Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 42


__ADS_3

Raras sungguh ketakutan, lelaki yang baru saja ia pikir baik, nyatanya berubah begitu cepat, entah apa penyebabnya.


"Maksud kamu apa Ki?" Raras menyilangkan kedua tangannya di dada.


Rizki tersenyum mengejek, dia berpikir wanita hamil di depannya mungkin takut di lecehkan olehnya.


"Kenapa kamu harus menyakiti wanita sebaik Mbak Dinda?" jelas Rizki.


Akhirnya Raras mengerti, Rizki salah paham pada dirinya. Mungkin Rizki berpikir bahwa dia adalah istri kedua dari mantan suami Dinda.


"Kamu salah paham Ki! Aku bukan istri kedua suaminya Dinda!" pekiknya.


Rizki menaikkan sebelah alisnya, tetap dengan langkah pelan berusaha menyudutkan Raras.


"Kamu jangan macam-macam Ki, aku bakal teriak!" ancam Raras saat dirinya sudah terpojok pada pohon besar di belakangnya.


Di otak wanita hamil itu ia tengah merancang kuda-kuda untuk melumpuhkan Rizki dengan cara menendang pusakanya.


"Kenapa Mbak? Apa kamu ngga laku sampai-sampai rela merusak kebahagiaan wanita lain?"


Itu pertanyaan yang memang pantas untuk Raras saat ini, dalam artian dia memang berada di antara hubungan orang lain.


Namun Raras tau maksud Rizki adalah jika dirinya lah yang menjadi duri dalam daging pada hubungan Dinda dan suaminya.


"Kamu tenang dulu Ki," pinta Raras sambil berusaha mengangkat kedua tangannya di dada, menahan laki-laki itu agar tak semakin mendekatinya.


"Aku tau kamu salah paham, aku benar-benar bukan madunya Dinda, kalau kamu punya nomornya Dinda, coba hubungi dia dan tanya siapa aku?"


Langkah lelaki berambut cepak itu terhenti, dia berpikir jika mungkin benar Raras bukalah wanita yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangga wanita yang di cintainya itu.


Rizki memang awalnya mengagumi sosok lembut Dinda, rasa itu semakin lama berubah menjadi ketertarikan. Namun karena sadar akan status Dinda, dia tak pernah mengungkapkan rasa itu.


Hatinya semakin sakit saat mengetahui jika wanita baik itu ternyata malah diduakan oleh suaminya, penyebabnya adalah karena Dinda di diagnosis mandul.


Rizki sangat ingat betapa terlukanya Dinda saat mendatangi vila itu dan mencurahkan segala sakit yang ia rasakan, padanya juga pada paman dan bibinya, Rahmat dan Halwa.


Dia memang tidak pernah tau seperti apa wanita itu, terakhir kali Dinda bercerita jika kini istri kedua suaminya sudah mengandung, tak salah jika dirinya mencurigai Raras.

__ADS_1


"Katakanlah jika saat ini aku percaya padamu. Lalu mengapa kamu datang seorang diri ke sini? Tolong jangan menyusahkan Mbak Dinda dengan kaburnya dirimu," cerca Rizki.


Dilihat oleh pandangan Rizki, Raras terlihat masih sangat muda, jadi dia berpikir jika kemungkinan Raras hamil di luar nikah dan melarikan diri dari rumah orang tuanya.


Melihat sikap Rizki yang melunak, sekarang gantian Raras yang melipat kedua tangannya di dada.


"Memangnya kamu pikir kamu siapa? Ada hak apa kamu ngelarang aku tinggal di vila Dinda, kalau pemiliknya aja mengizinkan?"


Raras benar-benar kesal dengan sikap tak tau diri Rizki yang sudah berani menuduhnya, bahkan tanpa meminta maaf kini lelaki itu malah menyudutkannya seolah menjadi beban Dinda.


Meski mungkin hal itu benar, tapi Raras merasa itu bukan urusan Rizki.


"Kamu harus sadar diri, siapa kamu dan siapa Dinda. Jangan ikut campur urusan majikanmu!" sengaja Raras menjatuhkan harga diri Rizki.


Rizki sendiri terkesiap mendengar ucapan Raras yang sedikit menghinanya. Memang benar, mau bagaimana pun paman dan bibinya adalah pekerja di kediaman Dinda, mungkin statusnya juga di sama ratakan dengan pekerjaan paman dan bibinya itu.


