
Di dalam mobil, ternyata sudah ada lelaki lain di balik kemudi, jadi kami bertiga yang berada dalam mobil ini.
Lelaki yang tak kuketahui namanya itu duduk di samping sopir, membiarkan aku untuk duduk seorang diri di belakang.
Syukurlah, aku pasti tidak akan nyaman jika harus duduk bersamanya.
"hei tunggu dulu, mobil aku gimana?" pekikku karena panik saat teringat jika aku ke sini menggunakan mobil pribadi.
"Tenang aja Nona, mobil Nona sudah akan terparkir di apartemen, yang penting saat ini kita harus segera pergi," jelas lelaki kejam itu.
Sudahlah lagi pula aku yakin Joan mengenal mereka. Kedua lelaki itu masih menampakkan wajah tegang, aku sebenarnya penasaran apa yang membuat mereka harus mengeluarkanku lewat pintu khusus restoran ini. Apa mereka berusaha menghindari seseorang?
"Maaf, sekarang kita mau ke mana?" ujarku saat melihat mobil yang kutumpangi melewati arah yang berbeda dengan apartemen Joan.
"Kamu tenang aja, kami tidak akan menghabisimu meski kamu merepotkan," sindir lelaki kejam.
"Aku penasaran, emangnya aku merepotkan kalian apa? Kenapa dari tadi nada bicaramu menghina aku terus sih!" jawabku tak terima.
Lelaki kejam itu mendengus kasar, " seharusnya Anda ngga sembarangan menemui orang lain. Aku yakin Anda ngga tau kalau oang yang ingin menemui Anda adalah nona Esterlita bukan?”
"Jelas aku mana tau kalau itu nona Esterlita, memang kamu pikir aku dukun!" aku tak mau begitu saja di salahkan.
"Iya, tapi Anda mau saja di ajak bertemu oleh seseorang yang ngga Anda kenal, benar-benar ceroboh," ejeknya.
Astaga, lelaki ini memang bermulut lemes, dia pikir aku tak berpikir panjang apa, saat mengambil sebuah keputusan. Seenaknya saja menghakimiku.
Aku tetap berusaha membela diri, jujur saja aku memang tak merasa bersalah.
"Orang itu ngirim foto aku sama Joan, padahal—" hampir saja aku kelepasan mengatakan surat perjanjian kami.
Aku tak tau apa lelaki ini mengetahui lebih dalam hubunganku dengan Joan. Dari cara dia menyebut nama Joan dengan 'Tuan' membuatku berpikir mungkin dia adalah bawahan Joan.
"Ah sudahlah, percuma aku jelasin. Sekarang kasih tau aku kalian mau bawa aku ke mana? Aku ini seorang karyawan, besok aku harus bekerja," lebih baik saat ini aku menuruti mereka dan tak perlu menjelaskan apa-apa lagi, dari pada nanti aku terkena masalah yang lebih serius.
"Makanya aku sebut Anda ceroboh, karena kecerobohan Anda, urusan Tuan Joan jadi terhambat." Dia melimpahkan segala kesalahan padaku, padahal aku memang tak tau apa-apa.
Dan apa yang dia bilang? Gara-gara aku katanya bisnis Joan jadi terhambat?
“Enak aja, karena ngga mau ganggu pikiran Joan makanya aku berusaha nyelesein masalah ini!” geramku.
__ADS_1
"Tolong bijaklah dalam bertingkah laku, perhitungkan yang matang, karena saat Anda salah mengambil keputusan banyak yang akan menjadi korban," jelasnya yang membuatku takut sama seperti peringatan Esterlita.
"Satu lagi, jangan terlibat dengan nona Esterlita, abaikan semua pesan dari orang asing yang meminta bertemu dengan Anda dan cepat beritahu Tuan Joan tentang masalah Anda, jangan berpikir menyelesaikan sendiri, sebab hanya dia yang mampu menyelesaikannya, jangan ceroboh. Dunia mereka bukan untuk manusia biasa seperti Anda."
Lelaki itu berkata dengan tegas, sepertinya pertemuanku dengan Esterlita akan menimbulkan banyak masalah di kehidupan Joan.
Kuhela napas, andai saja Joan mau melepasku, aku yakin semua akan kembali seperti semula.
"Jangan berpikir untuk pergi dari sisi Tuan Joan," lanjutnya yang membuatku terperangah.
Sial sekali lelaki ini, apa dia itu titisan cenayang hingga bisa membaca pikiranku?
"Aku tidak bisa membaca pikiran, tapi aku tau apa yang Anda pikirkan." lagi-lagi dia menebak dengan tepat pikiranku.
