Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 56


__ADS_3

Nayla kini tengah berada di kediaman orang tua Adam. Pikirannya sudah buntu, menikah adalah solusi terbaik menurutnya saat ini.


Ini dia lakukan karena buntut pertengkarannya kemarin dengan Adam yang malah mengancam akan meninggalkannya.


Flasback


"Kamu di mana?" tanya Adam di seberang telepon. Nada bicara yang dingin membuat Nayla menebak jika Adam tengah menahan gejolak amarah.


"Di taman," lirih Nayla.


"Bagus. Datang ke kafe D' Rose sekarang," titahnya tanpa mau di bantah.


Nayla bahkan belum menjawab apakah ia setuju atau tidak dengan pertemuan itu, tapi Adam telah mematikan panggilannya.


Dirinya hanya bisa mendesah pasrah, niat awal yang ingin kembali pulang harus dia urungkan sebab harus menemui kekasih hatinya.


Nayla memasuki kafe yang memang dekat dengan area perumahannya. Di sana, di sudut ruangan sudah ada sang kekasih yang menunggu. Belum ada pesanan apa pun di mejanya.


"Mas," sapa Nayla kemudian duduk di hadapan Adam tanpa menunggu balasan sapaannya.


"Pesanlah," pinta Adam sambil memanggil pelayan ke meja mereka.


Sungguh, Nayla tak selera makan atau minum apa pun saat ini, dia hanya berharap Adam mengerti perasaannya saja tanpa harus menyalahkannya.


"Kamu ngga lapar?" tanya Adam saat melihat Nayla hanya memesan sebuah minuman saja. Nayla menggeleng sebagai jawaban.


Tak lama ponselnya berdering, tertera nama sang ibu yang melakukan panggilan. Nayla mendengus dan menolak panggilan telepon ibunya.


"Siapa? Kenapa ngga di angkat?" tanya Adam bingung.


"Mamah, ngga papa, ngga penting juga," jawab Nayla malas.


Setelah pesanan mereka datang, Adam sengaja membiarkan Nayla menikmatinya terlebih dahulu. Tak ada percakapan apa pun di antara mereka. Nayla sendiri bingung memulai percakapan, terlebih lagi sikap Adam yang terlihat lebih dingin dari biasanya.


"Kamu keluar dari pekerjaanmu?"


Bahasa yang lebih halus dari pada kata 'di pecat' menurut Nayla. Gadis itu sangat yakin Adam hanya ingin menghargai perasaannya, meski sedikit senang, tapi mengubah sikap waswasnya jika Adam pasti akan menceramahinya panjang lebar.


"Mas pasti sudah lebih tau dari Mas Ade."


"Kenapa? Kamu mau menghidupi mamah sama adik kamu pakai apa Nay?"

__ADS_1


Sungguh Adam berusaha menahan diri untuk tidak memarahi gadis yang menurut temannya sudah berlaku seenaknya di kafe milik temannya itu.


"Mas, aku bukan tulang punggung! Kenapa semua beban harus di tanggung oleh ku!" tak tahan dengan sesak di dada Nayla pun menumpahkan air matanya.


"Lalu menurutmu siapa yang harus bertanggung jawab akan kehidupan kalian?" tanya Adam mencemooh.


Susah payah dia meminta pada Ade agar mau menerima Nayla bekerja di sana. Bukannya bekerja dengan baik, gadis itu malah berbuat sesuka hati, membuat Adam malu atas perbuatannya.


"Harusnya Kak Raras! Harusnya dia yang bertanggung jawab! Ayah sakit juga karena dia!" pekik Nayla meluapkan emosi.


"Kamu bisa pelankan suaramu? Kamu membuat orang melihat ke arah kita!" ucap Adam tajam.


Sekilas banyak pengunjung menatap ke arah mereka. Untung saja Adam berinisiatif memilih bangku di pojok kafe, dia tau Nayla pasti akan meledak-ledak. Padahal yang seharusnya marah adalah dirinya.


"Kalian selalu menyalahkanku, kalian selalu memintaku melakukan banyak hal yang seharusnya bukan aku yang di bebankan, kenapa kalian ngga ngerti perasaanku!" isakan Nayla semakin terdengar membuat Adam frustrasi di buatnya.


"Ayo kita bicara di mobil saja! Kamu membuatku malu," ajaknya lalu berdiri menarik lengan Nayla.


Mati-matian, Adam berusaha memperlakukan Nayla selembut mungkin saat sisi jahatnya ingin menarik dengan kasar gadis itu.


"Berhentilah menangis, kamu meminta Raras untuk bertanggung jawab akan hidup kalian, berarti kamu sangat tahu beban kakakmu itu, mengapa kamu dulu ngga berusaha membantu meringankannya?" tanya Adam berusaha tidak mencibir.


