
Ketenangan pagiku terusik karena kedatangan beberapa orang di rumah.
Satu orang berpakaian rapi dan tiga orang berpakaian hitam dengan jaket kulitnya.
Muka-muka mereka sangat datar dan mengerikan, siapa orang yang bertamu di pagi hari seperti ini sih. Gumamku.
Mamah dan ayah menemui mereka takut-takut, ayah yang masih lemah karena sedang masa pemulihan mau-tak mau tetap menemui tamunya itu.
Aku hanya berani mengintip dari ruang tengah. Seseorang yang duduk berseberangan dengan ayah melempar sebuah map yang aku sendiri tak tau apa isinya.
Mamah memohon pada orang itu yang berkata akan menyita rumah ini.
Ya Tuhan apa lagi ini, apa kami akan terusir dari rumah mewah ini, aku terduduk lemas, mamah menjerit histeris bahkan bersujud di kaki orang itu memohon agar tidak mengusir kami.
Ayah? Kondisinya yang masih lemah membuatnya kembali terkena serangan jantung. Para lelaki tadi bahkan tak iba saat mendengar mamah meminta tolong untuk membantu membawa ayah ke rumah sakit.
Mau tak mau, aku mamah dan Marsha serta pembantu rumah tangga kami bergotong royong mengangkat tubuh ayah.
Ayah masuk ruang operasi, tak lama kak Raras datang dengan wajah panik, tanpa babibu mamah langsung menampar wajahnya.
Aku tak tau apa kesalahan kak Raras mengapa mamah menamparnya, atau mungkin mamah melampiaskan kekesalannya pada kak raras.
Mamah kembali memaki kak Raras yang di tuduh menjadi penyebab ayah kembali serangan jantung, wanita itu tak menjawab, dia hanya menunduk.
Bodoh! padahal bukan dia penyebabnya, tapi aku rasa tak masalah melimpahkan kesalahan padanya.
"Kamu harus tanggung jawab! Kehidupan kami adalah tanggung jawabmu sekarang!" bentak mamah.
Dia menengadah, tersirat rasa keberatan di sana. "Mengapa aku yang harus bertanggung jawab pada kehidupan kalian?" tanyanya.
"Jelas! Gara-gara kamu ayah di pecat, demi pengobatan ayah kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi dan itu semua gara-gara kamu yang menuntut warisan," jelas mamah.
Akhirnya setelah sekian lama melihat wajah sombong dan angkuhnya, aku kembali senang saat melihat wajah bodohnya.
Dia benar-benar bodoh percaya begitu saja dengan ucapan mamahku. Kakakku terlihat sekali merasa bersalah.
Pertengkaran keduanya terhenti tatkala datang seorang petugas rumah sakit mendatangi kami.
"Maaf Bu, pak Winoto akan segera di operasi, silakan lakukan administrasi di depan," ucap lelaki itu sambil menyerahkan sebuah kertas pada mamah.
Mamah terduduk di kursi dengan berlinang air mata. Kak Raras masih berdiri dan menatap mamah dengan alis bertaut bingung.
"Ayo mah, kita harus segera bayar," ajakku.
Mamah malah makin menjadi, aku jadi semakin bingung mengapa mamah menangis semakin kencang.
"Gimana ini Nay, mamah ngga ada uang," lirihnya.
"Apa!" ucapku bersamaan dengan Ka Raras.
__ADS_1
"Ngga ada uang gimana maksud mamah? Uang pesangon ayah bukannya banyak? Cuma lima puluh juta saja mamah ngga mau keluarin?" tanya Ka Raras geram.
Aku juga sama bingungnya dengan kak raras, yang aku tau uang pesangon ayah lumayan besar dan ini terhitung baru 2 bulan ayah berhenti bekerja.
"Ini semua salah kamu!" lagi-lagi mamah melimpahkan kesalahannya pada kak raras.
"Aku? Memangnya aku yang memegang uang itu? Cepat bayar supaya ayah lekas di operasi," jawab Kak Raras ketus.
"Mau bayar pake apa Ras, uangnya bener-bener ngga ada," mamah kembali nangis tergugu.
Seorang petugas rumah sakit tadi kembali mendatangi kami dan meminta kami segera melakukan pembayaran sebab ayah sudah dalam keadaan kritis.
Kami hanya bisa menangis bingung. Kak Raras akhirnya ikut dengan pegawai lelaki tadi, aku tak tau, mungkin dia memiliki uang simpanan atau apa.
Aku hanya bisa berharap semoga saja kak Raras mampu membayarnya.
Tak lama kak Raras kembali, wajahnya sendu, dia menengadahkan tangannya meminta sesuatu pada mamah.
"Kasih kunci mobil sama STNK-nya," pintanya.