Sepertinya hidupku akan semakin sulit ke depannya. Aku hanya bisa menatap keluar kaca mobil menikmati suasana yang ramai akan lalu-lalang kendaraan di kota besar ini.
Setelah melewati jalan bebas hambatan kami tiba di sebuah daerah yang tak terlalu jauh dari kota tempat tinggalku. Kota besar lainnya yang memiliki udara sejuk karena berada di daerah pegunungan.
Kota ini biasa di kunjungi oleh orang-orang dari kotaku untuk liburan, atau sekedar istirahat dari penatnya kesibukan.
Kami berhenti di sebuah Villa yang cukup mewah, dindingnya seperti terbuat dari batang pohon, entah asli atau tidak, tapi terlihat benar-benar menyatu dengan suasana di sekitarnya.
"Besok aku kerja, aku harus berangkat pagi-pagi banget kalo dari sini," rengekku.
Kota ini juga terkenal akan macetnya sama seperti kota tempat tinggalku. Makanya aku sedikit panik jika harus bermalam di sini.
"Anda beristirahat saja Nona, masalah pekerjaan biar Tuan Joan yang mengurus."
Lelaki itu lantas berjalan mendahuluiku menuju vila, meninggalkan sopir kami yang sepertinya akan memarkirkan kendaraannya.
"Tuan Billy? Selamat datang," sapa seorang laki-laki setengah baya pada lelaki di depanku.
Ternyata namanya Billy, keren juga untuk seorang bawahan. Cibirku.
"Mang Adi, mana Ifa?"
"Ada Tuan, sebentar aku panggil. Tuan sama Nona silakan duduk dulu, nanti sekalian mamang ambilin minuman," jawab lelaki yang bernama mang Adi itu lantas berlalu pergi.
Aku terpesona akan tatanan di dalam vila ini, semuanya sangat elegan dan klasik. Sofa kulit sewarna dengan kayu yang kududuki juga sangat nyaman.
__ADS_1
Penataannya sungguh pas, aku yakin perlu uang yang tidak sedikit hanya untuk mendekor vila ini.
Khemmm ...
Suara deheman dari Billy membuatku terpaksa menoleh padanya.
Ternyata sudah ada seorang perempuan yang sedang meletakan minuman di atas meja dan juga mang Adi yang berdiri di kursi sebelah Billy. Mungkin dia yang bernama Ifa, wanita yang di cari Billy.
Wanita yang aku yakini umurnya tak berbeda jauh dariku itu memiliki wajah ayu dengan kulit putih bersih, tampak olehku jika Ifa tengah mencuri-curi pandang pada Billy.
Ada juga ternyata wanita yang menyukai lelaki kasar sepertinya. Mungkin hanya aku yang menganggapnya kasar. Di mata kaum hawa tentu saja fisik Billy membuat mereka kagum, tak tau saja mereka bagaimana sifat laki-laki ini.
Lelaki itu hanya sibuk melihat ponselnya. Atau mungkin menghindar dari tatapan memuja Ifa.
Setelah Ifa selesai meletakan suguhan untuk kami, barulah Billy menengadah menatapku dan juga Ifa bergantian.
"Ifa, ini Nona ..." ucapan Billy mengantung kepada Ifa lantas beralih padaku.
"Kamu mau di panggil apa Nona?" tanyanya padaku
"Emm ... Angel aja," jawabku, lantas menatap Ifa "Panggil aku Angel aja ya Mba Ifa," mengenalkan diriku sendiri padanya.
"Baik Nona Angel, saya Ifa," Ifa meletakan tangannya di dada dengan sedikit menunduk, seperti memberi hormat. Pak Adi dan Ifa tak mengenakan pakaian pelayan seperti drama yang aku tonton di televisi.
Sepertinya pandanganku terhadap orang kaya atau konglomerat terlalu berpijak pada drama-drama yang kutonton.
"Ifa, tolong antar Nona Angel ke kamar utama, layani dia dengan baik. Aku mau jemput Tuan Joan dulu," titah Billy, lantas berdiri hendak meninggalkan aku sendiri.
"Billy, ayahku sakit, aku harus jenguk dia, menurutmu apa Joan akan membiarkan aku pulang besok?" seketika aku panik memikirkan ayah dan juga alasan apa yang akan aku katakan pada keluarga dan juga kekasihku jika mereka kembali mencariku ke kosan?
"Ayah anda masih baik-baik saja. Anda tak perlu terlalu cemas Nona, percayakan saja pada Tuan Joan."
Setelah mengatakan itu Billy pergi berlalu meninggalkanku dengan kekhawatiran yang tak semudah itu enyah.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.