
Lucky tengah menimbang, sepertinya perkiraannya tak sesimpel yang ia pikirkan. Ia tak bisa terlalu ikut campur masalah mereka.
Dia menghela napas, "Ok. Tapi tolong ceritakan yang sebenarnya Ras. Bukan aku mau ikut campur, senggaknya jawaban kamu bisa buat bahan pemikiran aku buat ngga ngasih tau Adam."
"Apa yang mau kamu tau Luck?" sarkas Raras.
"Adam pernah bilang kalau kamu menghianatinya, tapi setelah aku melihatmu, tak ada siapa pun bersamamu saat ini. Apa laki-laki itu sedang pergi?" tanya Lucky hati-hati.
"Bukan cuma Adam dan keluarga yang aku hindari Luck, tapi ayah dari bayi ini juga," jelas Raras membuat Lucky tercengang.
Raras bersembunyi dari ayah bayi yang ia kandung. Rasa penasaran Lucky sudah berada di ubun-ubun.
"Apa ... Ayah bayi kamu sudah berkeluarga Ras?"
Hanya itu yang terlintas di benak Lucky, lelaki yang menanam benih pada rahim Raras mungkin adalah suami orang.
Raras tersenyum getir lalu menggeleng. "Untuk dia— aku tak bisa menjelaskan terlalu detail Luck. Maaf."
Dalam benak Lucky, ia begitu penasaran siapa laki-laki yang menjadi selingkuhan Raras. Lalu mengapa Raras harus bersembunyi dari laki-laki itu juga. Mengapa wanita itu tak meminta pertanggung jawabannya saja.
"Kamu menjalani kehamilan ini seorang diri Ras. Inikah sebabnya kamu menghilang? Apa Adam tau keadaan kamu saat ini?"
"Adam tau, sebab itu kami berpisah," lirih Raras.
"Maafkan aku Luck, gara-gara aku, cinta kamu di abaikan oleh Nayla."
Meski bukan seratus persen salah Raras. Namun wanita itu tetap merasa iba saat melihat perjuangan Lucky menjadi sia-sia.
"Aku ngga masalah jika Adam benar-benar mencintai Nayla Ras, tapi aku tau, tak pernah sekalipun Nayla mendapatkan cinta itu. Dia hanya jadi bahan pelampiasan," jelasnya.
"Benarkah?"
"Entahlah, aku hanya berpikir seperti itu. Hubunganku dengan Adam menjadi renggang. Jujur awalnya aku merasa di bohongi. Namun setelahnya aku sadar, aku yang terlalu mengejar Nayla, sedangkan gadis itu tak pernah sedikit pun menyukaiku."
Lucky menghela napas menceritakan keluh kesahnya. Raras sendiri penasaran bagaimana hubungan mantan kekasih dan adik tirinya itu.
Sama seperti Lucky, besar harapan Raras kalau hubungan mereka benar-benar dilandasi saling suka.
__ADS_1
"Kamu masih menyukai Nayla?" Lucky menoleh dan tersenyum getir.
Selama lima bulan belakangan, dirinya tengah menata hati. Beruntung takdir berpihak padanya meski terlihat kejam bagi Nayla.
Tak lama kepergian Raras, Nayla selesai juga magang di perusahaannya. Saat itu juga dia belum tau jika Nayla dan Adam sudah menjalin hubungan.
Lucky menggeleng mengingat kebodohannya yang masih memberikan perhatian pada Nayla. Namun dia menyanggah, gadis itu bahkan tak pernah menolak perhatian kecil darinya saat itu.
Akan tetapi, dia mengetahui kenyataan saat Nayla membuat status di aplikasi bergambar telepon dan menampilkan fotonya beserta Adam yang sedang saling menatap dan bergandengan.
Ada seseorang yang mengambil foto itu. Saat itulah Lucky merasa di khianati. Bukan karena Nayla menghianatinya, tapi dia merasa Adam menghianatinya.
Ingin Lucky, seharusnya jika memang Adam menyukai Nayla, jujurlah padanya. Lagi pula ia paham betul jika Nayla sangat tergila-gila dengan sahabatnya itu.
Tak lama, Nayla menemuinya dan bertanya mengapa hubungan Adam dan kakak tirinya itu tiba-tiba kandas. Lucky jelas menjawab tidak tau.
Dia memang tidak mau membuka masalah pribadi orang lain, meski ia sendiri sudah di khianati sahabatnya.
Nayla menangis saat itu, gadis itu mengeluh jika sepertinya Adam masih menyimpan rasa pada kakak tirinya.