Aku dan mamah terkejut bukan main, "apa-apaan kamu minta mobil!" bentak mamah.
"Ayah harus di operasi, bukannya kita ngga ada uang? Heh! Syukur pihak rumah sakit mau menerima mobil itu untuk jaminan, cepetan!" paksa Kak raras sambil mengambil tas mamah.
Mamah memberontak tapi aku tahan, meski aku juga kesal tapi ini satu-satunya cara agar operasi bisa dilaksanakan segera. Maafkan Nayla mah, ucapku dalam hati.
Setelah pergi cukup lama kak Raras kembali dengan raut wajah lelahnya.
"Apa kamu gila Hah! Itu transportasi kita satu-satunya dari mana kamu dapat uang buat nebus!" geramnya.
Kak Raras mendesah, aku tau jika dia juga bingung, raut wajahnya kacau.
"Aku akan mencari uang untuk pengobatan ayah, kalian tenang aja," lirihnya lantas duduk di seberang kami.
Matanya terpejam, aku cukup iba padanya, di usianya yang masih muda, dia harus menjadi tulang punggung keluarga.
Aku sendiri enggan bekerja jika hanya tamatan SMA, pokoknya aku harus tetap melanjutkan kuliahku.
Pintu ruang operasi di buka, Dokter berkata jika operasinya berhasil. Namun ayah tetap akan di rawat di ruang insentif. Mamah lemas karena tau biaya yang di keluarkan masih banyak.
"Bagaimana Ras, pengobatan ayah kamu membutuhkan uang yang tidak sedikit ke depannya," sindir mamah.
Kak Raras mendongak, tanpa kata dia bangkit "aku pergi, jaga ayah, kabari aku kalau ayah siuman," dia lantas berlalu pergi.
Dua hari berlalu dia kembali datang ke rumah sakit, wajahnya lesu, entah mungkin karena pekerjaannya yang memang melelahkan sebagai buruh pabrik atau masih memikirkan kesehatan ayah.
"Kamu udah bayar biaya ayah Ras?" tanya mamah begitu kak Raras mendudukkan dirinya.
Hanya deheman yang keluar dari mulutnya, ayah sendiri masih di ruang ICU jadi kami hanya bisa menunggu di luar kamar inapnya.
__ADS_1
Marsha kemudian datang dengan napas terengah-engah. Rambutnya kusut masai, mungkin karena dia berlari demi menuju kemari.
"Hape kalian kenapa susah sekali di hubungi sih!" gerutunya. Dadanya naik turun karena ngos-ngosan.
"Ada apa?" tanya mamah.
"I ... Itu mah, di rumah," gadis itu tercekat.
"Ayolah mamah ikut pulang, aku takut mah!" tak lama isakan itu keluar juga, entah apa yang membuat Marsha ketakutan.
"Ada apa sih Sha?" tanyaku sebal, belum juga selesai menjelaskan dia malah nangis duluan.
Kak Raras? Dia masih bergeming di tempat duduknya, enggan peduli.
"Itu Ka, mah, rumah kita di sita, ada orang-orang menakutkan mengeluarkan barang-barang kita," jelasnya dengan sesenggukan.
"Hah!"
"Apa?!" pekik mamah dan aku bersamaan.
Kak Raras membuka matanya dan menoleh ke arah kami. Wajah mamah pias, dia menatap Kak Raras seperti meminta bantuan.
"Ras ... Kamu masih punya uang?" tanya mamah takut-takut.
Bukannya menjawab, Kak Raras bangkit berdiri menatap mamah dingin.
"Apa yang kamu lakukan pada rumahku?" tangannya mengepal, sampai buku jarinya terlihat menonjol, wajahnya merah padam.
Dan apa katanya? Rumahku? Bukankah itu rumah kita semua?
"Ma ... Mamah menggadaikannya Ras, mamah bingung karena uang pesangon ayah sudah habis, jadi terpaksa mamah menggadaikan rumah itu," jelas mamah.
"Itu rumahku!" sentak Kak Raras tak terima.
"Maaf, gimana ini Ras, tolong kamu bayar cicilannya dulu Ras, bagaimana pun itu tempat tinggal kita kan?"
"Kau urus saja sendiri!" kak Raras pergi begitu saja meninggalkan mamah yang menangis tergugu.
Aku tentu saja kesal, tapi lebih banyak bingungnya, kalau rumah kami di sita, ke mana kami akan tinggal?
Ponselku berdering, group chatku dengan teman-teman sosialitaku ramai men-Tag diriku. Mereka bertanya mengapa rumahku banyak sekali orang yang mengeluarkan barang-barang, mereka bertanya apa aku sekarang pindah rumah?
Takku jawab, aku bingung harus apa, jujur aku takut di asingkan oleh teman-temanku yang mayoritas dari kalangan berada itu.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.