku agar mengikutinya. Aku bersyukur ia tak kembali memaksa, meski aku tetap berhati-hati padanya dengan sedikit menjaga jarak.


Selama mengenal Joan, aku tak pernah tau teman-temannya, hanya beberapa orang yang aku pikir adalah pengawal pribadinya yang selalu menemani kami jika kami tengah berlibur.


Ternyata aku keluar melalui pintu lain yang langsung tembus menuju parkiran yang sepertinya khusus untuk pemilik dan pekerja di sini.


Kami seperti seorang buronan, lelaki di depanku juga seakan berkejaran dengan waktu sebab kulihat dia berulang kali melihat jam tangan mewahnya.


Dia berhenti di salah satu mobil sedan hitam mewah dan membuka pintu penumpang yang aku yakin itu untukku.


"Cepatlah, kita harus segera keluar dari tempat ini. Jangan sampai karena sikap leletmu membuat Tuan Joan terkena masalah yang lebih serius,” pintanya tergesa.


Aku sungguh ingin mengonfrontasi lelaki ini yang seenaknya saja mengatakan seolah-olah aku adalah biang masalah. Aku sendiri saja tidak pernah tau masalah apa yang sedang di ributkannya.


Namun, otakku yang kecil ini memutar kembali kejadian beberapa saat lalu tentang peringatan-peringatan dari Esterlita.


Apa keluarga Joan atau keluarga Esterlita tengah berada di tempat ini juga?


.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2