Dari situ Lucky menyimpulkan kalau Nayla hanya di jadikan pelampiasan.
Raras juga berpikir, seharusnya Nayla bersyukur ada lelaki baik dan tulus yang benar-benar menyukainya.
Sayangnya karena sifat iri adik tirinya itu yang selalu ingin merebut semua miliknya, gadis itu menutup mata pada lelaki ini.
"Kenapa kamu ngga berusaha kembali membuktikan bahwa kamu yang lebih layak untuknya?" ucap Raras dengan pandangan kosong ke depan.
Lucky tersentak mendengar saran dari Raras. Apa dia harus menjadi perusak hubungan sahabatnya sendiri? Batin Lucky.
Raras menoleh dan tersenyum, dia berpikir sepertinya Lucky salah paham dengan maksudnya.
"Bukan merusak hubungan mereka. Kalau benar kamu mencintai Nayla, buktikan saja rasa cintamu itu lebih besar dari Adam. Biar Nayla sendiri yang menyadarinya, lelaki mana yang lebih layak bersamanya," jelas Raras.
Lucky terkekeh, "bagaimana caranya? Kami tidak ada akses bertemu lagi setelah dia menyelesaikan masa magangnya."
Bena-benar konyol menurut Lucky saran Raras itu. Lucky berpikir jika Raras tidak tau bagaimana cara dia mendekati Nayla dulu karena kesempatan mereka bertemu masih ada.
__ADS_1
Saat ini sudah tidak ada akses keduanya bertemu jika tanpa kesengajaan, tentu dia akan kesulitan membuktikan cintanya.
Kalau dia memaksa mendekati Raras, itu malah akan membuat Adam berpikir jika ia sengaja ingin merebut Nayla dan mungkin berpikir kalau ia hanya ingin balas dendam.
"Memperlihatkan cintamu bukan harus dengan bertemu langsung. Berilah perhatian lewat telepon, entah itu berkirim pesan ataupun menanggapi sosial medianya."
Raras ingin memukul kepala lelaki bodoh di sebelahnya ini, jika saja mereka sangat akrab.
"Dulu saja dia sering mengabaikan pesanku," lirih Lucky.
"Sekarang pasti berbeda. Nayla dulu sangat berharap pada Adam. Namun setelah mendapatkan Adam, aku yakin kenyataan tak seindah yang ia bayangkan. Masuklah di sana agar dia bisa berpikir lagi dengan jernih."
"Kalau memang bubungan keduanya seperti yang kamu ceritakan, aku yakin Nayla akan senang dengan perhatianmu. Namun jika ternyata hubungan keduanya baik-baik saja, saat itulah kamu harus mengikhlaskan Nayla."
"Dan membuat aku terluka sekali lagi?" cibir Lucky.
Lelaki itu jelas tidak ingin seperti pecundang yang akan sekali lagi masuk ke lubang yang sama. Ia pernah kalah, dan tak ingin kembali terperosok karena kebodohannya mengharapkan balasan dari seseorang.
"Itu terserah padamu. Kamu hanya menebak-nebak bukan? Apakah Nayla di jadikan bahan pelampiasan atau tidak. Jangan berharap lebih. Berpikirlah menggunakan logikamu, jika benar kau mencintainya, kau hanya memastikan dia bahagia atau tidak, bukankah begitu?"
Lucky benar-benar malu atas pemikirannya yang berkhayal terlalu jauh. Dia sudut hati kecilnya tentu dia berharap balasan perasaan yang sama dari Nayla.
Dirinya membenarkan ide Raras. Ia hanya harus memastikan dugaannya. Kalau memang gadis yang di cintainya bahagia, setidaknya sudah tidak ada rasa penasaran lagi ke depannya.
Namun jika dugaannya benar Adam hanya menjadikan Nayla pelampiasan, dia tengah menimang langkah apa yang akan dia ambil. Apa merebut Nayla? Dia menggeleng, gadis itu tak mencintainya, penolakannya hanya akan menyakitinya sekali lagi.
"Bersikap biasa seperti seorang teman, dulu kamu mendekatinya karena menyukainya. Sekarang tunjukan padanya kalau perhatian yang kamu berikan hanya sebatas teman," ucap Raras saat melihat lelaki bermata sipit itu seperti tengah menimang.
"Akan kupikirkan idemu, terima kasih karena mau terbuka denganku. Masalah persembunyianmu, sepertinya aku tidak akan terlalu ikut campur, tapi ... Apa kamu tidak ingin menyelesaikan semuanya baik-baik?"
.
.
.
Tbc.
__ADS_1