Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 21


__ADS_3

Tak lama kami berbincang dengan ayah, karena obat yang di berikan oleh seorang perawat membuat ayahku kembali terlelap.


"Kamu habis jual diri?" ujar ibu tiriku sesaat setelah mata ayah terpejam.


"Ayah dari tadi penasaran kenapa dia bisa di rawat di kelas ini Ka, ngga mungkin kita punya uang buat bayarnya. Siapa Billy Ka?" pertanyaan itu keluar dari mulut Nayla.


"Orang kantor, kan kemaren kakak udah bilang sama mamah kamu kalo nanti kakak pinjam kantor buat biaya rumah sakit ayah," jelasku.


Untung otakku bergerak cepat mencari jawaban. Mereka tak tau teman-teman kantorku, jadi kurasa mengatakan jika Billy adalah salah satu atasanku di kantor, bisa sedikit membuat mereka bungkam.


"Kamu buang-buang duit aja! Kalo emang kamu pinjam banyak buat apa kamu minta kamar mewah buat ayah HAH!" karena nada yang sedikit meninggi membuat ayahku yang baru saja terlelap menjadi sedikit gelisah tidurnya.


"Mah!" seru Nayla yang berusaha meminta sang ibu menurunkan kembali nada bicaranya.


"Aku cuma mau pinjam uang buat berobat mah, mereka ngga percaya soalnya utang aku aja belum lunas, jadi orang kantor yang mutusin buat dateng sendiri ke sini," sedikit kagum dengan kebohonganku yang begitu lancar.


Aku pikir dia murka karena apa, ternyata sama saja, otak ibu tiriku tak pernah jauh-jauh dari duit. Dia mungkin kesal karena aku menghambur-hamburkan banyak uang hanya untuk perawatan ayah. Padahal aku yakin ibu tiriku ingin jika aku memberinya uang agar bisa dia urus sendiri.


"Kamu ini udah tau kalo ayah sering kambuh, kalo nanti ada apa-apa lagi gimana?" sekarang ibu tiriku sudah sedikit tenang meski nadanya masih terdengar kesal.


"Mamah tenang aja, rezeki pasti ada aja asal mau usaha," dengusku berusaha menyindirnya.


Ibu tiriku melengos, aku yakin dia kesal mendengar jawabanku.


"Lagian kamu itu bisa-bisanya saat ayah kamu lagi begini kok ya seneng-seneng," dia balik menyindirku.


Sepertinya dia tau jika aku pergi semalam. Entah dari siapa, mangkinkah Adam?


"Maksud mamah?" tanyaku mencari tahu lebih jauh.


"Adam sama Nayla semalem ke kosan kamu, katanya kamu pergi ke pesta."


Aku melirik ke arah Nayla yang sedang menepuk pelan punggung tangan ayah seperti seorang ibu menidurkan anaknya.


Mau apa adam sama Nayla ke sana?


"Kamu ke sana mau apa Nay? Kenapa ngga kirim pesan dulu?"


"Mas Adam yang ngajakin," jawabnya seperti enggan.


Pertanyaanku selanjutnya kenapa tiba-tiba Adam ke kos-ann? Apa untuk memastikan bahwa aku sudah pulang? Lalu kenapa harus bersama dengan Nayla? Ingin sebenarnya aku bertanya semua itu pada Nayla, tapi bibirku mendadak kelu.


Keheningan melingkupi ruang rawat ayah, kami bertiga tak lagi banyak berdebat, sibuk dengan pikiran masing-masing mungkin.

__ADS_1


Hingga, perutku terasa seperti di aduk-aduk, kepalaku terasa nyeri. Saking tidak kuatnya aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutku yang berwarna kuning dan terasa sangat pahit.


Mungkin itu adalah cairan lambung, penyakit maagku sepertinya kambuh sebab pola makanku yang berantakan.


"Kenapa kamu? Masuk angin?" tanya ibu tiriku ketus.


"Aku belum sempat makan dari kemarin Mah, kayaknya penyakit maagku kambuh," jelasku sambil kembali berjalan menuju sofa.


Kepalaku benar-benar terasa sakit. Karena sofa di kamar ayah lumayan besar, aku memilih mengistirahatkan tubuhku di sana, sayangnya niatku terganggu karena ucapan-ucapan ibu tiriku.