Nayla bungkam, ia sangat tahu beban yang Raras tanggung dahulu karena sekarang dia bisa merasakan itu.


Dirinya juga masih kuliah, jadi mengapa harus dirinya yang menjadi tulang punggung, pikir Nayla.


"A ... Aku juga masih kuliah Mas, kalau setelah lulus, aku bisa bekerja di perusahaan Mas bekerja, tentu ngga masalah dengan tanggung jawab," alibinya.


"Kamu ingat kan Raras hanya tamatan SMA, dia bahkan mampu menghidupi kalian semua. Aku tidak bisa terus membantu keuanganmu Nay. Bahkan Raras masih membantu pengobatan ayah kalian."


Mengingat bagaimana perjuangan Raras mencari uang, sungguh membuat hati lelaki itu sakit. Mengapa hanya karena satu kesalahan Raras, dia menutup mata akan semua pengorbanan wanita itu.


Namun hamil dengan laki-laki lain juga tak bisa di anggap sepele bagi Adam, terlebih dia tidak tau apa Raras hamil di luar nikah, atau malah sudah menikah.


Dilla berkata jika Raras menjadi simpanan seseorang, apa maksudnya dalam arti ikatan resmi? Mungkin siri? Adam selalu bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan kehidupan mantan kekasihnya itu.


"Ayo kita menikah saja Mas!" ajak Nayla tiba-tiba membuat Adam tersentak kaget.


"Bukannya aku udap pernah bilang, aku belum memikirkan hubungan kita sampai ke sana Nay! Lagi pula aku tidak berkewajiban bertanggung jawab apa pun padamu," elak Adam.


"Kamu mau jadi lelaki pecundang? Meski tidak sampai melakukan hubungan terlarang, tapi kamu sudah menjamahku! Dan aku tidak mau di tinggalkan begitu saja. Aku ngga peduli, aku akan meminta pertanggung jawaban kamu melalui keluargamu!" ancam Nayla.

__ADS_1


"Aargghhh ..." Adam mengacak rambutnya kesal.


Ia tak menyanggah ucapan Nayla yang menyebutnya pecundang. Namun untuk menikahi gadis itu, tidak pernah terbesit dalam benak Adam sampai saat ini.


*****


Saat ini Nayla sedang berada di kediaman orang tua Adam, di temani oleh sang ibu. Setelah habis di ceramahi oleh Rita, Nayla akhirnya jujur kepada sang ibu mengapa dirinya bisa berakhir memiliki hubungan dengan Adam.


Rita tentu saja murka dan berkata jika Nayla gadis yang bodoh karena mau saja di jadikan bahan pelampiasan. Nayla mengelak dengan berkata dia sangat mencintai Adam dan ingin membina rumah tangga dengan lelaki itu.


Rita hanya bisa mengalah sebab Nayla memberikan pilihan yang sulit baginya. Berhenti kuliah dan bekerja seperti Raras di sebuah pabrik, atau menikah dengan Adam dan kebutuhan mereka akan di penuhi oleh laki-laki itu.


Tentu saja dia tak ingin sang putri memiliki nasib seperti anak tirinya yang hanya tamatan Sekolah Menengah Atas saja, dia ingin kedua putrinya mengenyam pendidikan tinggi sepertinya dulu.


Pilihan menikah dengan Adam terlihat sebagai pilihan akhir yang lebih baik. Meski dulu Rita berharap sang putri bisa memiliki calon suami dari golongan yang lebih berada sedikit. Bukan karyawan biasa seperti Adam.


"Tumben Bu Rita sama Nayla ke sini," ucap Yulis saat menerima tamunya.


Karena kesibukan Nayla dan jarangnya mereka bertemu membuat Adam dan Nayla jarang mengunjungi orang tua Adam.


"Maaf Bu Yulis, kedatangan kami ke sini mau meminta pertanggung jawaban Adam,” ucap Rita membuka percakapan.


Yulis terkesiap mendengar ucapan wanita yang hampir seumuran dengannya itu.


"Pertanggung jawaban? Maksudnya apa ya Bu Rita," Yulis di buat bingung dengan maksud ibu dan anak di hadapannya.


"Saya tau, bukan cuma Adam yang melakukan kesalahan, tapi anak saya juga, makanya saya ingin ke duanya menikah saja," jelas Rita.


Yulis memegang dadanya, bukan karena serangan jantung hanya tak menyangka dengan kelakuan sang putra.


Dirinya memang tidak pernah ikut campur tentang kisah asmara putranya, saat hubungan sang putra yang katanya kandas dengan Raras pun Yulis tak banyak komentar.


Namun apa ini? Yulis tak menyangka jika Adam, putra yang dia didik dengan baik berani melakukan hal yang tak bermoral?


"APA!!"


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2