Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 19


__ADS_3

Ifa mengantarku pada sebuah kamar yang cukup luas, vila ini tidak bertingkat, masih ada ruangan-ruangan lain di belakang sana. Namun karena ini sudah terlalu malam dan aku sangat membutuhkan istirahat. Aku tidak mau di ajak Ifa untuk berkeliling nantinya.


"Silakan Nona, ini kamar Tuan Joan. Saya kaget loh waktu Tuan Billy ngomong Anda boleh istirahat di sini—“


“Maafkan kelancangan saya Nona," Ifa berhenti secara mendadak, entah karena apa.


"Ngga papa Mbak Ifa, emangnya Joan ngga pernah bawa orang lain ke sini?" aku penasaran dengan kelanjutan cerita Ifa tentang Joan.


"Selain Tuan Billy, belum pernah ada yang datang ke sini Nona. Kalau begitu saya permisi dulu ya Non, kalo ada apa-apa Nona bisa telepon saya. Pencet aja nomor satu," ucapnya sambil menunjuk telepon rumah.


Ifa sepertinya sangat ketakutan dengan ucapannya tadi, mungkin takut menyinggungku. Bagaimana tidak, seorang wanita yang belum memiliki status resmi dengan majikannya sudah di minta untuk tidur di kamar pribadi majikannya.


Aku yang dari tadi merasa lelah tiba-tiba ingin mencari tahu banyak hal tentang Joan.


"Tunggu, Ifa, temenin aku dulu," bujukku.


"Tapi Non," Ia tampak ragu-ragu. "Ini sudah malam Non, sebaiknya non Angel istirahat," Ifa sepertinya berusaha menghindariku.


Tapi aku juga tak tega memaksanya, lebih baik membiarkan dia istirahat karena waktu sudah sangat malam.


Setelah membersihkan diri aku menuju ke lemari pakaian yang berada terpisah dengan ranjang tempat tidur.


Lemari di sini juga besar di dominasi oleh kaca, sehingga aku tau di dalam sana pasti hanya terdapat pakaian Joan.


"Huh! Ini ajalah," gumamku setelah mengambil salah satu kaus milik Joan.


Di tubuhku kaus ini menjadi over size tapi terlihat sexy, aku berlenggak-lenggok di depan cermin dan tertawa geli melihat tingkah anehku.


Aku kembali ke ranjang yang tiba-tiba saja seperti melambai agar segera kudatangi.


Kasurnya empuk dan lembut seperti semua barang milik Joan pastinya. Sesaat tiba-tiba mata ini terasa berat, aku seperti terbuai oleh rayuan mimpi menuju ke alam bawah sadar hingga sebuah pikiran tiba-tiba datang membuat mataku kembali terbuka.


Aku lupa jika tadi Billy berkata akan menjemput Joan. Apa lelaki itu akan datang ke sini?


Mati aku. Aku bangkit dari ranjang dan menatap cemas ke jendela. Gelap tentu saja, berbeda dengan taman yang menghiasi di halaman vila yang di terangi oleh banyak lampu, sedangkan dari kamar ini gelap gulita, meski ada cahaya lampu dari luar kamar. Mungkin bukit atau hutan sebab ini di daerah pegunungan.


Kepanikan membuatku berjalan mondar-mandir, menyiapkan berbagai strategi jika tiba-tiba Joan mengamuk.


Aku tak begitu mengenal Joan secara sifat, hanya penilaianku terhadapnya yang menganggap pria itu seorang tirani. Dia memang selalu memaksaku melakukan apa yang ia katakan, tapi lelaki itu tak pernah memaki atau melakukan kekerasan fiisk padaku.


Namun kali ini aku agak khawatir telah membuatnya marah. Aku akan tetap membela diri, bukan aku yang melanggar perjanjian kami, tapi tunangannya itu yang memang mengetahui hubungan gelap kami, jadi dia tidak bisa menyalahkanku sepenuhnya.


Tapi apa bisa aku membela diri? Nyaliku selalu ciut jika sudah berhadapan dengannya. Tatapan mata tajam itu seakan membuatku tunduk tanpa bisa membantah.

__ADS_1


Bagaimana jika dia berusaha melukaiku? Apa aku bisa berteriak meminta tolong? Sedangkan ini adalah vila miliknya, orang-orang yang berada di sini adalah para pekerjanya.


Mungkin malam ini adalah malam terakhir aku hidup. Tidak-tidak segera kuenyahkan pikiran buruk itu, aku yakin Joan tak akan senekat itu.


Tapi apa yang tidak mungkin baginya? Aku hanya seorang kerdil yang masuk ke dalam lingkaran manusia-manusia yang memiliki kuasa untuk melakukan segalanya.


Aku terduduk lemas di ranjang, ingin meminta bantuan Adam, tapi aku juga tak ingin mempersulitnya.