"Kamu nyari masalah aja! Udah tau penyakitan, sok-sokan telat makan. Dah-lah ngga masuk kerja, mau bayar pake apa utang-utang kamu!" dengusnya.


Astaga saat tau kalau aku sedang sakit begini pun masih saja dia marah-marah, benar-benar titisan Medusa.


Karena kepalaku semakin sakit mendengar ocehan ibu tiriku, lebih baik aku keluar mengisi perut siapa tau bisa meringankan sakit maagku.


Setelahnya aku berencana kembali ke kos-kosan untuk istirahat, aku benar-benar memerlukan tidur saat ini.


.


.


.


"Iya Ma—" bumi terasa berputar saat aku berbicara dengan Mang Dirjo dan tak lama semuanya terasa gelap.


Bau khas rumah sakit memenuhi penciumanku. Apa tadi aku pingsan? Kuremas kepalaku kuat-kuat saat akan membuka mata, rasanya berdenyut-denyut, nyeri sekali.


"Kamu sadar Ras?" tanya Dinda cemas.


Otakku mencerna kejadian sebelum akhirnya aku berakhir di sini. Saat meninggalkan ruangan ayah, aku ingat ibu tiriku masih menggerutu.


Sesampainya di kantin rumah sakit hanya sedikit makanan yang bisa masuk ke perutku, nahasnya saat akan pulang dari rumah sakit perutku kembali terasa diaduk-aduk dan membuatku memuntahkan kembali makanan yang sudah susah payah aku makan.


Sampai di kos-an semua tenagaku telah habis, mungkin akhirnya aku pingsan.


Ada rasa kecewa dalam diriku, mengapa aku tidak mati saja, lelah sekali aku menjalani kehidupan seperti ini, mentalku benar-benar sudah down.


"Ras, minum dulu," tawar Dinda sambil menyodorkan segelas air putih.


Dia membantuku bangun agar aku bisa meminum air putih itu.


Ruangan ini sangat kecil, dan ada ranjang lain di sebelah ranjangku.

__ADS_1


"Di mana ini Din?"


"Ini di klinik Ras, deket kos-an kok. Mang Dirjo yang bawa kamu ke sini," jelas Dinda.


"Kamu mau pindah ke rumah sakit aja Din?" tawar Dinda.


"Ngga-ngga usah Din, aku mau istirahat aja di kos-an," elakku.


Dinda menghela napas, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.


"Kenapa Din?"


"Ras ... Maaf, kamu tenang aja, aku ngga bakal ngomong apa-apa sama orang," ujarnya membuatku penasaran.


"Ada apa sih Din?" tanyaku tak mengerti.


Dinda mengernyit bingung, "kamu ngga tau Ras?"


Aku menggeleng, oh ayolah Dinda dia tau jika aku sedang sakit begini malah mengajakku main tebak-tebakan.


Tak tau kah dia kalau sakit kepalaku karena otakku yang kecil ini terlalu banyak bekerja?


Dia kembali menghela napasnya kasar "Kamu hamil Ras—"


"Hah!" selaku terkejut. Aku kembali membaringkan diri di ranjang karena shock akan berita dari Dinda.


Hamil? Tentu saja bukanlah hal yang aku inginkan. Tidak pernah terbesit akan ada janin yang tumbuh di rahimku saat ini.


Aku merasa tak pernah lalai mengonsumsi obat penunda kehamilan. Tapi apa buatan manusia bisa melawan kekuasaan Tuhan jika Dia sudah berkehendak?


Kuusap perut rataku, setitik air mata menetes di sudut mataku.


Tuhan, cobaan apa lagi yang akan Kau berikan padaku kali ini. Hidup dengan menanggung banyak beban seorang diri saja sudah ingin membuatku menyerah dan sekarang Engkau menambah dengan kehadiran makhluk kecil dalam rahimku.


Masa depan suram yang akan aku jalani akan menyulitkan masa depan anak ini. Anak yang kehadirannya tak di inginkan oleh orang tua kandungnya. Aku yakin Joan tak bisa menerima kehadiran anak ini.


Tuhan, bolehkah aku berharap? Ambillah kembali janin ini. Bukan karena aku tidak senang dengan kehadirannya. Namun beban masa depannya akan berat jika lahir dari seorang ibu sepertiku.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2