Meski dia sendiri tidak bekerja di vila itu, tapi suatu hubungan keluarga jelas membuat kesetaraan kasta di mata orang umum.


Orang tuamu pembantu, maka anaknya akan di sebut anak pembantu, begitu pun dirinya, pikir Rizki.


Raras berjalan keluar menuju jalan setapak yang tadi di laluinya. Dalam hati dia berpikir, seharusnya dia tidak terlalu sok kenal dengan Rizki dengan menilai lelaki itu sesaat saja.


Nyatanya, dalam hati lelaki itu ada niat busuk yang juga sangat mengerikan. Raras bergidik ngeri, memikirkan seandainya saja dia memang istri kedua suami Dinda itu.


Harusnya Rizki tidak boleh ikut campur urusan orang, bahkan mungkin membalas sakit hati Dinda, dengan berusaha menyakiti orang lain. Memang apa untungnya bagi lelaki itu, masuk penjara yang ada.


Sepanjang jalan Raras mengomel dalam hati, lelaki yang di pikirnya ramah itu ternyata malah mengerikan.


Rizki sendiri yang sadar dengan kelakuan bodohnya lantas mengejar Raras. Seharusnya dia mencari tahu dahulu siapa Raras, bukan malah membuat wanita itu ketakutan dan marah.


Pikiran Rizki sudah berkelana pada Dinda. Bagaimana jika wanita yang di cintainya itu marah padanya karena telah membuat takut temannya. Terlebih dia sadar ucapannya pada Raras juga sangat kasar dan keterlaluan.


"Tunggu!" seru Rizki berusaha menghentikan langkah Raras.


Raras yang mendengar suara Rizki menoleh sekilas lalu melanjutkan langkah cepatnya.


Rizki berbalik, mengambil motor yang di tinggalkannya begitu saja tadi.

__ADS_1


Saat sudah mengendarai motornya, Rizki kelimpungan mencari keberadaan Raras.


Dia yakin Raras sudah sampai di jalan raya, dengan panik Rizki bergegas melajukan motornya kembali ke vila, ia tak ingin di marahi oleh paman dan bibinya.


Lagi-lagi Rizki mengutuk dirinya yang begitu ceroboh. "Sial! Kalo sampai Mbak Raras ngomong sama paman dan bibi bisa di larang ke vila lagi aku!" gumamnya sambil memukul setir motornya.


Rizki sampai di vila dengan dada yang bergemuruh, dia sangat takut tindakannya berakibat fatal pada pekerjaan paman dan bibinya.


"Loh Ki, mana Mbak Rarasnya?" tanya Rahmat pada keponakannya yang datang seorang diri.


"Anu paman apa mbak raras belum pulang?"


"Kamu ini gimana toh Ki, tadi mbak Raras kan pergi sama kamu, aduh kamu ini gimana!" bentak Halwa yang panik.


"Ayo kita cari Mbak Raras! Kamu udah bibi bilang hati-hati, dia itu lagi hamil Rizki!" Halwa masih memarahi ponakannya.


Dirinya sangat mengkhawatirkan tamu majikannya, terutama Raras tidak tau seluk beluk daerah sini.


Wanita paruh baya itu sampai menangis sesenggukan, bagaimana jika Raras bertemu orang jahat, begitu pikirnya. Apalagi Raras termasuk wanita yang cantik.


Raras sendiri sebenarnya masih berada di kawasan Curug, dia sengaja bersembunyi dari Rizki. Di benak wanita hamil itu tak tau apa yang di inginkan Rizki padanya.


Namun sakit hati karena ucapan Rizki yang mengatainya ‘jangan menyusahkan Dinda’ tentu saja membuat dadanya panas.


Dia bersembunyi di balik semak saat melihat Rizki melewatinya. Raras berpikir akan kembali ke Curug lagi. Tak masalah jika ia pulang menggunakan ojek sekalipun.


Raras lihat ada pangkalan ojek tak jauh dari tempatnya bersembunyi meski sedari tadi dia tak melihat para tukang ojek di sana.


Paling tidak dirinya merasa aman bisa pulang saat sudah selesai menikmati pemandangan di sana.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2