Ya Tuhan ...


Kujatuhkan tubuhku dengan kasar dan bergelung menyelimuti diri seolah berlindung entah dari apa yang akan menimpaku nanti. Meski terlihat lucu, tapi aku biasa melakukan ini jika ketakutan dan bingung.


Kehangatan dan kelembutan yang diberikan oleh selimut putih ini nyatanya mampu membuatku kembali terlelap.


Aku sudah terbuai oleh mimpi, mimpi indah dan terasa aneh. Pemandangan yang tampak asing seolah-olah bukan dari dunia ini, apa aku sudah mati?


Saat tengah mengedarkan pandangan, aku melihat diriku yang lain sedang menari-nari di sebuah padang rumput yang di kelilingi oleh bunga-bunga Tulip yang sangat indah.


Aku yang berada di seberang sana, di pisahkan oleh lautan bunga indah. Benar-benar sangat menakutkan bagiku.


Wanita yang serupa denganku itu mengenakan gaun yang sangat cantik senada dengan warna bunga Tulip di sekitarnya.


Aku menatap wajah wanita itu seakan terlihat lebih bebas, tak ada lagi kecemasan, tak ada rasa tertekan, bahkan tak ada topeng kepura-puraan yang selalu aku tampilkan untuk menutupi kesedihanku.


Wanita itu yang adalah aku sendiri, begitu bahagia menyambut bocah gembul dengan dimple di pipinya, dia terlihat sangat menggemaskan.


Aku yang lain itu mengangkat tinggi bocah lelaki itu sambil berputar-putar, betapa bahagianya.


Pertanyaanku, siapa bocah lelaki kecil itu? Wajahnya terkesan tidak asing bagiku.


Tak lama, keberadaan mereka semakin menghilang seperti sebuah kepulan asap yang sedikit demi sedikit menghilang.


Kepergian mereka entah kenapa membuatku sedih. Mimpi itu sangat nyata, hingga aku berharap kejadian itu nyata.


Apa saking ingin hidup bahagia di kemudian hari hingga membuatku bermimpi sejauh itu?


Kecupan di dahi dan pelukan erat di tubuh mengganggu tidurku.


Aroma parfum yang sangat kukenal ini terasa nyata, dengan berat hati, kubuka perlahan mata ini.


Aku menengadah menatap Joan yang saat ini sangat erat memelukku. Kepalaku berada di atas lengannya, kami juga berbagi selimut.


Kecupan singkat dia berikan di bibirku, meski matanya masih terpejam.

__ADS_1


Kukedipkan mata mencoba bangun karena ini berasa seperti mimpi. Tak ada raut amarah yang seharusnya ada pada wajah Joan saat ini.


Lelaki tampan ini masih bersikap hangat padaku. Benarkah aku sudah bangun?


"Kenapa? Lu kira mimpi?" ucapnya saat aku tengah menepuk pelan pipiku.


"Jo ..." aku tercekat tak sanggup berkata-kata.


"Shuut udah malem, ayo tidur lagi!" ajaknya dan menarikku kembali dalam pelukannya.


Ingin sekali aku bertanya banyak hal padanya, apa dia tidak marah padaku? Sikapnya saat berada di restoran yang terkesan dingin sudah membuatku berpikir dia pasti akan murka.


"Jo ..." lirihku.


"Jangan ngomong apa-apa kalau lu ngga mau gue lahap sekarang? Apa lu ... Emang sengaja mau ngegoda gue pake pakean ini hemmm?"


Astaga laki-laki ini kenapa pikirannya hanya ke arah sana saja saat melihatku.


Aku mencibir "ini bukan di apartemen Jo, ngga ada bajuku di sini."


"Emmm ... Aku lupa, besok aku bakal minta Billy buat bawain kamu baju. Sekarang tidur," titahnya.


Perasaanku menghangat, setidaknya aku terlalu berpikir buruk pada Joan, meski aku ingin sekali bertanya bagaimana hubungannya dengan Esterlita.


"Kamu mimpi buruk?" tanyanya di saat aku akan kembali terlelap.


"Engga kok, mimpi indah banget malah," entah kenapa aku malah ingin memberitahu Joan.


"Mimpi apa? Kalo indah kenapa nangis? " sepertinya dia cukup penasaran dengan mimpiku.


Aku sendiri terkejut saat dia bilang aku menangis? Apa aku sangat merasakan kehilangan mereka? Diriku sendiri dan bocah tampan itu?


"Emmm, ada bocah kecil tampan yang aku gendong, tapi tiba-tiba mimpiku menghilang," lirihku.


"Bocah laki-laki kecil?" Joan sampai meregangkan pelukannya padaku untuk sekedar melihat wajahku.


Aku hanya bisa mengangguk.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2